Pindah Rumah

Rial Ashari, 19 September 2018.

Tahun 2014 yang lalu tidak hanya ditandai oleh momen politik terpilihnya Jokowi dengan slogan revolusi mental-nya. Di tahun itu, himpunan-himpunan di sospol harus mengemasi isi sekretariatnya dan lekas pindah lokasi.

Seingat saya, pindahan itu terjadi di tanggal 6 November 2014. Sekretariat himpunan yang selama beberapa tahun terletak di gedung FIS III sospol itu, terpaksa dipindahkan ke komplek Lema baru dimana himpunan berlokasi saat ini. Meski para warga himpunan dan Kema telah menyusun protes dan penolakan, pada akhirnya pihak dekanat kampus dengan segala kewenangannya membuat pemindahan ini tidak bisa tidak jadi.

Saat itu saya dan beberapa kawan kebetulan sedang menjabat sebagai pengurus harian. Saya masih ingat malam dimana seluruh inventaris himpunan kami angkat beramai-ramai. Beberapa orang pengurus, ditemani beberapa warga dan bahkan alumni ada pada saat itu dan ikut membantu.

Mengangkut barang-barang yang banyak itu rasanya tidak mengenakkan. Tidak hanya karena bebannya yang berat dan diangkat tengah malam, tapi karena disertai berat hati himpunan harus pindah. Sudah ada ikatan emosional tersendiri antara himpunan yang sudah terbiasa kami sebut sebagai “rumah” itu, dengan orang-orang yang menghuninya. Dan inilah yang ingin sedikit saya bagikan kepada pembaca.

Himpunan lama, begitu kami biasa menyebutnya, tidaklah luas-luas amat. Kira-kira berukuran empat kali lima meter. Mungkin lebih, saya tidak tahu persis. Tapi di ruang tersebut banyak hal terjadi dan banyak hal terbiasa kami lakukan.

Pengurus himpunan hobi berdiskusi dan rapat di pelataran FIS. Sore-sore mahasiswa rajin berolahraga di lapangan sospol yang dulunya rumput, sebelum kini menjadi beton dan sepi. Malam hari bukannya jadi lengang, kerap kali bahkan jadi lebih ramai. Panitia kegiatan mulai mengeluarkan perkakas-perkakas untuk mengecat dan menghias spanduk atau baliho kegiatan.

Faktanya, bagi sebagian orang di himpunan, malam hari justru adalah prime-time, terutama di sepertiga malam terakhir. Ada sesi curhat bagi jiwa-jiwa yang dilanda gelisah karena soal cinta. Rumor yang beredar agenda ini adalah program kerja UKH yang statusnya tidak pernah jelas. Kampus (mestinya) bukan hanya soal buku dan rapat organisasi.  Kampus berisi petualangan. Petualangan gagasan dan suka-duka kisah asmara. Yang terakhir lebih banyak saya ketahui dari teman-teman dan bukan pengalaman sendiri.

Himpunan lama selalu ramai, selain karena lebih luas dan halamannya sangat kondusif untuk berdiskusi sore-sore atau sekedar bercengkerama sambil ditemani gitar, suasananya juga dibikin lebih ramai oleh sekretariat-sekretariat lembaga mahasiswa di fakultas sastra yang jaraknya berdekatan. Beberapa anak sastra sering pergi ke sospol malam-malam untuk buang air kecil di wc sospol (yang legendaris itu), sebagaimana beberapa anak sospol juga sering pergi ke sastra untuk solat. Maklum, sospol tidak punya musholla.

Seperti jika anda pindah rumah, anda tidak hanya berurusan dengan perabot-perabot rumah tangga yang mesti dibawa. Anda juga harus berurusan dengan sekumpulan kebiasaan anda di rumah lama. Rumah baru anda mungkin lebih sejuk atau dindingnya lebih baru dan wangi, tapi anda akan kehilangan momen bercengkerama di depan pintu, bergosip di “bilik ratapan”, dibangunkan sinar matahari pagi, atau hal-hal kecil lainnya.

Tetapi, pindah rumah bukan tentang hal “remeh-temeh” di atas saja. Sebagaimana Henri Lefebvre menyebutkan, ruang selalu adalah arena kontestasi kepentingan. Maka, pemindahan, relokasi, penggusuran atau apapun namanya, selalu mengindikasikan adanya subordinasi satu pihak atas pihak lain.

Asal anda tahu, ketika pertama kali saya membuka pintu himpunan baru ketika itu, yang saya temui di ruangan yang tidak cukup tiga kali empat meter tersebut, adalah sepasang kursi dan meja yang membuatnya mirip ruangan kantor. Dengan meja dan kursi itu saja, hampir setengah ruang sudah terakuisisi. Syukur-syukur kalau ruangan itu muat enam orang.

Ruang fisik membentuk suatu pola mental. Birokrasi kampus ingin memberlakukan mindset kalau organisasi mahasiswa harus memirip-miripkan dirinya dengan kantor instansi pemerintahan. Buka jam tujuh pagi, tutup jam lima sore. Tidak ada kumpul-kumpul. Tidak bagus rapat-rapat. Tidak boleh tidur-tiduran. Tidak elok menginap. Dan “tidak-tidak” lainnya.

Tapi memang tidak ada waktu untuk meratap dan galau-galau berjamaah, penghuni rumah harus move on. Bukankah ruang harus terus diciptakan? Menciptakannya tidak bisa dengan menambah luas bidang bangunan, tapi dengan mempertahankan dan melestarikan interaksi-interaksi para penghuni rumah dengan berbagai metode. Yang kami lakukan pada saat itu, mencoba konsisten dengan sentrum-sentrum baru di luar kampus. Di rumah salah satu pengurus, misalnya. Atau di warung-warung kopi.

Benarlah Jokowi (saat itu), revolusi mental memang mendesak. Perubahan geografis turut mensyaratkan adanya interpretasi dan langkah taktis terhadap ruang tersebut, supaya (aktifitas-aktifitas) himpunan tidak mati mendadak kena serangan jantung. Orang-orang harus tetap berkumpul. Lantas, seperti apa rumah sekarang?

(Di rumah ini saya belajar dan mengerti banyak hal. Untuk himahi, selamat ulang tahun yang ke-33, panjang umur ide-ide baik)

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar