Review diskusi konsumerisme dan pembangunan – HIFEST 2018

Oleh: Andi Axl Azslam (HI 2016)

Asal mula konsumerisme dapat dilihat dengan proses industrialisasi pada awal abad ke-19. Menurut Karl Marx setelah melihat dan menganalisa buruh-buruh dan kondisi material dari proses produksi, kesadaran manusia ternyata ditentukan oleh kepemilikan alat-alat produksi. Prioritas ditentukan oleh suatu produksi sehingga aspek lain dalam hubungan antar manusia dengan kesadaran, kebudayaan, dan politik dikatakan dikonstruksikan oleh relasi ekonomi. Budaya konsumen yang merupakan jantung dari kapitalisme adalah sebuah budaya yang di dalamnya terdapat bentuk halusinasi, mimpi, artifilsialitas, kemasan wujud komoditi, yang kemudian dikonstruksi social melalui komunikasi ekonomi (iklan, show, media) sebagai kekuatan tanda (semiotic power) kapitalisme.

Kapitalisme yang dikemukakan oleh Marx adalah suatu cara produksi yang dipremiskan oleh kepemilikan pribadi sarana produksi. Kapitalisme bertujuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya, terutama dengan mengeksploitasi pekerja. Realisasi nilai surplus dalam bentuk uang diperoleh dengan menjual produk sebagai komoditas. Komoditas adalah sesuatu yang tersedia untuk dijual di pasar. Sedangkan komodifikasi adalah proses yang diasosiasikan dengan kapitalisme di mana objek, kualitas, dan tanda berubah menjadi komoditas.

Dewasa ini, kita mengenal istilah globalisasi yaitu globalisasi merupakan salah satu proses dalam perubahan tatanan masyarakat yang lebih modern, dengan komunikasi yang lebih mudah dan sangat cepat tanpa mempedulikan batas-batas wilayah. Dalam globalisasi di bidang perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan dimana seluruh dunia menjadi satu kesatuan pasar tanpa rintangan batas territorial negara. Dalam hal ini keterkait anantara ekonomi nasional dan perekonomian internasional hubungannya semakin erat.Salah satu dampak globalisasi di sektor ekonomi yang paling menonjol adalah semakin bebasnya pasar internasional. Kebebasan pasar internasional ini membuka peluang kerja yang semakin lebar, meningkatkan sumber pendapatan suatu negara dan masih banyak dampak lainnya. Dengan hal tersebut, masuknya MNC (Multinational Corporation) di dalam negara mengakibatkan banyaknya terjadi pembangunan-pembangunan yang bersifat mencari profit (making profit purposes).

Kehadiran Shopping Mall sebagai representasi ekonomi kapitalis mampu mendorong terciptanya perubahan sosial, seperti merebaknya budaya konsumerisme, perubahan perilaku sosial, mode berpakaian dan gaya hidup. Terutama di kalangan usia muda, di mana budaya pop (pop culture) menjadi fraud yang berkiblat pada Barat. Di samping itu juga terdapat kemudahan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, baik material maupun non material. Faktor kebutuhan rekreatif mampu menjadi dasar bagi hasrat untuk berbelanja di Shopping Mall. Oleh karenanya, mengkonsumsi barang tidak hanya didasarkan pada logika kebutuhan semata, akan tetapi juga ranah emosi seseorang. Situasi tersebut secara sistematis menggeser nilai-nilai tradisi sebagai identitas dalam percaturan global. Berawal dari situlah maka, upaya untuk menumbuhkan kesadaran akan bahaya budaya konsumtif dalam masyarakat tidak bias ditawar lagi. Selama ini kita telah salah kaprah dalam memaknai modernitas yang berkiblat pada Barat, namun hanya sebatas simbol-simbol saja, sedangkan dari sisi subtantif masih jauh dari harapan. Akhirnya simbolisme-simbolisme tersebut menjadi belenggu bagi kehidupan sosial.

Baudrillard menyatakan, situasi masyarakat kontemporer dibentuk oleh kenyataan bahwa manusia sekarang dikelilingi oleh factor konsumsi. Pada kenyataannya manusia tidak akan pernah merasa terpuaskan atas kebutuhan-kebutuhannya, dan rasionalitas konsumsi dalam sistem masyarakat konsumen telah jauh berubah, karena saat ini masyarakat membeli barang bukan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan (needs) namun lebih sebagai pemenuhan hasrat (desire). Masyarakat modern adalah masyarakat konsumtif. Masyarakat yang terus menerus berkonsumsi. Konsumsi telah menjadi budaya, yaitu budaya konsumsi. Bagi masyarakat konsumen, saat ini hamper tidak ada ruang dan waktu tersisa untuk menghindari diri dari serbuan berbagai informasi yang berurusan dengan kegiatan konsumsi. Di rumah, kantor, ataupun tempat-tempat lain masyarakat tidak henti-hentinya disajikan berbagai informasi yang menstimulasi konsumsi melalui iklan di tv, koran, ataupun majalah. Fenomena masyarakat konsumsi tersebut, yang telah melanda sebagian besar wilayah dunia.

Berkembangnya gaya hidup masyarakat perkotaan tersebut, satu sisi bias menjadi pertanda positif meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat kota, yang mana peningkatan kegiatan konsumsi dipandang sebagai efek dari naiknya penghasilan dan taraf hidup masyarakat. Namun di sisi lain, fenomena tersebut juga bias dikatakan sebagai pertanda kemunduran rasionalitas masyarakat, yang mana konsumsi dianggap sebagai faktor yang menyebabkan hilangnya kritis memasyarakat terhadap berbagai hal yang vital bagi kehidupan, kebijakan pemerintah maupun fenomena hidup lainnya. Pada makalah ini, akan disampaikan mengenai sejarah awal mula budayakonsumen, budayakonsumen, faktor yang berhubungan dengan budaya konsumen, serta dampak yang muncul dari adanya budaya konsumen.

Hariini, kehidupan kota yang ditawarkan semakin tidak jelas dan rumit. Kota telah kehilangan kebijaksanaan dan ketenangan, kota tidak lebih dari pusat-pusat kekuasan dan poros kapital. Kota lahir melalui pemusatan surplus produksi secara spasial dan sosial. Kehidupan di kota dewasa ini seyognyanya berada dalam panggung utama secara politis dan etis dalam mengusung cita-cita hak asasi manusia (human right cities). Terdapat upaya dan energi dalam tersebut dalam membangun sebuah kota yang lebih baik yang dilakukan secara topdown maupun insiasi buttomup. Namun sebagian terbesar konsep-konsep yang bergulir itu, secara mendasar tidak menantang hegemoni logika pasar liberal dan neoliberal, atau pun modus dominan dari tindakan dan legalitas negara. Kita malah hidup di dunia dimana hak-hak pemilikan pribadi, perkaradan penguasaan tingkat profit (kapital) membayangi segenap pemaknaan tentang hak. Hak atas kota.

Hak atas kota bukanlah semata kemerdekaan individu untuk mengakses sumber daya urban :melainkan hak untuk merubah diri sendiri dengan cara merubah kota, sebagai arena kontestasi hidup dan penghidupan warganya. Lebih jauh, hak atas kota merupakan hak umum ketimbang individual, mengingat transformasi ini secara tak tertolak bergantung pada perwujudan daya-kuasa kolektif untuk membentuk-ulang proses meng-kota (urbanisasi) yang nyatanya memainkan peran amat krusial dalam menyerap surplus-surplus kapital, pada setiap peningkatan skala spasial tertentu. Penyerapan surplus melalui transformasi urban bahkanmemiliki sisi yang ternyata lebih gelap dari pemberitaan statistik.Ia menyertakan arena berulang-ulang akan restrukturisasi urban melalui ‘penghancuran kreatif-sistematis’ cultural warga melalui pecerabutan hak warga atas kotanya melalui skema-skema gentrifikasi. Pola ini nyaris selalu memiliki dimensi kelas, mengingat kaum marjinal/informal yang terbungkam tak punya suara dan terpinggirkan dari kekuatan politik serta akses sumber daya kota yang paling pertama menderita akibat proses ini. Kekerasan menjadi bahasa utama dalam membangun dunia kota yang baru ini, dan ini terjadi hampir di seluruh dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar