By : Ainun Aisyah

Belajar mengenai ilmu HI, sudah bukan hal asing lagi mengenai seberapa besar pengaruh Tiongkok saat ini sebagai negara yang berkembang pesat bahkan sudah mulai akan melangkahi negara super power tua yang berhasil bertahan bahkan setelah menghadapi era perang, yaitu Amerika Serikat.  Nah, untuk mencegah hal ini tentu saja Amerika Serikat telah melakukan serangkaian upaya untuk menghentikan hegemoni  (hegemoni) Tiongkok. Salah satunya adalah dengan membentuk aliansi bernama AUKUS. Pasti sekarang teman-teman sudah bertanya, apa sih itu AUKUS? Bagaimana bisa aliansi ini dikatakan sebagai aliansi yang berkumpul untuk mencegah Tiongkok? Tapi sebelum itu, kita perlu tahu di mana basis AUKUS ini didirikan (didirikan), yaitu suatu kawasan bernama Indo-Pasifik.

Awal konsep Indo-pasifik muncul dari tahun 2007 dirumuskan oleh Perdana Menteri Shinzo Abe. Ide ini dilanjutkan oleh PM dari India saat pertemuan General Assembly ASEAN yang menyarankan untuk mulai menggunakan istilah Indo-pasifik melihat adanya perubahan spesifik mengenai indo-pasifik sebagai sub-regional yang punya nilai strategis yang cukup besar dan langsung disetujui oleh Jepang, Korea, dan Australia. Sepuluh tahun kemudian pada tahun 2017, Indonesia menjadi penggagas sekaligus tuan rumah untuk pertemuan IORA (Indian Ocean Rim Association) bagi negara-negara yang berada di kawasan Indo-Pasifik. Selain dari respon Indonesia dan India, kawasan Indo-Pasifik menerima banyak minat dari negara-negara lain termasuk Amerika dan Tiongkok. Yang menarik adalah respon dari Rusia bahwa konsep indo-pasifik itu dibuat untuk melawan hegemoni Tiongkok yang semakin lama sudah semakin berkembang baik dari segi ekonomi ataupun dari segi lainnya. 

Dari Antonio Gramsci, untuk mempertahankan kekuasaan, ada dua cara. Pertama, perangkat kerja yang mampu melakukan tindakan kekerasan (polisi dan militer) sebagai law enforcement negara. Kedua, perangkat kerja yang memiliki kemampuan untuk membujuk yaitu media, komunitas atau dengan kata lain kemampuan diplomasi (Siswati 2017). Jika suatu negara ingin memiliki kekuasaan atau ingin mendominasi negara lain, maka mereka harus mempunyai dua hal di atas. Untuk suatu negara ingin menjadi hegemon, maka negara tersebut memerlukan sumber daya entah lewat jalur militer atau diplomasi yang mampu membuat negara lain mengikuti sesuai yang diinginkan. Jika kekuasaan itu dicapai dengan mengandalkan pemaksaan, maka itu dinamakan dominasi. Proses dominasi ini apabila berlangsung dengan baik, maka itulah yang dinamakan hegemoni. 

Tiongkok tahun 1978 sejak mereka menggunakan open door policy, grafik Tiongkok melambung ke atas karena menggunakan invasi dalam segi ekonomi. Dari sinilah Tiongkok mulai menyebarkan dominasinya dan bersiap untuk naik sebagai hegemoni lewat invasi sektor ekonomi. Target invasi Tiongkok adalah negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan sudah mulai merambat ke Eropa. Rezim maupun pasar yang dimasuki Tiongkok sebenarnya adalah rezim yang sudah pernah dikuasai oleh negara lain. Maka negara penguasa lama yang merasa terancam akan keberadaan TiongkokTiongkokpasti akan memikirkan cara untuk bertahan melalui kebijakan yang mereka pakai. Tiongkok kemudian muncul sebagai kekuatan baru dalam hal ekonomi, pembangunan militer, aliansi kerja samanya dengan negara lain sehingga negara besar lama menganggap Tiongkok sebagai saingan baru yang berusaha melangkahi kekuasaan negara yang terlebih dahulu sudah berkuasa. 

Hirarki itu diciptakan melalui hegemoni untuk menjaga kedamaian dunia, yaitu negara yang kuat membuat dan melindungi aliansi-aliansi di bawahnya untuk mengimbangi kekuasaan dengan negara lain. Konsep inilah yang disebut balance of power. Waltz mengatakan bahwa tidak ada negara yang mampu menyelesaikan masalah sendiri, maka dari itu negara akan beraliansi. Jika suatu negara berhasil mengakumulasi powernya, maka negara itu akan menjadi negara dominan atau mungkin kekuatan tersebut akan didistribusikan (distribution of power) menghasilkan kekuatan multi polar yang akan mengimbangi kekuasaan-kekuasaan lainnya.

Sebelum AUKUS, sebenarnya sudah ada dua aliansi yang juga memiliki basis pertahanan, yaitu ANZUS (Australia, New Zealand, United States) dan Quad (Jepang, Amerika, India, Australia). Tapi yang memunculkan pertanyaan kemudian, apa kedua aliansi sebelumnya tidak cukup sampai masih perlu menambahkan satu lagi? Apalagi AUKUS adalah sebuah aliansi milliter dengan fokus pertahanan seolah kawasan indo-pasifik kerjanya perang saja melulu sampai perlu sebuah grup untuk melindunginya.

Apakah memang konteks Indo-pasifik ini  butuh aliansi pertahanan? Jika dilihat dari anggotanya, yang konsisten adalah Australia baik itu AUKUS maupun kedua aliansi sebelumnya. Keanggotaan Australia di ANZUS, Quad, bahkan di AUKUS yang konsisten ini mulai menimbulkan pertanyaan mengenai tujuan dari Australia yang kukuh untuk bergabung di semua aliansi pertahanan Indo-Pasifik bersama dengan Amerika. Entah ada hubungan dengan kepentingan nasionalnya atau merupakan hasil dari balance of power lewat pembentukan dan bantuan aliansi oleh negara berkekuatan besar (Amerika Serikat) untuk mencegah dominasi Tiongkok di Indo-Pasifik.

Ketika suatu negara bergabung dalam suatu aliansi, selalu ada alasan mengapa mereka harus bergabung dalam aliansi tersebut. Contohnya  itu Australia. Australia saat ini sedang tumbuh dalam segi ekonomi dan mulai ikut dalam berbagai kerja sama internasional. Australia adalah tipe negara yang akan memberikan effort besar kepada negara-negara aliansinya(di sini merujuk pada Amerika dan Inggris). Bergabungnya Australia dalam AUKUS tak pelak menimbulkan banyak kecurigaan dan pertanyaan. ApalagiAUKUS juga ada embel-embel nuklir di belakangnya. Nah, apa yang didapatkan Australia dari aliansi ini? Sedangkan kalau dipikirkan Tiongkok adalah eskpor terbesar bagi Australia, apakah hanya karena diiming-imingi delapan kapal selam nuklir oleh Amerika sehingga Australia rela untuk rugi dalam segi ekonomi ya?

HI-mates sekalian bisa mengajukan pertanyaan yang serius, apa yang membuat AUKUS ini bisa tercipta. Dari penjelasan yang telah diajukan, setidaknya ada beberapa alasan yang akan diringkas sebagai berikut.: 1) Kawasan Asia, terutama di Asia Selatan, sangat rawan konflik. 2) untuk mencounter kekuasaan Tiongkok dan ekspansinya ke wilayah selatan. 3) pembendungan kekuatan serta upaya perimbangan. Ketika AUKUS dibentuk, maka secara otomatis akan menimbulkan banyak masalah baru. Juga ketakutan bagi negara-negara sekitarnya sehingga mereka akan berbondong-bondong meningkatkan pertahanan karen merasa terancaman. Kekhawatiran terbesar dari terbentuknya AUKUS ini malah akan menimbulkan security dilemma di negara-negara yang sebenarnya merasa baik-baik saja atau bisa saja AUKUS ini tidak berarti apa-apa, karena fokus AUKUS ini adalah melawan Tiongkok dalam segi militer sedangkan Tiongkok berkembang lewat segi ekonomi. Sehingga lebih bagi negara-negara besar tadi yang merasa terancam akan besarnya invasinya Tiongkok untuk membentuk aliansi ekonomi alih-alih aliansi pertahanan yang malah akan menimbulkan efek ketar ketir bagi negara lain contohnya di Asia Tengah, ketika Jepang mendadak menaikkan belanja senjatanya, maka negara yang berada di sekitar Jepang pun menjadi panik dan ikut melakukan transaksi alat perang dalam jumlah yang banyak.Nah, sekarang HI-mates sekalian pasti kurang lebih sudah paham dengan konsep dasar pembentukan AUKUS ini dan mengapa itu menjadi semacam big topic nowadays. Ya apalagi kalau bukan karena embel Tiongkok dan Amerika. Menurut kalian gimana AUKUS ini ke depannya? Apa benar-benar dapat mempengaruhi pengaruh Tiongkok dan merupa suatu bentuk nyata dari konsep balance of power dari Amerika dan aliansinya. Atau malah AUKUS ini hanya akan bernasib sama dengan para pendahulunya, tidak memiliki arti apa-apa? Pokoknya, jangan lupa untuk terus memantau perkembangan kasus ini. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *