KAMPUS KATA KITA [Membaca Kemungkinan dalam Ketidakmungkinan]

Oleh : Ryan Akmal Suryadi – HI 2013

Kepada kita dan orang orang yang berharap hidup bersama: Selamat malam!

Segudang tugas yang menghantuimu di kelas menjadi keseharian yang memuakkan, bukan? Menjengkelkan, hingga tak terpahami kepada siapa semua materi menjadi. Makalah makalah dan Lab dengan bau khasnya adalah mimpi buruk kita semua! Kau, aku, dan mereka mereka yang dikebiri kurikulum. Sembari hati berharap harap cemas; Tak apa jika kesemuanya adalah modal bagi kita untuk memperbaiki keadaan sekarang, yang menuntut kita serba terburu buru. Terburu buru bangun pagi, terburu buru ke kampus, terburu buru masuk kelas, hingga terburu buru ingin menyudahi rutinitas kampus yang membosankan ini. Menjadi sarjana. Mencari kerja. Kemudian kaya. Meminang kekasih. Membuat anak. Membuat anak lagi. Kemudian menyekolahkan anak, kuliah lagi, kerja lagi, tidak menjadi miskin. Kemudian mati. Iya? Semoga tidak.

Harapan harapan yang berisi kehampaan hidup telah sedemikian akutnya menjadi momok setiap kepala dari kita. Tetapi, bagaimana jika segala keadaan tadi bisa berubah menjadi sesuatu yang lain? Dengan muara yang lain? Sebuah penggambaran dunia kampus yang berisi ruang pencerdasan bersama, kesejahteraan bersama, tanpa adanya ruang bagi frase kemiskinan kemiskinan hidup yang merisaukan itu. Iya. Seperti cita hidup bersama.

Tetapi, dengan tetapi yang lain, saya akan menyajikan mimpi buruk bagi kamu kamu dan kita semua yang berharap pada cita hidup bersama. Hari ini, malam ini, kampus sedang tidak baik baik saja, kawan!

Lah, Bagaimana bisa? Kenapa kampus dengan akreditasi A ini bisa tidak baik baik saja?

Oke! Begini ceritanya..

Di Kampus;

Mari memulai semua ini dari yang sejadi jadinya terjadi, dari keseharian kita yang mungkin luput kita perhatikan (karena makalah dan Lab itu tadi).

Kepala, kepala kita di kelas begitu lahap menyantap materi dari dosen dan para profesor, mengiyakan setiap tanya, mencari aman demi nominal nilai di akhir semester. Ketakutan ketakutan tidak masuk kelas adalah sarapan pagi hari setiap kita. Seolah olah, pembelajaran itu tidak ada di luar kelas. Di sini, kampus begitu eksklusif melabeli diri sebagai tonggak peradaban (yang fana ini). Namun, mungkin itu juga adalah pilihan yang rasional bagi kita, mahasiswa, untuk tetap melaju dalam rute yang cari aman di kampus yang sama sekali tak aman ini. Mungkin saja. Mungkin juga tidak sama sekali.

Setelah kelas, kita disajikan kantin dengan papan iklan korporasi di sana sini. Ke lapangan, logo yang mirip tapi tak sama juga kita temui. Mungkin perpustakaan akan menyamankan kita dengan buku bukunya. Ah, tapi tidak. Sama saja. Jam perpustakaan yang mengikuti waktu kantor memaksa kita berhenti membaca di tengah halaman. Menjengkelkan bukan? Perpustakaan tutup menjelang sore. Oke, mungkin ketenangan pikiran ada di lembaga kemahasiswaan. Tapi apa daya, beberapa dari lembaga kita juga sudah dikebiri. Kebebasan berserikat dan berkumpul terancam. Birokrasi begitu mudahnya melayangkan SK Skorsing dan DO bagi siapa siapa yang tidak menurut ke mereka.

Belum lagi, jika harus berpikir untuk menyambung semester. Biaya kuliah hari ini bukan main mahalnya. Jika beberapa tahun lalu biaya kulaih per semester bisa ditanggung dengan Rp 450.000,- hari ini angka itu hanya menjadi masa lalu. Pemerintah sedikit demi sedikit mulai mengurangi jatah subsidi untuk pendidikan tinggi. Malah, para mahasiswalah yang lebih dituntut untuk saling mensubsidi, melalui UKT UKT itu. Sudah bayar kuliah mahal ditambah dengan fasilitas kampus yang juga berbayar (mahal). Auditorium auditorium, baruga, hingga pelatarannya berbayar. Beberapa Laboratorium pun berbayar. Bahkan, KKN (Kuliah Kerja Nyata) juga diagendakan berbayar. Ini kampus atau pasar?

Ow iya, saya baru ingat, sekarang kita kan hidup dan kuliah di era yang dinamai era kapitalisme-neoliberal. Dimana setiap barang dan jasa adalah komoditi yang siap diperjual belikan. Bahkan pendidikan tinggi pun. Kampusmu pun. Hingga kampus dan pasar sangat sulit dibedakan. Tidak percaya? Baca buku dan lihat sekitarmu.

Pertanyaannya sekarang, jika kampus sudah masuk ke dalam bagian yang bisa (akan, bahkan sudah) terkomodifikasikan. Lantas, pendidikan hari ini untuk apa? Untuk siapa?

Jawabannya, ya untuk menjadi tenaga terdidik dengan skill tinggi namun pendek akal. Secara, pasar punya orientasinya sendiri dalam misinya. Dan hanya mereka yang hidup dari pertukaran nilai jual yang menikmati semua ini: para pemilik modal, dan korporasi korporasi yang mencari tenaga kerja terampil namun patuh pada majikan.

Jangan heran kalau kampus hari ini mengamini sikap keterburu buruan kita di awal tadi.

Semua sudah dan sedang terjadi. Bagaimana kampus begitu berambisi mempersolek citra dengan gedung gedung dan tamannya. Berburu prestasi dalam kompetisi, demi akreditasi. Hingga dorongan untuk menghasilkan banyak hasil riset yang siap dikomersilkan. Kesemuanya adalah laku sistem yang karib kita sebut sebagai kapitalisme (kapitalisasi pendidikan).

Dan jika kita coba menggali lagi, kita akan temukan untuk siapa semua menjadi, untuk siapa kampus mengabdi: sekali lagi, PASAR.

Menuntut yang tidak mungkin;

Nah, karena masalah sudah di depan mata. Dan demi menyelamatkan nyala harapan di kampus ini. Maka, mari menuntut yang tidak mungkin. Menuntut yang kampus dan negara dan para pemilik modal katakan mustahil. Apa itu? Pendidikan gratis! Dan kritis! Dan demokratis! Dan manis, tapi tidak narsis! Oh indahnya..

Semesta terlalu berlimpah untuk memustahilkan pendidikan gratis. Pembacaan kita terhadap krisis hari ini adalah awal dari pada kritis. Keterbukaan kita untuk mengubah sistem adalah modal kita untuk demokratis. Dan harapan untuk itu semua begitu manis untuk diperjuangkan!

Ayo! Memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan. Sehingga setiap orang yang kita temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan untuk berkata “tidak mungkin”!

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar