Oleh Pande Putu Dylan Sugangga (HI 2019)

 

PENGANTAR

Dalam karya tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan bagaimana konsep Liberalisme yang ada di paradigma HI dan pengaplikasiannya pada sejarah perjuangan kemerdekaan oleh Filsuf, Politikus, Pengacara dan Pemimpin India pada saat itu yaitu Mahatma Gandhi. Penulis akan membuat kolaborasi teori dari teori Liberalisme dan konsep yang diterapkan Mahatma Gandhi dalam sejarahnya.

Hari Tanpa Kekerasan Internasional atau International Day of Non-Violence diresmikan oleh PBB menurut resolusi Majelis Umum pada tanggal 15 Juni 2007. Hari Tanpa Kekerasan Internasional ini adalah hari yang dirasa tepat untuk menyebarkan pesan anti-kekerasan, termasuk melalui pendidikan dan kesadaran publik.

Dari terbentuknya hari tanpa kekerasan ini, telah terjadi sejarah panjang yang sangat menginspirasi banyak orang, di mana pada sejarahnya terdapat satu sosok yang sangat memegang teguh prinsip kedamaian dan keadilan. Orang yang sedang dibicarakan ialah Mohandas Karamchand Gandhi atau yang lebih kita kenal sebagai Mahatma Gandhi lahir pada tanggal 2 Oktober 1869, di Porbandar, India dan sebagaimana yang ditetapkan PBB pada 2 Oktober sebagai Hari Tanpa Kekerasan. Gandhi adalah putra politisi senior, Kamarchand Gandhi, yang berasal dari kasta pedagang. Gandhi tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan dengan lingkungan tradisi agama Hindu yang sangat kuat, hal tersebut lah yang membuat Gandhi tumbuh sebagai orang yang memegang teguh nilai keadilan dan nilai-nilai leluhur (Glenn 2018).

Nilai-nilai keadilan yang tumbuh dalam jiwa Mahatma Gandhi membuat ia peka akan ketidakadilan di sekitarnya, seperti pada saat ia melanjutkan keriernya sebagai Ahli Hukum di Afrika Selatan. Di saat berkarier di Afrika Selatan, ia menemukan banyak tindakan yang tidak adil di tempat ia bekerja, dimana kasus rasisme sedang memanas di Afrika Selatan yang membuat orang kulit putih mendapatkan keistimewaan lebih dan parahnya segala sesuatunya harus mendahului orang kulit putih.

Gandhi saat itu sedang berada di kereta dan secara terang-terangan diusir dari kereta karena tidak mau memberikan tempat duduknya kepada orang kulit putih yang pada saat itu Gandhi posisinya lebih dahulu mendapatkan tempat duduk tersebut. Pengalaman buruk ini menjadikan Gandhi memiliki sikap, prinsip, tekad, dan komitmen yang luar biasa gigih untuk memperbaiki situasi dan permasalahan di depan matanya. Selama di Afrika Selatan, ia mengembangkan gagasan bagaimana melawan bentuk imperialisme dari Eropa serta membebaskan warga kulit berwarna dari bentuk diskriminasi dan kolonisasi untuk dapat membangun negara yang mandiri. Gandhi mengasah keterampilan berargumen dan memahami bagaimana cara kerja imperialisme Barat (Glenn 2018).

Setelah kematian Ibundanya, Mahatma Gandhi memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya dan juga menyebarkan komitmennya akan mewujudkan keadilan serta kedamaian di dunia tanpa adanya kekerasan. Di India sendiri ia merupakan salah satu orang yang berperan penting dalam kemerdekaan bangsa India. Dengan sikap tolerannya ia berhasil menyatukan tiga agama besar di India yaitu Islam, Hindu, dan Sheikh dengan cara berpuasa di saat ketiga agama ini berseteru.

Tujuannya berpuasa adalah untuk membuat perseteruan tiga agama ini dihentikan. Menariknya petinggi Agama dari tiga agama besar ini memutuskan untuk menemui Mahatma Gandhi karena melihat Gandhi mulai sekarat karena sudah hampir seminggu lebih ia tidak makan dan minum sama sekali. Pada akhirnya ketiga agama tersebut memutuskan untuk berdamai dan bersatu meskipun tetap terjadi kelompok-kelompok tertentu yang berpondasi dari agama di India (Rachmat 2019).

Dan belum sampai di situ, konflik lain mulai bermunculan di saat bangsa Inggris sedang menjajah wilayah India dan Pakistan (Pakistan pada saat itu masih belum memisahkan diri ). Inggris pada saat itu membuat pembatasan bagi warga India untuk menjual ataupun mengumpul garam, padalah garam merupakan salah satu bahan makanan pokok serta salah satu kekayaan alam di sana. Gandhi pun tergerak hatinya untuk melawan ketidakadilan tersebut dan mengumpulkan tiga kelompok agama besar yang ada di India tersebut untuk membuat perlawanan tanpa menggunakan kekerasan kepada Kolonial Inggris, Gandhi mengajak warga India untuk sama-sama melanggar undang-undang dari Inggris untuk memproduksi dan mengumpulkan garam, serta melakukan aksi-aksi kampanye agar gerakan tersebut meluas ke seluruh penjuru India.

Pada akhirnya Gandhi pun dipenjara dan tidak sedikit juga warga India yang ditangkap dan disiksa. Akan tetapi, warga India sama sekali tidak melawan. Mereka seolah-olah acuh terhadap undang-undang serta keberadaan Inggris pada saat itu. Dan setahun setelahnya Mahatma Gandhi dilepaskan dari tahanannya dan melakukan negosiasi dengan Inggris untuk memberikan kesempatan India untuk memiliki masa depan yang cerah dengan imbalan ia akan berhenti melakukan gerakan perlawanannya tersebut. Singkat cerita Inggris pun kewalahan dan memberikan hadiah kemerdekaan terhadap India sekaligus menyetujui pemisahan warga India Islam untuk memisahkan diri menjadi Pakistan (Rachmat 2019)

Berbicara soal Paradigma HI, terdapat satu paradigma yang sangat relevan jikalau kita kaitkan dengan kisah perjuangan dan prinsip hidup seorang Mahatma Gandhi. Sikap anti kekerasan dan optimisme yang terdapat di teori Liberalisme tercermin nyata oleh prinsip hidup seorang Mahatma Gandhi. Dari cara ia melawan sikap rasisme dan membuat perlawanan tanpa kekerasan itulah yang membuat penulis merasa bahwa Liberalisme ini telah tertanam dalam diri Mahatma Gandhi.

Kaum liberal yang memandang positif tentang sifat manusia. Mereka meyakini bahwa pikiran manusia dan prinsip-prinsip rasional yang ada di dalam masing-masing individu dapat dipakai pada masalah-masalah internasional. Kaum liberal mengakui bahwa setiap individu memang akan memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan bersaing terhadap satu hal. Akan tetapi, di sisi lain, individu-individu memiliki banyak kepentingan dan dengan demikian dapat terlibat dalam berbagai aksi sosial yang kooperatif dan kolaboratif, baik domestik atau internasional.Mereka juga percaya bahwa adanya interdepedensi ekonomi negara-negara didunia akan mencegah negara untuk melakukan perang contohnya adalah dilakukannya perdagangan bebas untuk saling menumbuhkan rasa kerjasama dan saling menguntungkan satu sama lain yang dapat menjadi perwujudan bahwa untuk mencapai sebuah perdamaian tidak harus melalui perang (N 2020).

Dalam teori liberalisme di HI sendiri terdapat poin yang menjadi gambaran umum Liberalisme serta bagaimana inti dari liberalisme itu sendiri, yaitu setiap individu mendapatkan perlakuan yang sama serta berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Di luar dari pembahasan seputar negara, dalam liberalisme terdapat unsur-unsur yang mendukung perdamaian dan keadilan terhadap tiap individu, hal ini persis dengan yang diterapkan oleh Mahatma Gandhi semasa hidupnya dan semasa ia memperjuangkan keadilan dan kedamaian (Pintar 2020)

Liberalisme juga sejatinya mengedepankan sikap optimisme dan sikap untuk lebih menjalin relasi serta negosiasi ketimbang melakukan kekerasan. Hal ini juga yang membuat penulis rasa konsep dari teori Liberalisme dan prinsip Mahatma Gandhi ini sangat berkaitan dan dapat dibuat dalam bentuk tulisan agar dapat mengetahui secara bersamaan teori liberalisme secara kemanusiaan dan juga sejarah dan prinsip dari seorang Mahatma Gandhi. Dari poin-poin inti dari Liberalisme dapat kita telaah bahwa Liberalisme sendiri sangat mendukung kebebasan berpendapat dan hak tiap individunya. Seperti yang dijelaskan di paragraf sebelumnya yang mengatakan bahwa “Setiap individu mendapatkan perlakuan yang sama serta berhak mendapatkan perlakuan yang sama”, dari dua poin itu saja dapat kita lihat betapa sangat selarasnya teori Liberalisme ini dengan prinsip yang dipegangnya semasa hidup maupun saat melawan ketidak-adilan kolonel Inggris (Bisnis 2020).

Dari perbandingan dua konsep di atas, tentunya sangat tidak baik jikalau kita samakan secara mentah-mentah, pasalnya teori Liberalisme sendiri merupakan sebuah studi, paham, dan ideologi yang di mana lahir sebagai kritik akan paham Realisme. Akan tetapi Mahatma Gandhi itu sendiri merupakan seseorang yang menggunakan paham Liberalisme sebagai  cara melawan ketidakadilan dan mengusir para penjajah yang kala itu membuat berbagai undang-undang yang tidak adil terhadap bangsa India. Meskipun kita tidak dapat menyamakan secara harfiah karena perbedaan antara teori dan aksi dari teori itu sendiri, akan tetapi kita dapat memandang hal tersebut sebagai bukti nyatanya telah terealisasikannya sebuah paham Liberalisme yang sebelumnya hanya sebagai kritik akan paham Realisme dan juga sebagai studi (Akbar 2014).

Terealisasikannya sebuah teori memperkuat eksistensi dari sebuah teori tersebut, apalagi teori yang direalisasikan merupakan bagian dari ideologi/paham yang banyak digunakan orang maupun negara sekalipun. Maka dari itu para ahli percaya bahwa liberalisme yang sejatinya memiliki kekurangan di dalamnya, dapat dilihat secara nyata keberhasilannya,yaitu dengan cara yang dibuat Mahatma Gandhi sebelumnya yang sedari belia telah memiliki prinsip keadilan dan perdamaian yang kuat, oleh karena itu ia tumbuh menjadi sosok yang mengedepankan hal itu. Bukan hanya sekedar prinsip keadilan dan perdamaian yang digunakan untuk dirinya, akan tetapi ia terapkan juga di lingkungannya seperti menolak rasisme di Afrika Selatan dan yang paling bersejarah,yaitu memperjuangkan kemerdekaan India tanpa adanya kekerasan sedikitpun. Tak ada seorang pun hingga saat ini yang dapat melakukan hal tersebut, tanpa kekerasan dan perlawanan sedikitpun.

Perjalanan hidup Gandhi yang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa India, juga mempengaruhi perspektif pergerakan pembebasan di belahan dunia lain. Melalui prinsip hidupnya, Gandhi seorang seolah-olah memberikan tamparan keras bagi kedigdayaan pemerintah Inggris Raya yang dikenal sebagai kaum paling ningrat dan beradab pada masa itu bahwa prinsip kemanusiaan untuk melakukan perlawanan tanpa kekerasan bukanlah sesuatu hal yang bisa dianggap remeh (Glenn 2018). Terlepas dari itu semua, terlalu sulit bagi kita untuk menghakimi mana kebijakan Gandhi yang tepat, mana yang salah. biar bagaimanapun juga, Gandhi telah menjalani perannya dengan sangat baik dalam upaya memerdekakan bangsanya.

Dari semua sejarah, prinsip maupun tindakan dari seorang Mahatma Gandhi telah banyak menginspirasi banyak orang dari berbagai kelompok maupun golongan, berkat ialah pandangan beberapa orang terhadap liberalisme tidak sepenuhnya pudar dan masih memberi banyak angin segar terhadap para idealis dari seluruh penjuru dunia. Seperti yang kita lihat bahwa sejarah dunia telah banyak melewati masa kelam seperti peperangan, pembantaian, pengkhianatan dan segala sesuatu yang berbau kekerasan serta ketidakadilan.kita patutnya bersyukur masih ada orang-orang yang memiliki keadilan dan optimis pada kedamaian yang tinggi, karena merekalah yang membuat keseimbangan dunia agar bisa berjalan seperti sekarang.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Akbar, Helmi. HELMI AKBAR DANAPARAMITHA. 26 Maret 2014. http://helmi-akbar-fisip13.web.unair.ac.id/artikel_detail-95740-(SOH201)%20Teori%20Hubungan%20Internasional-Perspektif%20Liberalisme%20dalam%20Teori%20Hubungan%20Internasional.html (diakses Januari 27, 2021).
  • Bisnis, Fakultas Ekonomi dan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. 20 Oktober 2020. https://ekonomi.bunghatta.ac.id/index.php/id/artikel/848-pengertian-liberalisme (diakses Januari 27, 2021).
  • Glenn, Ardi. Zenius Education. 2 Oktober 2018. https://kumparan.com/zenius-education/kisah-mahatma-gandhi-bapak-antikekerasan-yang-menginspirasi-1ryYqEke4hQ/full (diakses Januari 27, 2021).
  • N, Muhammad Fariz. 13 Maret 2020. https://www.kompasiana.com/muhammadfarizn2475/5e6b700e097f36291d453a82/paradigma-liberalisme-dalam-ilmu-hubungan-internasional (diakses Januari 27, 2021).
  • Pintar, Kelas. Kelas Pintar. 11 Desember 2020. https://www.kelaspintar.id/blog/tips-pintar/paham-liberalisme-beserta-ciri-atau-karakteristiknya-8712/ (diakses Januari 26, 2021).
  • Rachmat, Fahzry. Oke News. 28 September 2019. https://news.okezone.com/read/2019/09/27/18/2110281/pergerakan-garam-mahatma-gandhi-awal-perjuangan-india-merdeka (diakses Janiari 27, 2021).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *