Oleh Defki Sarma ( HI Angkatan 2018 )

ANIMAL FARM

“Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, dan mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri.”

Salah satu kutipan kalimat dari novel Animal Farm karya George Orwell. Setelah membaca kutipan diatas, timbul pertanyaan atau bisa dikatakan timbul perspektif baru mengenai bagaimana manusia itu sebenarnya.

Manusia itu rakus?

Manusia itu serakah?

Manusia itu menindas?

Atau manusia itu sebenarnya bagaimana?

Sebagian besar manusia menyukai kebebasan, hidup diluar tekanan, perintah, atau aturan. Bebas, tidak terikat, dan bisa melakukan apa saja yang ia suka. Pun sama halnya dengan para binatang di Peternakan Manor yang sudah sangat muak dengan kehidupan mereka dibawah tirani manusia. Mereka dieksploitasi telurnya, susunya, dan tenaganya untuk kepentingan manusia semata. Setelah itu? Mereka akan berakhir di meja makan manusia.

Masih tentang kutipan diatas, dimana kata-kata tersebut diucapkan oleh seekor babi yang seolah-olah merasa tenaga mereka diperah oleh orang-orang yang sewenang-wenang. Menariknya ketika si tua Major meninggal yang juga merupakan seekor babi dan kemudian pada saat itu mulailah benar-benar terjadi perlawanan yang dipimpin oleh dua ekor babi untuk merebut peternakan Manor milik Pak Jones.

Layaknya perputaran kekuasaan, kepemimpinan Pak Jones tergantikan oleh dua babi cerdas yang bernama Snowball dan Napoleon. Namun, kehidupan berdemokrasi para binatang ini tak bertahan lama. Bukankah dua kepala dalam satu tanduk kepemimpinan tidak akan mungkin bersatu? Menyingkirkan atau disingkarkan, itulah pilihan dari kedua babi tersebut. Kehidupan peternakan yang tadinya sama rata dan sama rasa itu kini berbelok menjadi tirani.

Binatangisme, begitulah prinsip dari perjuangan para binatang ini. Ada tujuh aturan yang dibuat dalam Binatangisme, yang pada awalnya ditujukan Snowball untuk mempersatukan para binatang dalam perlawanan terhadap manusia lewat pelarangan melakukan, meyerupai, dan mengikuti cara dan gaya hidup manusia. Di kemudian hari, tujuh aturan ini diubah oleh Napoleon untuk mengakali para binatang. Pada bagian ini, menurut saya Georgel Orwell ingin menunjukkan betapa mudahnya prinsip politik diubah menjadi propaganda untuk membodoh-bodohi atau mengakali pihak lain. Dengan kata lain, George Orwell ingin menunjukkan betapa mudahnya propaganda totaliter dapat mengontrol pendapat orang-orang di negara demokratis.

Demikianlah keadaan peternakan Manor dibawah kekuasaan Napoleon. Dia menjadi pemimpin yang tidak bisa dibantah dan selalu benar. Selama kepemimpinannya, semua prinsip Binatangisme dalam Tujuh Perintah yang telah disepakati sebelumnya kini dimanipulasi. Dimana yang awalnya disepakati untuk pelarangan melakukan, menyerupai, dan mengikuti cara dan gaya hidup manusia. Kini telah dimanipulasi sepenuhnya, bahkan dia berjalan dengan dua kaki meniru manusia dan mengubah motto “kaki empat baik, kaki dua jahat” menjadi “kaki empat baik, kaki dua lebih baik”. Hal ini membuat para binatang tidak lagi bisa membedakan antara kelakuan Napoleon dengan kelakuan manusia. Mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya, mereka sama.

Hal ini menunjukkan pada kita, tentang bagaimana kekuasaan mampu mengubah pribadi seseorang. Dari baik menjadi buruk, atau bahkan dari buruk menjadi sangat buruk. Juga mengenai betapa kekuasaan yang memabukkan mampu menghancurkan cita-cita perjuangan yang sebelumnya disepakati bersama.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *