Makassar Menuju Kota Ramah Perempuan (Studi Kasus : Tempat Ibadah)

 

Oleh : Rezki Ameliyah Arief (HI 2015)

Dalam melihat sebuah perkembangan kota, ia dapat dilihat melalui bagaimana kota menjadi tepat yang menyediakan fasilitas yang mumpuni bagi setiap golongan. Kota yang idealnya menjadi tempat inklusif bagi setiap golongan maksudnya teruntuk bagi perempuan serta pria. Dalam Hak Atas Kota terdapat poin yang mengemukakan megenai mendapatkan perlakuan yang sama tanpa deskriminasi. Namun dalam berlangsungnya pembangunan kota, terkadang meniscayakan keidealan itu. Kota tumbuh kian asing, kian tak peduli. Misalnya saja bagi perempuan.

Pembangunan yang tidak ramah akan perempuan dapat dilihat di berbagai tempat dan aspek. Mislanya saja di Universitas Hasanuddin yang merupakan sebuah perguruan tinggi terbaik di Indonesia Timur. Namun gelar tersebut, nyatanya tidak serta merta sebaik namanya, pembangunan termpat peribadahan khusus Islam yang lazim disebut sebagai mesjid, menjadi ruang penyekat bagaimana gender bekerja. Pengklasifikasian mengenai peran laki-laki dan perempuan seolah menjadi sangat jauh jaraknya.

Di berbagai mesjid fakultas di Unhas, banyak di dapati mesjid yang membedakan fasilitas peribadahannya dengan laki-laki. Hal ini dapat dilihat melalui fakultas per fakultas. Dalam penelusuran saya ke beberapa fakultas misalnya pada tanggal 23 November 2017 di Mesjid Darul Ilmi FEB, Al-Adab FIB, serta Al-Hakim FH. Jika ditinjau dari segi struktur bangunan Mesjid Darul Ilmi, fasilitas yang disediakan bagi perempuan menurut penulis cukup timpang. Misalnya saja bagi perempuan ruangannya tidak punya AC, tempat wudhunya agak jauh dengan ruang shalat, padahal jika ditinjau dari segi kuantitas mahasiswi yang shalat di sana, maka dapat disimpulkan bahwa luas ruangan tersebut tidak mencukupi. Menurut pemaparan dari pengurus Mesjid tersebut ketika penulis menanyakan tentang pendapatnya mengenai pembangunan dengan mode seperti itu. Ia berpendapat bahwa ruangan yang disediakan tidak bermasalah, karena porsi shalat berjamaah memang ditujukan bagi laki-laki. Munculnya stigma pembangunan mesjid memang dikhususkan bagi laki-laki, sehingga prempuan menjadi objek yang dipandang sunnah. Perbedaan pembangunan tersebut menyebabkan mahasiswi merasa kurang nyaman. Menurut pemaparan dari salah satu mahasiswi bahwa perbedaan fasilitas tempat shalat laki-laki dan perempuan dalam hal AC dan tempat wudhu tidak tepat, karena jumlah perempuan juga sangat banyak yang shalat di masjid. Kadang ketidaknyamanan karena cuaca yang panas dan bahkan akses berwudhu yang jika hujan harus berbasah-basahan dulu, ketimbang tempat wudhu laki-laki yang sudah memiliki atap pelindung hujan jika ingin masuk.

Stigma pembangunan tersebut juga di dapati di beberapa wilayah di Kota Makassar. Misalnya saja di Mesjid Taqwa Jln. Irian samping Polsekta Wajo, pembangunan dan pemberian fasilitas yang memadai bagi perempuan seakan menjadi hal yang dikesampingkan. Jika dilihat, tempat beribadah bagi perempuan terletak di lantai dua masjid, sedangkan penyediaan tempat berwudhu dan kamar kecil berada di lantai satu. Menurut pemaparan warga, dahulu ada tempat berwudhu di lantai dua namun belum tersedia sampai saat ini dikarenakan renovasi yang sejak dahulu belum selesai hingga sekarang. Hal ini menyebabkan perempuan terutama yang lansia dan ibu hamil kesulitan dalam mengakses tempat bersuci tersebut. Fakta yang lain juga didapati bahwa tindak kebersihan dan renovasi akan lebih di utamakan bagi tempat peribadatan di lantai satu (untuk laki-laki), sedangkan bagi perempuan hal tersebeut dilakukan hanya pada saat menjelang bulan Ramdhan. Ini karena pemikiran bahwa perempuan hanya akan banyak datang ke masjid jika bulan Ramadhan. Padahal tempat tersebut tiap harinya banyak diisi oleh perempuan untuk beribadah. Sebenarnya jika dilihat mungkin ini bukan merupakan sebuah masalah, namun perbedaan perlakuaan antara perempuan dan laki-laki tersebut dalam akses terhadap tempat peribadatan dalam hal ini mesjid merupakan sebuah faktor dimana perempuan akan tetap terbiasa dalam ketidaksetaraan tersebut.

Fenomena ini banyak terjadi di berbagi wilayah di Kota Makassar, di Mesjid Blok L BTP sarana berwudhu dan kamar kecil hanya disediakan bagi laki-laki saja. Menyebabkan perempuan harus berwudhu di rumah terlebih dahulu atau kalau tidak harus bercampur atau menunggu setelah lelaki selesai berwudhu. Hal ini juga pasti terjadi di banyak wilayah bukan hanya di Makassar. Stigma pembangunan seperti itu selalu saja dikaitkan dengan interpretasi bahwa bagi laki-laki beribadah di masjid merupakan hal yang wajib, sedang bagi perempuan beribadah di masjid tidak wajib dan lebih di sunnahkan jika di rumah. Ini mengindikasikan hal yang timpang, kerena stigma pembangunan seperti itu bukan pada masalah wajib atau tidak, karena pada hakikatnya menunaikan ibadah shalat adalah wajib. Terlebih bagi perempuan yang berada universitas harus melaksanakan ibadahnya juga, jadi harus diadakan akses yang layak. Di samping itu, akses mushallah juga terbatas bagi kalangan mahasiswi. Sebabnya adalah ruang mushallah tidak mencukupi dengan kuota perempuan yang hendak shalat, sehingga pilihan yang paling rasional adalah dengan beribadah ke masjid.

Fakta bahwa perempuan tidak lagi mengisi pekerjaan-pekerjaan domestik berupa mengurusi anak dan pekerjaan rumah tangga meniscayakan bahwa perempuan telah mengalami pergerakan. Di kampus juga, jumlah mahasiswi melebihi jumlah mahasiswa menandakan akses pendidikan sudah tidak lagi bias. Seharusnya akses terhadap kelayakan tempat ibadah publik (masjid) betul-betul dipikirkan dalam menciptakan kota yang ramah perempuan. Memberikan akses, fasilitas, ataupun perlakuan yang adil sesuai dengan porsinya. Sehingga stigma pembangunan yang adil bagi tiap gender dilihat sebagai sebuah sesuatu yang penting dan harus diwujudkan dari berbagai aspek kehidupan, bukan hanya tempat beribadah.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar