La Lutte Continue

La Lutte Continue

(ameliyaharief@gmail.com)

Di masa kuliah semester tujuh ini, di usiaku yang beranjak 21 tahun sebulan yang lalu telah banyak lika-liku kehidupan yang menerpa. Terpaan itu layaknya sebuah ombak yang menerjang sebuah perahu yang sedang berlayar mencapai tujuan, yah kalau tidak bisa dikalahkan kita akan hanyut dan tenggelam ke dasar laut kekalahan. Di fase ini, saya sebagai mahasiswa telah belajar bagaimana ilmu yang dituntut haruslah berguna bagi orang lain, setidak-tidaknya bagi mereka yang sekawan. Juga di fase ini skeptisisme dalam diri juga semakin menjadi-jadi. Sebagaimana sebuah perilaku diciptakan salah satunya dari lingkungan sosial dimana ia hidup, maka sebagaimana pula itu saya. Hal ini tidak terlepas dari organisasi yang saat ini masih saya geluti dan mungkin akan menjadi sebuah pemberi pengalaman terbesar.

Benda itu bernama HIMAHI. Sebuah kotak sempit berukuran 4×3 meter namun begitu lapang dalam benak tiap anggota yang benar-benar mengenalnya. Memperkenalkan diri sebagai sebuah keluarga serta menjadi wadah kaderisasi yang menuntut tiap anggotanya berusaha agar semua orang dapat menjadi berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Layaknya sebuah organisasi kemahasiswaan maka HIMAHI tentulah menjadi sebuah wadah pemersatu mahasiswa ilmu hubungan internasinal. Tanpa pamrih memberikan transformasi pemahaman mengenai keilmuan HI sebagai bekal menolak kedunguan, tak lupa pula bumbu pergerakan dimasukkan ke dalamnya agar kadernya tidak terjebak di menara gading ilmu mereka yang semestinya harus berpihak. Sekarang ia sudah menginjak usianya yang ke 33 tahun. Jika diibaratkan sebuah usia, ia sedang matang-matangnya dalam melakukan segala sesuatu. Walaupun sudah 33 tahun, saya baru saja mengenalnya di usia 30 tahun, persis ketika menjadi mahasiswa baru. Berbicara pengalaman berorganisasi di HIMAHI mungkin akan dianggap oleh sebahagian orang sebagai sebuah romantisme, namun tulisan ini menjadi sebuah refleksi bagi saya yang dapat dikatakan menjadi bagian di dalamnya.

Sebagaimana konsep mencintai oleh Erich Fromm maka kita dapat melihat diri atau posisi di mana kita berada sebenarnya. Dalam konsep ini, Fromm membagi cinta menjadi dua. Pertama adalah cinta yang tidak menjadi. Artinya bahwa dalam mencinta ia tidak di dasari oleh kedekatan ideasional, dan hanya mementingkan emosional atau dengan kata lain cinta dengan hasrat ingin memiliki. Ia merupakan sebuah ungkapan nafsu belaka akan kepemlilikan atas kebendaan. Oleh karenanya cinta jenis ini sangat rawan akan ke-baper-an. Ini terjadi di beberapa kasus dalam organisasi kita, misalnya mereka yang hanya bergabung atas dasar kedekatan angkatan akan menjadikan mereka ketika bekerja bukan bersama angkatan akan mudah jenuh. Akhirnya mereka menganggap diri mereka teralienasi karena dipisahkan dari kesenangan mereka secara emosional. Menelan mentah-mentah agar terselesaikannya kegiatan tidak pada bagaimana ia berproses dan belajar me-menejemen waktu yang sangat berguna dalam hidupnya serta berbagai macam manfaat lainnya. Dalam organisasi untuk pemula ini tidak menjadi riskan, namun apabila ini berlarut, maka gagasan anti-globalisasi ataupun berpikir global, bertindak lokal hanya menjadi sebuah jargon belaka. Kedua, menurut Fromm cinta sejati adalah cinta yang menjadi. Cinta yang menjadi merupakan sebuah konsep mencintai yang selain membutuhkan kedekatan emosional ia juga menekankan pada kedekatan ideasional. Maksud kedekatan ideasional adalah bahwa gagasan yang diusung dipahami oleh orang-orang yang ada di dalamnya. Kedekatan emosional dapat berupa sifat kekeluargaan dalam sebuah organisasi. Layaknya sebuah keluarga, sifat ini mencirikan fungsi pendidikan, moral, dan lain-lain ia merupakan sebuah kesatuan yang paling erat dalam masyarakat. Dalam keluarga terdapat rasa saling menjaga satu sama lain dan membimbing menuju kebaikan, kita pasti tidak ingin keluarga kita tersesat apa lagi harus mengalami kemunduran. Olehnya emosi muncul sebagai bentuk saling menjaga satu sama lain. Sedangkan kedekatan ideasional, dijalankan melalui kesamaan melihat visi ke depan. Walaupun cara yang digunakan berbeda-beda tiap individunya namun koridor tetap ada sebagai penjaga kultus ataupun nilai yang diakui bersama. Akhirnya kedekatan ini menjadi puncak kemenjadian cinta. Kita bersepakat untuk saling berjuang mencapai tujuan bersama sebagaimana kita pahami. Inilah cinta yang sesungguhnya, selain emosional jalan, maka terlebih dahulu ideasional harus dijalankan demi mencapai kemenjadian. Menurut saya inilah yang sekarang berusaha dibangun oleh orang-orang dalam HIMAHI. Penanaman nilai dan penyamaan paradigma ataupun pembentukan cara pandang dalam melihat realitas sosial merupakan sebuah metode dalam mencapai kemenjadian tersebut. Jika ini betul-betul dipahami dan dijalankan sebagaimana koridornya maka gagasan bersama kita akan tetap tumbuh dan berlipat ganda.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa perjuangan mencapai kemenjadian cinta bagi lembaga kita ini harus tetap dilaksanakan dan diteruskan. Sebagaimana kita harus meneruskan perjuangan melawan globalisasi, kapitalisme, dan segala bentuk dosa-dosa struktural lainnya. Ingatlah bahwa gagasan hidup bersama yang menjadi semboyan kita kini, akan tetap ada jika orang-orang di dalamnya berupaya mempertahankannya. Tidak harus dengan cara yang sama setiap tahunnya, saya rasa metode juga harus kontekstual. Terima kasih bagi HIMAHI FISIP UNHAS dan orang-orang di dalamnya yang telah membentuk sebuah keluarga yang ramah hingga sekarang. Semoga perjuangan mencapai tujuan tidak sampai di sini, semoga pemaknaan kemenjadian cinta tadi bisa menjadi sebuah refleksi bagi saya ataupun pembacanya. La Lutte Continue~

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar