A. Amirah Nursyahbani

Akhir-akhir ini kabar pelecehan sangat sering kita dengar. Banyak korban pelecehan yang tidak mendapatkan hak serta keadilan yang layak. Berita pelecehan yang marak muncul saat ini menimbulkan banyak kekhawatiran terhadap kaum wanita, membuat korban merasa takut untuk angkat bicara terhadap apa yang mereka alami. Sehingga saya memfokuskan tulisan ini terhadap ketidakadilan korban pelecehan yang selalu diputar balikkan sebagai pencemaran nama baik. 

Banyak yang masih menyalahartikan pelecehan seksual. Pelecehan  bagi sebagian besar orang menurut mereka adalah sentuhan langsung ke fisik korban. Akan tetapi tindakan melalui lisan seperti kedipan, siulan, godaan fisik bahkan bentuk bercandaan terhadap bagian tubuh juga sudah merupakan bentuk pelecehan seksual. Ironisnya, tindakan pelecehan secara verbal sering dianggap sebagai hal yang wajar dan wanita akan dianggap terlalu melebih-lebihkan apabila mereka bertindak terhadap pelecehan verbal yang mereka terima. Akhirnya, jumlah pasti terkait koban verbal tidak dapat ditemukan dan menjadi kultur memalukan.

Posisi perempuan dalam kehidupan sosial memang belum sejajar dengan laki-laki walaupun sudah banyak emansipasi yang terus dilakukan oleh sejumlah kelompok. Namun, faktanya hal itu dikarenakan masih banyak negara yang menerapkan budaya patriarki sehingga perempuan dalam tatanan global selalu menjadi subordinate dalam koordinat. Timpangan kekuasaan yang kemudian oleh kaum pria yang merasa lebih berkuasa yang mengakibatkan terjadinya banyak kekerasan seksual alih-alih pelecehan. Perlu digaris bawahi, baik pelecehan maupun kekerasan seksual mempunyai defisini yang berbeda. Kekerasan merujuk pada tindakan yang sangat menguras fisik maupun batin penyintas dengan beberapa tindakan seperti merendahkan, menghina, atau melecehkan dan/atau menyerang tubuh, dan/atau fungsi reproduksi seseorang.

Maraknya tindakan yang terjadi saat ini mengharuskan para korban untuk angkat bicara. Sebaliknya malah mereka harus dipaksa untuk diam dalam gua kegelapan untuk tidak pernah menerima keadilan karena beberapa stigma masyarakat yang terus memunculkan rentetan trauma baru disamping fakta bahwa mereka memerlukan dukungan moral. Situasi ini terus mendukung posisi pelaku untuk berjaya baik didepan umum maupun hukum. Seolah tahu bahwa kaum mereka akan terselamatkan oleh hati dingin masyarakat yang menuntut jauh dengan meragukan korban. Pelaku memanfaatkan situasi di mana mereka akan meminta korban untuk mengirimkan bukti pelecehan seksual yang ia terima yang hal ini akan semakin sulit untuk dilakukan korban jika mempertimbangkan dua kemungkinan. Pertama, pelecehan terjadi secara verbal dan dalam periode yang tidak menentu sehingga korban tidak akan mempunyai bukti fisik untuk hal tersebut. Kedua, menyebarkan bukti pelecehan seksual bagaikan melempar bara api. Pelaku mungkin dipidana, tapi rasa malu akibat korban yang dipertontonkan secara luas sedang mengalami tindak tidak bermoral adalah luka mendalam. Angkat bicara saja sudah menghabiskan banyak keberanian, terlebih lagi harus menceritakan kronologi dan memperlihatkan bukti. Ketakutan korban adalah bahwa ia akan selamanya dicap sebagai ‘korban pelecehan seksual.’ dihadapan masyarakat. Akhirnya pelaku dapat memanfaatkan kondisi ini untuk memutar cerita seolah mereka adalah korban pencemaran nama baik. Tidak hanya korban akan mati karena fisiknya telah dijarah, mental karena hinaan dan malu karena telah gagal untuk memperjuang dirinya sendiri akan ikut lenyap bersama.

Lalu bagaimana dengan keadaan mental korban? Masihkah diperdulikan? Tidak. Banyak korban melangkah jauh dari ekspektasi yang tidak kita pikirkan. Bunuh diri dan melukai dirinya sendiri adalah jalan yang mereka gunakan untuk lari dari pahitnya kenyataan yang mereka alami. Terus bagaimana kabar pelaku? Sebagian besar dari mereka justru dengan tidak tahu malunya hidup tenang dan masih berkeliaran di hadapan korban yang akan menanggung luka mental mungkin seumur hidupnya.

Hingga saat ini, kitapun belum mengetahui sebenarnya apa yang menjadi kiblat untuk kasus pelecehan, belum ada aturan yang betul-betul bisa menjamin keamanan kaum perempuan. Hal ini juga yang seharusnya menjadi salah satu bentuk ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Kekuatan laporan atas pencemaran nama baik justru lebih jelas dari pada laporan pelecehan dikarenakan adanya aturan sah  yang mengatur hukum pencemaran nama baik apalagi disertakan bukti jelas dari  tindak berani korban. Sangat berbeda dengan si korban pelecehan yang tidak tahu menahu apa yang akan terjadi pada dirinya. 

Haruskah disahkan suatu aturan yang bisa menjamin keamanan kaum perempuan? YA, harus. Maka dari itu, mari kita setarakan perwujuadan hukum di negeri ini. Kita hilangkan kata ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Perubahan yang kita harapkan akan berdampak besar terhadap semua kaum. Tidak akan lagi ada kecemasan yang timbul akan kasus ketidakadilan ini. Lewat tulisan ini, mari kita membuka kembali pikiran kita untuk tetap menghargai dan memuliakan perempuan. Bahwa pelecehan seksual terlebih lagi kekerasan seksual tidak akan menjadi saluran ketimpangan relasi kaum tidak bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *