Oleh Annisa Fauziah Lawi (HI 2019)

 

PENGANTAR

Timur Tengah adalah salah satu kawasan regional dengan konflik yang cukup kompleks. Salah satu konflik di kawasan Timur Tengah yang menarik perhatian global dan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kawasan ini adalah konflik antara Arab Saudi dan Iran. Seperti persaingan politik pada umumnya, konflik ini didasari oleh perbedaan kepentingan  dan perbedaan pandangan mengenai legitimasi islam.

Identitas Arab Saudi sebagai pelopor islam sunni Wahhabi dan Iran yang dikenal dengan aliran islam syi’ah  menjadi dasar persaingan ideologis yang menambah tingkat kompeksitas konflik antara dua negara ini. Selain itu, identitas  Arab Saudi  dan Iran yang dikenal memiliki peran penting di Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)  sebagai supplier minyak terbesar  di dunia dan ambisi Iran dalam meningkatkan sistem keamanan menimbulkan tingkat persaingan antara Arab Saudi dan Iran semakin tinggi. Lantas, adanya identitas yang hampir sama dan kuat antara dua negara power di Timur Tengah tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran.

Kajian Pustaka ini bersumber dari beberapa kajian penelitian  mengenai kawasan Timur Tengah terkhusus Arab Saudi dan Iran  serta beberapa kajian yang membahas mengenai identitas terkhusus peran identitas dalam hubungan antar negara. Kajian pustaka ini akan dimulai dengan penjelasan mengenai paradigma konstruktivisme yang akan digunakan sebagai sudut pandang penulis  dalam menganalisis kasus konflik antara Arab Saudi dan Iran. Lalu, penulis juga akan menjelaskan konsep dan gambaran umum mengenai identitas. Kemudian, dilanjutkan dengan analisis kasus menggunakan paradigma yang sudah dijelaskan pada subtema sebelumnya. Setelah itu, penulis juga akan menjelaskan mengenai konflik Arab Saudi dan Iran secara lebih mendetail.

Kajian pustaka ini akan diakhiri oleh kesimpulan yang akan mengelaborasi poin-poin argumen dari analisis penulis mengenai kasus yang dijelaskan. Fokus utama dalam kajian Pustaka ini adalah menganalisis begaimana peran identitas dalam konflik antara Arab Saudi dan Iran serta apa pengaruh dari identitas dalam konflik dua negara tersebut.

 

Konstruktivisme

Pada dasarnya, konstruktivisme memandang dunia sebagai sebuah konstruksi sosial. Dalam konstruktivisme dikenal istilah agensi yang dipahami sebagai kemampuan aktor dalam melakukan sesuatu dan struktur dipahami sebagai sistem internasional yang berlaku, baik itu sistem material atau sistem ideasional. Konstruktivisme meyakini bahwa kedua istilah ini saling mempengaruhi, agen mempengaruhi struktur dan struktur mempengaruhi agen. Dalam hal ini salah satu aspek yang mendorong perubahan yang terjadi antara struktur dan agen adalah pengetahuan bersama antara agen-agen yang terlibat. Selain itu, konstruktivisme juga menyinggung soal anarki. Berbeda dengan anggapan realisme yaitu, anarki menentukan sikap negara.

Konstruktivisme meyakini bahwa anarki adalah apa yang telah dibuat atau diyakini oleh negara.  Konstruktivisme juga menganggap bahwa norma sosial sangat penting dalam hubungan internasional, norma sosial dipahami sebagai “standar perilaku” antar aktor untuk memainkan perannya.  Selain asumsi mengenai, struktur, agen, dan norma sosial, konstruktivisme juga berasumsi mengenai identitas dan kepentingan. Identitas menurut konstruktivisme diyakini sebagai reperesentasi pehaman aktor mengenai “siapa mereka’ dan bagaimana peran dan minat mereka. Oleh karena itu, negara dapat memiliki banyak identitas tergantung bagaimana negara lain merepresentasikannya. Konstruktivisme meyakini bahwa, identitas  mempengaruhi kepentingan dan tindakan.

Dalam kajian pustaka ini, penulis menggunakan konsep identitas dan kepentingan dalam menganalisis kasus.  Seperti yang dijelaskan sebelumnya, konstruktivisme percaya bahwa  identitas adalah kepentingan dan tindakan. Dalam hal ini konstruktivisme meyakini bahwa kepentingan dan tindakan yang dilakukan oleh negara dipengaruhi oleh identitas negara tersebut. Untuk memahami lebih jelas mengenai identitas,  Alexander Wendt membagi identitas menjadi empat jenis ; (1) identitas personal, (2) identitas tipe, (3) identitas peran, dan (4) identitas kolektif.

Identitas personal adalah identitas dasar yang terjadi secara alamiah (bentuk fisik, lambang negara, nasionalisme,). Lain halnya dengan identitas personal, identitas tipe adalah identitas yang dipengaruhi oleh pelabelan atau karakteristik tertentu misalnya mengenai ideologi atau agama. Identitas peran adalah identitas yang timbul dari subjektivitas negara lain, identitas peran menempatkan negara untuk memegang posisi atau peran tertentu dalam struktur internasional. Identitas peran dibentuk berdasarkan interaksi antara negara dengan negara lain. Jenis identitas terakhir adalah identitas kolektif atau sering disebut dengan identitas kelompok, identitas ini terbentuk dari sekumpulan aktor yang berkumpul dan membentuk sebuah identitas. Terbentuknya identitas dari sekelompok aktor terjadi karena rasa solidaritas yang tinggi dan ketergantungan. Alasan penulis memilih paradigma konstruktivisme dengan konsep identitas dan kepentingan dalam menganaisis kasus ini karena paradigma ini sangat relevan dengan fokus utama penulis dalam menjelaskan bagaimana peran identitas dalam konflik Arab Saudi dan Iran. Selain itu, konsep konstruktivisme mengenai identitas dan kepentingan membahas secara rinci mengenai bagaimana peran identitas negara, sehingga hal ini memudahkan penulis dalam menganalisis kasus.

 

Analisis

Revolusi Islam di Iran pada tahun 1979 menimbulkan munculnya gelombang baru dalam perkembangan sekte islam di kawasan Timur Tengah. Naiknya Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai pemimpin Iran memberikan kesempatan untuk menjalankan visinya yaitu, pembangunan kekuatan regional melalui islam Syiah. Adanya keyakinan Iran untuk bangkit melalui islam syiah mendorong munculnya ambisi Iran untuk memperluas pengaruh islam Syiah di Timur Tengah. Hal ini berbanding terbalik dengan keyakinan Arab Saudi sebagai penganut Islam Sunni  menentang keyakinan dari sekte Islam lainnya termasuk Islam Shiah. Adanya peran Arab Saudi sebagai tempat lahirnya Islam menimbulkan klaim Arab Saudi sebagai pemimpin islam dunia. Perbedaan pandangan mengenai legitimasi Islam tersebut menjadi akar dari konflik yang terjadi antara keduanya.

Konflik kembali memanas pada tahun 1980 saat terjadi perang antara Iran dan Iraq. Arab Saudi secara diam-diam mendukung Iraq dan mengirimkan bantuan kepada Iraq saat perang berlangsung. Tindakan Arab Saudi memancing balasan dari Iran yang direalisasikan dengan meneriakkan slogan politik Iran di wilayah Mekkah dan Madinah kemudian menuduh otoritas Arab Saudi melakukan diskriminasi kepada Jemaah Iran yang hendak melakukan ibadah di Mekkah dan Madinah.

Tidak berhenti sampai di situ, pada tahun 1987 saat haji tahunan dilaksanakan di kota Mekkah,  terjadi bentrok antara jamaah syiah dan aparat kepolisian Saudi Arabia yang setidaknya menewaskan 400 orang termasuk 200 warga Iran menjadi korban. Menindaklanjuti hal tersebut, demonstran Iran kemudian menyerang kedutaan Arab Saudi di Kuwait dan Teheran. Akibat dari pemberontakan sebelumnya , Arab Saudi mengeluarkan kebijakan mengenai pembatasan visa jamaah Iran dalam jangka waktu setahun sejak tahun 1988 hingga 1989. Akan tetapi hubungan antara Iran dan Arab Saudi sempat mengalami perbaikan pada tahun 1990-1991 dimana Arab Saudi memberikan bantuan terhadap korban gempa di Iran yang menewaskan 40.000 masyarakat Iran.

Tidak lama setelah mengalami perbaikan, ketegangan antara Arab Saudi dan Iran kembali berlanjut pasca Amerika Serikat menginvasi Iraq dan menggulingkan Saddam Husain pada tahun 2003. Iran memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebarkan pengaruhnya di wilayah Iraq.  Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran Arab Saudi sehingga mengambil tindakan untuk meningkatkan pengaruhnya  di beberapa negara di Timur Tengah. Adanya persaingan dalam meningkatkan pengaruh antara Arab Saudi dan Iran mengakibatkan terjadinya  proxy war antara kedua negara tersebut di beberapa negara di Timur Tengah, salah satunya adalah Yaman.  Hingga saat ini,  baik Iran dan Arab Saudi masih berusaha untuk memperluas pengaruhnya bahkan melalui Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)  keduanya masih bersaing sebagai supplier terbesar minyak dunia

Konstruktivisme melalui konsep identitas dan kepentingan meyakini bahwa identitas adalah kepentingan dan tindakan. Arab Saudi hadir sebagai tempat lahir islam dan dikenal sebagai “pemimpin sunni dunia” identitas yang diperoleh Arab Saudi ini mempengaruhi kepentingan Arab Saudi untuk menyebarkan pengaruh islam sunni di dunia. Berkembangnya aliran muslim syiah di Iran dan ambisinya untuk menyebarkan pengaruh syiah di dunia membuat negara-negara lain merepresentasikan Iran sebagai ‘pemimpin syiah dunia”.

Identitas ini mempengaruhi kepentingan dan tindakan Iran melalui bentuk perlawanannya kepada Arab Saudi yang berusaha menahan persebaran pengaruh islam syiah oleh Iran. Adanya identitas yang berlawanan mempengaruhi kepentingan yang bertolak belakang antara kedua negara ini. Hal ini menimbulkan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran. Selain itu, kosntruktivisme juga  meyakini bahwa identitas negara dapat terbentuk dari persepsi negara lain. Dengan kata lain , bagaimana negara lain melabeli sebuah negara. Dalam kasus konflik antara Arab Saudi dan Iran, Arab Saudi melabeli Iran sebagai “pelopor islam syiah” akibat dari  pelabelan identitas tersebut, Arab Saudi  mempersepsikan Iran sebagai “musuh” atau “ancaman” yang berpotensi melengserkan eksistensi islam sunni bahkan Arab Saudi sebagai kekatan terbesar di Timur Tengah. Sama halnya dengan Iran yang mempersepsikan Arab Saudi sebagai “ancaman” atau “penghalang” dalam mencapai kepentingannya.

Selain mengenai legitimasi islam, keduanya juga memiliki identitas sebagai supplier minyak terbesar di dunia dan memegang peran penting dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Identitas ini kembali menimbulkan persaingan antara Arab Saudi dan Iran sebagai pengekspor minyak terbesar dan  bersaing dalam memperluas pengaruhnya di organisasi tersebut. Tipologi identitas Alexander Wend yang sesuai dengan kasus konflik Arab Saudi dan Iran ini adalah, jenis kedua yaitu identitas tipe dan identitas peran. Baik Arab Saudi dan Iran memiliki identitas  sebagai negara islam atau negara pelopor islam—meskipun keduanya memiliki pandangan yang berbeda  mengenai legitimasinya. Kemudian mengenai identitas peran, keduanya memiliki identitas sebagai supplier minyak terbesr di dunia. Karenanya,baik Arab Saudi dan Iran memiliki peran untuk mejadi pengekspor minyak di dunia.

 

Kesimpulan

Konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran diawali oleh perdebatan mengenai legitimasi islam dan ambisi keduanya untuk memperluas pengaruhnya. Arab Saudi yang memiliki identitas sebagai “pemimpin islam sunni” dan sebagai tempat lahirnya islam memiliki kepentingan untuk memperluas pengaruhnya di wilayah Timur Tengah. Hal tersebut bertolak belakang dengan kepentingan Iran dalam menyebarkan pengaruh islam syiah dan identitasnya sebagai “pemimpin islam syiah”. Karena adanya identitas yang bertolak belakang menimbulkan ketegangan antara kedua negara. Melalui konstruktivisme, Arab Saudi memiliki persepsi bahwa Iran adalah “musuh” atau “ancaman” yang berpotensi menurunkan eksistensi  islam sunni bahkan menggantin peran Arab Saudi sebagai kekuatan terbesar Timur Tengah. Sama halnya dengan Iran yang memiliki persepsi bahwa Arab Saudi adalah penghalang dalam melaksanakan kepentingannya untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Lantas, identitas memiliki pengaruh besar dalam konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran, sebagaimana dijelaskan bahwa keduanya hampir memiliki identitas yang bertolak belakang.

Daftar Pustaka

Cardinalli, T. G. (n.d.). The Sunni-Shia Political Struggle Between Iran and Saudi Arabia. Strategic Informer: Student Publication of the Strategic Intelligence Society Vol. 1 Iss. 2 (6), 27-28.

Rich, B. L. (2015). The State as an Identity Racketeer : The case of Saudi Arabia. Melbourne: Monash University.

Nevo, J. (1998). Relogion and National Identitiy In Saudi Arabia. Middle Eastern Studies Vol. 34 No. 3, 34-53.

Bendetta Berti, Y. G. (2004). Saudi Arabia Foreign Policy on Iran and the Proxy War in Syria : Towards a New Chapter? Israel Journal of Foreign Affairs Vol.4 (3), 25-33.

Theys, S. (2018, February 23). Introducing Constructivism in International Relations Theory. Retrieved from E-International Relations: https://www.e-ir.info/2018/02/23/introducing-constructivism-in-international-relations-theory/

Mengshu, Z. (2020). A Brief Overview of Alexander Wendt’s Constructivism. Retrieved from E-International Relations: https://www.e-ir.info/2020/05/19/a-brief-overview-of-alexander-wendts-constructivism/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *