REVIEW FILM: SEXY KILLER

Oleh: Faizatul Khoiriah (HI 2017)

Film dokumenter sexy killer merupakan salah satu film yang cukup fenomenal belakangan ini.  Bertolak belakang dengan judul dari film ini dengan substansinya, film ini bukan menceritakan mengenai sepasang kekasih yang saling membunuh ataupun berbagai pemikiran lainnya. Malahan substansi dari film ini menarasikan bagaimana aktivitas kita yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi dan saling berkaitan dengan fenomena di sekitar kita, salah satunya mengenai lingkungan. Setiap aktivitas yang kita lakukan tidak terlepas dari yang namanya teknologi. Hal tersebut terjadi dikarenakan cukup tingginya angka perkembangan teknologi sehingga teknologi menjadi salah satu dari sekian banyak kebutuhan yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupan kita secara tidak langsung.

Aktivitas kita yang tidak terlepas dari asupan teknologi juga tidak terlepas dari hal yang menopang teknologi itu bergerak yaitu listrik. Produksi energi untuk menghasilkan listrik kemudian menjadi sesuatu yang perlu dilakukan untuk menunjang kehidupan bermasyarakat, belum lagi konsumsi masyarakat terhadap penggunaan listrik membuat produksi energi listrik digenjot oleh pemerintah. Akan tetapi, perkembangan sumber produksi energi tersebut malah mempunyai dampak yang sangat besar terhadap lingkungan bahkan bagi masyarakat Indonesia itu sendiri.

Film ini mengangkat isu yang cukup sederhana dan dekat dengan masyarakat, namun cukup sensitif dan jarang diangkat oleh para film-maker Indonesia. Mengapa cukup sensitif? Hal tersebut dikarenakan para kaum elit ataupun pemerintah juga secara tidak langsung terlibat dalam isu tersebut.  Isu di mana ketergantungan masyarakat yang cukup tinggi terhadap listrik yang semakin meningkat berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat Indonesia itu sendiri. Berawal dari scene yang menampilkan sepasang kekasih yang menggunakan berbagai teknologi untuk kebutuhannya di dalam suatu ruangan. Pertanyaannya adalah “bagaimana listrik bisa masuk ke ruangan ini?”. Sebuah pertanyaan singkat yang kemudian membuka substansi dari film dokumenter ini mengenai sisi gelap dari industri pertambangan batu bara di Indonesia.

Ada apa dengan industri pertambangan batu bara?

Batu bara merupakan salah satu sumber energi terbesar di Indonesia. Ia pun cukup tersebar di berbagai wilayah di Indonesia mulai dari Sumatera, Sulawesi, Jawa, Kalimantan dan berbagai wilayah lainnya di Indonesia, sebagai salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di dunia. Batu bara di Indonesia terbagi menjadi dua, produksi untuk diekspor (kualitas menengah dan kualitas rendah) dan sebagian lagi untuk dikirim ke PLTU di seluruh Indonesia untuk menjadi bahan bakar. Tingginya konsumsi masyarakat terhadap listrik kemudian membuka peluang bagi para investor asing maupun lokal untuk menggarap keuntungan dari peluang tersebut. Alhasil lahirlah berbagai PLTU yang ditempatkan di darat maupun laut untuk memenuhi pemintaan tersebut yang dilindungi oleh pemerintah. Akan tetapi, musibah lain kemudian bermunculan.

Dampak yang dihasilkan dari PLTU berimbas kepada lingkungan bahkan masyarakat. Polusi yang dihasilkan dari industri tersebut menghasilkan polusi udara, laut maupun darat yang cukup mengerikan. Hadirnya PLTU juga berdampak bagi masyarakat setempat, baik dalam hal ekonomi maupun kesehatan. Dampak yang terimbas pada lingkungan sekitar membuat para petani maupun pelaut yang berada di daerah sekitar industri tersebut marah dan berkurangnya pendapatan mereka dikarenakan limbah ataupun polusi yang dihasilkan oleh industri tersebut. Bukan hanya itu, bahkan untuk daerah Kalimantan sendiri terdapat beberapa lubang galian yang belum direklamasi. Di laut juga menimbulkan pengrusakan terumbu karang dan menyebabkan biota laut mati dikarenakan polusi yang dihasilkan. Dengan alasan itulah kemudian lahir gelombang protes yang dilakukan masyarakat untuk menuntut hal tersebut.

Pertanyaan selanjutnya “mengapa harus batu bara, padahal masih ada energi lain yang bisa dijadikan sumber energi listrik?” Untuk menjawab hal tersebut, dapat dilihat bahwa harga batu bara termasuk bahan bakar paling murah dari berbagai sumber energi lainnya, seperti panel surya. Bukankah logika industri mengatakan “kumpulkan keuntungan dan minimalisir pengeluaran”? Harga yang murah tersebut dibayar secara nyata oleh penduduk sejak kehadiran PLTU batu bara yang telah membawa dampak yang cukup buruk bagi lingkungan, pendapatan bahkan kesehatan mereka yang menjadi jaminannya.

Mengapa tidak ditindak lanjuti lebih lanjut oleh pemerintah apabila kehadirannya membawa dampak buruk yang cukup besar, apakah tidak dilaporkan saja?

Mungkin jika kita diberi pertanyaan seperti di atas, jawaban yang ideal adalah kita tinggal tunggu kebijakan dari pemerintah bagaimana menanggapinya. Akan tetapi, hanya ironi yang dapat dilihat dari fenomena yang ada. Bahkan pemerintah memihak kepada para investor ketimbang rakyatnya sendiri. Bahkan hukum pun mendukung para investor sehingga masyarakat yang berjuang untuk kesehatan, pekerjaan, bahkan lingkungan mereka dapat diberi sanksi atau hukuman bagi pemerintah setempat. Selain itu, alasan pemerintah mendukung kegiatan tersebut dikarenakan pemerintah atau dapat dikatakan para elitdari pemerintah ikut terlibat dalam permainan tersebut. Banyaknya saham yang dimiliki oleh kalangan elit seperti capres yang disebut-sebut sebagai pahlawan masyarakat pun terlibat dalam permainan itu.  

Di manakah keadilan itu, apabila mereka yang seyogyanya menjadi pelindung masyarakat, pelayan masyarakat menjelma menjadi penindas masyarakat yang berpihak kepada investor yang hanya memperhatikan keuntungan belaka ketimbang masyarakat yang menjadi amanah mereka? Sebuah ironi terstrukur antara kebutuhan masyarakat akan listrik, perusahaan tambang batu bara, dan pemerintah, menjadi sebuah lingkaran setan yang tiada hentinya.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar