Kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus kembali terjadi yang menimpa salah satu mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional UNRI diungkap dari media sosial KOMAHI FISIP UNRI. Kronologi: kejadian terjadi pada tanggal 23 Oktober 2021, saat korban hendak melakukan bimbingan skripsi dengan pelaku bernama Bapak Syafri Harto yang tak lain adalah dosen pembimbing sekaligus dekan jurusannya. Korban mendatangi pelaku di ruangan dekan di mana saat kejadian terjadi hanya ada mereka berdua saja. Selama jalannya proses bimbingan, dosen SH kerap melontarkan pernyataan berkonotasi seksual yang membuat korban tidak nyaman. Saat korban hendak meninggalkan ruangan, tiba-tiba pelaku mendekatkan dirinya dan memegang kepala korban kemudian mencium pipi sebelah kiri dan kening korban. Tidak berhenti sampai situ, pelaku juga hendak mencium bibir korban namun korban yang sudah dipenuhi rasa takut segera mendorong pelaku dan bergegas meninggalkan ruangan dan kampus. 

Korban sudah mencoba untuk melaporkan pelecehan yang ia terima kepada pihak jurusan. Namun bukannya perlidungan yang ia dapatkan,  korban malah menerima banyak intimidasi dan ejekan dari pihak yang seharusnya mengayomi dan melindungi mahasiswanya. Pihak jurusan juga melarang korban untuk menyebarkan hal ini kepada pihak luar dengan dalih bahwa dosen SH melakukan tersebut hanya karena khilaf semata. Tidak hanya melarang korban untuk speak up terhadap pelecehan yang diterimanya, pihak jurusan juga mengabaikan aturan dalam penanganan pelecehan seksual dengan memaksa korban untuk menemui dosen SH yang tidak lain adalah pelaku utama dari pelecehan seksual yang dialami korban. Dosen SH juga kerap menghubungi korban dan keluarganya dengan beberapa nomor baru membuat korban hidup dalam teror dan semakin disudutkan. Korban akhirnya memberanikan diri untuk melaporkan kasusnya kepada Korps Mahasiswa HI (KOMAHI) UNRI dan merekam video yang kemudian disebarkan ke beberapa platform media sosial sebagai bukti pembelaan korban atas ketidakadilan yang ia terima.

Melihat hal ini, telah mengemuka untuk kesekian kalinya fakta soal kampus yang tidak menjadi ramah gender dan aman bagi setiap orang. Karenanya, urgensi dan perlawanan terhadap iklim kampus yang seperti ini perlu dilawan dan bahkan dikecam dengan keras. Berkaitan dengan hal ini, melihat adanya gestur positif yang dirintis oleh Kemendikbud dalam mengeluarkan Peraturan Kementrian tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, maka pengawalan terhadap perwujudan peraturan ini mesti adalah mutlak sifatnya. Lebih dari itu, dalam konteks yang lebih luas, ruang aman dan ramah gender di luar lingkup kampus juga menjadi tidak kalah pentingnya. Dengan ini, urgensi RUU PKS menjadi mutlak untuk segera disahkan pula.

            Berdasarkan hal ini, atas rasa simpati besar terhadap kejadian yang menimpa korban sekaligus kesadaran tentang urgensi dari penciptaan ruang aman dan ramah gender di kampus secara khusus dan masyarakat secara umum, kami HIMAHI FISIP UNHAS dengan ini menyatakan dan mendesak hal-hal berikut.

  1. Memberikan perlindungan hukum, dukungan mental, dan pemulihan mental untuk mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional UNSRI yang mendapat pelecehan seksual.
  2. Mendesak setiap kampus untuk dengan segera menerapkan Peraturan Kementrian tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.
  3. Memastikan agar pelaku segera dihukum seberat dan seadil mungkin.
  4. Mendesak pengesahan rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Skesual (RUU PKS).

Makassar, 9 November 2021

Tertanda,Ketua HIMAHI FISIP UNHAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *