Wajah Anak: Wajah Kota Masa Depan

Oleh : Titania Ramadhanti (Ilmu Ekonomi 2016)

E-mail : nyanya.swan@gmail.com

Anak. Apa yang kalian pikirkan tentang entitas yang satu ini? Polos? Lucu? Periang? Sebagian orang mungkin akan melekatkan beberapa kata yang menggambarkan karakter anak. Beberapa orang mungkin juga akan teringat dengan masa kecilnya saat kata “Anak” menyelinap masuk di telinga menuju saraf otaknya. Ya, berbicara masa kecil, khayalanmu tentunya sedang menggali peristiwa masa lalu. Sedih, senang, tangis, tawa, senyuman manis, ah, apapun suasananya, masa kanak-kanak adalah satu fase yang spesial dalam hidupmu, bukan? Bahkan seringkali ada yang bilang, “andai bisa kembali menjadi anak-anak”. Meski saya khawatir, kalimat ini justru keluar dari ucapan orang ‘dewasa’ yang sedang berputus asa dengan problema hidupnya.

Anak dalam kacamata konstitusi kita adalah seorang (perempuan atau laki-laki) yang berusia di bawah 18 tahun, termasuk yang masih di dalam kandungan. Meski begitu, istilah anak juga merujuk pada kondisi mental seseorang yang dianggap belum dewasa secara psikologis, sekalipun secara fisik sebaliknya. Namun, pada ‘pertemuan’ kali ini, kita akan bersepakat untuk menggunakan definisi yang pertama.

Kita memahami bahwa anak merupakan elemen penting dari suatu masyarakat. Masa depan suatu bangsa sangatlah bergantung pada kualitas generasi muda yang akan menjadi penerus di masa depan, di sinilah posisi anak. Jangankan untuk skala bangsa, di dalam perkumpulan yang lebih kecil seperti lembaga mahasiswa pun, perihal regenerasi merupakan agenda prioritas yang mesti dipikirkan bersama-sama.

KOTA RAMAH ANAK

Sebagai salah satu dari 193 negara yang turut meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA), Indonesia telah menerima kewajibannya untuk mengambil semua langkah legislatif, administratif, sosial, dan pendidikan secara layak untuk melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan. Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencanangkan program Kota Layak Anak (KLA) sebagai upaya menciptakan kota yang ramah anak.

Gagasan Kota Ramah Anak ini berangkat dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kevin Lynch, seorang Arsitek dari Massachusetts Institute of Technology. Penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kota yang ideal untuk anak adalah yang mempunyai komuniti yang kuat secara fisik dan sosial; komuniti yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas; yang memberi kesempatan pada anak; dan fasilitas pendidikan untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia mereka.

Di Istanbul, Turki tahun 1996, perwakilan pemerintah di seluruh dunia bertemu dalam sebuah konferensi (City Summit) dan menandatangani sebuah Program Aksi dalam rangka menciptakan pemukiman yang lebih nyaman untuk ditempati. Program yang bernama ‘Agenda Habitat’ ini menegaskan bahwa anak dan remaja mesti memiliki tempat tinggal yang layak; terlibat dalam proses pengambilan keputusan, baik di kota maupun di komunitinya. Melalui City Summit itu, UNICEF dan UNHABITAT memperkenalkan Child Friendly City Initiative, terutama menyentuh anak kota, khususnya yang miskin dan yang terpinggirkan dari pelayanan dasar dan perlindungan untuk menjamin hak dasar mereka.

Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang No 23 tahun 2002 menegaskan bahwa anak memiliki 31 hak. Jika disarikan, terdapat 4 hak dasar. Yaitu Hak Hidup, Tumbuh Kembang, Perlindungan dan Hak Partisipasi. Demi mendorong pemenuhan hak anak tersebut, pemerintah bahkan membentuk Forum Anak sebagai wadah partisipasi dan pengembangan potensi anak.

ANAK INDONESIA, APA KABAR?

Di setiap tahunnya, begitu banyak agenda yang diperuntukkan bagi anak diselenggarakan oleh pemerintah, komisi perlindungan anak hingga organisasi-organisasi yang concern terhadap isu anak. Pertemuan Forum Anak Nasional yang dihadiri oleh perwakilan anak dari sabang sampai merauke, setiap tahunnya menghasilkan sebuah surat suara hasil musyawarah anak-anak Indonesia. Surat suara tersebut bahkan sempatdibacakan di hadapan Presiden pada Acara Hari Anak Nasional. Meski begitu, apakah pemenuhan hak anak di Indonesia telah menunjukkan titik terang?

Sidang pembaca yang semoga saja masih setia menyimak..

Kita tidak dapat menutup mata dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Ketika berkunjung ke pantai losari, mata kita disuguhkan dengan fenomena yang meresahkan kita, yang semoga saja benar membuat kita resah. Anak-anak kecil dengan pakaian lusuhnya mendatangi meja pengunjung, menjajakkan dagangan, mengamen, atau lebih mirisnya lagi; mengemis. Inilah wajah kota kita. Ya, Kota yang dipaksa berlari menuju ‘Kota Dunia’. Di pemberhentian lampu merah, tak luput pula pemandangan yang sama. Semuanya seolah menjadi hal yang biasa dan wajar. Kita bahkan mungkin merasa heran jika tak melihat hal yang serupa ketika berjalan-jalan mengitari kota. Tak pelak lagi, begitu banyak anak-anak yang mesti bekerja dengan berbagai alasan.

Bagi penulis yang sejak setahun lalu telah melepas ‘predikat’ anak, menjalin komunikasi dengan anak-anak adalah pengalaman yang penting untuk diulang bahkan dijaga sampai tua. Kita bisa banyak belajar dari anak-anak. Saat duduk di bangku kelas 3 SMP, saya bergabung di Forum Anak di daerah saya. Sejak saat itu, saya mulai berinteraksi dengan anak-anak dari berbagai kecamatan maupun kota. Sesekali kami meluangkan waktu untuk bermain dan belajar bersama anak-anak jalanan. Menikmati waktu dengan mereka membuat kami membuka mata bahwa tidak semua anak telah mendapatkan hak-hak dasarnya.

Setelah masuk ke perguruan tinggi, saya kembali mendapati fenomena serupa di Kampus Merah – UNHAS. Sejakmaba, saya sering mengamati anak-anak yang berjualan di dalam kampus. Ada yang berjualan stiker, buku-buku keagamaan, camilan, dan lain lain. Mereka sering terlihat di kantin, di taman, ataupun di koridor. Awalnya, ini tidak begitu menggangguku. Setiap kali dihampiri seorang anak yang membawa serta dagangannya, seperti biasa, saya selalu mengajak mereka mengobrol sebelum memperlihatkan sikap ingin membeli. Membuka percakapan kecil dengan anak-anak selalu terasa menarik. Pertanyaan sederhana perihal nama, alamat hingga pertanyaan mengapa ia mau berjualan. Oh iya, pertanyaan yang tidak terlupakan seperti “sekolah dimana?”, “kelas berapa?” menjadi pertanyaan yang penting, tentu saja.

Sayangnya, tidak semua anak memberi jawaban yang kita harapkan. Sebagian mengungkapkan dengan nada rendah bahwa ia tidak bersekolah. Yang paling mengganggu pikiran adalah disaat si anak menampakkan ekspresi yang berbeda. Ekspresi yang tidak asing. Lirikan mata mereka, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Saat beberapa anak menjawab bahwa mereka bersekolah, mereka terlihat ragu. Saya khawatir, mereka telah diajari oleh orang-orang dewasa untuk menyembunyikan bahwa mereka tidak bersekolah. Saya tidak tau mengapa. Pernah, dengan pola jawaban yang sama, tidak jauh dari si anak, saya melihat seorang perempuan yang juga berjualan, yang ternyata datang ke kampus bersama dengan si anak yang sedang saya ajak berbicara. Mungkin saja itu ibunya, atau keluarganya. Entahlah.. semoga saja anak-anak itu tidak sedang dipaksa untuk berjualan. Ah, tentu saja ini bukan dunia sinetron seperti yang sedang saya bayangkan!

Di sektor FIS, lebih khususnya di sekitar Fakultas Ekonomi dan FISIP, ada beberapa anak yang sering terlihat menjajakkan dagangannya. Impian ingin memiliki barang-barang yang diinginkan, seperti sepeda, sepatu baru, atau membeli kado ulangtahun sang ibu, ialah beberapa motif mereka  berjualan. Umumnya, beberapa anak berjualan karena ikut-ikutan dengan kawannya, hingga kemudian merasa nyaman karena punya penghasilan sendiri.

Tiara, Ika, Ipul, Wulan, adalah yang paling sering terlihat. Selain Ipul, tiga orang lainnya sedang duduk di bangku sekolah dasar, kelas VI. Hampir setiap harinya, penulis bertemu dengan mereka, entah sekedar bersenyum sapa, atau bersepakat untuk menikmati sore bersama. Di antara mereka, saya paling sering bertemu dengan Tiara dan Ika. Keduanya memang merupakan anak dari seorang petugas kebersihan di Fakultas Ekonomi. Beruntung, mereka semua masih punya semangat bersekolah. Meski terkadang juga saya mesti ‘menginterogasi’ salah satu diantaranya yang membandel dan bolos pada jam sekolah. Semoga ini bukan pertanda mereka mulai malas bersekolah. Tidak jarang, saya melihat ketiga anak perempuan ituberjualan dikampus sambil memakai rok sekolah. Sedangkan Ipul, ia sering membuat cemas. Beberapa kali mendapatinya berjualan di pagi hari, Ipul memang tidak serajin yang lain, dia masih kelas III. Alih-alih merasa harus belajar giat menyambut Ujian Nasional, Ipul terkadang justru meninggalkan jam pelajaran demi menjual. Meski begitu, setidaknya Ipul masih berkeinginan untuk sekolah.

Empat orang anak ini bekerja atas keinginan mereka sendiri. Terutama mereka yang sebentar lagi akan mendaftar masuk Sekolah Menengah Pertama. Sedikitnya mereka perlu membayar biaya administratif danmembeli atribut pokok sebagai siswa baru. Mereka tidak ingin merepotkan orang tua mereka, dan berinisiatif untuk mencari sumber penghasilan sendiri, yakni berjualan camilan.Tela-tela,Camilan Ubi rasa balado yang mereka jajakkan menjadi kesukaan para mahasiswa di Fakultas Ekonomi. Supplier jualan mereka adalah Ibu Kantin di sekolahnya. Ibu dari Mey-Mey, seorang anak kecil yang juga sering ikut ke kampus menemani Tiara berjualan.

Tiara; usianya 14 tahun. Ia pernah menganggur bersekolah, karena sempat berpisah dari orang tuanya. Di antara yang lain, tiara cukup komunikatif untuk diajak bercerita tentang banyak hal. Ia anak yang cerdas dan berpikiran dewasa. Sesekali ia datang untuk membawakan tugas sekolah alias PR-nya atau meminta bantuan untuk menyukseskan surprise ulang tahun Ibu gurunya. Ia sering bercerita tentang kondisi keluarganya yang tidak begitu harmoni. Tak jarang ia mengeluarkan pendapat yang membuat saya kagum dengan karakter anak ini. Ia sabar, pekerja keras dan bersikap sopan pada orang-orang yang ia temui. Saya belajar banyak dari sosok Tiara dan teman-temannya.

Awalnya, saya merasa tidak yakin dengan alasan anak-anak ini berjualan. Saya sempat curiga ia bekerja karena dipaksa oleh pihak tertentu. Mungkin karena saya menjadikan diri saya sebagai acuan. Diri yang sulit berdamai dengan keadaan. Sedangkan anak-anak ini, di usianya yang masih dini, sudah berani mengambil langkah untuk membantu meringankan beban keluarga, tanpa melepaskan hak dan kewajibannya untuk menempuh pendidikan. Sekalipun berpotensi mengganggu proses tumbuh kembangnya, beberapa anak ini tampak menikmati apa yang mereka kerjakan. Di sela-sela waktu berjualan, mereka menghabiskan waktu untuk bermain dan mengobrol dengan sesama mereka, atau dengan para mahasiswa.

Namun, mari menelisik kembali..

Apakah jumlah anak yang bekerja adalah pertanda baik bagi kota yang ideal?

WAJAH ANAK DAN WAJAH KOTA

Belakangan ini, kita berduka atas fenomena terorisme yang merenggut korban jiwa dan mengusik kemanusiaan. Ironinya, kejadian ini ternyata melibatkan anak-anak untuk melancarkan aksipengeboman. Fase anak memang adalah fase yang sangat rentan. Data KPAI menyebutkan ada 26.954 kasus kekerasan anak dalam 7 tahun terakhir. Sehubungan dengan penelitian sederhana yang dilakukan penulis, Badan Pusat Statistik (BPS) 2009 mengungkapkan bahwa jumlah anak Indonesia dengan kelompok umur 5-17 tahun sebesar 58,8 juta anak. Sebanyak 4,05 juta tergolong sebagai anak-anak yang bekerja, dimana 1,76 juta di antaranya merupakan pekerja anak.

Yang dimaksud dengan ‘anak yang bekerja’ adalah anak yang melakukan pekerjaan untuk membantu orang tua, dimana di dalam pekerjaan tersebut terdapat unsur pelatihan keterampilan dan tanggung jawab, serta dilakukan pada waktu senggang yang relatif singkat di luar jam sekolah. Sedangkan yang dikategorikan sebagai ‘pekerja anak’ ialah mereka yang melakukan segala jenis pekerjaan yang intensitasnya dapat mengganggu pendidikan, keselamatan, kesehatan, dan tumbuh kembang anak.

Sebuah kabar baik bahwaKota Makassar di tahun 2017 meraih penghargaan sebagai Kota Layak Anak oleh Kementerian PPPA RI. Benar, ada beberapa syarat formil yang telah berhasil diwujudkan sehingga predikat ini dapat diraih. Namun, jika kita merujuk pada indikator yang ada (pembaca disilahkan mengakses informasi ini), kita dapat menyaksikan realita bahwa Kota ini masih jauh dari esensi Kota Layak Anak itu sendiri.

Menurut data yang dilansir oleh BP3A Kota Makassar, angka kekerasan anak di kota Makassar terus meningkat sejak 2015 hingga 2018, dimana tercatat 1.046 kasus di tahun 2017.Keterlibatan anak-anak dalam dunia pekerjaan bisa menjadi salah satu peluang bagi kekerasan anak, baik secara fisik maupun psikis. Dengan bekerja, proses pendidikan dan tumbuh kembang anak juga dapat terganggu. Meskipun sebagian anak yang bekerja masih tetap bersekolah, tetapi definisi pendidikan tidak sesempit menghadiri mata pelajaran yang disuguhkan di ruang kelas. Dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal dan berkualitas, hak-hak anak mestilah dipenuhi. Anak butuh bermain, berkreasi, berkumpul dan berserikat, serta pemanfaatan waktu luang untuk kegiatan seni budaya.

Wajah anak adalah wajah kota di masa depan. Kualitas anak turut menentukan bagaimana masa depan kehidupan masyarakat kota. Arus modernisasi yang menyerbu kota turut membawa peluang sekaligus tantangan bagi proses aktualisasi diri anak. Banyak hal kecil yang dapat kita lakukan sebagai seorang pembelajar di kampus. Mengobrol akrab dan saling berbagi dengan anak-anak yang berjualan, anak dari Mace-mace di kantin, atau anak dari petugas cleaning service. Di lembaga mahasiswa, kita juga dapat mengadakan program kerja yang bisa menjadi media belajar dan partisipasi bagi anak, apalagi mereka yang putus sekolah, anak jalanan, maupun penyandang disabilitas. Setiap kita tentu memiliki keluarga, dimana di dalamnya ada anak-anak. Mulailah dari hal kecil, berbagi kebahagiaan dengan mereka.

MENANAM HARAPAN

Jika anak adalah harapan bagi kehidupan yang lebih baik, sudah semestinya kita sadar dan peka terhadap tumbuh kembang anak sebagai generasi yang akan meneruskan cita-cita peradaban. Semangat pembaharuan dan nilai-nilai kebaikan mesti ditanamkan sejak dini pada jiwa anak. Orang dewasa tidak berhak memahat jiwa anak persis seperti yang mereka ingini, sebab setiap individu adalah unik. Namun, saya percaya bahwa jiwa anak layaknya tanah lapang yang subur. Jika kita menanam benih kebaikan padanya, tentu saja ia akan tumbuh seperti pohon yang kelak menghasilkan buah kebahagiaan bagikeluarga, bangsa, dan semesta alam. Bertutur kata yang lembut, bersikap hangat dan menghargai pendapat mereka adalah tindakan kecil yang berarti. Anak adalah manusia. Sesederhana itu alasan mengapa kita mesti berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka.

1 comment on “Wajah Anak: Wajah Kota Masa Depan”

  1. AKBAR WIGUNA Reply

    Subhanallah saya setuju sekali bahwa generasi muda adalah penerus bangsa, oleh karenanya mari kita kualitaskan anak bangsa 🙂 1000 orang tua hanya bisa bermimpi 1 anak muda bisa merubah dunia

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar