Ketidakberdayaan WTO di Hadapan Perang Dagang AS-Tiongkok

Andi Rizky Amaliah (HI 2018)

Latar Belakang

Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok merupakan negara yang sangat berperan besar dalam ekonomi perdagangan dunia, namun perang dagang antar kedua negara ini tak terelakkan. AS dan Tiongkok terus memacu ketegangan perang dagang mereka, hingga akhirnya terus memanas hingga saat ini. Setelah runtuhnya Uni Soviet, terjadi perubahan kekuatan dari sistem bipolar menjadi sistem unipolar yang didominasi oleh AS. Power AS didasarkan pada kapabilitas militer dan ekonomi yang dimilikinya. Oleh karena itu, peran AS dalam politik global sangat besar untuk menjaga stabilitas ekonomi-politik internasional.[1] AS masih percaya bahwa mereka cukup kuat untuk menggertak Tiongkok agar tunduk, sementara Tiongkok percaya bahwa mereka cukup kuat untuk menang dalam konfrontasi dengan AS.

AS telah berupaya untuk menghalau “serangan” dari Tiongkok dengan beberapa cara seperti menaikkan Bea Masuk sebesar 10% pada barang dari Tiongkok senilai 200 miliar dollar AS, kemudian menaikkan lagi tarifnya hingga ke tahap ketiga untuk kebijakan pengenaan tarif baru produk Tiongkok senilai  267 miliar dollar AS.[2] Sedangkan pihak Tiongkok juga memiliki senjata yang dapat ia gunakan untuk melawan sikap proteksionisme yang dilakukan AS yaitu, selain meningkatkan tarif impor tambahan, Tiongkok juga melakukan berbagai usaha seperti mempersulit perusahaan AS serta memberhentikan pembelian Treasury AS, hingga devaluasi Yuan yang akan berdampak besar terhadap pangsa pasar AS di Tiongkok.[3]

Persaingan ini semakin sengit sehingga membuat pihak AS geram akan sikap Tiongkok yang perlahan mengancam dan menguasai pasar internasional. Hal ini menjadikan Tiongkok semakin menguatkan potensi pasarnya untuk menyaingi AS. Strategi Tiongkok berfokus pada tujuan utama pasarnya yaitu wilayah Asia Tenggara-Indocina tanpa menghiraukan AS sebagai penguasa perekonomian global. Sampai saat ini, akibat belum adanya titik temu antara kedua belah pihak. Semua ini karena sikap proteksionisme yang dilakukan AS secara terus menerus hingga sikap acuh tak acuh yang dilakukan Tiongkok terhadap AS. Padahal banyak potensi untuk keduanya menyelesaikan perang dagang dengan bergabungnya mereka ke dalam organisasi-organisasi yang sama demi tercapainya kepentingan negara terkhusus perdagangan.[4]

World Trade Organization (WTO) sebagai salah satu rezim yang mengatur perdagangan bebas, yang di dalamnya tergabung AS dan Tiongkok. Rezim sebagai prinsip, norma, aturan yang prosedur pengambilan keputusannya melibatkan aktor-aktor yang telah diperhitungkan di area tertentu dalam Hubungan Internasional.[5] Akan tetapi, rezim yang peruntukannya sebagai instrumen pengatur tingkah laku negara-negara ini terlihat belum bisa meredam perseteruan AS-Tiongkok, ataukah rezim yang melemah disebabkan tingkah laku dari dua negara tersebut.

Konsep

Konsep yang diangkat melalui paradigma Realisme yang merupakan salah satu paradigma besar dalam studi Hubungan Internasional dan merupakan teori yang paling penting, dimana  dalam hal ini power dijadikan sebagai pusat dari semua perilaku negara-bangsa.[6] Hal ini sangat berkaitan dengan konsep anarki yang berarti aturan-aturan yang mengikat cenderung lebih diabaikan yang menyebabkan terjadinya ketidakteraturan dalam suatu rezim yang berlaku.

Anarki secara terminologi, berasal dari bahasa Yunani yang berarti secara harfiah ketiadaan pemerintah atau aturan.[7] Dalam wacana yang populer, anarki dikaitkan dengan kondisi yang kacau atau yang berkenaan dengan kekerasan.[8] Adapun dalam tatanan internasional, anarki lebih dekat dengan hubungan yang horizontal dibandingkan dengan vertikal, sebagaimana hubungan antar negara yang bersifat setara.[9]

Dalam sistem anarki memandang bahwa tidak ada yang bisa mengatur negara dalam membentuk kebijakan-kebijakannya. Anarki memandang bahwa dunia internasional sangat kompetitif dan penuh dengan konflik sehingga dalam penyelesaian konflik-konflik selalu ada yang menang dan kalah. Kondisi anarki internasional dimana tidak ada pemimpin berdaulat yang berkuasa kemudian membuat sifat dasar aktor internasional, misalnya negara, mulai muncul sehingga aktor internasional berlomba-lomba untuk saling berkuasa dan kondisi menjadi semakin anarkis.[10]

Pembahasan

          Pihak AS menyebutkan bahwa regulasi Tiongkok telah melanggar undang-undang dalam kesepakatan WTO terkait dengan aspek-aspek dagang pada hak properti intelektual, yang menjadi pedoman internasional dalam pembuatan kebijakan di seluruh dunia. Dalam keluhannya, pihak AS menyebutkan bahwa Tiongkok terlihat telah melanggar aturan WTO dengan mengabaikan pemegang hak paten luar negeri, termasuk pada perusahaan AS, yang memiliki hak paten dan berhak melarang Tiongkok untuk melanjutkan penggunaan teknologi setelah izin kontraknya berakhir. Dalam pernyataan Steven Mnuchin sebagai Menteri Keuangan AS mengatakan bahwa “Tiongkok juga melanggar aturan WTO dengan memaksakan ketentuan kontrak yang merugikan dan mendiskriminasi perusahaan asing yang diimpor,”[11]

Sebagai rezim perdagangan internasional, WTO mempunyai prinsip-prinsip dasar yang harus dipatuhi oleh para anggotanya yaitu most-favoured nation, non-tariff measures, national treatment, transparency, dan quantitative restriction (kuota) dengan norma utamanya adalah pengurangan hambatan perdagangan hingga seminim mungkin untuk mewujudkan pasar perdagangan yang bebas, adil, dan terbuka. Sejak terbentuk hingga kini, WTO menerapkan sistem barat yang kapitalis, terutama mengadopsi sistem yang diterapkan AS sebagai kekuatan dominan dalam WTO. Banyak kebijakan WTO yang dibuat berdasarkan kepentingan AS dan negara-negara industri lainnya.

Realitasnya, terjadi kontradiksi antara prinsip dasar dalam WTO dengan kebijakan yang berlaku di lapangan yakni perlindungan hanya melalui tarif. AS dan Tiongkok dengan sadar telah melakukan pelanggaran dalam peraturan-peraturan yang telah disepakati dalam WTO. Hal ini kemudian membuktikan bahwa dalam konsep anarki tidak ada yang bisa mengatur negara dalam membentuk kebijakan-kebijakannya meskipun dikatakan bahwa fungsi rezim hadir untuk mengatur dan membuat kebijakan tertentu khususnya dalam sistem perdagangan.

Anarki memandang bahwa tidak ada otoritas tertinggi yang dapat mengatur negara selain negara itu sendiri dan cenderung mengarah pada self-help. Kondisi anarki umumnya dipahami sebagai cara untuk menggambarkan sistem internasional dimana negara dilihat sebagai salah satu unit analisa, yang dianggap memiliki kedaulatan penuh dan dipersepsikan setara sebagai sebuah aktor.[12] Negara dapat membuat komitmen dan perjanjian tetapi tidak ada kekuatan yang berdaulat yang memastikan kepatuhan dan penyimpangan yang ada.[13]

Dalam konteks perang dagang AS dan Tiongkok, kedua belah pihak tidak membutuhkan adanya sebuah rezim, meskipun ada upaya Tiongkok untuk mengajukan permasalahan mengenai AS yang terus menaikkan tarif Bea Masuk melalui mekanisme penyelesaian sengketa di WTO.  Namun, sampai saat ini belum ada upaya dari WTO untuk menyelesaikan “perang” tersebut. Hal ini dikarenakan dominasi AS dalam WTO sangat besar dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan finansial sehingga peran WTO sebagai rezim menjadi tidak berguna.[14]

Kesimpulan

            Perang dagang AS dan Tiongkok yang menimbulkan anarki sebagai akibat dari kepentingan nasional masing-masing negara yang egosentris yang mana ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya di dunia perdagangan internasional, sehingga melanggar perjanjian dalam rezim internasional. Masing-masing negara merasa bahwa ridak ada lagi otoritas tertinggi atas dirinya. Maka dengan kondisi seperti inilah yang membuat interaksi-interaksi antar negara yang bersifat anarki.

Dalam kasus ini, membuktikan bahwa rezim dalam mengatur jalannya sistem perdagangan tidak mampu menyelesaikan konflik Perang Dagang AS dan Tiongkok. Hal ini disebabkan oleh adanya sikap dari kedua negara yang saling bersikukuh bahwa tidak adanya kekuasaan tertinggi yang dapat mengatur kepentingan masing-masing negara. Maka dari itu, keteraturan dalam rezim perlu ditaati oleh semua pihak agar tidak menimbulkan tindakan anarki secara liar oleh salah satu anggota dari rezim.

Daftar Pustaka

Buku/Jurnal:

Donnelly, Jack. (2004). Realism and International Relations. New York: Cambridge University Press.

Krasner, Stephen. (2009). Structural Causes and Regime Consequence: Regime as Intervening Variables. International Organization. Vol. 36.

Powell, R. (1994). Anarchy in International Relations Theory: The Neorealist-Neoliberal Debate. International Organization. Vol. 48.

Suryadi Bakry, Dr. Umar. (2017). Dasar-Dasar Hubungan Internasional. Depok: Kencana Prenadamedia Group.

Internet:

Jaramaya, Rizky. (Maret 2018). Praktek Proteksionisme AS akan Memicu Reaksi Berantai. Diakses dari https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis-global/18/03/30/p6dqic383-cina-praktik-proteksionisme-as-akan-memicu-reaksi-berantai, pada tanggal 23 November 2018

Murtadlo, Husnul. (November 2012). Berpacu Menjadi yang Terbaik. Diakses dari PERANG%20DAGANG%20US%20TIONGKOK/Husnul%20Murtadlo.html pada tanggal 23 November 2018

Nabila, Mutiara. (Oktober 2018). AS Sasar Tiongkok dalam WTO, Perang Dagang Makin Panas. Diakses dari http://kabar24.bisnis.com/read/20181020/19/851352/as-sasar-Tiongkok-dalam-wto-perang-dagang-makin-panas pada tanggal 23 November 2018

Rahayu Sri, Riska Isna. (Juli 2018). 4 Kebijakan yang bisa Tiongkok Gunakan untuk Blas Proteksionisme AS. Diakses dari PERANG%20DAGANG%20US%20TIONGKOK/4%20Kebijakan%20yang%20Bisa%20Tiongkok%20Gunakan%20untuk%20Balas%20Proteksionisme%20AS%20_%20iNews%20Portal%20-%20Finance.html pada tanggal 23 November 2018

Sonia. (September 2013). Kondisi Anarki dalam Hubungan Internasional. Diakses dari http://sonia-d-a-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-83280-Umum-Kondisi%20Anarki%20dalam%20Sistem%20Internasional.html pada tanggal 23 November 2018

Subarkah, Muhammad. (Juni 2018). Perang Dagang AS-China dan Runtuhnya Masa Depan WTO. Diakses dari https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/06/18/paiqqw385-perang-dagang-ascina-dan-runtuhnya-masa-depan-wto pada tanggal 23 November 2018

Sugianto, Danang. (September 2018). Serangan Baru Trump di Perang Dagang Bikin Tiongkok Kalang Kabut. Diakses dari PERANG%20DAGANG%20US%20TIONGKOK/Serangan%20Baru%20Trump%20di%20Perang%20Dagang%20Bikin%20Tiongkok%20Kalang%20Kabut.html pada tanggal 23 November 2018

 

[1]Husnul, Murtadlo, November 2012, Berpacu menjadi yang terbaik, diakses dari /PERANG%20DAGANG%20US%20TIONGKOK/Husnul%20Murtadlo.html, pada tanggal 23 November 2018 pukul 10.15 WITA

[2]Danang, Sugianto. September 2018, Serangan Baru Trump di Perang Dagang Bikin Tiongkok Kalang Kabut, diakses dari /PERANG%20DAGANG%20US%20TIONGKOK/Serangan%20Baru%20Trump%20di%20Perang%20Dagang%20Bikin%20Tiongkok%20Kalang%20Kabut.html pada tanggal 23 November 2018 Pukul 13.45 WITA

[3]Riska Isna Rahayu Sri, Juli 2018, 4 Kebijakan yang bisa Tiongkok Gunakan untuk Blas Proteksionisme AS, diakses dari PERANG%20DAGANG%20US%20TIONGKOK/4%20Kebijakan%20yang%20Bisa%20Tiongkok%20Gunakan%20untuk%20Balas%20Proteksionisme%20AS%20_%20iNews%20Portal%20-%20Finance.html pada tanggal 23 November 2018 pukul 14.15 WITA

[4]Rizky Jaramaya, Maret 2018, Praktek Proteksionisme AS akan Memicu Reaksi Berantai, diakses dari https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis-global/18/03/30/p6dqic383-cina-praktik-proteksionisme-as-akan-memicu-reaksi-berantai, pada tanggal 23 November 2018 pukul 14.15 WITA

[5]Stephen Krasner, 1982, Structural Causes and Regime Consequence: Regime as Intervening Variables, International Organization, Vol, 36, hlm. 1-21.

[6]Dr. Umar Suryadi Bakry, Oktober 2017, Dasar-Dasar Hubungan Internasional, Depok, Kencana Prenadamedia Group, hlm. 90

[7]Jack Donnelly, 2004, Realism and International Relations, New York, Cambridge University Press, hlm 81

[8]Ibid.

[9]Ibid.

[10]Sonia, September 2013, Kondisi Anarki dalam Hubungan Internasional, diakses dari http://sonia-d-a-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-83280-Umum-Kondisi%20Anarki%20dalam%20Sistem%20Internasional.html pada tanggal 23 November 2018 pukul 16.45 WITA

[11]Mutiara Nabila, Oktober 2018, AS Sasar Tiongkok dalam WTO, Perang Dagang Makin Panas, diakses dari http://kabar24.bisnis.com/read/20181020/19/851352/as-sasar-Tiongkok-dalam-wto-perang-dagang-makin-panas pada tanggal 23 November 2018 Pukul 16.45 WITA

[12]Adhe Wibisono Nuansa, 2018, Anarchy dalam Hubungan Internasional, diakses dari https://www.academia.edu/2553804/Anarchy_dalam_Hubungan_Internasional Web pada tanggal 23 November 2018 pukul 23.45 WITA

[13]R. Powell, 1994, Anarchy in International Relations Theory: The Neorealist-Neoliberal Debate, International Organization, Vol. 48, No. 2, hlm 313-344

[14]Muhammad Subarkah, Juni 2018, Perang Dagang AS-China dan Runtuhnya Masa Depan WTO, diakses dari https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/06/18/paiqqw385-perang-dagang-ascina-dan-runtuhnya-masa-depan-wto pada tanggal 23 November 2018 pukul 15.45 WITA

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar