Rethinking Diplomacy

Nandito Oktaviano Guntur ( HI 2018 )

Catatan untuk Mahasiwa HI

Pengantar

            Diplomasi adalah suatu konsep penting dalam hubungan internasional. Dalam banyak konteks (terlebih di Indonesia), sering sekali hal ini sangat melekat dengan studi ilmu hubungan interanasional (HI). Sering juga profesi yang ‘tepat’ untuk HI dialamatkan untuk menjadi diplomat. Maka, tidaklah menjadi hal luar biasa ketika cita-cita mahasiswa HI mula-mula mengarah pada menjadi seorang diplomat. Atau, dengan segera, meta narasi tentang yang paling “HI” adalah apa-apa yang lekat dengan diplomat itu. Maka, muncullah fenomena seperti tetek bengek table manner, jas, dan berbagai macam gaya parlente para diplomat yang ‘mesti’ dilalui untuk mendapat kepenuhan mahasiswa ‘HI’. Di luar dunia diplomat macam ini, rasa-rasanya jalan menjadi mahasiswa paling ‘HI’ adalah bermain parlente dan role play. semata

            Fenomena ini penulis kira sangat problematis. Muncul berbagai macam pertanyaan. Pertanyaan paling utama pertama-tama tidak akan mengarah kenapa imajinasi soal diplomasi itu begitu luar biasa. Akan tetapi, lebih mendasar dari itu, apa sebenarnya diplomasi ini? Apa yang membuat  sesuatu itu disebut sebagai diplomasi? Pada konteks macam apa seseorang disebut diplomat dan bagaimanakah menjadi seorang diplomat?

            Kesemua pertanyaan tersebut muncul karena dorongan rasa penasaran yang cukup dalam. Arahnya akan mengarah pada usaha untuk memikirkan kembali diplomasi itu sendiri. Dalam artian ini, penulis ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan dengan cara yang berbeda. Berbeda di sini penulis artikan sebagai tidak dengan sederhana mendefinisikan sesuatu.       Untuk itu, argumentasi utama serentak jawaban penulis kurang lebih seperti ini, 1.) diplomasi adalah mediasi keterasingan (what is diplomacy), 2.) diplomasi disebut diplomasi ketika ia menjalankan fungsi dan kodratnya, yaitu mediasi keterasingan (when is diplomacy), 3.) menjadi seorang diplomat adalah persoalan tingkah laku serentak permainan peran yang kompleks  (who is diplomats), 4.) diplomasi saat ini tidak negara-sentris, tetapi lebih jauh sudah merambah pada aktor internasional lainnya (where is diplomacy).[1]

            Pada bagian paling akhir, sebagai konsekuensi logis dari penyingkapan konsep diplomasi itu sendiri, penulis kemudian akan mengajukan patahan imajinasi tentang menjadi seorang ‘diplomat’. Pernyataannya sederhana, untuk menjadi anak HI ‘banget’, mahasiswa HI tidak harus menjalani laku diplomat dengan segala macam tetek bengek role play perwakilan negara, jas, atau berbagai macam gaya parlentenya.  

Diplomasi dan Keterasingan

            Dalam banyak literatur, diplomasi selalu dikaitkan—baik itu definisi maupun praktik— dengan apa yang disebut dengan negosiasi (Roy 1995, p.4). Lalu, diplomasi juga sering disebut sebagai salah satu cara untuk mencapai kepentingan nasional serentak juga alat untuk mencegah perang (Dinesh 2019). Dengan demikian, negara menjadi aktor sentral dalam diplomasi dan kehadiran diplomasi punya tujuan ideal untuk mencegah perang (Anon 2011).

            Berkaitan langsung dengan hal tersebut, satu hal pasti mesti diajukan. Kesemua hal yang telah disampaikan pada paragraf pertama merupakan bentuk diplomasi (negosiasi dan negara-sentris) yang erat kaitannya negara berdaulat Westphalian (Britanica 2019). Hal ini mesti diajukan untuk menegaskan bahwa definisi serta praktik diplomasi yang ada saat ini merupakan bentukan perjanjian Westphalia itu sendiri. Di luar bentukan Westphalian ini, seperti apakah sebenarnya diplomasi itu? Pertanyaan ini kemudian akan menuntun pada jawaban yang spesifik. Pada akhirnya, definisi diplomasi bisa dilepaskan dari cangkang ‘negosiasi’-sentris serta ‘negara’sentris ala Westphalian (Polimpung 2014).

            Untuk menjawab pertanyaan sebelumnya, penulis inign meminjam pendapat Der Derian tentang diplomasi. Menurut Der Derian, diplomasi adalah suatu ‘mediasi keterasingan’(Derian 1987). Diplomasi untuk itu mesti dimengerti sebagai suatu bentuk untuk melakukan suatu kontak, komunikasi, dan penjajakan hidup bersama di antara dua komunitas yang saling terasing (Polimpung 2014). Jika hal ini gagal dilakukan, maka yang terjadi adalah perang. Definisi seperti ini bisa menjelaskan bagaimana sejatinya diplomasi itu telah ada bahkan sebelum entitas politik bernama ‘negara berdaulat’ itu ada. Dengan itu, hubungan internasional itu sendiri(foreign relation) adalah salah satu dari bentuk hubungan terasing yang pernah ada (Warren 1989).

            Lebih lanjut, sebagai konsekuensi logis dari definisi yang diajukan oleh penulis, maka syarat-syarat sesuatu untuk bisa disebut sebagai diplomasi terletak pada aktivitas mediasi keterasingan antar suatu komunitas. Mediasi keterasingan ini bisa berwujud dalam banyak hal seperti negosiasi, komunikasi, atau sekadar utusan. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa sesuatu itu bisa disebut diplomasi ketika ia mempunyai unsur mediasi keterasingan. Negosiasi hanyalah bentuk dari mediasi keterasingan ini. Pada titik ini, di segmentasi yang pertama ini, dua pertanyaan terkait apa itu diplomasi (what is diplomacy?) dan kapan sesuatu itu bisa disebut diplomasi (when is diplomacy?) telah terjawab. Penulis akan melangkah ke segmen tulisan yang berikut.

Menjadi Seorang ‘Diplomat’

            Sebelum melangkah lebih jauh, penulis perlu menegaskan bahwa diplomat di sini merujuk pada tradisi Westphalian lengkap dengan segala konvensinya. Dalam artian ini, secara sederhana, menjadi seorang diplomat yang dirujuk penulis adalah diplomat yang saat ini terinternalisasi di setiap sudut dunia. Untuk menambah kekhasan, penulis juga akan mengajukan secara ringkas bagaimana sebenarnya menjadi seorang diplomat. Untuk menjelaskan hal tersebut, penulis merujuk tulisan Ivan Neuman To Be A Diplomat.

            Imajinasi diplomat Westphalian mengarah pada sosok negosiator ulung. Secara ideal, seorang profesional diplomatis adalah seorang yang pandai berkomunikasi, bernegosiasi, membuat laporan, menganalisis, pandai membujuk, dan punya manejemen diri yang baik (Aksoy&Cicek 2018). Lebih lanjut, di abad ke-21 ini, ada juga ideal diplomat yang lain menurut Daryl Copeland. Menurutnya, diplomat di abad ini mesti menjadi seorang diplomat gerilya (guerilla diplomat) (Hall 2010). Seorang diplomat gerilya menurut Copeland mesti tangguh, improvisasional, dan cepat beradaptasi (Hall 2010). Kesemua ideal ini penulis kategorikan sebagai sebuah kemampuan (skill). Dengan demikian, karena ideal ini adalah sebuah kemampun, maka hal ini bisa dipelajari dan tidak melekat secara inheren di suatu institusi diplomatik tertentu (Kelley 2010). Dengan demikian, menjadi seorang diplomat adalah persoalan keahlian yang mengarah pada tingkah laku tertentu seperti kemampuan beradaptasi, negosiasi, ketangguhan, atau semacamnya. Sebab itu, diplomat tidak lagi melulu mengarah pada seorang profesional yang bekerja di kementrian luar negeri atau duta besar. Ia bisa ada pada banyak tempat dan kesemua individu sejauh ia memenuhi syarat sebagai seoarang diplomat.

            Adapun dalam kenyataannya, penulis kira sangat perlu untuk menceritakan bagaimana kehidupan seorang diplomat negara Westphalian. Menyitir Neuman, menjadi seorang diplomat mempunyai konsekuensi untuk bermain dalam dua peran yang kerap meresahkan, yaitu peran sebagai dirinya sendiri (pribadi dan keluarga) dan peran sebagai representasi negaranya (Neuman 2005). Sebagai contoh, dalam banyak konteks, diplomat harus selalu menjadi mediator yang tidak menonjolkan diri.

            Dalam artian ini, seorang diplomat hanya mengatakan hal yang mewakili negaranya. Ia sama sekali tidak boleh mengutarakan pendapat pribadinya terkait negaranya. Untuk menjelaskan ini, Neuman mengambil kejadian ketika ia menghadiri suatu konferensi tentang biografi seorang pensiunan diplomat Norwegia yang berpengalaman(Neuman 2005). Di buku itu tertulis, Suatu Catatan Personal (A Personal Account). Alih-alih menemukan catatan personal, Neuman hanya menemukan laporan terkait pengalaman diplomatik si diplomat sewaktu perang dingin. Ketika ditanyakan lebih lanjut, pensiunan diplomat itu menjawab dengan tegas, apa yang saya tulis adalah catatan personal, bukan privatif. Pada titik ini, sulit untuk membedakan apa itu personal atau privat.

             Penulis hanya bisa menafsirkan bahwa dalam banyak hal, menjadi diplomat mengharuskan seseorang untuk menekan dirinya (keinginan, pandangan, ideologi, atau apapun itu) sekuat mungkin dan mengharuskan dirinya berbicara atas representasi negaranya. Dengan demikian, penulis yakin dengan pasti, menjadi seorang diplomat juga menyasar persoalan pertarungan peran dalam diri yang kompleks.

            Setelah semua pembahasan pada segmen ini, maka pertanyaan terkait siapa yang disebut sebagai diplomat (who is diplomat) telah terjawab. Penulis beargumen bahwa diplomat a la Westphalian adalah orang yang punya spesifikasi kemampuan tertentu. Meminjam istilah Kelley, diplomat adalah persoalan tingkah laku dan tidak melekat pada institusi tertentu. Lebih lanjut, sebagai tambahan, menjadi seorang diplomat bermain pada ranah permainan peran yang kompleks.

Diplomasi Tidak Lagi Negara-Sentris

            Setelah menjawab serentak membuktikan bahwa diplomat tidak melekat pada institusi apapun, penulis—dalam segmen tulisan ini—berargumen bahwa diplomasi bukan lagi milik institusi bernama negara. Dalam artian ini, aktivitas diplomasi tidak bisa lagi diklaim atau dimonopoli oleh negara. Ini merupakan dampak langsung dari globalisasi yang juga memunculkan banyak aktor global yang tidak lagi negara semata (Emrich&Schulze 2017).

            Kemunculan aktor-aktor global ini membuat diplomasi itu juga menjadi milik mereka. Beberapa aktor internasional seperti INGO’s (International Non-Governmental Organizations) misalnya bisa bertindak sebagai seorang diplomat dan menciptakan suatu gerakan transnasional yang bahkan bisa menekan suatu negara.  John Kelley dalam tulisannya yang berjudul The New Diplomacy: Evolution of a Revolution (2010) menuliskan bahwa jika misalnya diplomasi yang negara-sentris mendapatkan legitimasi tindakan dari kekuasaan, maka diplomasi dari aktor lain (yang ia sebut diplomat baru atau diplomasi baru) mendapat legitimasi moral dari masyarakat dunia yang sepakat dengan arah perjuangannya. Contoh lain yang juga membuktikan bahwa diplomasi itu bukan milik negara saja adalah diplomasi komersial yang dilakukan oleh MNC. Diplomasi ini bertujuan untuk memperlancar bisnis MNC itu sendiri.

            Sampai di titik ini, garis pasti bisa diajukan. Diplomasi itu sendiri tidak lagi bisa ditemukan di negara saja. Dia ada di berbagai macam aktor internasional lainnya. Dengan kata lain, diplomasi tidak lagi dimonopoli oleh negara saja. Untuk itu, pertanyaan terkait di enittas politik seperti apakah diplomasi itu berada (where is diplomacy) sudah terjawab dengan pasti, yaitu tidak hanya ada pada negara saja.  

Catatan Untuk Mahasiswa HI

            Dari paparan, sekurang-kurangnya tulisan ini menyingkap beberapa hal berbeda terkait diplomasi. Pertama, diplomasi bukanlah melulu persoalan negosiasi atau alat untuk pemenuhan kepentingan negara saja. Ia adalah bentuk mediasi keterasingan. Sebab itu juga, apapun yang memenuhi substansi sebagai mediasi keterasingan dapat dikategorikan sebagai diplomasi Kedua, menjadi seorang diplomat tidak lagi melekat pada institusi tertentu. Menjadi diplomat adalah persoalan cara bertingkah laku. Lebih jauh, menjadi seorang diplomat saat ini mesti siap menerima konsekuensi untuk berada dalam konflik peran yang kompleks. Ketiga, diplomasi ada tidak hanya pada negara saja. Diplomasi bahkan ada pada aktor internasional lainnya selain negara.

            Dengan berbagai macam simpulan ini, terdapat konsekuensi logis yang berkaitan langsung dengan imajinasi tentang menjadi diplomat dari anak-anak HI kekinian. Menjadi seorang diplomat dengan demikian tidak melulu melekat dengan negara. Untuk itu, segala macam tetek bengek table manner diplomat negara tidak serta merta menjadi hal yang niscaya mesti dilakukan. Singkatnya, sejak menjadi seorang diplomat adalah persoalan keahlian dan merujuk pada bagaimana memediasi keterasingan, maka untuk mencapai keahlian ini, maka mahasiswa HI tidak perlu memakai jas atau bermain role play. Jika ingin pengalaman yang lebih riil dan nyata, masuk dalam ruang konsolidasi kampus dan memetakan gerak politik kampus adalah sesuatu yang lebih riil, nyata, dan tidak berpura-pura.

Daftar Pustaka

Aksoy, Metin & Cicek, Ahmed. (2018). ‘Redefining Diplomacy In The 21st Century & Examining The Characteristics Of An Ideal Diplomat’, MANAS Journal of Social Studies, vol.7, no.3, p.907-921.

Anon. (2011). The Functions of Diplomacy. https://www.e-ir.info/2011/07/20/the-functions-of-diplomacy/, diakes tanggal 10 September 2020.

Britannica. (2019). Diplomacy. https://www.britannica.com/topic/diplomacy, diakses tanggal 8 September 2020.

Der Derian, James. (1987). ‘Mediating Estrangement: A Theory for Diplomacy’, Review of International Studies, vol. 13, no. 2, p.91-110

Dinesh. (2019). Diplomacy: Meaning, Nature, Functions and Role in Crisis Management. http://www.yourarticlelibrary.com/international-politics/diplomacy-meaning-nature-functions and-role-in-crisis-management/48491, diakses tanggal 7 September 2020.

Emrich, Rudine & Schulze, David. (2017). Diplomacy in the 21st Century – What Needs To Change?. German Institute for International and Security Affairs: Germany.

Hall, Ian. (2010). ‘Review article The transformation of diplomacy: mysteries, insurgencies and public relations’, International Affairs, vol.86, no.1, p.247-256.

John Robert Kelley.(2010).’ The New Diplomacy: Evolution of a Revolution’, Diplomacy & Statecraft, vol.21, no. 2, p. 286-305

Neumann, B.Ivan. (2005). ‘To Be A Diplomat’, International Studies Perspective, vol. 6, p.72-93/

Polimpung, Y. Hizkia. (2014). Realisme, Realitas Dan Realistis Dalam Hubungan Internasional. https://indoprogress.com/2014/03/rrealisme-realitas-dan-realistis-dalam-hubungan-internasional/, diakses tanggal 1 September 2020.

Roy, L.S. (1995). Diplomasi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Warren, Mark. (1989). ‘On Diplomacy: A Genealogy of Western Estrangement. by James Der Derian’, The Journal of Politics, vol.51, no.1, p.208-211


[1] Sebelum masuk lebih jauh, penulis ingin menegaskan bagaimana definisi pertanyaan yang penulis berusaha jawab. Apa itu diplomasi (what is diplomacy) menurut definisi penulis merujuk pada apa sejatinya diplomasi itu sendiri. Kapan itu diplomasi (when is diplomacy) merujuk pada apa saja syarat yang membuat sesuatu menjadi bisa disebut sebagai diplomasi. Siapa itu diplomat (who is diplomats) merujuk pada apakah yang membuat seseorang disebut seorang diplomat. Dan, di manakah diplomasi itu (where is diplomacy) merujuk pada dalam entitas apakah diplomasi itu berada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *