Review Diskusi Ruang Hijau VS Kapitalisasi Ruang – HIFEST 2018

Oleh: Cici Rindiani (HI 2017)

Pada Hakikatnya, kota adalah tempat yang layak untuk menetap, bernaung dan berteduh dimana seluruh komponen yang hidup di dalamnya dapat merasakan kenyamanan untuk menetap disana. Bukan saja manusia, akan tetapi seluruh makhluk hidup yang tinggal didalamnya pun perlu diberikan ruang hidup agar keseimbangan dapat terjadi, yaitu antara alam dengan manusia. Adanya ruang perkotaan yang kondusif yang diberikan pemerintah diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara alam dan manusia tersebut sehingga cita-cita kota menjadi sesuatu yang ideal dapat terealisasikan. Salah satunya adalah dengan adanya pembukaan ruang terbuka hijau dalam perkotaan yang bersifat publik dan bebas akses.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area yang memanjang berbentuk jalur dan atau area mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja di tanam. Dalam Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang menyebutkan bahwa 30% wilayah kota harus berupa RTH yang terdiri dari 20% publik dan 10% privat. RTH publik adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Contoh RTH Publik adalah taman kota, hutan kota, sabuk hijau (green belt), RTH di sekitar sungai, pemakaman, dan rel kereta api. Sedangkan RTH Privat adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan.

Selain itu, RTH sangat berperan penting dalam berbagai aspek, diantaranya aspek ekologis seperti paru-paru kota, menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air dan penyerap polutan udara. Dalam aspek planologis perkotaan yaitu menciptakan keseimbangan antara lingkungan binaan dan lingkungan alam untuk keberlangsungan makhluk hidup.Dari aspek sosial budaya berupa ruang publik dimana didalamnya terdapat komunikasi ataupun interaksi bahkan sebagai objek pendidikan ataupun pelatihan. Bahkan aspek estetika antara lain meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota baik skala mikro (halaman rumah/lingkungan pemukiman), maupun makro.

Kota Makassar yang merupakan sebuah kota di Sulawesi Selatan, dimana letaknya yang cukup strategis dalam teritori Indonesia, membuat Makassar menjadi tempat yang menjanjikan untuk kemajuan ekonomi dalam skala yang besar. Tetapi realitanya, Makassar sebagai kota besar hanya menjadi tempat lokus produksi yang membuat para pelaku ekonomi bercocok tanam tanpa melihat dampak yang terjadi untuk lingkungan sekitarnya. Permasalahan ekologis mengenai isu Makassar pun terjadi dimana musim panas terasa sangat panas dan sangat mudah banjir saat musim hujan tiba disebabkan oleh kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) dalam wilayah kota Makassar.Namun kenyataannya Makassar hanya memiliki 10% RTH dari total luas wilayahnya. Hal ini disebabkan oleh maraknya pembangunan yang tidak berorientasi ekologis seperti yang telah disebutkan diatas. Selain itu, pemahaman masyarakat akan pentingnya RTH masih sangat rendah. Bahkan sudah beredar paradigma kalau nilai manfaat yang diperoleh dari bangunan jauh lebih besar dibanding nilai manfaat yang diperoleh dari RTH. Salah satu faktor yang sangat besar yakni tidak efektifnya pengendalian pembanguan yang pro RTH.

Pemandangan yang ‘wajar’ apabila melihat ketimpangan yang terjadi dalam pembangunan di Kota Makassar dimana banjir dimana-mana karena resapan air yang berkurang, buruknya oksigen di udara, sampai panasnya matahari menyengat karena kurangnya tempat untuk berteduh. Pembangunan di Kota Makassar yang tidak memperhatikan amdal, membuat area disekitarnya menjadi rawan banjir tiap musim hujan datang karena sudah berubahnya daerah resapan air berupa soft ground menjadi hard ground. Plus membuat jalan daerah ruko tersebut menjadi macet, dikarenakan ruko ataupun bangunan lain  tidak menyediakan lahan parkir bagi pengunjung sehingga “menyerobot” jalan yang basic nya merupakan ruang dan hak publik. Pada akhirnya, keinginan untuk meraup untung terkesan serakah, karena lebih banyak menimbulkan kerugian bagi banyak orang. Kondisi “rumah yang mulai tidak nyaman” inilah yang akhirnya membuat beberapa “penghuni rumah” untuk mulai angkat bicara sebab kota seharusnya menjadi tempat yang layak huni bagi setiap komponen yang hidup didalamnya seharusnya tidak dijadikan komoditas pasar bagi kepentingan orang-orang tertentu yang acuh terhadap keberlangsungan jangka panjang di Kota. Maka sudah saatnya, masyarakat untuk peka dan menggunakan mata dan hati mereka untuk melihat realita yang ada. Hak atas Kota menjadi sebuah acuan untuk terus menyuarakan suara rintihan yang tertindas didalamnya. Diam bukan menjadi tameng yang kokoh lagi untuk tetap mempertahankan benteng yang akan menemui kehancuran jika didiamkan terus menerus. Sudah saatnya bergerak, dan menyuarakan kebenaran. Waktu ini, kota adalah tanggungjawab bersama.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar