Menjadi Tiongkok, Mungkinkah ? : Prediksi atas Kebijakan Penyatuan Tiongkok terhadap Hong Kong

Pengantar

            Akhir-akhir ini isu protes Hong Kong mengemuka dan menjadi perbincangan hangat di dunia. Berbagai pertanyaan serta keresahan datang silih berganti. Hal tersebut tak pelak membuat Tiongkok yang beberapa dekade belakang menjadi pusat perhatian dunia menjadi semakin semarak lagi saat ini. Pertanyaan-pertanyaan mendasar pun kemudian menjurus pada posisi Hong Kong sendiri sebagai suatu bagian dari pemerintahan Tiongkok. Narasi yang belakangan berkembang adalah independensi Hong Kong untuk mempunya sistem pemerintahan yang demokratis. Narasi tersebut menguat setelah protes massa bergelombang yang terus terjadi di Hong Kong belakangan ini. Hal tersebut tak pelak kemudian menimbulkan respon dari pemerintahan Tiongkok sebagai negara. Pemerintah merespon hal tersebut sebagai gerakan separatis dan membuat mereka mengambil langkah keras dan menyatakan bahwa apa yang awalnya menjadi bagian dari Tiongkok akan terus menjadi bagian darinya.[1]

Tuntutan Hong Kong untuk tetap memiliki sistem demokratis yang berbeda dari asal negaranya Tiongkok adalah hal yang wajar dan mendasar. Hong Kong sen­di­ri merupakan wilayah administrasi khusus Tiongkok. Hal tersebut merupakan hasil sejarah panjang kolonialisme Inggris di Hong Kong.[2]Tercatat pada tahun 1997 Hong Kong baru bisa kembali ke tangan Tiongkok setelah sekian lama menjadi jajahan Inggris. Dalam penyerahan tersebut, kesepakatan antara Tiongkok dan Inggris terkait nasib Hong Kong setelahnya terjadi. Hong Kong akan menjadi bagian dari Tiongkok secara resmi, tetapi memiliki sistem pemeritahan yang demokratis berbeda dari sistem komunisme Tiongkok.[3]Sebab kesepakatan tersebut pulalah kemudian Tiongkok menjadi negara yang bersistem ganda (one country, two systems). Hal demikian akan berlaku selama 50 tahun (1997-2047), sebelum akhirnya Hong Kong benar-benar menjadi bagian utuh dari Tiongkok. Permasalahan kemudian timbul dari usaha-usaha Tiongkok yang terus-menerus menyatukan Hong Kong ke Tiongkok terus dilakukan. Tendensi  semacam ini kemudian sangat nampak di masa pemerintahan Xi Jin Ping saat ini. Bahkan, salah satu misi besarnya dalam rencana strategisnya untuk Tiongkok ke depan adalah menyatukan seluruh Tiongkok di bawah satu kepemimpinan dan pemerinntahan (termasuk di antaranya Hong Kong dan Taiwan).[4]Oleh sebab itu, tulisan ini berpretensi untuk memprediksi arah gerak kebijakan Tiongkok tersebut. Penulis akan memaparkan secara ringkas kemungkinan terjadinya hal tersebut dengan melihat dampak luar negeri dan problem domestic yang akan mengemuka ketika kebijakan ini hendak dilakukan. Untuk lebih teoritis, prediksi ini akan menggunakan teori two-level game dari analisis kebijakan luar negeri suatu negara untuk memprediksikan kemungkinan kebijakan penyatuan Tiongkok itu ter-realisasi. Dengan kata lain, tulisan ini ingin melihat seberapa mungkin Hong Kong menjadi Tiongkok secara utuh.

Teori Two-Level Game

            Dalam mengambil suatu kebijakan luar negeri, suatu negara mesti mempertimbangkan dua domain esensial, yaitu dampak luar negeri dan agenda domestik.[5]Dalam kasusnya, kedua domain ini begitu berperan penting dalam pengambilan kebijakan luar negeri suatu negara. Alasannya cukup mendasar, yaitu arah kebijakan luar negeri suatu akan berkontak langsung dengan dua domain tadi, yaitu luar negeri dan domestik. Luar negeri terkait dampak kebijakan terhadap negara  luar dan domestic terkait kepentingan politik domestic di dalam negeri sendiri setelah pengambilan kebijakan luar negeri terjadi. Dalam banyak kasus, umumnya, suatu negara lebih mementingkan agenda domestik daripada luar negeri. Sebab, agenda domsetik senantiasa terkait dengan kepentingan rakyat dalam suatu negara tersebut.[6]Lebih lanjut, jika agenda domestik dan domain luar negeri sama-sama sifatnya entahkah keduanya sama-sama menguntungkan untuk diputuskan maupun merugikan, maka kecenderungannya adalah mengikuti sifatnya. Dengan kata lain, jika kedua domain menunjukkan dampak yang negatif (rugi), maka kebijakan tersebut sebaiknya tidak dilaksanakan. Begitu pun sebaliknya.

Dalam tulisan ini, teori ini digunakan untuk menjelaskan dampak luar negeri dan problem domestik dari diambil alihnya Hong Kong secara total dari Tiongkok itu sendiri. Lebih lanjut, kebijakan Tiongkok terhadap Hong Kong ini nantinya dinilai merupakan sebuah kebijakan luar negeri, sebab dalam banyak hal Hong Kong hampir bisa disebut sebagai negara.[7]Untuk itu, kebijakan Tiongkok terhadap kuasa penuh atas Hong Kong dalam konteks ini dinilai sebagai sebuah kebijakan luar negeri.

Dampak Luar Negeri

            Sejak lama, Hong Kong adalah salah satu kota dengan arus kapital dan salah satu pusat ekonomi terbesar di dunia.[8]Hal tersebut tak pelak mengundang banyak investor untuk berinvestasi di sana. Sistem liberal yang dipakai serta letak strategisnya yang bisa dikata menjadi pusat benua Asia menjadi daya tarik yang benar menggiurkan. Sebab itu, dampak langsung dari kebijakan penyatuan Tiongkok tadi adalah kurangya minat investasi di sana. Hal ini bisa dijelaksan dalam dua kontes. Pertama,sebagai negara, Tiongkok akan memperpanjang catatan buruk  terhadap demokrasi yang sejatinya menjamin rasa aman bagi investor. Setelah permasalahan demonstrasi Tianjemen pada tahun 1980-an, langkah represif yang telah diambil Tiongkok dalam prosesnya untuk mengambil alih Hong Kong terbilang riskan. Sebab, citra Tiongkok sebagai negara tiran terus bertambah.[9]Karena hal tersebut, investor akan mempertimbangkan ulang untuk menanamkan investasinya di Tiongkok. Kedua, berkaitan dengan hal tersebut juga, Hong Kong yang nantinya akan menganut sistem pemerintahan sosialis akan menimbulkan hal yang serupa, yaitu keengganan berinvestasi di Tiongkok. Untuk itu, secara ringkas, di mata dunia Internasional nantinya, citra Tiongkok sebagai negara di mata para investor akan sangat buruk.

Berkaitan dengan hal tersebut pula, citra yang buruk tadi berdampak pada proyek mega-raksasa Xi Jinping (Belt and Road Initiative). Kurangnya demokrasi serta represifitas aparat terhadap masyarakat Hong Kong akan membentuk citra Tiongkok yang sangat buruk dan riskan. Hal ini menimbulkan kecurigaan serta ketidakpercayaan negara-negara yang dianggap strategis untuk BRI oleh Tiongkok. Di samping catatan jebakan utang (debt trap) Tiongkok sendiri, citra kurang demokratis serta represif akan membuat catatan buruk itu semakin panjang dan lebih lanjut bisa menghambat proyek besar Xi Jinping terkait BRI. Hal tersebut tentu sangatlah riskan mengingat ini adalah proyek ambisius yang membuat citra Xi sebagai pemimpin Tiongkok menjadi betul-betul hebat. Akan tetapi, dengan arah langkah Tiongkok saat ini terhadap Hong Kong, citra tersebut terancam pudar di dunia internasional.

Problem Domestik

            Sementara itu, di dalam negeri sendiri, arah langkah kebijakan penyatuan Hong Kong ke Tiongkok juga memiliki konsekuensi riskan yang tak kalah banyak. Berdasarkan pencarian sumber, kurang lebih akan ada empat problem riskan yang bersumber dari permasalahan ini. Problem-problem tersebut ialah terancamnya investor Tiongkok sendiri, penolakan warga Hong Kong, terancamnya citra Xi Jinping di dalam politik domestik, dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok sendiri sebagai suatu negara. Penjelasan terhadap keempat hal tersebut akan dijabarkan dalam beberapa paragraf setelah ini.

Pertama, persoalan investor Tiongkok sendiri yang akan merugi. Menurut catatan, kebanyakan perusahaan besar Tiongkok beroperasi dan terdaftar di Hong Kong.[10]Semenjak Hong Kong adalah tempat yang menjadi salah satu pusat perekonomian dunia, menjadikan Hong Kong sebagai pusat operasi perusahaan adalah langkah yang realistis. Iklim pemerintahan Hong Kong yang lebih toleran terhadap sirkulasi capital adalah hal mendasar terhadap persoalan mengapa investor Tiongkok sendiri lebih memilih Hong Kong sebagai pusat operasi ketimbang Tiongkok sendiri. Membuat Hong Kong menjadi sepenuhnya Tiongkok akan memperburuk iklim investasi bagi investor Tiongkok sendiri. Sebab, di bawah sistem pemerintahan Tiongkok yang represif dan terpusat, investasi mereka tidak akan berkembang sehebat perkembangannya di Hong Kong. Sebab itu, membuat Hong Kong menjadi sepenuhnya Tiongkok adalah hal yang mematikan investor Tiongkok sendiri.

Kedua,penolakan warga Hong Kong sendiri terhadap kebijakan ini. Dalam satu atau dua dekade belakangan ini, secara sosial politik masyarakat asli Hong Kong lebih cenderung mengidentikkan diri mereka sebagai orang Hong Kong (Hong Konger’s) ketimbang orang Tiongkok (Chinese).[11]Penyatuan Hong Kong menjadi Tiongkok sepenuhnya akan mendapat penolakan yang sangat keras dari warga Hong Kong sendiri, sebab identitas kultural sebagai seorang Tiongkok sangatlah minim. Hal ini jugalah yang menjadi salah satu pemicu demonstrasi besar-besaran di Hong Kong—selain permasalaahn RUU Ekstradisi. Bagi masyarakat Hong Kong, utamanya kaum muda, menjadi orang Hong Kong adalah juga berarti masyarakat yang lebih demokratis. Hal tersebut terlihat dari tuntutan mereka saat demonstrasi yang belakangan ini terjadi.[12]Mengabaikan hal ini dan melakukan tindakan yang lebih represif dalam menerapkan kebijakan penyatuan Hong Kong tadi tentu akan menyebabkan banyak sekali konflik.

Ketiga, terancamnya citra Xi Jinping sendiri sebagai seorang kepala negara. Sebelum kasus ini menyeruak, citra Xi di dalam negerinya adalah seorang pemimpin hebat yang mampu membawa Tiongkok kembali ke masa jayanya. Bahkan untuk itu, wacana terkait menjadikan Xi sebagai presiden seumur hidup Tiongkok—sama seperti Mao Zedong—muncul dan dianggap layak dilakukan terhadap Xi Jinping. Akan tetapi, menurut beberapa pengamat, represifitas yang dilakukan Tiongkok saat ini dan tindakan Xi ke depannya bisa dijadikan serangan terhadap kredibilitas Xi sebagai seorang pemimpin.[13]Lebih lanjut, hal tersebut juga bisa digunakan oleh lawan politik Xi sebagai serangan terhadap posisi kepemimpinan Xi sebagai kepala negara Tiongkok saat ini.[14]Sebab itu, kebijakan penyatuan Tiongkok sebelum waktunya, dari konteks ketiga ini adalah pula riskan.

Keempat, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sendiri. Beberapa analis mencatat bahwa bahkan dalam beberapa waktu ke depan, tidak ada satu pun kota di Tiongkok yang mampu menyamai prospek Hong Kong dari segi pertumbuhan kapital.[15]Berdasarkan catatan sejarah pula, salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari masa ke masa adalah Hong Kong.[16]Sampai saat ini, Hong Kong tetap menjadi salah satu sumber strategis untuk pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Ditambah lagi saat ini, perang dagang antara Tiongkok-Amerika terus berlangsung. Hong Kong kendati merupakan bagian dari Tiongkok mempunyai aturannya sendiri terkait perang tariff di antara keduanya. Di sini, Hong Kong tetap menjadi pasar potensial bagi Amerika, sekaligus penopang perekonomian Tiongkok yang sementara melawan perang tariff terhadap Amerika.[17]Sebab itu, arah langkah penyatuan Tiongkok saat ini maupun nanti adalah riskan sebab Hong Kong masih sedemikian strategis dan penting bagi pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Menjadikannya bagian utuh dari Tiongkok—termasuk sistem pemerintahannya—akan menghilangkan potensi Hong Kong sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi Tiongkok. Menjadikannya sebagai Tiongkok sepenuhnya tidak bisa menjamin Hong Kong akan semenguntungkan sebelumnya.

Menjadi Tiongkok, Mungkinkah ?

            Melihat berbagai potensi yang terjadi dari dua domain tadi, dapat disimpulkan bahwa menurut teori two-level game, kebijakan penyatuan Hong Kong ke dalam Tiongkok sebelum tahun 2047 adalah tidak mungkin dilakukan. Sebab, kedua domain tadi—baik domestic maupun luar negeri—sama-sama menyajikan kerugian yang riskan dan patut diperhitungkan. Kemungkinan yang tidak diperhitungkan di tulisan ini adalah kepribadian pemimpin Tiongkok saat ini. Sepak terjangnya yang keras dan tidak tanggung-tanggung dalam mengambil keputusan, serta jiwanya yang nasionalis[18]tentu akan sangat mungkin diperhitungkan dalam posibilitas terjadinya kebijakan penyatuan Hong Kong ke Tiongkok. Untuk itu, tentu ruang kepenulisan maupun diskusi bisa dibuka lebih besar. Akan tetapi, berdasarkan tulisan ini, menimbang-nimbang semua dampak yang terjadi dalam dua domain dan secara kerangka teoritis (two-level game), kemungkinan menyatunya Hong Kong ke Tiongkok dalam imajinasi Xi Jinping sebelum waktunya (2047) kecil kemungkinannya terjadi.

 

Daftar Pustaka

Boland, Roy.(2019, September). What Country is Hong Kong Actually In ? https://www.tripsavvy.com/what-country-is-hong-kong-in-1535874, diakses tanggal 20 Oktober pukul 20.35

Guntur,Nandito.(2019,September). Perang Opium dan Hong Kong. http://himahiunhas.org/in-dex.php/2019/09/17/perang-opium-dan-hong-kong/, diakses tanggal 19 Oktober 2019, pukul 19.27.

Husain,Zaara.(2011, Februari).The Effect of Domestic Politics On Foreign Policy Decision Ma-king.https://www.e-ir.info/2011/02/07/the-effect-of-domestic-politics-on-foreign-policy-decision-making/, diakses tanggal 20 Oktober 2019 pukul 21.50

Johnny.           (2018,July).China Is Erasing Border With Hong Kong[Video File]. Https://www.youtube.co-m/watch-?v=M¬Q¬yx¬G4vTyZ8,diakses tanggal 22 Oktober 2019 pukul 21.44

Osnos,Evan    .(2019,September).China’s Hong Kong Dilemma. https://www.newyorker.com/magazine/2019/09/02/chinas-hong-kong-dilemma, diakses tanggal 22 Oktober 2019 17.55

Regan, Helen.(2019, Oktober). China President Xi Jinping’s balancing act over Hong Kong.https://edi-tion.cnn.com/2019/10/12/asia/xi-jinping-balancing-act-hong-kong-intl-hnk/index.html, diakses tanggal 21 Oktober 2019 pukul 22.19

Sin, Noah.       (2019, September). Explainer: How important is Hong Kong to the rest of China?htts//www.reuters.com/article/us-hongkong-protests-ma­r­kets-explainer/explainer-how-important-is-hong-kong-to-the-rest-of-china-idUSKCN1VP35H, diakses tanggal 22 Oktober 13.49

Unknown.       (2019,Oktober) The Hong Kong protests explained in 100 and 500 words.https://ww¬w.b-bc.co¬m/ne¬ws/world-asia-china-49317695, diakses tanggal 20 Oktober 2019, pukul 20.23.

 

[1]Bdk.Unknown. (2019,Oktober)The Hong Kong protests explained in 100 and 500 words.https://ww­w.b­bc.co­m/ne­ws/world-asia-china-49317695, diakses tanggal 20 Oktober 2019, pukul 20.23.

[2]Untuk mengetahui sejarah kolonialisme di Hong Kong secara lebih umum dan cukup luas, tulisan saya tentang Perang Opium dan Hong Kong bisa dijadikan sebagai referensi.. Bdk. Nandito, Oktaviano. (2019,September). Perang Opium dan Hong Kong. http://himahiu­n­has.org/in­dex.php/2019/09/17/perang-opium-dan-hong-kong/, diakses tanggal 19 Oktober 2019, pukul 19.27.

[3]Untuk penjelasan yang lebih perinci terkait keistimewaan yang diterima oleh Hong Kong, sila dibaca di sumber berikut. Boland, Roy. (2019, September). What Country is Hong Kong Actually In ?https://www.tripsavvy.com/what-country-is-hong-kong-in-1535874, diakses tanggal 20 Oktober pukul 20.35.

[4]Informasi ini saya peroleh dari penjelasan ka Jannah di mata kuliah Tiongkok pada tanggal 7 Oktober 2019 (jika saya tidak salah).

[5]Husain,Zaara.(2011, Februari).The Effect of Domestic Politics On Foreign Policy Decision Ma­king.https://www.e-ir.info/2011/02/07/the-effect-of-domestic-politics-on-foreign-policy-decision-making/, diakses tanggal 20 Oktober 2019 pukul 21.50.

[6]Ibid.

[7]Dalam banyak kasus, semisal persoalan ekonomi, Hong Kong bisa dikatakan sebagai entitas yang bisa disamakn sebagai negara. Mengingat pemberian izin korporasi dan semacamnya diurus oleh Hong Kong sendiri, hampir bisa dikatakan bahwa Hong Kong adalah juga negara tersendiri. Op.Cit.

[8]Bdk.Regan, Helen. (2019, Oktober). China President Xi Jinping’s balancing act over Hong Kong.htt­p­s­://edi­tion.cnn.com/2019/10/12/asia/xi-jinping-balancing-act-hong-kong-intl-hnk/index.html, diakses tanggal 21 Oktober 2019 pukul 22.19

[9]Ibid.

[10]Sin, Noah. (2019, September). Explainer: How important is Hong Kong to the rest of China? htt­­s­:­//­w­­ww.reuters.com/article/us-hongkong-protests-markets-explainer/explainer-how-important-is-hong-kong-to-the-rest-of-china-idUSKCN1VP35H, diakses tanggal 22 Oktober 2019 13.49.

[11]Osnos, Evan.(2019, September). China’s Hong Kong Dilemma. https://ww­w­.­n­e­w­y­o­r­ker.com/ma­ga­zine/20­19/09/02/chinas-hong-kong-dilemma, diakses tanggal 22 Oktober 2019 17.55

[12]Bdk.Unknown. (2019,Oktober) The Hong Kong protests explained in 100 and 500 words.https://ww­w.b­bc.co­m/ne­ws/world-asia-china-49317695, diakses tanggal 20 Oktober 2019, pukul 20.23.

[13]Bdk.Regan, Helen. (2019, Oktober). China President Xi Jinping’s balancing act over Hong Kong.htt­p­s­://edi­tion.cnn.com/2019/10/12/asia/xi-jinping-balancing-act-hong-kong-intl-hnk/index.html, diakses tanggal 21 Oktober 2019 pukul 22.19

[14]Ibid.

[15]Sin, Noah. (2019, September). Explainer: How important is Hong Kong to the rest of China? htt­­s­:­//­w­­ww.reuters.com/article/us-hongkong-protests-markets-explainer/explainer-how-important-is-hong-kong-to-the-rest-of-china-idUSKCN1VP35H, diakses tanggal 22 Oktober 13.49.

[16]Johnny.(2018,July).China Is Erasing Border With Hong Kong[Video File]. Ht­tps://www.youtu­be.co­m/wat­¬ch-?v=M­Q¬yx¬G4vTyZ8,diakses tanggal 22 Oktober 2019 pukul 21.44

[17]Op,cit.

[18]Bdk.Regan, Helen. (2019, Oktober). China President Xi Jinping’s balancing act over Hong Kong.htt­p­s­://edi­tion.cnn.com/2019/10/12/asia/xi-jinping-balancing-act-hong-kong-intl-hnk/index.html, diakses tanggal 21 Oktober 2019 pukul 22.19

 

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar