PENDIDIKAN : HARAPAN ATAU MALAPETAKA

Penulis: Rizky Hikmatullah Idrus (HI 2016)

Email: rizkyidrus2@gmail.com

Ada satu hal yang perlu kita perhatikan dalam memahami masalah ataupun peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Peristiwa atau fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita bukan tidak mungkin merupakan hasil dari sebuah narasi panjang dari sejarah perkembangan manusia sebelumnya yang terus memproduksi gagasan-gagasan di masa lalu, yang kemudian berakibat pada tatanan ekonomi, sosial maupun struktur masyarakat pada umumnya. Seperti peristiwa penting yang terjadi berabad-abad silam di dataran Eropa yang di kemudian hari terimplikasikan dalam kehidupan sosial masyarakat dunia yang sebagaimana kita kenal dengan peristiwa rennaisance. Sebuah revolusi yang kemudian mengubah tatanan struktur masyarakat di dataran Eropa yang kemudian mempengaruhi perkembangan sosial dunia.

Seperti halnya dengan pendidikan. Pendidikan seperti yang kita ketahui merupakan suatu kegiatan “sakral” dalam masyarakat. “Mengapa pendidikan begitu sakral ?” hal tersebut tidak jauh dari bagaimana usaha kita untuk berusaha mengetahui dan memahami hakikat akan sesuatu agar kita dapat bertindak sesuai dengan hakikat sesuatu tersebut. Begitupun dengan masyarakat yang seyogianya dapat memahami hakikat akan dirinya sendiri. Pengetahuan akan bagaimana memahami itulah yang disebut dengan pendidikan.

Pendidikan begitu erat kaitannya dengan manusia, bagaimana ia berusaha mengenal dirinya sebagai makhluk individu maupun masyarakat sebagai makhluk sosial. Pemaknaan inilah yang kemudian melahirkan narasi panjang mengenai filosofi pendidikan : apa, mengapa dan untuk siapa pendidikan itu lahir (epistimologi, aksiologi dan ontologi). Dengan alasan tersebut kemudian lahirlah dialektika dalam masyarakat untuk membuat suatu wadah dalam memahami dan menyikapi realitas serta bagaimana pendidikan tersebut tersalurkan dalam bentuk solusi bagi masyarakat itu sendiri.

Pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimana pendidikan berperan dalam masyarakat ?”

Berbicara mengenai bagaimana pendidikan itu lahir adalah bagaimana manusia itu sendiri dalam aktivitasnya sebagai makhluk sosial maupun individu. Sebelum berangkat lebih jauh mengenai adanya dikotomi manusia sebagai makhluk sosial maupun individu, pada hakikatnya peran manusia diantara kedua peran tersebut saling berhubungan. Tidak ada pendikotomian mengenai ia sebagai makhluk sosial ataupun individu tapi saling melengkapi satu sama lain, manusia yang sebagai makhluk individu perlu mengembangkan kemampuan dirinya untuk kebutuhan sehari-harinya. Akan tetapi, hal tersebut tidak dapat terjadi apabila hubungannya dengan sesamanya tidak dapat terpenuhi, singkatnya manusia tidak akan bisa hidup sendiri, melainkan dengan bantuan sesamanya.

Berangkat dari sini, dapat disimpulkan bahwa pendidikan berangkat dari masalah yang ada di masyarakat dan diperuntukkan untuk kemaslahatan masyarakat secara kolektif. Mekanisme dalam lahirnya sistem pendidikan tersebut melahirkan kurikulum sebagai solusi yang dapat merepresentasikan masyarakat dan polemik yang ada didalamnya sehingga diharapkan instansi pendidikan lahir dari masyarakat dan untuk masyarakat. Untuk mewadahi permintaan tersebut, maka lahirlah negara sebagai penyedia atas kebutuhan masyarakat tersebut. Negara sebagai penyedia instansi pendidikan pastinya paham bagaimana esensi akan sistem pendidikan yang dipersembahkan bagi masyarakat secara umum.

Bagaimana kurikulum seharusnya dan bagaimana ia menjadi solusi ?

Dari kondisi seperti itu, maka kurikulum hadir sebagai aspek penting dalam dunia pendidikan untuk mem-problematisasi-kan realitas yang ada dan mampu menjadi solusi atas kesadaran bersama dari masyarakat agar dapat dijawab secara bersama. Singkatnya, kurikulum menjadi alat bagi masyarakat untuk membaca dan memahami realitas yang ada serta menyelesaikan problematika yang ada dalam masyarakat itu sendir. Alhasil sistem pendidikan tidak lahir untuk me-narasi-kan masyarakat seolah-olah pendidikan terlepas dari realitas sosial akan tetapi lahir sebagai bentuk partisipatif masyarakat. Dalam artian, pendidikan tidak terlepas dari fenomena sosial yang sesungguhnya ada di masyarakat dan ia menjadi solusi atasnya. Berangkat dari sini, dapat disimpulkan bahwa masyarakat menjadi titik berangkat untuk membuat suatu kurikulum dalam memahami, menyelesaikan serta mempertahankan kesejahteraan bagi masyarakat. Bukan sebaliknya, dimana kurikulum menjadi titik berangkat agar masyarakat dibentuk agar sesuai kebutuhan kurikulum atau pasar. Dalam hal ini, negara menjadi penjamin bagi masyarakatnya agar pendidikan dapat terdistribusikan ke semua lapisan masyarakat (public goods) dan bukan sebagai (private goods).

Fenomena sosial, pendidikan dan kurikulum saat ini

Menyikapi fenomena sosial yang terjadi saat ini, kita perlu untuk mempertanyakan kembali. Mengapa masalah dalam masyarakat semakin marak terjadi ? pengangguran, kemiskinan, pencabulan, pelecehan, kecurangan kerap melanda negeri ini, padahal jumlah instansi pendidikan atau universitas salah satunya semakin menjamur di seantero dunia. Kuantitas ini tentunya bertolak belakang dengan kualitasnya, seolah-olah apa yang diharapkan dari instansi pendidikan tak bernilai apa-apa bagi masyarakat. Begitupun dengan negara yang sebenarnya turut andil dalam pelaksanaan sistem pendidikan yang berorientasi kepada kesesejahteraan sosial masyarakat. Logika sederhananya adalah pendidikan sebagai alat untuk memanusiakan manusia, dimana ia membuat suatu mekanisme dalam memproduksi masyarakat yang cerdas serta dapat memahami konteks dan problematika dalam masyarakat dapat menjadi solusi atasnya sehingga membuat esensi dari instansi pendidikan dapat terealisasikan.

Jika melihat pendidikan di dunia saat ini. Seluruh negara maju di Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika, berusaha memprivatisasi dunia pendidikan tak terkecuali di Indonesia. Untuk Indonesia sendiri, berangkat dari kebijakan dimana adanya usaha pemerintah untuk meliberalisasikan produk-produk di Indonesia, tak terkecuali pendidikan. Dalam hal ini, negara sebagai aktor dalam merumuskan kebijakan akan pendidikan agar pendidikan dapat diakses oleh seluruh rakyatnya. Liberalisasi pendidikan tersebut juga diharapkan menjadi solusi untuk kecerdasan bangsa yang kemudian diatur dalam regulasi pemerintah, bukan hanya instansi pendidikan pemerintah, tapi tenaga asing pun masuk dalam proses pendidikan Indonesia saat ini.

Akan tetapi, ironi bermunculan. Pendidikan yang didasarkan atas kebutuhan masyarakat kemudian berubah orientasi / haluan kepada mekanisme pasar. Alhasil pendidikan beralih fungsi menjadi komoditas yang berlandaskan public goods menjadi private goods. Dari segi sosial, dampak yang dihasilkan adalah kurikulum akan mengikuti kebutuhan pasar, bukan lagi atas kebutuhan masyarakat, sehingga masyarakat yang lahir dari universitas akan menjadi kaum elitis baru yang outputnya bukan menjawab kebutuhan masyarakat sehingga yang terjadi adalah dikotomi yang besar antara masyarakat dengan akademisi. Hal tersebut dikarenakan akademisi akan dapat menjawab tuntutan pasar semata. Secara tidak langsung, mereka akan bersikap acuh tak acuh terhadap masyarakat karena kurang dapat membaca dan memahami aspek apa saja yang diperlukan dari masyarakat. Alhasil individualitas marak terjadi. Sikap antisosial menjadi hal yang lumrah di kemudian hari karena mereka hanya fokus pada apa saja kebutuhan yang dibutuhkannya saja tanpa melihat kebutuhan orang lain. Selain itu, adanya biaya yang cukup tinggi membuat esensi universitas kian dipertanyakan kembali, Pendidikan untuk siapa ?

Untuk memasuki universitas sendiri diperlukan biaya yang tidak karuan banyaknya. Logika sederhanya adalah biaya ada untuk mengurangi jumlah akan sesuatu. Dari sini, porsi untuk menduduki instansi pendidikan menjadi terbatas sehingga tercipta asumsi bahwa universitas hanya bagi mereka yang ber uang semata. Alhasil kompetesi lah yang muncul antara para kaum yang “berada” di antara mereka dan bagi mereka yang “tidak berada” hanya menunggu nasib dan menjalani kehidupan yang tidak memperoleh pendidikan. Apabila hal tersebut tetap dipertahankan, maka kiranya kita dapat membuat opini kita masing-masing.

Apakah pendidikan seperti itu saat ini? ataukah Pendidikan hanya diperutukkan oleh kalangan tertentu? ataukah sebagai kompetisi? ataukah Pendidikan menjadi sebuah harapan untuk memperbaiki keadaan masyarakat ataukah memperburuk keadaan?

Semua tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.

“Perhatikan lah apa yang kau lihat dan rasakan, dan janganlah kau berpikir. Karena apabila kau berpikir maka kau hanya mengingat kembali apa yang kau dengar sebelumnya”.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar