Oleh : Ainul Hidayah

            Korea Selatan adalah sebuah negara yang terletak di kawasan Asia Timur yang termasuk ke dalam golongan negara maju. Namun sebelum dikenal menjadi salah satu negara maju di dunia, Korea Selatan memiliki sejarah yang panjang untuk memperoleh kemajuan seperti saat ini. Sebelum memperoleh kemerdekaan pada 15 Agustus 1945, Korea Selatan pernah dijajah oleh Jepang dimana saat itu Semenanjung Korea masih satu kesatuan yakni Korea Selatan dan Korea Utara. Selama masa penjajahan tersebut, pemerintahan Jepang mengeluarkan berbagai kebijakan di Negara Korea seperti melarang pendidikan bahasa korea hingga pelarangan penggunaan Hangeul yang di mana merupakan bahasa asli Negera Korea itu sendiri. Pelarangan-pelarangan ini dilakukan untuk memberikan doktrin kepada masyarakat Korea untuk mengikuti kebudayaan Jepang dan melupakan kebudayaan aslinya.

            Penindasan akibat penjajahan memberikan semangat bagi masyarakat Korea untuk melawan dan memperjuangkan kemerdekaan di tanah mereka sendiri. Hambatan berupa penyiksaan dan tindakan kejam lainnya mereka terima sebelumakhirnya Korea berhasil mendeklarasikan kemerdekaan pada tanggal 15 Agustus 1945. Euforia kebebasan itu tak berlangsung lama dengan datangnya Uni Soviet dan Amerika Serikat yang berujung pada pemisahan negara ini kedalam dua bagian. Pembagian ini didasarkan ideology Komunis yang ditanamkan kepada Korea Utara oleh Uni Soviet sedangkan Korea Selatan yang berpegang pada liberal dari Amerika Serikat.

Pecahnya Korea menjadi Korea Selatan dan Korea Utara tentu saja membawa banyak ketegangan terlepas dari fakta bahwa Korea baru saja merdeka. Ketegangan antar keduanya mengalami peningkatan yakni pada tanggal 25 Juni 1950 di mana militer Korea Utara menyebrangi perbatasan dan melakukan invasi atas Korea Selatan. Hal ini lah yang menjadi awal peperangan antara Korea Selatan dan Korea Utara yang berlangsung selama tiga tahun dan menyebabkan banyaknya kerusakan hingga korban jiwa mencapai sekitar dua juta orang. Sejarah ini merupakan sejarah paling kelam yang pernah terjadi pada kedua negara dan menimbulkan banyak luka bagi masyarakatnya.

            Pasca perang keji usai antar kedua Negara, baik Korea Selatan maupun Korea Utara mulai sibuk membangun ulang Negara mereka masing-masing. Korea Selatan dalam hal ini mulai memperbaiki kehidupan perpolitikan dan juga perekonomiannya. Berbeda dari fakta yang umumnya diketahui sekarang bahwa Korea Selatan adalah Negara yang makmur dan maju, perang yang terjadi dengan Korea Utara telah membawa Korea Selatan menjadi negeri yang miskin dan terpuruk. Kehidupan perekonomian dan infrastruktur mereka pada saat itu sudah mencapai tahapan hancur. 

Demi bangkit dari keterpurukan, Korea Selatan hanya bisa bergantung pada hutang luar negeri Amerika Serikat untuk membangun kembali negaranya dengan mulai memperbaiki ulang infrastrukturnya yang kacau. Berkat politik yang dianut oleh Korea Selatan adalah Politik Bebas menyebabkan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan meningkat pesat. Berbanding terbalik dengan Korea Utara yang sangat tertutup dan skeptical dengan kekuasaan otoriternya. Selain itu, infrastruktur awal yang mereka bangun juga berfokus pada pendidikan yang membuat Korea banyak menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang mampu menciptakan teknologi berupa barang manufaktur yang berteknologi tinggi. Korea Selatan yang ekonominya semakin maju dimulai sejak era tahun 1960-an membuat negara ini menjadi sebuah negara industri modern yang diakui dunia. 

Fakta lain dari negeri ginseng ini adalah Korea Selatan sebenarnya tidak terlalu banyak memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah berbanding lurus dengan sumber daya manusianya juga yang masuk dalam kategori menengah. Dalam mengelola barang-barang pun mereka lebih banyak memperoleh dari luar dan mengelolanya di dalam negeri. Namun selain di bidang teknologi, Korea Selatan sendiri mempunyai sebuah kebijakan yaitu diplomasi soft power dimana melalui berbagai bidang mulai dari pendidikan dengan pertukaran pelajar antarnegara hingga melalui bidang budaya dan sosial guna untuk memperluas pengaruhnya.

Satu hal yang menarik di sini adalah diplomasi melalui budaya. Saat ini istilah Hallyu maupun Korean Wave bukanlah sebuah hal baru dilingkungan masyarakat hingga global. Korean Wave sendiri mencakup drama dan film, music,product kecantikan korea, hingga ke dalam makanan dan pakaian tradisional dari Negera Korea. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan dan termasuk sebagai salah satu kebijakan oleh pemerintah Korea Selatan itu di tengah kurangnya mereka dalam segi SDA maupun SDM. Saat ini siapa lagi yang tidak mengenal Korea Selatan sebagai salah satu negara di dunia yang terkenal atas pengaruh Korean Wavenya. Bahkan menariknya lagi kebudayaan Korean Wave ini perlahan-lahan mulai bisa menyaingi pengaruh Hollywood hingga musik Kpop yang berasal dari Korea Selatan mulai mendominasi permusikan dunia.

Keberhasilan penyebaran pengaruh Korean Wave atau industri hiburan Korea Selatan ini telah  menjadi kebanggan nasional masyarakat Korea Selatan. Tidak sedikit anak-anak di Korea Selatan bercita-cita ingin menjadi publik yang aktif dalam industri hiburan hingga tidak mengherankan terdapat sekolah-sekolah yang dibuat khusus untuk mempersiapkan anak-anak sebagai calon publik figure selanjutnya. Industri hiburan di Korea Selatan bukan lagi hanya sekadar pertukaran lintas budaya tapi telah menjadi kekuatan baru Korea Selatan sehingga banyak memberikan keuntungan ekonomi seperti terjualnya produk-produk dalam jumlah besar hingga meningkatnya jumlah tourist asing yang berkunjung ke Korea Selatan. Hal inilah yang membuat pemerintah Korea Selatan banyak memberikan dukungan kepada para pelaku seni seperti memberikan suntikan modal hingga ikut membantu mempromosikan hingga ke dunia internasional.  Presiden Korea Selatan baru-baru ini menunjuk boyband BTS sebagai utusan Presiden Moon Jae In dalam Special Presidential Envoy For Future Generations and Culture (Utusan Khusus Presiden untuk Generasi dan Kebudayaan Masa Depan) serta untuk mendampingi Presiden Moon Jae In dalam  Majelis Umum Sidang PBB yang ke 76  pada 20 September 2021 di New York, Amerika Serikat.

Apa yang telah dilakukan Korea Selatan yang menggunakan industri hiburan sebagai upaya diplomasi budaya merupakan sebuah langkah yang sangat strategis dan cerdik. Hal ini banyak memberikan dampak yang positif bagi Korea Selatan walaupun tidak sedikit rintangan yang mereka temui. Hal lain yang mendukung keberhasilan negeri ginseng ini adalah adanya rasa nasionalisme yang tinggi yang dimiliki oleh warga negaranya seperti bagaimana masyarakat Korea Selatan dikenal sangat mencintai produk dalam negeri serta memberikan dukungan kepada pemerintah, selain itu tidak sedikit dari mereka juga selalu memberikan kritik terhadap industri hiburan tanpa pandang bulu.

Daftar Pustaka :

PendudukanJepang dan Gerakan Kemerdekaan dalam

http://idn.mofa.go.kr/worldlanguage/asia/idn/about/sejarah/pen/index.jsp

Hangeul merupakanbahasaatauhurufasli Korea yang diciptakan oleh raja Sejong pada tahun 1443 pada masa Dinasti Joseon

Sejarah Korea Selatan : Macan Asia Timur, dalamhttp://www.anneahira.com/sejarah.htm

PendudukanJepang dan Gerakan Kemerdekaan, Loc.Cit

Sejarah di Balik Ketegangan Korea Utara dan Korea Selatan: Kilas Balik, dalamhttp://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-04-05/sejarah-di-balik-ketegangankorea-utara-dan-korea-selatan-kilas-balik/1112046

Sejarah Korea Selatan : Macan Asia Timur, Loc.Cit

Sejarah di Balik Ketegangan Korea Utara dan Korea Selatan: Kilas Balik, Loc.Cit

Tentang Korea Selatan, dalam http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/2013-01-21- 22-49-05/berita-terkini/26-indonesian/tentang-korea/54-tentang-korea-selatan

Nurian Endah Dwi S Hrp,DIPLOMASI SOFT POWER KOREA SELATAN DALAM HUBUNGAN BILATERAL DENGAN INDONESIA Studi tentangPeningkatanIndustriKreatif Korea Selatan di Indonesia

http://a-research.upi.edu/operator/upload/s_sej_060595_chapter1.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *