Memahami Bush’s Operation Iraqi Freedom: Suatu Intervensi Militer Unilateral

Oleh: Oktaviano Nandito G. (HI 2018) – ditoguntur10@gmail.com

       Alfitra Arysuci (HI 2018) – Alfitraharysucii47@gmail.com

Pengantar

            Awal abad ke-21 ditandai dengan penyerangan luar biasa terhadap Amerika (selanjutnya disebut AS). Serangan tersebut merupakan penodaan terhadap kebesaran AS sebagai negara hegemon dunia. Hal ini semakin diperparah dengan fakta bahwa yang menyerang AS bukanlah entitas negara, melainkan entitas non-negara yang menamakan diri mereka Al-Qaeda. Serangan tersebut dikenang dunia dengan peristiwa 9/11.

Merespon hal tersebut, presiden AS, Bush mengumumkan suatu era baru dalam dunia internasional. AS mengutuk kejahatan tersebut dan mengumandangkan perang terhadap terorisme global. Hal tersebut berimplikasi pada terbaginya dunia menjadi dua kutub, mendukung AS melawan teroris atau mendukung teroris dan melawan AS.[1]

Fenomena itu juga diikuti juga oleh demonisasi Islam sebagai agama teroris. Implikasinya sederhana, negara Islam kemudian dicap pula sebagai negara teroris. Narasi lain seperti otoriter dan kemiskinan juga melekat pada negara Islam. Umumnya, semua itu merujuk pada regional Timur Tengah yang dicap sebagai sarang teroris dan pendukung teroris.[2]

Demonisasi Islam tersebut menjadi dasar untuk melegitimasi beberapa tindakan AS dalam melakukan perang terhadap terorisme. Hal yang paling nampak adalah invasi AS ke Irak. Invasi tersebut mengajukan alasan bahwa sebagai negara Islam, Iraq mendukung Al-Qaeda dan mempunyai senjata pemusnah massal.[3]Otoriternya pemimpin Irak dan kemiskinan yang ada juga menjadi landasan AS untuk melakukan invasi.[4]Beberapa literatur menyebut tindakan ini sebagai pre-emptive war dan praktik dari just war.[5] Tujuannya sederhana, yaitu untuk memberi kebebasan untuk masyarakat Irak dan juga pencegahan terhadap perkembangan terorisme di dunia.[6]

Invasi AS ke Irak ini kemudian terbukti tidak berdasar dengan segala tuduhannya. Meski penolakan datang dari institusi internasional maupun masyarakat dunia, invasi itu tetap terjadi. Hasil akhir yang diinginkan pun sama sekali tidak tercapai. Gelombang perlawanan dari masyarakat Irak terus terjadi, tuduhan atas kepemilikan senjata pemusnah massal tidak terbukti, dan dukungan Irak terhadap jaringan teroris hanya imajinasi.

Kesemua hal tersebut sudah sepatutnya memunculkan pertanyaan yang mendasar. Kendati dengan segala macam penolakan sebelum invasi ini terjadi, mengapa kebijakan luar negeri ini tetap diambil? Pertanyaan ini merujuk pada pertanyaan yang lebih mendasar lagi, bagaimana Bush’s Operation Iraqi Freedom ini bisa terjadi ? Lebih jauh, keterkaitan invasi ini erat dengan arah politik luar negeri AS di masa Bush sebagai presiden. Pertanyaan lain pun juga bisa diajukan, bagaimana kecenderungan atau arah politik luar negeri AS di masa Bush?

            Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, tulisan ini berargumen bahwa keputusan invasi ini terjadi dengan dorongan faktor eksternal, internal masyarakat, lingkar elit, dan individu (Presiden Bush). Sebagian faktor tersebut memberikan legitimasi dan satu di antaranya menjadi fatkor dominan. Sementara itu, kecenderungan politik luar negeri saat itu adalah menguasai dunia dengan kekhususan pada Timur Tengah dengan penggunaan militer sebagai kekuatannya. Secara teknis, tulisan ini akan dibagi menjadi tiga babak dengan perincian, pengantar, analisis politik/kebijakan luar negeri yang berisi pemaparan faktor penentu kebijakan, arah politik/kebijakan luar negeri AS, kesimpulan, dan daftar pustaka.

Memetakan Sebab

Faktor Internal

Faktor internal di sini merujuk pada respon masyarakat AS terhadap keputusan masyarakat dalam menilai kebijakan luar negeri AS. Ada respon positif dari masyarakat cenderung mempermudah pengambilan keputusan. Sebaliknya, respon negatif cenderung akan menghambat pengambilan keputusan, kendati tidak bisa disebut signifikan.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, opini publik AS bisa dikategorikan sebagai pro maupun kontra. Pada dasarnya, sulit untuk menyebutkan seberapa besar dukungan atau penolakan di masyarakat terkait invasi Amerika Serikat di Iraq maupun Afghanistan  Menurut data dari Pew Research Center, setiap tahunnya, pasca keputusan Bush untuk menginvasi Irak pada tahun 2003, opini publik terpecah belah. Pada tahun pertama dan kedua invasi Amerika di Irak, pemerintah mendapat dukungan penuh dari masyarakat.[7]  Hal ini juga didukung mengingat secara psikologis, pasca penyerangan terorisme di Amerika Serikat, masyarakat memilki persepsi tersendiri dengan apa yang disebut dengan teroris. Akibat dari itu, banyak terjadi diskriminasi sosial di masyarakat yang erat dikaitkan dengan identitas teroris, yaitu Islam, sehingga hal itupun membuat dukungan masyarakat kala itu meningkat. Sedangkan di tahun-tahun selanjutnya, 54% mayoritas masyarakat menyatakan bahwa keputusan pemerintah untuk menggunakan kekuatan dalam invasi Irak adalah hal yang salah sehingga Amerika perlu menarik kembali pasukannya, dan  38% diantaranya menyebutkan bahwa invasi Irak adalah hal yang tepat.[8]

Adanya ketidakstabilan yang demikian sejatinya membuat pengambilan keputusan menginvasi lebih muda. Sebab, opini publik terpecah dan penolakan terhadapnnya tidak masif maupun memberi signifkansi.

 

 

                  Source: Pew Research  Center

 

Faktor Elit Politik

            Bush sebagai pemimpin tertinggi di Amerika Serikat,mengambil keputusan berdasarkan kesepakatan bersama dengan pihak-pihak terkait dalam Kongres Amerika Serikat.Upaya yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat salah satunya adalah dengan menetapkan penggunaan kekuatan militer (the use of military force) dalam melawan Irak yang disepakati bersama dalam Kongres Amerika Serikat. Penggunakan kekuatan dalam melawan Irak merupakan hak otoritas yang dimiliki oleh Amerika Serikat sebagai upaya untuk mempertahankan dan menjaga  keamanan nasionalnya.[9] Hal ini juga disampaikan oleh Sekertaris Negara Collin Powell dalam doktrinnya yang menyebutkan bahwa kekuatan hanya digunakan sebagai langkah terakhir dan didukung oleh opini publik.[10] Hal serupa juga disampaikan oleh Kongres pada tahun 2002 dalam Resolusinya.

Whereas in the Authorizaion for Use of Military Force Against Iraq Resolution (Public Law 102-1), Congress has authorized the President “to use United States Armed Forces pursuant to United Nations Security Council Resolution 678 (1990)……The President is authorized to use Armed Forces of the United States as he determines to be necessary an appropriate.[11]

Segala bentuk strategi yang akan dilaksanakan merupakan hasil integrasi antara negara dan Departemen Pertahanan Militer Amerika Serikat. Dalam hal ini, salah seorang yang paling berpengaruh dalam penyusunan starategi invasi Irak adalah Sekertaris Pertahanan Donald Rumsfeld. Ia adalah salah satu yang aktif dalam menyuarakan penggunaan kekuatan dalam melawan Irak. Visi yang Rumsfled rencankan bukan hanya sebatas perlunya penggunaan kekuatan dalam invasi Irak, tetapi dia juga mengatur, mengolah, dan melatih kekuatan untuk jangka panjang.[12]

Lebih lanjut, lingkar elit politik di bawah kepemimpinan Bush merupakan faktor penting yang mempengaruhi invasi Irak ini. Collin Powell dan Donald Rumsfeld hanya dua diantaranya yang mempengaruhi jalannya operasi pembebasan Irak. Nama-nama lain seperti U.S permanent representative to the U.N.  John Bolton, Anggota Departemen Pertahanan Paul Wolfowitz dan Richard Perle, penulis Robert Kagan, serta William Kristol yang tergabung dala kelompok Neokonservatif juga berperan. Kelompok ini menganggap bahwa Amerika merupakan satu-satunya negara yang mendominasi dunia dengan menyebarkan nilai demokrasi dan liberalnya, seperti halnya tujuan dari invasi Irak ini. [13]

Faktor Individu

            Dalam pengambilan keputusan kebijakan luar negeri, faktor individu mempunyai signifikansi tersndiri. Kendati dalam prosesnya faktor individu ini sering diabaikan karena tidak bisa dipastikan dengan data akurat[14], pertimbangan atas perannya dalam pengambilan keputusan tetap mesti diperhitungkan. Cakupan faktor individu ini kemudian umumnya mencakup masa lalu, lingkungan, dan kehidupan individu. Hal tersebut penting untuk menjelaskan kecenderungan dan sebab psikologis individu dalam mengambil keputusan. Berdasarkan hal tersebut, pada bagian ini, faktor individu akan mencakup bagian lingkungan keluarga, lingkungan bergaul, dan pribadi individu. Ketiga hal ini akan digunakan untuk menganalisis faktor ideosinkretik seorang Presiden Bush dalam mengambil keputusan untuk menyerang Irak.

Bush merupakan anak dari George H.W. Bush yang beraliran republik.[15]Hal ini berpengaruh terhadap aliran politik yang kemudian dia ambil, Terbukti bahwa partai yang mengusungnya ketika menjadi presiden adalah partai republik. Hal tersebut berpengaruh terhadap keputusannya yang cenderung konservatif dan menggunakan militer dalam menghadapi ancaman terhadap Amerika.[16]

Ayah Bush juga merupakan mantan tentara militer. Lingkungan militer seperti itu membuat Bush menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab. Pada tataran itu, kedisiplinan dan tanggung jawabnya ada pada karakter yang keras.[17]Hal ini juga semakin diperkuat dengan pengalaman hidupnya yang sempat menjadi pilot pesawat tempur di Texas.[18]Lingkungan tersebut menegaskan pengalaman hidup Bush telah menempanya menjadi pribadi yang tegas mengambil keputusan.

Lebih lanjut, pengaruh pengalamannya sebagai pebisnis minyak dan lingkungan bisnis keluaganya juga punya implikasi. Kemampuan bisnis Bush cukup terasah, maka dari sana dia cenderung mandiri untuk menghadapi masalah.[19]Masih dalam konteks bisnis, pengalamannya sebagai pebisnis minyak sekaligus sebagai bagian dari dinasti politik ayahnya juga turut memberi peran. Tercatat, ayah Bush adalah seorang pebisnis minyak dan seorang miliuner kaya raya.[20]Invasi ke Iraq merupakan salah satu bentuk terselubung kepentingan Amerika terhadap minyak di Timur Tengah.[21]Lingkungan serta dinasti bisnis minyak keluarganya bisa saja berpengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk melakukan invasi.

Selain itu, ketaatan beragama Bush sebagai seorang Kristen konservatif[22] juga mempengaruhi keputusannya untuk melakukan demonisasi terhadap agama Islam. Kendati tidak bisa dikatakan sebagai faktor dominan , profil demikian perlu juga dipertimbangkan. Apalagi Kristen Konservatif ini juga berkelindan dengan kaum Hawkish dari Republikan yang juga turut berpengaruh terhadap visi politik Bush sebagai politisi.[23]

Faktor Eksternal

            Pada konteks eksternal ini, hal yang dirujuk adalah keadaan dunia internasional. Secara lebih spesifik, keadaan eksternal ini akan dikaitkan dengan invasi AS ke Iraq. Untuk memulainya, kelompok akan mengambil suatu konteks eksternal global yang cakupannya luas, yaitu kondisi dunia interasnional pasca Perang Dingin. Lebih khusus, konteks regional Timur Tengah sendiri akan dijadikan sebagai faktor eksternal lain yang patut diperhitungkan.

Pasca Perang Dingin, dunia yang sebelumnya bipolar menjadi unipolar dengan keruntuhan Uni Soviet.[24] Kondisi ini meletakkan Amerika sebagai satu-satunya negara hegemon dunia. Sebagai konsekuensi lanjutan, nilai-nilai liberal yang diusung oleh AS menjadi nilai yang dianut oleh berbagai negara di dunia. Pada konteks ini, globalisasi terjadi. Dengan kata lain, muara dari unipolaritas dunia adalah globalisasi.

Globalisasi adalah situasi pasca perang dingin yang menimbulkan optimisme terhadap perdamaian dan perkembangan teknologi.[25] Hal tersebut sangat mendasar mengingat perdagangan bebas, demokrasi, nilai-nilai liberal lainnya telah menjadi nilai hegemon dunia dan banyak diterima di dunia.Globalisasi juga menghasilkan perluasan aktor dalam hubungan internasional.[26] Diskursus mengenai aktor non-state pasca Perang Dingin mulai mendapat perhatian dalam hubungan Internasional.

Perluasan aktor non-state ini berpengaruh juga pada region Timur Tengah. Kelompok basis agama radikal melakukan pemberontakan terhadap opresi. Dalam banyak literatur, aktor non-state seperti ini kerap pula disebut sebagai penebar ancaman atau teroris.[27]Aktor non-state ini punya andil dalam menciptakan instabilitas di kawasan Timur Tengah. Bahkan, mereka juga menciptakan perubahan perimbangan kekuatan.[28]

Seiring dengan perluasan aktor tersebut, dua hal penting juga terjadi, yaitu konflik Timur Tengah dan Demonisasi Islam di dunia. Konflik Timur Tengah itu berupa Perang Teluk II[29] dan konflik negara-negara Arab-Israel. Konflik tersebut mengguncang harga(tinggi) minyak dunia dan berpengaruh terhadap stabilitas kawasan. Hal tersebut, berimbas pada negara-negara maju yang membutuhkan minyak, khususnya Amerika.[30] Adapun, selain itu, demonisasi Islam juga terjadi secara global di akhir peran dingin dan semakin intensif setelah Uni Soviet runtuh.[31]Revolusi Iran yang identik dengan peran kelompok agama dijadikan basis demonisasi Islam. Apa yang disebut dengan Islamophobia bermula dari sini. Ini kemudian berkelindan dengan dinamika perluasan aktor non-state yang disebut dengan teroris dengan cap Islam sebagai atribut terorisme.

Berdasarkan semua faktor tersebut, dua kondisi eksternal dominan bisa diajukan.. Pertama, dunia internasional pasca-Perang Dingin telah menampilkan Amerika sebagai satu-satunya negara hegemon dunia. Hal ini berimplikasi pada mudahnya pengambilan keputusan AS untuk menginvansi Iraq secara sepihak (intervensionisme unilateral).[32]Kedua, kondisi regional Timur Tengah yang penuh konflik berimplikasi terhadap naiknya harga minyak. Hal ini membuat invasi terhadap Irak menjadi sebuah opsi menguntungkan sebagai pemenuhan kepentingan nasional AS. Lebih dari itu, perluasan aktor non-state yang disertai dengan demonisasi Islam oleh Barat juga semakin memberikan pijakan untuk pembangunan narasi Islam adalah teroris. Narasi tersebut kemudian semakin melegitimasi pengambilan keputusan AS untuk menginvasi Irak.

Mana Faktor Dominan?

            Semua faktor yang mendorong pengambilan keputusan untuk melakukan kebijakan Iraq telah dipaparkan. Kesemua faktor itu mencakup faktor domestik (masyarakat), lingkar elite, individu, dan juga eksternal. Kesemua faktor tersebut menyajikan beberapa hal pendorong serentak pula penghambat. Mencari yang paling dominan di antaranya berarti melihat faktor mana yang paling signifikan. Kelompok sendiri menafsirkan signifikan itu dengan pernyataan sederhana, ketiadaan faktor tersebut akan mengecilkan pengambilan keputusan untuk melakukan invasi milter ke Iraq.

Berdasarkan pemaparan semua faktor, kelompok mengambil kesimpulan bahwa faktor paling dominan di sini adalah elit politik yang berada di lingkar politik Bush. Lingkar elit tersebut adalah Paul Wolfowitz, Elliot Abrams, Marc Thiessen, William Kristol, Robert Kagan, dan Peter Wehner. Elit-elit politik tersebut  secara informal sering disebut kelompok Hawkish atau neoconservative.[33] Elit politik di awal tahun 1990-an telah merancang suatu proyek besar, yaitu Project of New American Century yang bertujuan untuk menjadikan Amerika sebagai penguasan tunggal dunia dan penguasaan akan minyak adalah pintu masuknya.[34]

Keberadaan lingkar elit ini sedemikian pentingnya pada pengambilan keputusan ini sampai-sampai faktor-faktor lain seperti tidak punya signifikansi tanpa lingkar elit ini. Faktor eksternal misalnya, penolakan dari masyarakat internasional dan penolakan oleh beberapa negara anggota PBB sama sekali tidak berpengaruh terhadap invasi AS.[35] Keadaan dunia internasional yang menjadikan AS sebagai ]negara hegemon juga kehilangan signifikansi tanpa keberadaan elit politik ini. Sebab, kondisi demikian telah ada jauh sebelum invasi AS ke Irak. Jika kondisi demikian bisa menimbulkan invasi semacam ini, tentu saja sudah banyak invasi yang telah dilakukan oleh AS.  Begitu pun signfikansi kepribadian Bush. Ketiadaan elit politik yang mendukung tidak akan membuat Bush seorang diri mampu mengambil keputusan menginvansi Irak. Ringkasnya, menyitir pendapat Hinnesbusch, ketiadaan elit politik atau lingkar politik sayap kanan ekstrem/neokonservatif tidak akan menjamin terjadinya invasi. Sebab, lingkar elit politik lain akan mencari jalan yang lebih damai sifatnya.[36]

Bush dan Kebijakan Luar Negerinya, Ke Mana?

Berdasarkan faktor-faktor yang telah dijelaskan, kelompok melihat bahwa arah kebijakan politik luar negeri Bush dalam operasi pembebasan Irak ini berorientasi kepada kepentingan nasional Amerika Serikat dalam memperluas hegemoninya di dunia, khususnya kawasan Timur-Tengah. Kekuatan menjadi kunci penting dalam mencapai kepentingan nasional Amerika Serikat. Oleh karena itu, pasca tragedi 9/11 merupakan waktu yang tepat bagi Amerika untuk menginvasi Irak sebagai bentuk unjuk kekuatan Amerika Serikat di mata dunia.

Militerisasi menjadi fokus utama kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat yang dilakukan melalui bentuk invasi di Irak dan Afganishtan. Irak dianggap sebagai negara yang tidak kooperatif dan terbuka atas kepemilikan weapon of mass destruction dan dukungannya terhadap jaringan terorisme. Selain itu, Amerika Serikat juga menganggap bahwa Irak di bawah rezim Saddam Husein dapat menjadi ancaman bagi  kepentingan nasional Amerika Serikat atas minyak di Timur-Tengah.

Simpulan

Invasi AS terhadap Irak adalah salah satu peristiwa penting di abad 21 yang punya pemicu dari peristiwa 9/11 di Amerika. Invasi ini mengatasnamakan perdamaian dan juga pencegahan atas kejahatan terorisme yang lebih global sifatnya. Kendati telah mendapat berbagai macam penolakan dari masyarakat internasional dan nihil bukti,  invasi ini pada akhirnya tetap dilaksanakan. Peran elit politik yang secara inforaml sering disebut sebagai kelompok Hawkish atau Neokonservatif menjadi faktor yang paling dominan dalam menentukan kebijakan ini terlaksana. Hal tersebut juga menandai abad 21 sebagai era di mana politik luar negeri AS cenderung ultra unilateral dan militeristik. Sifatnya yang demiikian tertuju pada penguasaan dunia yang menjadikan penguasaan akan Timur Tengah sebagai agenda utama.

 

[1] Lestari, Dian. (2018). Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat Dalam War On Terorrism Pada Masa Kepemimpinan Barrack Obama. Skripsi. Tidak Terbit. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politi: Universitas Hasanuddin.

[2] Bazian, Hatem. (2018). Islamophobia and Structuring Post-Cold War New World Order. https://www.dailysabah.com/columns/hatembazian/2018/08/20/islamophobiaandstructuringthepostcoldwarnewworld-order,  diakses pada 19 April 2020

[3] Public Law 107-243, Authorizationfor the use of Military Force Against Iraq Resolution of 2002, dari https://www.congress.gov/107/plaws/publ243/PLAW-107publ243.pdf

[4] Dalam istilah lainnya, AS ingin Irak yang ‘lebih makmur dan demokratis’

[5] Bojang, M. B. S. 2016. „The Hidden Agenda Behind the Invasion of Iraq: The Unjust War Over Iraq in 2003.“ Central European Journal of Politics 2 (2): 1–14.

[6] CRS Report for Congress, Operation Iraqi Freedom: Strategis, Approaches, Results, and Issues for Congress, dari https://fas.org/sgp/crs/mideast/RL34387.pdf, diakses tanggal 17 April 2020.

[7] Tom Resintiel (2008), Public Attitudes Toward the War in Iraq: 2003-2008, Pew Research Center, https://www.pewresearch.org/2008/03/19/public-attitudes-toward-the-war-in-iraq-20032008/, diakses pada 20 April 2020

[8] Ibid.

[9] Administration of George W. Bush 2003. ‘Address to the Nation on Iraq’, pp.277, diakses  pada 18 April 2020 < https://www.govinfo.gov/content/pkg/PPP-2003-book1/pdf/PPP-2003-book1-doc-pg277.pdf>.

[10] CRS Report for Congress Operation Iraqi Freedom: Strategis, Approaches, Results, and Issues for Congress, dari https://fas.org/sgp/crs/mideast/RL34387.pdf, diakses tanggal 17 April 2020.,(pp.11),

[11] Public Law 107-243, Authorizationfor the use of Military Force Against Iraq Resolution of 2002, dari https://www.cong­ress.gov/107/plaws/publ243/PLAW-107publ243 pdf

[12] Ibid.  (pp.10)

[13] Golutvina (2018), Political Elites in the USA under George W. Bush and Barack Obama: Structure and International Politics. Historical Social Research, 43. 141-163. 10.12759/hsr.43.2018.4.141-163, diakses pada 20 April 2020

[14] Immelman, A. (2002). The political personality of U.S. president George W. Bush. In L. O. Valenty & O. Feldman (Eds.), Political leadership for the new century: Personality and behavior among American leaders (pp. 81–103). Westport, CT: Praeger. diakses dari Digital Commons website: http://digitalcommons.cs­bsju.edu/psych­ology_pubs/52/

[15] Shani, Irfan, dkk. (2019). Masa Kepemimpinan George Walker Bush Di AS. https://www.researchg­ate.net/publica­tion/333803361 diakses tanggal 17 April 2020.

[16] Republican Platform. https://gop.com/platform/american-exceptionalism/, diakses tanggal 19 April 2020.

[17] Yusran.(2010). Telaah Doktrin Bush Dan Obama Dalam Konteks Studi Amerika Dan Dunia. https://www.budiluhur.ac.id/telaah-doktrin-bush-dan-obama-dalam-konteks-studi-amerika-dan-dunia/, diakses tanggal 17 April 2020.

[18] Duignan, Brian. George W.Bush. https://www.britannica.com/biography/George-W-Bush, diakses tanggal 17 April 2020.

[19] Yusran.(2010). Telaah Doktrin Bush Dan Obama Dalam Konteks Studi Amerika Dan Dunia https://www.budi­luhur.ac.id/telaah-doktrin-bush-dan-obama-dalam-konteks-studi-amerika-dan-dunia/,diakses tanggal 17 April 2020.

[20] Hasan, Akhmad. (2018). Kiat George H.W. Bush Membangun Dinasti Politik Tersukses di AS. https://tirto.id/kiat-george-hw-bush-membangun-dinasti-politik-tersukses-di-as-cJSG, diakses tanggal 19 April 2020.

[21] Danju, I., Maasoglu, Y., & Maasoglu, N. (2013). Th e Reasons Behind U.S. Invasion of Iraq. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 81, 682–690. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2013.06.496

[22] Dalam beberapa kesempatan kelompok Kristen Konservatif ini juga tergabung dalam kelompok Hawksih yang punya kecenderungan untuk mengatakan bahwa Islam adalah agama penuh dengan kekerasan.

[23] Yusran.(2010). Telaah Doktrin Bush Dan Obama Dalam Konteks Studi Amerika Dan Dunia. https://www.budiluhur.ac.id/telaah-doktrin-bush-dan-obama-dalam-konteks-studi-amerika-dan-dunia/, diakses tanggal 17 April 2020.

[24] Ibid.

[25] Najwah, Lia.(2015). Dinamika Struktur-Agen Perubahan Internasional “Hegemoni AS vs World Polity pasca 9 11. Jurnal Transformasi Global, vol.2(1), 52-70. https://transformasiglobal.ub.ac.id/index.php/trans/article/view/23.

[26] Alami Nur, Athiqah.(2011). Profil Dan Orientasi Kebijakan Luar Negeri Indonesia Pasca Orde Baru. Jurnal Penelitian Politik, Membaca Arah Politik Luar Negeri Indonesia, vol.8(2)163-182. Jakarta:LIPI.

[27]  Winarno, B. (2011). Isu-isu Global Kontemporer. (Yogyakarta: CAPS), hlm.166-167.

[28] Charaountaki, Marianna.(2014). US Foreign Policy in Theory and Practice: from Soviet era Containment to the

era of the Arab Uprising(s). Journal of International Relations and Foreign Policy,vol.2(2), 123-145. DOI: 10.1080/10803920.2014.947214

[29]Wijayanti, N. I. (2006). Intervensi AS Terhadap Irak dalam Perang Teluk III tahun 2003. Universitas Sebelas Maret Institutional Repository.

[30] Hinnebusch , R (2007) . American invasion of Iraq : causes and consequences . Perceptions , vol. 12 (1) , 1,pp. 9-27 .

[31] Bazian, Hatem. (2018).  Islamophobia and Structuring Post-Cold War New World Order. https://www.dailysaba­h.co­m/­colu­mns/hate­m-bazian/2018/08/20/islamophobia-and-structuring-the-post-cold-war-new-world-order, diakses tanggal 19 April 2020.

[32] Dalam kajian teoritias, ketiadaan tandingan negara superpower memang cenderung menimbulkna ekspansi dari satu-satunya negara superpower. Bdk. Raymond Hinnebusch (2007) The US Invasion of Iraq: Explanations

and Implications, Critique: Critical Middle Eastern Studies, 16:3, 209-228, DOI:10.1080/10669920701616443

[33]  Salah satu definisi hawkish dalam kamus Oxford adalah advocating an aggresive or warlike policy, especially in foreing affairs. Bdk. https://oxford-dictionaries.com/definition/hawkish.

[34] Hinnebusch , R (2007) . American invasion of Iraq : causes and consequences . Perceptions , vol. 12 (1) , 1,pp. 9-27 . dan Sihbudi, Riza. (2015). Indonesia dan Dinamika Politik Timur Tengah (Januri-November 2011). Jurnal Penelitian Politik, Membaca Arah Politik Luar Negeri Indonesia, vol.8(2)231-244. Jakarta:LIPI.

[35] Lestari, Dian. (2018). Kebijakan Politik Luar Negeri AS Dalamwar On Terrorism Pada Masa Kepemimpinan Barack Obama. Skripsi. Tidak diterbitkan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Hasanuddin:Makassar.

[36] Bdk. Hinnebusch , R (2007) . American invasion of Iraq : causes and consequences . Perceptions , vol. 12 (1) , 1,pp. 9-27

 

DAFTAR PUSTAKA

 Administration of George W. Bush.(2003). Address to the Nation on Iraq. pp.277. https://www.govinfo.gov/content/pkg/PPP-2003-book1/pdf/PPP-2003-book1-doc-pg277.pdf, diakses  pada 18 April 2020.

Alami Nur, Athiqah.(2011). Profil Dan Orientasi Kebijakan Luar Negeri Indonesia Pasca Orde Baru. Jurnal Penelitian Politik, Membaca Arah Politik Luar Negeri Indonesia, vol.8(2)163-182. Jakarta:LIPI.

 Bazian, Hatem. (2018).  Islamophobia and Structuring Post-Cold War New World Order.   https://www.dailysaba¬h.co-m/¬colu¬mns/hate¬m-bazian/2018/08/20/islamophobia-and-struc­t­u­­r­ing-the-post-cold-war-new-world-order, diakses pada 19 April 2020.

Bojang, M. B. S.(2016).The Hidden Agenda Behind the Invasion of Iraq: The Unjust War Over Iraq in 2003. Central European Journal of Politics 2 (2): 1–14.

Charaountaki, Marianna.(2014). US Foreign Policy in Theory and Practice: from Soviet era Containment to the era of the Arab Uprising(s). Journal of International Relations and Foreign Policy,vol.2(2), 123-145. DOI: 10.1080/10803920.2014.947214.

CRS Report for Congress.(2019). Operation Iraqi Freedom: Strategis, Approaches, Results, and Issues for Congress. https://fas.org/sgp/crs/mideast/RL34387.pdf, diakses pada 17 April 2020.

Danju,I,Maasoglu,Y.,&Maasoglu,N.(2013). The Reasons Behind U.S. Invasion of Iraq. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 81, 682–690. https://do­i­.org/10.1016/j.­sbspro­.­2013.06.496.

Duignan,Brian.(2010) George W.Bush.  https://www.britannica.com/biography/George-W-Bush,   diakses tanggal 17 April 2020.

Golutvina (2018), Political Elites in the USA under George W. Bush and Barack Obama: Structure and International Politics. Historical Social Research, 43. DOI: 141-163. 10.12759/hsr.43.2018.4.141-163.

Hasan,Akhmad.(2018). Kiat George H.W. Bush Membangun Dinasti Politik Tersukses di AS. https://tirto.id/kiat-george-hw-bush-membangun-dinasti-politik-tersukses-di-as-cJSG, diakses pada 19 April 2020.

 Hinnebusch,R .(2007) . American invasion of Iraq : causes and consequences . Perceptions , vol. 12 (1) , 1,pp. 9-27.

Hinnebusch,R.(2007). The US Invasion of Iraq: Explanations and Implications, Critique: Critical Middle Eastern Studies, 16:3, 209-228, DOI:10.1080/10669920701616443.

Immelman, A. (2002). The political personality of U.S. president George W. Bush. In L. O. Valenty & O. Feldman (Eds.), Political leadership for the new century: Personality and behavior among American leaders (pp. 81–103). Westport, CT: Praeger. diakses dari Digital Commons website: http://digitalcommons.cs¬bsju.edu/psych-ology_pubs/52/.

Lestari, Dian. (2018). Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat Dalam War On Terorrism Pada Masa Kepemimpinan Barrack Obama. Skripsi. Tidak Terbit. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politi: Universitas Hasanuddin

Najwah, Lia.(2015). Dinamika Struktur-Agen Perubahan Internasional “Hegemoni AS vs World Polity pasca 9/11.” Jurnal Transformasi Global, vol.2(1), 52-70. https://transformasiglobal.ub.ac.id/index.php/trans/article/view/23.

Public Law 107-243. (2002). Authorizationfor the use of Military Force Against Iraq Resolution of 2002. https://www.congress.gov/107/plaws/publ243/PLAW-10­7pub­l243.p-df­, di­aks­es pad 18 April 2020.

Republican Platform. https://gop.com/platform/american-exceptionalism/, diakses tanggal 19 April 2020.

Shani, Irfan, dkk. (2019). Masa Kepemimpinan George Walker Bush Di AS.    https://www.researchg¬ate.net/publica-tion/33380336 ,diakses tanggal 17 April 2020.

Sihbudi, Riza. (2015). Indonesia dan Dinamika Politik Timur Tengah (Januri-November 2011). Jurnal Penelitian Politik, Membaca Arah Politik Luar Negeri Indonesia, vol.8(2)231-244. Jakarta:LIPI.

Tom Resintiel. (2008). Public Attitudes Toward the War in Iraq: 2003-2008, Pew Research Center. https://www.pewresearch.org/2008/03/19/public-attitudes-toward-the-war-in-iraq-20032008/, diakses pada 20 April 2020.

Wijayanti, N. I. (2006). Intervensi AS Terhadap Irak dalam Perang Teluk III tahun 2003. Universitas Sebelas Maret Institutional Repository. https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/6903/Intervensi-amerika-serikat-terhadap-irak-dalam-perang-teluk-III-tahun-2003.

Winarno, B. (2011). Isu-isu Global Kontemporer. (Yogyakarta: CAPS), hlm.166-167.

Yusran.(2010). Telaah Doktrin Bush Dan Obama Dalam Konteks Studi Amerika Dan Dunia. https://www.budiluhur.ac.id/telaah-doktrin-bush-dan-obama-dalam-konteks-studi-amerika-dan-dunia/, diakses pada 17 April 2020.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar