Book Review: Ishmael

Oleh: Defki Sarma (HI 2018)

Email: defkysarma12 @gmail.com

Guru mencari murid

Syarat: punya keinginan besar untuk menyelamatkan dunia.

Datang sendiri.

Sebuah iklan pendek yang mengawali semuanya. Seorang tokoh di dalam novel ini menjadi sangat penasaran terhadap iklan tersebut. Teringat dengan impian masa mudanya  yang sangat ingin menyelamatkan dunia, ia pun mendatangi alamat di dalam iklan tersebut. Dan tak menyangka bahwa sosok yang ada dalam iklan tersebut adalah seekor gorila yang bernama Ishmael.

Ishmael juga mengejutkan tokoh tanpa nama ini dengan pertanyaan ringannya. Bagaimana mungkin manusia berfikir bahwa dunia ini diciptakan untuk memenuhi semua hasratnya? Untuk dikuasainya? Ketika berfikir bahwa dunia ini hanya milik manusia maka spesies lain akan melakukan segalanya untuk mendapatkan haknya.

Kita tumbuh dalam kalimat takdir bahwa dunia hanya diciptakan untuk manusia. Manusia sepenuhnya berhak untuk menaklukan dan menguasai dunia. Segala yang ada di dunia adalah properti kita, kapan saja dapat kita eksploitasi. Dengan demikian, segala hal yang diklaim sebagai proses pada saat yang bersamaan adalah jurang kehancuran, sesuatu yang berakibat fatal, dan mengarahkan kita pada kehampaan dan ketakbermaknaan.

Ishmael membagi manusia menjadi dua kelompok yaitu: kaum pengambil dan kaum peninggal. Pengambil adalah anggota dari budaya dominan yang melihat manusia sebagai penguasa dunia, sedangkan peninggal adalah anggota budaya yang hidup lebih sederhana, hidup berdampingan dengan alam, hanya mengambil yang dibutuhkan tidak untuk menguasai atau menaklukan alam atau yang kita kenal dengan masyarakat primitif. Selain menjelaskan kepada tokoh tanpa nama ini, tentang bagaimana ciri-ciri kaum pengambil dan kaum peninggal, Ishmael juga menunjukkan bagaimana berbagai mitos budaya telah membantu membentuk kedua budaya. Salah satu mitos utama yang ia diskusikan adalah kisah Adam dan Hawa.

Dalam cerita ini, sosok Ishmael juga memutarbalikkan pandangan yang selama ini banyak diyakini oleh masyarakat umum, bahwa kehidupan manusia primitif yang selama ini dianggap terbelakang sebenarnya adalah kehidupan ideal yang selaras dengan alam. Sementara kebudayaan manusia modern adalah kehidupan menuju kehancuran seluruh alam dan isinya. Seperti yang kita lihat gaya-gaya modernitas, berhala kekuasaan, kejahatan seksual,  pembasmian etnis, dan sebagainya adalah tontonan lazim hari ini. Inilah yang disebut Ishmael sebagai penjara kebudayaan, penjara modernitas yang tidak terlihat, tidak berbau, dan tidak dapat dirasakan atau tanpa jeruji.

Dulu Manusia adalah milik Dunia.

Dan sekarang Dunia adalah milik Manusia.

Semuanya karena sebuah cerita bahwa manusia adalah penguasa dunia, maka kuasailah, karena dunia untuk ditaklukan maka taklukkanlah, karena dunia hanya untuk memenuhi segala kebutuhan manusia maka kuraslah. Dan semua manusia terperangkap, tertawan dalam cerita ini. Manusia tidak menyadari bahwa hampir semua upaya kita untuk mencukupi kebutuhan kita adalah satu langkah untuk lebih mendekatkan dunia pada kehancuran. Sebagaimana dinyatakan oleh Ishmael “kebudayaan kalian sedang terjun bebas menuju kehancuran”.

Namun demikian, di dalam buku karya Daniel Quinn ini. Melalui ishmael yang telah menunjukan begitu banyak kesalahan dari manusia itu sendiri, memunculkan banyak tanda tanya besar saat membaca buku ini, maka dia pun menunjukkan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut. Jika di dunia ini hanya Anda atau Saya saja yang merasa bumi sebenarnya dalam bahaya, mungkin tidak ada artinya dan mungkin bisa saja terlarut lagi dalam ketidakpedulian. Tapi, bagaimana jika lebih dari separuh manusia di bumi yang menyadari bahaya yang sedang mengancam atau bahkan bisa disebut bahaya yang sedang berlangsung yang menuju kepada penghancuran alam akibat ulah manusia itu sendiri? Dengan begitu mungkin akan berarti banyak dan membawa kita semua pada suatu gerakan bersama untuk mengubah keadaan yang sedang dan terus menepi jurang.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar