SEBUAH PENGANTAR

SEBUAH PENGANTAR[1]

Ryan Akmal Suryadi[2]

 

Tulisan ini adalah Sebuah Pengantar untuk memahami “musuh bersama”, untuk mengenal apa yang sejatinya kita lawan; Kapitalisme. Untuk memudahkan penerjemahan pesan, tulisan ini saya bagi ke dalam beberapa bagian. Bagian pertama akan menjelaskan sejarah dan konteks sosial-politik-ekonomi yang melatarbelakangi lahirnya sistem kapitalisme. Bagian kedua menjelaskan secara singkat pengertian kapitalisme. Bagian ketiga akan menguraikan rumus umum kapital hingga prinsip kerjanya. Dan, bagian akhir tulisan akan menjelaskan kejatuhan sistem kapitalisme. Semoga, apa yang saya tulis di bawah ini tidak menjadi satu-satunya bacaan bagi kita untuk mengenal lebih jauh sistem tersebut. Dan, semoga kejatuhan kapitalisme tidak terjadi karena krisis, melainkan terjadi di bawah kesadaran kritis kita semua. Amin.

 

Sejarah,

Karena ia bukan sesuatu yang ada begitu saja (given), kapitalisme punya sejarahnya sendiri. Berdasarkan catatan sejarah, ia lahir dari rahim logika liberalisme ekonomi, sistem ekonomi-politik liberal. Jauh hari sebelumnya, sebelum kaum liberal mengambil alih tatanan, kaum merkantilis telah lebih dulu mengontrol daratan Eropa, bahkan lelautan. Mereka dan para saudagar/pedagang, atas nama ekonomi menjalankan sistem ekonominya di bawah kendali Negara (raja) pada waktu itu.

Namun, setelah revolusi ilmu pengetahuan, setelah era pencerahan muncul[3], dan setelah revolusi industri di Inggris, kaum liberal yang dipengaruhi filsafat rasional-individualis dan kebebasan mengambil alih panggung ekonomi politik. Dimulailah babak baru dalam sejarah ekonomi. Terbitnya “the wealth of nation” yang ditulis Adam Smith memuluskan jalannya. Saat itu, Adam Smith menentang raja, ia ingin mengembalikan kesejahteraan penuh pada pelaku pasar, pada individu-individu yang terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi. Sehingga, tolak ukur kesejahteraan masyarakat tidak lagi diukur dari seberapa banyak logam mulia yang dimiliki raja, melainkan oleh kekayaan individu; pelaku pasar.

Peran Negara dibatasi hanya pada sektor publik; infrastruktur umum, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan perlindungan rakyat dari invasi Negara lain. Sementara itu, pasar diserahkan sepenuhnya kepada invisible hand. Adam Smith percaya ketiadaan intervensi Negara dalam pasar akan meningkatkan produktifitas pelakunya, selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan individu-individu di dalamnya.

Hal ini bukannya tanpa akibat, kebebasan yang dilahirkan kaum liberal menimbulkan efek kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat Eropa. Kemiskinan dimana-mana, pengangguran dan keterasingan begitu terasa di penjuru benua biru. Kemudian, lahirlah gerakan-gerakan sosial yang berambisi meruntuhkan kapitalisme.

Satu dari sekian, adalah Karl Marx (bersama Engels), seorang materialisme-dialektis[4] yang bergerak secara radikal ke permukaan untuk menyatakan perang dengan kapitalisme. Dari Manifesto Komunis hingga Das Capital, Marx banyak menulis dan mengkritik secara imanen apa yang disebut kapitalisme. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud kapitalisme? Bagaimana prinsipnya? Hingga bagaimana ia bekerja, mewujud dalam sistem menjemukkan kita hari ini? comrade?

 

Arti,

Kapitalisme adalah sistem yang mengagungkan modal sebagai penggerak sekaligus roh dari peradaban, yang mempengaruhi lainnya untuk bergerak mengikuti arus pikir seorang pecinta materi (baca: uang). Sistem ini memperkenalkan tatanan social yang berdasar mode produksi yang di dalamnya ditopang oleh relasi kerja upahan, dan juga kapital. Terdapat pasar tenaga kerja dimana pemilik modal bertindak sebagai majikan yang menampung dan mengolah distribusi ‘nilai’, sedangkan para pekerja/buruh bergerak dengan abstrak atas nama upah di kemudian hari.

Berdalih pembebasan, kapitalisme justru menggiring tatanan masyarakat menuju mode perbudakan yang baru, menjadi budak atas barang-barang dan menjadi budak itu sendiri.

 

Rumus Umum,

Di dalam kapitalisme dikenal rumus umum, yakni;

M –C – M’

M         : Modal (kapital konstan; tanah, mesin, dll + kapital variabel; tenaga kerja)

C         : Komoditi

M’       : modal + nilai lebih.

Dengan sebuah ketentuan (keharusan);

M’ ˃ M

Untuk menghasilkan M’ yang lebih besar dari M, para kapitalis bekerja dengan prinsip akumulasi modal, eksploitasi, ekspansi dan hingga monopoli.

Pemilik modal akan selalu berkiblat pada laba atau keuntungan maksimal, bahwa nilai pada hasil produksi mesti lebih besar dari modal produksi, dan bahwa nilai lebih dari proses produksi akan diakumulasi pada tangannya sendiri. Pekerja hanya akan menerima upah yang daripadanya hanya dapat mempertahankan hidupnya dari hari ke hari.

Pemilik modal juga akan senantiasa melakukan eksploitasi kepada segenap faktor produksi (sarana produksi/alam dan pekerja) demi akumulasi yang lebih besar. Alam menjadi halal untuk digerus hingga tuntas tak bersisa, hutan ditebang tanpa memikirkan ekosistem di dalamnya, laut menjadi pembuangan limbah pabrik, hingga pencemaran udara menjadi hal yang lumrah bagi pabrik dan mesin (mobil, motor, dll). Atas nama pemujaannya terhadap capital. Bagi pemodal, pekerja tidak lebih dari sebuah mesin pencetak hasil produksi. jika produksi dinilai kurang, jam kerja akan ditambah. Jika produktifitas masih saja kurang (dan pasti tidak pernah cukup), maka mesin (yang asli) yang lebih produktif, efektif, efisien, dan murah akan menggantikan kerja manual dari pekerja. Jika tidak mau ditendang keluar pabrik, pekerja harus rela menerima pemotongan upah.

Demi memperkaya diri sendiri, para pemodal ini akan mencari peluang untuk memperluas wilayah produksi dan pemasaran hasil produksinya. Pasar bebas tanpa tariff kemudian menjadi hal yang wajib diperjuangkan oleh sesama pemodal. Segala yang potensial untuk dijadikan pasar akan dikomodifikasi (pendidikan, kesehatan, dll). Perluasan wilayah produksi capital (tanah) pun dilakukan. Mereka tidak segan-segan akan melakukan penggusuran kepada siapa saja yang bertentangan kepentingan dengannya. Jika tidak, kapitalis akan mempercepat penggalian kuburannya sendiri karena telah kehilangan faktor produksi (alam disekitarnya sudah habis digerus) dan kehilangan demand (masyarakat di sekitarnya sudah tidak mampu membeli hasil produksi karena ketiadaan daya beli akibat penurunan upah dan PHK).

Dan yang terakhir, para pemodal/kapitalis akan mencari cara untuk memonopoli pasar menjadi bebas dengan menyingkirkan semua pesaingnya. Pasar bebas adalah orientasi sekaligus sebagai arena pertarungan modal bagi para kapitalis.

 

Kejatuhan,

Setiap sebab akan menciptakan akibat. Pun kapitalisme, jika para pemodal mempunyai keuntungan lebih melalui aktualisasi prinsip kapitalisme, sadar tidak sadar, mereka sedang menggali kuburannya sendiri.

Kapitalisme bergerak ke arah naiknya kapital konstan (kebutuhan atas tanah, mesin, uang) dalam hubungannya atas kapital variabel (kebutuhan atas tenaga kerja) – dominasi kerja mati (mesin) di atas kerja hidup (tenaga kerja). Dengan naiknya kapital konstan, kerja menjadi semakin produktif menghasilkan komoditas (apa yang dulu diproduksi sehari lewat jarum tangan, kini diproduksi satu jam dengan mesin jahit). Hasilnya adalah over-produksi, spekulasi, kelebihan kapital dan kelebihan populasi.

Kebebasan dalam ber-ekonomi yang ditelurkan kaum liberal tidak serta merta membawa peradaban pada keadilan ekonomi. Kebebasan itu justru menjadi ‘boomerang’ bagi pelaku ekonomi sendiri. Ternyata, peningkatan hasil produksi yang dijanjikan pasar bebas tidak berbanding lurus dengan daya beli masyarakat yang sebelumnya dipotong upahnya atau diPHK (demi kenaikan hasil produksi). Sehingga terciptalah krisis dalam tubuh kapitalisme. Pada akhirnya, para kapitalis tidak bisa lagi bertahan hidup dan memakan apa pun, kecuali uangnya sendiri. Meski demikian, ia terus saja berevolusi, setiap krisis tiba ia mengubah wajah melalui teori yang ssesungguhnya tidak mengubah substansi dari relasi produsksi dalam sistem yang alienatif itu[5]. Dari Klasik ke Neolib, berdalih Globalisasi ia taklukkan dunia di bawah kendali modal. Bahkan pemilu pun kena virusnya.[6] Hanyut dalam arus oligarki. Atas nama akumulasi.

Walau sulit, bukan mustahil untuk lepas dari rantai kapitalisme yang bekerja sistemik nan rapi itu, yang menginklusi segala norma. Sejarah mencatat, dari Internasionale ke Serikat Islam di Nusantara. Dari Seattle ke Hamburg, dari Chiapas ke Rojava, hingga ke Kulon Progo, Kendeng, Polongbangkeng, Batang, Teluk Benoa, Losari, Bara barayya, ke Pintu Satu dan masih banyak lagi. Semua telah berlawan, tapi sistem masih saja berdiri, masih bergerak di bawah kendali para kapitalis. Selanjutnya apa lagi? Mari berdiskusi.[7]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bacaan,

Fromm, Erich.”Konsep Manusia Menurut Marx” diterjemahkan oleh Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004

Kusumandaru, Ken Budha.“Karl Marx, Revolusi, dan Sosialisme: Sanggahan terhadap Frans Magnis-Suseno”. Yogyakarta: Resist Book. 2004

SEXY KILLERS! Sebuah film dokumenter oleh Watchdoc. 2019

Soyomukti, Nurani dan Happy Nurwidiamoko.“Occupy Wall Street!”. Malang: Instrans Publishing. 2012

Suryajaya, Martin.“Asal Usul Kekayaan”. Yogyakarta: Resist Book. 2016

Tormey, Simon. “Anti-Kapitalisme; Sebuah Pengantar bagi Pemula” diterjemahkan oleh Wahyu. Penerbit Angin. 2016

Juga Kota dan lelaku sistem yang menjalar bengis, ekspansionis..

 

[1] Tulisan ini pernah dibawakan sebagai pengantar diskusi “Mengenal Kapitalisme dan Cara Memeranginya” yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Mandar Majene Indonesia (IM3I) . Pada tanggal 14 April 2019 di Sekretariat IM3I, Jl. Perintis Kemerdekaan, Komp. Hartako Permai Blok A No. 2, Makassar

[2] ryanakmalsuryadi@gmail.com

[3] Mengakhiri dominasi dogma institusi keagamaan di daratan Eropa yang berlangsung sekitar abad V hingga XV, mekarlah kebebasan berpikir hingga berekspresi.

[4] Erich Fromm menyebut Marx sebagai seorang Naturalis yang Humanis (juga seorang Humanis yang naturalis), dengan metode Materialisme-Dialektika­-Historis

[5] Mengubah relasi sosial menjadi sekadar relasi ekonomi, menjadikan subjek terasing dari faktor produksi, terasing dari kerja dan nilai yang dihasikan, terasing dari lingkungan sosial, terasing dari alam, hingga terasing dari diri sendiri.

[6] Silahkan nonton SEXY KILLERS!

[7] Tulisan ini telah dimodifikasi dengan penambahan catatan kaki. Catatan kaki diadakan untuk memperjelas maksud tulisan agar tidak terjebak dalam penafsiran keliru atas makna. Intinya, Catatan Kaki adalah penting untuk di-adakan.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar