Intervensi Arab Saudi dan Amerika Serikat dalam Skema Politik Minyak di Yaman

Oleh: Nurnaningsih Al Hasmi (HI 2018)

Latar Belakang

            Di era globalisasi ini seharusnya perdamaian dunia sudah harus tercipta demi kesejahteraan hidup manusia. Demi mencapai kesejahteraan itu, telah dilakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya. Salah satunya dengan membentuk organisasi-organisasi internasional seperti PBB untuk mencapai perdamaian dunia. Namun, masih banyak perang terjadi yang disebabkan oleh adanya kepentingan-kepentingan yang ingin dicapai oleh beberapa negara untuk memperluas kekuasaannya baik itu di bidang perdagangan, militer, sumber daya alam dan bahkan sumber daya manusia. Seperti beberapa tahun terakhir ,dunia internasional kembali merasa terancam dengan adanya perang saudara antara pemberontak Houthi yang beraliran Syiah dengan Pemerintah Yaman. Perang ini dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan kaum Houthi kepada Pemerintah Yaman karena tidak mampu mengatasi krisis ekonomi yang terjadi di Yaman.

            Kerumitan konflik yang terjadi di Yaman, secara tidak langsung mengundang keterlibatan pihak luar untuk ikut membantu menyelesaikan konflik tersebut, salah satunya Arab Saudi. Pada Maret 2015 lalu, Arab Saudi meluncurkan serangan besar-besaran di Yaman untuk memberantas pemberontak Houthi yang ingin menduduki Pemerintahan Yaman yang dipimpin oleh Abd. Rabbu Mansour Hadi. [1] Arab Saudi mengira bahwa Pemberontak Houthi dibayang-bayangi oleh Iran. Iran sendiri dianggap sebagai musuh bebuyutan Arab Saudi yang bersaing untuk menguasai Timur Tengah, yang juga mencoba untuk menguasai sektor minyak di Yaman untuk memperluas kekuasaannya. Hal tersebut dikarenakan Arab Saudi tahu bahwa Iran juga sangat bergantung pada minyak, yang menyebabkan pukulan telak bagi Iran.  Selain itu, dengan alasan mencegah pengaruh Iran di kawasan, Amerika Serikat membantu Arab Saudi untuk meluncurkan perang ke Yaman.

Arab Saudi dikenal sebagai eksportir minyak terbesar di dunia menurut data organisasi negara-negara produsen minyak OPEC.[2] Faktor minyak ini membuat Arab Saudi sangat diperhitungkan di perdagangan minyak dunia, terutama Amerika Serikat. Oleh karena itu, Amerika serikat bersatu dengan Arab Saudi untuk menguasai Selat Bab El Mandeb yang merupakan jalur perdagangan minyak terbesar di Yaman yang ditakutkan akan direbut oleh Iran. Konflik ini memang erat kaitannya dengan politik minyak yang terjadi di Yaman, maka hal tersebut menjadi suatu hal yang penting untuk dianalisis dengan pendekatan strukturalisme.

Konsep/Teori

            Dalam kajian Hubungan Internasional, kita mengenal istilah Grand Paradigm yang digunakan untuk membedah isu-isu internasional. Paradigma adalah cara pandang seseorang menilai suatu peristiwa atau fenomena. Paradigma dalam Ilmu Hubungan Internasional terdiri dari Realisme, Liberalisme dan Strukturalisme. Realisme merupakan teori penting dalam HI yang menekankan konsep power sebagai pusat dari perilaku negara.[3] Realisme memiliki tiga asumsi dasar yaitu state, survival dan self-help. Realisme beranggapan bahwa negara itu menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Sementara itu, Liberalisme merupakan kritik terhadap realisme. Liberalisme juga biasa disebut sebagai idealisme. Liberalisme beranggapan bahwa demi mencapai kepentingan nasional tidak harus dilakukan dengan cara berperang, melainkan bisa dengan cara kerja sama.

            Secara garis besar, strukturalisme memiliki konsep yang sama dengan marxisme yang dicetuskan oleh Karl Marx. Marxisme menganggap bahwa Liberalisme menghasilkan sistem Kapitalisme yang memicu adanya kemiskinan. Oleh karena itu, teori ini muncul untuk mengkritik Liberalisme. Liberalisme memandang perekonomian sebagai “positive sum-game” dengan keuntungan bagi semua. Karl Marx menolak pandangan tersebut. Ia melihat perekonomian sebagai tempat eksploitasi manusia dan perbedaan kelas. Kaum strukturalisme berpendapat bahwa hubungan ekonomi global dirancang sedemikian rupa untuk menguntungkan kelas-kelas sosial tertentu, sehingga menghasilkan sebuah ‘sistem dunia’ yang pada dasarnya tidak adil. Strukturalisme juga membahas pendekatan pluralis liberal yang menekankan pada karakteristik hubungan ekonomi internasional yang saling terhubung dan perekonomian global yang rawan konflik.[4]

            Di dalam perspektif Strukturalisme, mengacu pada World System Theory yang menekankan kapitalisme global pada sistem pembagian kelas yang disusun secara vertikal-horizontal. Dalam struktur vertikal, hubungan antar negara distrukturkan secara hierarkis antara negara sejahtera, powerful dan kaya disebut Core dengan negara yang memiliki ekonomi rendah atau masih dalam taraf berkembang dan tidak memiliki banyak pengaruh yang disebut Periphery. Di samping itu, struktur horizontal memandang bahwa kita dapat menemukan hubungan kelas dari adanya pemilik faktor produksi (north country) dan yang lemah dalam faktor produksi (South country). Kedua pembagian kelas ini mengarah pada kemampuan  negara-negara tersebut dalam hal kepemilikan modal dan faktor produksi sebagai zat utama dan sumber daya manusia serta sumber daya alam sebagai faktor selanjutnya. Kaitan antara (World System Theory) dengan kasus bantuan Amerika Serikat kepada Arab Saudi di Yaman adalah eksploitasi yang dilakukan negara Core terhadap negara Periphery.

 Pembahasan

            Yaman merupakan salah satu negara di kawasan Timur Tengah yang dapat digolongkan sebagai negara berkembang. Perkembangan Yaman diwarnai dengan adanya konflik yang melibatkan Pemberontak Houthi yang identik dengan aliran Syiah dengan Pemerintah Yaman yang dibantu oleh Arab Saudi. Keterlibatan Arab Saudi dalam perang ini didasari oleh keinginan kuat Arab Saudi untuk menguasai kawasan Timur Tengah. Arab Saudi percaya bahwa selat Bab El Mandeb merupakan salah satu daerah di Yaman yang menjadi kawasan kaya minyak. Setiap harinya, lebih dari tiga juta barel minyak yang dipasarkan lewat di selat Bab El Mandeb.[5]

            Keterlibatan Arab Saudi dalam perang Yaman juga tidak terlepas dari campur tangan Amerika Serikat. Persenjataan yang dipakai Arab Saudi untuk menyerang Yaman sebagian besar merupakan bantuan dari Amerika Serikat. Alasan utama Amerika Serikat mendukung Arab Saudi adalah untuk menjaga koalisi dengan Saudi dan bersatu untuk memerangi pemberontak Houthi yang dianggapnya sebagai sekutu Iran. Iran sendiri dianggap berkoalisi dengan Rusia. Rusia merupakan musuh bebuyutan Amerika Serikat. Amerika Serikat berusaha menjaga hubungan baiknya dengan Arab Saudi karena Amerika Serikat bergantung kepada ekspor minyak dari Arab Saudi. Ekspor minyak dari arab Saudi juga memainkan peran penting dalam pemasokan energi negara-negara besar seperti Amerika Serikat.

            Jika dilihat dari segi World System Theory, Amerika serikat merupakan bagian dari Negara Dunia I atau disebut negara (Core). Pengaruh kuat Amerika dalam bidang militer sangat membantu Arab Saudi yang merupakan negara Semi Periphery yang masih menyuplai barang jadi dari Amerika Serikat untuk meluncurkan perang ke Yaman. Arab Saudi sejatinya sangat bergantung kepada persenjataan Amerika, sampai pesawat tempur dan tenaga kemiliterannya.  Seperti yang saya jelaskan tadi bahwa Arab Saudi meluncurkan perang ke Yaman demi menguasai kawasan minyak di Timur Tengah. Tentu saja, hal tersebut juga berdampak baik bagi Amerika Serikat jika Arab Saudi berhasil mengeksploitasi minyak yang ada di Yaman.

Yaman dikenal sebagai negara miskin dan menduduki posisi Negara Dunia III atau dikenal dengan negara periphery. Yaman semakin terpuruk dengan adanya perang saudara yang menimpa negaranya. Krisis ekonomi yang sampai sekarang masih belum bisa ditangani dengan baik menimbulkan dampak buruk bagi masyarakatnya. Kelaparan dan gizi buruk semakin memburuk di kawasan konflik tersebut. Sampai saat ini perang Yaman masih terus berlanjut dan masih belum memiliki titik terang untuk penyelesaian konfliknya.

Kesimpulan

            Strukturalisme merupakan perspektif dalam hubungan internasional yang fokus kajiannya berada pada sektor ekonomi. Adanya pembagian kelas yang ditinjau dari segi ekonomi, kepimilikan modal, dan faktor produksi antarnegara dapat menimbulkan konflik. Konflik yang terjadi di Yaman sendiri melibatkan pengaruh dari negara super power atau negara core yaitu Amerika Serikat yang membantu menyediakan persenjataan kepada Arab Saudi untuk meluncurkan perang kepada Yaman. Dalam konflik ini, negara core juga berusaha merebut kepemilikan sumber daya alam di Yaman yang berupa minyak bumi. Menurut World System Theory, negara core (dalam hal ini Amerika Serikat) secara langsung maupun tidak langsung cenderung akan mendominasi negara peri-phery (Yaman). Keberadaan World System Theory di dalam Perang Yaman menimbulkan dampak yang cukup signifikan bagi penduduk Yaman. Penulis menganggap bahwa adanya pembagian kelas antar negara dapat menimbulkan kerugian bagi negara yang masih dalam taraf berkembang. Pembagian kelas itu sendiri dapat memicu terjadinya konflik antar negara.

Daftar Pustaka

Buku/Jurnal

Bakri, Suryadi Umar. (2017). Dasar-Dasar Hubungan Internasional. Depok: Kencana Prenadamedia Group.

Priambodo, Sigit. (2015). Motif Intervensi Arab Saudi Terhadap Perang Saudara di Yaman. Jurnal Analisis Hubungan Internasional. Vol. 6. No. 1.

Steans, Jill and Lloyd Pettiford.  (2009). Hubungan Internasional Perspektif dan Tema. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Website

Anonim. (2014). Cerita Politik Minyak Arab Saudi. Diakses dari https://finance.detik.com/energi/d-2778673/cerita-politik-minyak-arab-saudi pada tanggal 24 November 2018.

Anonim. (2017). Dominasi Bab El Mandeb, Tujuan Agresi Kelanjutan Saudi ke Yaman. Diakses dari http://parstoday.com/id/news/middle_east-i31977-dominasi_bab_el_mandeb_tujuan_kelanjutan_agresi_saudi_ke_yaman pada tanggal 24 November 2018.

[1] Sigit Priambodo, 2015, Motif Intervensi Arab Saudi Terhadap Perang Saudara di Yaman, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 6 No. 1

[2]Anonim, 2014, Cerita Politik Minyak Arab Saudi, diakses dari https://finance.detik.com/energi/d-2778673/cerita-politik-minyak-arab-saudi, pada tanggal 24 November 2018

[3] Dr. Umar Suryadi Bakri, 2017, Dasar-Dasar Hubungan Internasional, Depok, Kencana Prenadamedia Group

[4] Jill Steans & Lloyd Pettiford, 2009, Hubungan Internasional Perspektif dan Tema, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hlm. 149

[5]Anonim, Dominasi Bab El Mandeb, Tujuan Agresi Kelanjutan Saudi ke Yaman, diakases dari http://parstoday.com/id/news/middle_east-i31977-dominasi_bab_el_mandeb_tujuan_kelanjutan_agresi_saudi_ke_yaman, pada tanggal 24 November 2018

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar