PERANG OPIUM DAN HONG KONG

Oleh : Oktaviano Nandito Guntur (HI 2018) – ditoguntur10@gmail.com

Sebuah Tinjauan Singkat

Pengantar

Setiap negara pasti memiliki sejarah yang panjang. Sejarah yang panjang ini, selain dipenuhi dengan segala kegemilangan, juga kerah diselipi banyak kekelaman. Adanya dua jenis perisitiwa semacam itu adalah hal yang lumrah dalam dinamika sejarah suatu negara. Ketiadaan salah satu jenis (masa kelam) adalah mustahil dan kekonsistenan satu jenis (kejayaan) adalah pula utopis. Keduanya mesti ada sebagai dasar pembentuk suatu negara.

Cina sebagai sebuah negara besar—tidak bisa dimungkiri—juga punya narasi sejarah yang sama. Sebagai sebuah negara besar, sejarah Cina tentu punya cerita tersendiri yang mesti menarik perhatian. Cerita kegemilangan tentang kekaisarannya jauh berabad-abad sebelum ini adalah hal yang akrab di telinga masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, cerita kelam tentang kejatuhan Cina di masa yang terdahulu adalah hal yang mungkin masih asing terdengar di telinga. Untuk itu, adalah menjadi menarik untuk mencari tahu kejatuhan atau masa kelam negara Cina di suatu masa yang sudah lama lalu.

Dengan ketertarikan yang demikian, tulisan ini kemudian dibuat. Perang Opium yang terjadi di pertengahan abad ke-19 adalah peristiwa yang diangkat dalam tulisan ini. Peristiwa ini menjadi menarik, sebab peristiwa inilah yang bisa dikatakan menjadi kejatuhan era kekaisaran Cina dan menjadi awal dari proses terbentuknya negara Cina yang ada saat ini. Terlepas dari itu, keingintahuan tentang Hong Kong pada khususnya dan Cina pada umumnya juga menjadi salah satu motif[1] penulis untuk menulis tulisan ini. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengulas secara ringkas hubungan antara perang Opium dan Hong Kong di masa kini.

Perang Opium, Sekilas Pandang[2]

            Perang opium sama seperti namanya adalah perang yang punya kaitan erat dengan opium. Perang ini juga bisa disebutkan sebagai perang antara Barat(Inggris pada khususnya) dengan Cina.[3] Dalam catatan sejarah, perang opium sendiri terjadi dua kali dalam kurun waktu yang tidak terlalu jauh. Perang Opium pertama sendiri terjadi pada tahun 1840, sedangkan perang opium kedua terjadi pada pertengahan tahun 1850-an.[4] Kedua perang ini berakhir dengan kekalahan Cina beserta berbagai macam kerugian yang diperolehnya. Masa-masa yang datang setelahnya adalah masa kelam Cina sebagai sebuah negara jajahan. Meminjam salah satu istilah di suatu artikel, masa setelah perang opium ini adalah masa penghinaan (Century of Humiliation).[5]

Adapun secara umum, latar belakang perang ini dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif Cina dan Inggris. Cina di satu sisi melihat alasan perang ini adalah usaha Inggris untuk menjajah serta menaklukkan Cina, sedangkan Inggris melihat ini sebagai usaha menegakkan harga dirinya sebagai suatu negara yang diperhitungkan dunia saat itu.[6] Secara lebih spesifik, Inggris merujuk pada kejadian di mana konsulat Inggris mesti bersujud di hadapan kaisar. Inggri sendiri memaknai ini sebagai penghinaan terhadap negara.[7] Hal ini tentu adalah ironis, sebab telah menjadi nyata bahwa alasan utama di balik tindakan penyerangan Inggris adalah permasalahan ekonomis semata. Telah banyak sumber atau catatan yang mengatakan bahwa defisit neraca perdagangan antar Inggris dan Cina dalam hal teh dan perak adalah alasan utama.[8] Untuk mengatasi hal tersebut, Inggris mengambil jalan pintas dengan menggunakan opium sebagai pertukaran dengan komoditas teh. Akibatnya, selain mengurangi defisit perdagangan Inggris secara drastic, para penduduk Cina mengalami kecanduan dan kemunduran. Tidak terima dengan hal tersebut, pemerintah Cina mengambil langkah tegas dengan membakar dan melarang pengedaran opium. Menanggapi hal tersebut, Inggris meresponnya sebagai pelarangan terhadap perdagangan. Dari sana, terjadilah perang antara kedua belah pihak. Karena itu pulalah, nama perang ini dinamakan perang opium.

Hong Kong

            Jauh sebelum perang opium ini terjadi, Cina adalah suatu kekaisaran yang tertutup dan misterius bagi dunia. Kendati telah sangat terkenal dengan segala kebesarannya, Cina sendiri tidak dengan mudah membuka diri terhadap hubungan dengan kerajan atau negara lain. Hal ini kemudian menimbulkan suatu keseganan serta keingintahuan tersendiri bagi bangsa yang berada di luar Cina. Satu-satunya daerah yang bisa dijadikan tempat perdagangan dengan bangsa luar adalah Guangzhou (Hong Kong) dan Makau. Karena itu, tidaklah mengherankan jika Eropa sendiri melihat Cina sebagai bangsa sebuah bangsa yang solid dan tak tertembus.[9]

Kendati demikian, seiring berjalannya waktu, kondisi internal kekaisaran Cina yang dipenuhi dengan pemberontakan memicu banyak hal buruk terjadi. Melihat hal yang demikian, Inggris memanfaatkan hal tersebut dengan memulai pertikaian. Diakibatkan kemajuan teknologi yang dimiliki Inggris serta kondisi internal Cina yang buruk, kekalahan bahkan keruntuhan kekaisaran Cina (Dinasti Ming) tak dapat dielakkan lagi.

            Perang opium—baik yang pertama maupun yang kedua—yang telah disebutkan tadi, tidak bisa tidak membawa banyak kerugian bagi Cina. Kerugian yang paling mencolok saat itu ialah penyerahan beberapa daerah Cina ke tangan Inggris. Penyerahan ini daerah ini umumnya dapat berupa penyerahan pemerintahan serta pembebasan wilayah perdagangan. Hong Kong (Guangzhou) adalah salah satu daerah yang mencakup kedua bentuk penyerahan tadi.[10]Dalam penjelasannya yang lebih spesifik, Inggris sendiri kemudian dalam catatan serta perjanjiannya menyatakan bahwa Hong Kong akan menjadi daerah khusus perdagangan Inggris dan wilayah tinggal orang Inggris di Cina.[11]Hal tersebut bahkan terus berlangsung setelah Cina merdeka. Hong Kong sendiri baru kembali menjadi wilayah Cina pada tahun 1997 dengan berbagai macam syarat. Salah satu di antaranya terkait dengan otonomi Hong Kong dalam memilih sistem pemerintahannya sendiri dan memiliki keistimewaan dalam penggunaan bahasanya sendiri (Kanton).[12]

Perang Opium dan Hong Kong

            Dari dua poin di atas, telah menjadi jelas bahwa antara perang opium secara langsung merupakan cikal bakal berdirinya Hong Kong saat ini. Keadaan Hong Kong yang baru-baru ini sedang panas dengan demonstrasi massanya juga bisa dijelaskan dari perspektif ini. Dari dua poin yang sebelumya telah saya sebutkan, penulis mengetahui bahwa sejatinya masalah yang baru-baru ini terjadi punya akar sejarah yang cukup panjang. Penulis tidak ingin mengulas terlalu dalam tentang permasalahan tersebut. Penulis hanya ingin memaparkan satu permasalahan dasar yang ada dalam Hong Kong saat ini.

Permasalahan tersebut adalah menyoal identitas masyarakat Hong Kong sendiri sebagai sebuah masyarakat suatu negara[13]. Salah satu permasalahan yang cukup serius adalah menyoal identitas mereka. Hong Kong setelah 156 tahun di bawah pengaruh Inggris mempunyai identitas mereka sendiri. Baik itu dari segi masyarakat secara sosial maupun sistem politik pemerintahan. Pelepasan Hong Kong ke tangan Tiongkok pada tahun 1997 sebenarnya riskan sekali dalam kaitannya dengan perubahan sosial politik. Akan tetapi, untuk mengatasi hal tersebut, perjanjian antara Cina dan Inggris menyepakati bahwa setelah 50 tahun (1997-2047) dululah Cina boleh sepenuhnya berkuasa atas Hong Kong (dalam artian sistem politik). Sebelum jangka waktu tersebut, pemerintah Cina mesti memberikan otonomi serta perlakuan khusus terhadap Hong Kong.[14]

Kendati demikian, keadaan Cina dan Hong Kong saat ini tidak begitu kondusif. Usaha represi pemerintah Cina dalam banyak kasus dapat dilihat sebagai bentuk pelanggaran atas perjanjian yang telah disepakati antara Cina dan Inggris. Dalam istilah yang lebih spesifik, Cina berusaha menghapuskan batas-batas yang telah ada antara Cina dan Hong Kong sebelum waktunya. Karena itu, tidaklah sebagai reaksi atas hal tersebut, tidaklah mengherankan jika warga Hong Kong sendiri merasa terasing dengan bangsanya sendiri, yaitu Cina. Bahkan, berdasarkan data, kebanyakan orang Hong Kong saat ini lebih senang mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Hong Kong ketimbang sebagai orang Cina.[15] Hal ini tentu akan menjadi permasalahan yang lebih serius ke depannya, cepat atau lambat. Mungkin saja permasalahan demonstrasi besar-besaran yang dilakukan di Hong Kong itu erat kaitannya dengan permasalahan usaha penghapusan batas represif dari Cina terhadap Hong Kong.

Penutup

            Untuk itu, adalah sangat menarik serentak melihat serta mengetahui fenomena sejarah Cina di masa silam. Keruntuhan dinasti Qing akibat perang opium adalah salah satu masa kelam Cina yang telah tercatat dalam sejarah. Kendati demikian, hal tersebut tidak serta merta menjadi peristiwa sejarah tersebut buruk seluruhnya. Jika ingin ditilik baik-baik, meminjam istilah beberapa pakar, Cina modern tidak akan pernah lahir tanpa adanya perang opium yang terjadi di masa lampau. Terlepas dari begitu banyaknya kerugian yang dialami oleh Cina, mempelajari peristiwa sejarah semacam ini adalah perlu untuk dilihat kacamata yang lebih netral. Sebab, hal tersebut akan membantu untuk melihat masa kini dengan pemahaman yang lebih komperhensif serta kompleks di satu sisi.

 

[1] Sebenarnya, salah satu dorongan saya menulis ini adalah karena tugas yang diberikan. Akan tetapi, saya tidak ingin melihat ini semata sebagai beban, tetapi lebih jauh melihat ini sebagai usaha untuk memahami serta meningkatkan pengetahuan saya terhadap Cina pada khususnya dan hubungan Internasional.

[2] Pada bagian  ini, saya mengelaborasikan  beberapa bagian dari beberapa sumber. Untuk itu, penyebutan untuk suatu sumber secara spesifik akan jarang saya lakukan. Akan tetapi, pada bagian akhir, akan saya tetap cantumkan sumber pustakanya.

[3] Bdk.  Unknown. (2017, Mei). Perang Candu Cina. https://www.hariansejarah.id/2017/05/pe­rang-ca­ndu-ci­na-1839-1860-m.h­tml?m=1, d­iakses tanggal 23 Agustus 2019 pukul 21.36

[4]  I­bid.

[5]  Bdk. Ramzy, Austin. (2018, Juli). How Britain Went to War With China Over Opium. https://www.nytimes.com/­2018/07/03/world/asia/opium-war-book-china-britain.html, diakses tanggal 23 Agustus 2019, pukul 8.25

[6] Bdk. Lau, Joyce.( 2011, Agustus). Highlighting Differences in Interpretations of the Opium War. https://www.nytimes.com/2011/08/19/arts/19iht-opium19.html?action=click&module=R­elatedCoverag­e&pgtype=Ar­ticle&region=Footer&mtrref=www.nytimes.com&assetType=REGIWALL&auth=login-email,di­ak­ses tanggal 24 Agustus 2019 pukul 17.5

[7] Op.cit.

[8]  Waktu itu, di Inggris, teh, porselin, dan sutra adalah  komoditas yang paling diminati di Inggris. Fakta bahwa the hanya bisa dihasilkan di Cina menampilkan dua konsekuensi. Pertama, keuntungan bagi Cina. Kedua, ketergantungan Inggris pada Cina. Sebagai pertukarannya pada saat itu, kaisar Cina hanya ingin perak sebagai pertukaran atas komoditas seperti the, sutra, dan porselin Bdk. He, Tao. (n.d.). British Imperialism in China, A Legacy of  Commerce, Addition, and Gunboat Diplomacy. http://blogs.bu.edu/guidedhistory/moderneurope/tao-he/, diakses tanggal 19 Agustus 2019 pukul 10.47

[9] Bdk. Ramzy, Austin. (2018, Juli). How Britain Went to War With China Over Opium. https://www.nytimes.com/­2018/07/03/world/asia/opium-war-book-china-britain.html, diakses tanggal 23 Agustus 2019, pukul 8.25

[10] Bdk.  Unknown. (2017, Mei). Perang Candu Cina. https://www.hariansejarah.id/2017/05/pe­rang-ca­ndu-ci­na-1839-1860-m.h­tml?m=1, d­iakses tanggal 23 Agustus 2019 pukul 21.36

[11]  Dalam salah satu perjanjiannya, Inggris bahkan menempatkan tenggat waktu 99 tahun penguasaan atas Hong Kong. Bahkan , lebih jauh, mempertimbangkan untuk menjadi koloninya selama mungkin. Bdk. Johnny. (2018, Juli). How 156 Years of British Rule Shaped Hong Kong [Video File]. https://www.yout­ube.com/watch?v=StW7oG­SR_M­g­, diakses tanggal 23 Agustus 2019 pukul 21.44­

[12] Bdk. Johnny. (2018, July). China Is Erasing Border With Hong Kong[Video File]. https://www.youtube.com/wat­ch­?v=MQ­yx­G4vTyZ8, diakses tanggal  24 Agustus 2019 pukul 21.44

[13] Istilah yang tepat untuk menyebutkan apa sebenarnya Hong Kong itu tidak saya ketahui secara pasti. Kali ini, saya akan menyebutnya sebagai negara saja.

[14] Ibid.

[15] Ibid.

 

Daftar Pustaka

He, Tao. (n.d.).British Imperialism in China, A Legacy of  Commerce, Addition, and Gunboat Diplomacy.http://blogs.bu.edu/guidedhistory/moderneurope/tao-he/,diakses tanggal 19 Agustus 2019 pukul 10.47

Johnny.(2018,July).China Is Erasing Border With Hong Kong[Video File]. https://www.youtube.com/wat¬ch-?v=MQ¬yx¬G4vTyZ8,diakses tanggal 24 Agustus 2019 pukul 21.44

Johnny. (2018, Juli).How 156 Years of British Rule Shaped Hong Kong [Video File]. https://www.yout-ube.com/watch?v=StW7oG¬SR_M¬g¬,diakses tanggal 23 Agustus 2019 pukul 21.44

Lau, Joyce.( 2011, Agustus). Highlighting Differences in Interpretations of the Opium War. https://www.nytimes.com/2011/08/19/arts/19iht,diakses tanggal 24 Agustus 2019 pukul 17.52

Ramzy, Austin.(2018, Juli).How Britain Went to War With China Over Opium. https://www.ny­times.com/2018/07/03/world/asia/opium-war-book-china-britain.html,diakses ta­n­­g­­gal 23 Agustus 2019, pukul 8.25

Unknown. (2017, Mei). Perang Candu Cina. https://www.hariansejarah.id/2017/05/perang-candu c­ina 1839-1860 .html?m=1, diakses tanggal 23 Agustus 2019 pukul 21.36

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar