Dari HIMAHI Untuk Kita

Oleh: Mohammad Alief Anshary (HI 2017)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

HIMAHI yang dikatakan tidak hanya sebagai sebuah himpunan biasa yang mewadahi kita mahasiswa HI namun juga adalah rumah dan keluarga sekaligus dimana kita berdiri, duduk, berbaring, diam, dan bergerak didalamnya sebagai bagian yang terus menggerakkan roda rumah tangga kita. Pertama kali kuinjakkan kaki di Bumi Tamalanrea Universitas Hasanuddin dengan tanpa arah dan tidak tahu akan jadi apa nantinya. Yang terlintas dikepala yang terus membayang-bayangi adalah tentang kami sebagai Mahasiswa Baru atau akrab disapa Maba menjadi golongan tertindas oleh mereka pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab bahkan menjerumuskan kami menjadi korban-korban pembodohan sehingga kami diharuskan sercara tradisi untuk melontarkannya kembali kepada adik-adik kami, maba tahun berikutnya.

Namun itu semua tidak pernah terjadi dalam HIMAHI, dimana hari pertama diperkenalkan tentang HIMAHI yang menjanjikan kami untuk “terus dipukul, dihantam, ditendang, di dalam isi kepala” agar kami menjadi manusia yang kritis dan tidak buta akan realita hidup. Tidak dijanjikan keluar negeri namun kami dididik dan diuji hingga mengenai keilmuan kami. Bahkan kami diperkenalkan suatu nilai-nilai yang dianut oleh HIMAHI yang hingga saat ini telah membentuk kami. Sehingga terbentuklah jati diri untuk (semoga) menjadi insan intelektual yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan kepribadian mandiri, berwawasan global, memiliki idealisme, berjiwa patriotisme, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Di dalam nilai-nilai inilah dituangkan kedalam diri yang merupakan tujuan dari eksistensi HIMAHI itu sendiri karena adanya kesadaran untuk saling peduli akan semua makhluk.

Kepedulian diajarkan dengan dibiasakan untuk selalu berkumpul dan memelihara kebersamaan dengan seluruh warga, pengurus, dan bahkan alumni. Dimana kita dianjurkan untuk saling peduli, mem-backup, dan meng­-cover satu sama lain agar no one get left behind or get lost. Peduli dengan teman-teman yang dianggap sebagai saudara seperjuangan dalam dunia perkuliahan yang berbeda dari dunia sebelumnya dimana kami telah dewasa. Kepeduliaan dimana setiap manusia adalah sama di mata Tuhan dan di mata hukum. Kami yang berjalan bergandengan tangan bersama di tempat lain dalam universitas ini, masih ada dari mereka yang diajarkan untuk peduli dengan cara merangkak bersama seakan-akan berada di garis depan zona perang. Kami diingatkan agar terus merenungkan betapa ketika makan malam, orang-orang diluar sana tengah kelaparan karena belum juga makan malam atau bahkan belum makan pagi sekalipun. Ketika saya berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara di rumah, teman-teman saya tengah menangis mengingat yang terkasih di kampunnya namun tidak dapat melampiaskan walau hanya menggunakan media gawai (pun kalau gawai ada). Hal-hal seperti ini kami diajarkan untuk tetap peduli satu sama lain walaupun dengan memperhatikan menanyakan keadaaannya. Bahkan hal sekecil seperti senyum dan bertegur sapa terhadap sesama yang bisa saja dari mereka yang sementara memikirkan hutang atau cara agar masih bisa makan untuk esok harinya dapat berbahagia walaupun sejenak. Idealisme inilah yang kemudian membentuk kami untuk terus saling peduli yang merupakan turunan dari nilai-nilai kemanusiaan sejati yang telah diperkenalkan kepada kami.

Pribadi kami sebagai orang dewasa sudah sepatutnyalah untuk dibiasakan untuk hidup mandiri yang tidak lagi harus bergantung kepada keluarga di rumah. Dengan mandiri bisa menjadikan diri kita untuk tetap kuat dalam melanjutkan hidup dengan memperhatikan pula hidup orang lain yang bisa saja belum mencukupi dan tidak bahagia karenanya. Tidak melakukan apa-apa membuat kita merugi, tapi dengan hanya melangkah sekali saja untuk melangkah berjuta-juta kali untuk mencapai satu tujuan akan menjadi terjangkau selama ada niat untuk membantu sesama dan memperhatikan mereka walau sekecil apapun dan bahkan dipandang sebelah mata oleh orang lain, bahkan dengan begitu orang lain pun secara visual akan tergerak hatinya setelah memperhatikan kebiasaan kita untuk juga saling membantu dengan sesama.

Darah, keringat, dan tangis dari saudara-saudara diluar sana, kepekaan kita diuji untuk memahami keadaan saudara-saudara kita yang sebetulnya butuh perhatian seperti uluran sesuap nasi agar mereka bertahan hidup entah dimulai dengan kawan seangkatan, lingkungan rumah, bahkan hingga orang-orang disekitar kita. “Family before myself”adalah sepatah kata yang pernah saya dengar dengan maksud keluarga disekitar kita entah dirumah, teman seangkatan, sejurusan, sekampus, atau yang pernah satu sekolah dulu yang butuh untuk diperhatikan, diangkat derajatnya ketika mereka jatuh, entah itu hanya karena putus asmara dengan pasangan namun setidaknya diberikan motivasi moral walaupun diri sendiri belum pernah atau bahkan jarang disambangi panah asmara sejati yang betul-betul mengikat.

Setelah melihat lingkungan kita yang sudah ‘beres’ akan uluran kasih sayang kita, tibalah saatnya kita membawanya ke jenjang yang lebih tinggi hingga ke tingkat dunia. Untuk memperhatikan apa yang dibawakan ke level selanjutnya dengan mendukung saudara-saudara kita berprestasi di tingkat dunia atau mengkaji kembali kulturasi sosial budaya kita yang kaya akan nilai-nilai sakral dan menjunjung tinggi untuk terus dilestarikan. Dengan memperkenalkannya kepada orang luar budaya luhur dengan keunikan tersendiri sehingga tergerak hati untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan dalam sisi manusiawi dengan mecerminkan moral-moral yang harus dibagi kepada sesama. Inilah turunan-turunan yang dibawakan dari berjiwa patriotisme dan berkepribadian yang mandiri.

Sebagai mahasiswa yang bersatus sebagai pihak yang mendapatkan akses pendidikan membuat kita untuk diharuskan berfikir secara kritis dimulai dengan melihat sejarah-sejarah dengan melakukan kajian keilmuan dan menguji dengan mengidentifikasi setiap contoh kasus dan menemukan masalahnya melalui deskripsi analisis. Dengan memperluasnya wawasan melaui berbagi pendapat, opini, pengetahuan, dari warga HIMAHI, dan kawan-kawan seperjuangan, serta saudara dari luar sana entah secara visual, lisan, maupun melaui tulisan-tulisan yang menjadi bahan bakar bara api semangat untuk terus menuntut ilmu. Tidak pernah puas dalam pencapaian ilmu merupakan salah satu semangat untuk mencapai tingkat nirwanaan agar dapat memahami semuanya entah berdiri di salah satu sudut pandang bahwa dunia adalah tempat indah penuh estetika unik dengan hasil karya karunia Tuhan yang alami dan damai atau dunia sedang tidak baik-baik saja yang penuh huru-hara atau hingar bingar keborosan dan korupsi. Disnilah pemahaman-pemahaman kita tidak boleh disia-siakan dibentuk menuju basis keilmuan Hubungan Internasional dengan tanpa batas mengenai wawasan global sebagai insan intelektual

Setiap diri manusia memiliki tempat di hatinya yaitu cinta. Cinta yang sulit untuk didefinisikan karena bekerja secara misterius yang terkadang datang dan pergi secara tiba-tiba atau lama, namun saat pergi tidak juga meninggalkan kita yakni dengan terus memantau kita setiap detiknya yang terkadang menjaga kita tidak sakit karena dikhianati atau menunggu untuk dijemput, begitu pula dengan Tuhan yang bekerja dengan cara misterius namun letak perbedaannya adalah kitalah yang seringkali menjauhi atau mendekatiNya. Tuhan melalui ayat-ayat yang diberikan kepada kita sebagai pedoman dan petunjuk akan segalanya terus menunggu kita untuk dibaca dan sejatinya untuk dipahami apa makna disetiap hurufnya. Larangan yang harus dijauhi dan perintah apa yang harus dilaksanakan segera, dengan hal seperti beribadah rutin sesuai waktunya. Namun seringkali ketika telah tiba waktu untuk mendekatkan diri kepadaNya, banyak orang yang malah menganggap sebagai hal sepela yang bisa dilakukan nanti atau lain kali saja. Atau ketika tibalah urusan yang kritis disaat tidak ada lagi pertolongan sampai maka kita akan berserah diri padaNya. Disinilah letak kesalahan banyak orang mereka berserah diri kepadaNya ketika sedang membutuhkan tapi tidak pernah berserah diri saat berkecukupan yang bahkan mengucapkan syukurpun luput. Ketika ayat-ayat berkumandang yang memanggil kita untuk menghadap padaNya maka disitulah kita harus segera melaksanakan karena kita mengimani dan memahami apa ayat yang diberikan kepada kita dan karena kita pahami maka dilaksanakan entah walaupun diharuskan berjalan dari timur ke barat pun dengan mengarungi samudera berombak ganas bermodalkan gayung tangan hingga mendaki terjalnya bukit-bukit yang menjadi tanda kuasaNya untuk menghadapNya. Hanya dengan mengimani ke-esa-an-Nya entah dengan harus memikul setiap penderitaan dengan ikhlas maka sama saja setelah memahami inti dari setiap ayat yang menjadi pesanNya untuk melakukan kebajikan-kebajikan seperti berkepribadian mandiri, berwawasan global, memiliki idealism, berjiwa patriotism, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, maka disnilah kita mencapai ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk intelektual yang memahami setiap pesanNya.

Dari sinilah saya belajar bahwa HIMAHI memperbaiki saya dengan nilai-nilai yang dibawakan sesuai dengan arah tujuannya. Mungkin mesti sekali ataupun berkali-kali mengorbanan waktu  demi menimba tambahan ilmu yang tidak didapatkan dalam ruang kuliah dimana pengetahuan-pengetahuan tersebut haruslah dibagi kepada kita semua yang risau akan ketidakpahaman. Hingga dari kita yang membangun dan mengembangkan HIMAHI untuk kita semua …

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar