Review Buku : Bergeraklah Mahasiswa!

Oleh: Abdullah Dzakwan D (HI 2019)

Tidak adil, apa yang  terbesit atau terlintas pertama kali dalam benak ketika mendengar kata tersebut? Ketimpangan, tidak sesuai pada tempat atau porsinya suatu tindakan? Atau mungkin suatu keadaan yang tidak imbang dalam posisi, tempat dan kondisi tertentu?. Karya yang ditulis oleh Eko Prasetyo membahas pertanyaan-pertanyaan tadi tentunya dalam konteks Mahasiswa dan posisinya sebagai subjek dan objek peradaban serta realita yang terjadi pada masa kini, semua itu secara jelas digambarkan pada buku ini. Secara sadar maupun tidak sadar posisi mahasiswa sebagai generasi penerus yang memiliki tanggung jawab intelektual sosial dan moral terhadap minimal lingkungan sekitarnya, semakin dipertanyakan dalam buku ini (jika dicocokkan dengan realita yang terjadi sekarang). Mulai dari Dosen yang semakin sulit ditemui karena sibuk dengan berbagai penelitian, aktifitas yang tidak dilandasi kebutuhan dan syarat akan  inovasi dan kreasi, hingga yang paling berpengaruh kondisi global yang sedang dilanda Pandemi. Perannya dalam menyuarakan hak-hak kaum tertindas semakin tergerus dengan banyaknya problem yang mesti dihadapi, salah satunya lingkungan yang semakin tidak mendukung hal tersebut untuk terus dilakukan. Akibatnya, ketidakadilan bagi lapisan masyarakat yang tertindas dengan kondisi dan kebijakan  ‘ironis’, menjadi hal yang biasa-biasa saja dan bahkan dibiarkan terjadi tanpa ada halangan dan perlawanan. Hal ini bisa menjadi sebuah paradoks jika kembali mengingat betapa massif dan cepatnya arus informasi yang kita terima dan konsumsi. Eko Prasetyo dalam bukunya kembali menawarkan (atau mengingatkan) solusi untuk kembali lantang serta tajam dalam menyuarakan dan memilah fenomena maupun informasi dengan menggunakan ruang-ruang yang tersedia di kampus dan berkontribusi pada ruang yang dimaksud. Di dalamnya, anda akan dibiasakan untuk berfikir sendiri untuk memecahkan sebuah permasalahan dan merencanakan berbagai bentuk kegiatan kemahasiswaan.

 Ruang ini bagi Eko dan beberapa kawan yang masih semangat berada di dalamnya, merupakan sebuah sarana penyadaran dan akan membekali anda keberanian. Pertanyaan yang mungkin muncul Berani seperti apa? Berani terhadap apa? Eko Prasetyo menyebutkan 3 poin yang menurut saya cukup untuk menjawab dua pertanyaan tadi. Pertama, jebolan Organisasi atau Lembaga akan berani untuk tidak mudah percaya terhadap apa yang diterima dan ditemui dalam keseharian, akan banyak bertanya bahkan akan mencari sendiri suatu kebenaran. Kedua, berani untuk peduli dan mengubah apa yang berada di luar dirinya, tentu hal ini tidak terjadi dengan cepat dan mudah untuk inilah organisasi hadir sebagai ruang maupun wadah bagi siapapun. Ketiga, Eko menyebutkan seorang Mahasiswa akan berani untuk ‘bermain’ dengan resiko yang akan menghampiri, salah satu metafora untuk hal ini, yakni berada di tengah arus besar namun dia tidak searah, melainkan bergerak kearah yang sebaliknya atau berlawanan.

            Setelah menjelaskan manfaat, Eko lebih jelas menyebutkan apa yang membuat Ruang ini dapat menghasilkan beberapa orang yang senang dengan perubahan, menurut Eko selain keberanian, kreativitas juga menjadi sebuah kunci dalam persoalan ini. Sebagai contoh akibat dari ketidakpercayaan terhadap kondisi kehidupan (termasuk sistem ekonomi dan sosial) secara langsung maupun tidak langsung akan melahirkan pemikiran-pemikiran alternatif aka ‘jalan lain’. Inilah yang dimaksud Eko sebagai sebuah kreativitas atau daya cipta yang bisa berbentuk kontribusi langsung ataupun menyumbangkan ide terhadap keadaan manusia. Selain keberanian, kreativitas, Eko juga menyebutkan keberpihakan. Standing position anda berpihak kepada siapa? Yang mengekang atau terkekang kah dengan kondisi saat ini. Untuk apa kamu melakukannya? Perjelaslah, karena hal ini menyangkut poin terakhir yang hendak Eko sampaikan dalam bukunya, yakni bergerak. Bukan melanglang buana, melainkan terukur, tajam dan lantang, bukan soal ingin dipuja melainkan soal kadar relevansi perubahan yang dibawa, kemustahilan ‘desain’ kehidupan yang kamu perlihatkan menjadi tantangan untuk mementingkan kemanusiaan dan mengutuk penindasan. Singkatnya, bergeraklah. Bergerak lah untuk keadilan. Manfaatkan ruang yang tersedia untuk mendapatkan pendidikan dan petualangan.

            ….. Kita adalah angkatan gagap

            Yang diperanakkan oleh angkatan takabur

            Kita kurang Pendidikan resmi dalam hal keadilan

            Karena tidak diajarkan berpolitik dan tidak diajar dasar ilmu hukum

            Kita melihat kabur pribadi orang

            Karena tidak diajarkan kebatinan dan ilmu jiwa

            Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus

            Karena tidak diajar filsafat atau logika

            Apakah kita tidak dimaksud untuk mengerti itu semua?

            Apakah kita dipersiapkan untuk menjadi alat saja?

            Sebagai tambahan, puisi dari Rendra yang dikutip dalam buku ini dirasa mampu melengkapi maksud dan tujuan Eko Prasetyo dalam karyanya kali ini.

Tentunya hal ini tidak didasari kejelian penulis semata dalam melihat kondisi ini, keresahan Mahasiswa (akan kondisinya) turut menjadi penggugah penulis untuk menghasilkan karya ini. Bagi yang merasa ‘tercolek’, buku ini berguna sebagai bahan refleksi sejarah Mahasiswa. Sekaligus inspirasi akan pentingnya kembali aktifitas pengasah, perdalam , perluas dan pedulinya kita terhadap masa depan pribadi dan kondisi lingkungan sosial yang masih sangat perlu dibenahi agar semakin idealnya setiap elemen kehidupan yang akan kita jalani nantinya.