Peringatan Hari Buruh: Sejarah Hari Buruh

Hari ini, tertanggal 1 mei 2018 merupakan sebuah momentum yang tidak terlepas dari selubung peristiwa yang terjadi di Lapangan Haymarket Chicago, Amerika Serikat. Sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.  Hingga akhirnya pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis di Dunia di Paris menetapkan peristiwa di Amerika Serikat tersebut yang berlangsung pada 1 Mei sebagai hari buruh internasional. “Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis”. Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah.

Siapa Buruh?

Sejarah menyatakan bahwa istilah buruh atau proletar merupakan istilah yang diberikan bagi golongan yang tidak memiliki alat produksi dan harus bekerja di pada mereka yang memiliki. Merujuk dari hal tersebut, buruh dapat secara gamlang dimaknai sebagai usaha-usaha menjual tenaga dalam bekerja untuk memproduksi suatu bentuk barang. Sedang secara lebih luas, buruh dapat dimaknai sebagai segala usaha yang baik secara langsung ataupun tidak langsung membantu proses produksi termasuk didalamnya kerja-kerja ilmu pengetahuan, teknologi, dan sebagainya. Oleh karenanya buruh bukan hanya pekerja kasar, buruh adalah kita semua yang menjual tenaga dan diupah atas itu.

Secara garis besar buruh merujuk kapada tenaga kerja, sebuah pengistilahan yang agak lebih lembut dibandingkan buruh yang dinilai radikal pada masa orde baru. Menurut UU No 13 Tahun 2003, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Tenaga kerja sebagai pelaksana pembangunan harus di jamin hak-haknya.

Buruh Hari Ini

Jika melihat kondisi buruh sekarang ini terkhusus di Indonesia, ia sungguh jauh dari apa yang semestinya. Dalam hal upah misalnya dalam UU 13 Tahun 2003 di jelaskan bahwa, setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan layak bagi kemanusiaan yang disesuaikan denagan upah minimum provinsi atau upah minimum kota, atau upah minimum sektoral.  Namun masih banyak buruh /pekerja yang mendapatkan gaji dawah upah minimum. Misalnya pada salah satu sektor pendidikan di Makassar dengan buruh outsourcing hanya mendapatkan sebanyal 1.600.000 – 1.950.000,- per bulan pada UMR yang ditetapkan mencapai 2,6 juta perbulan.

Sementara untuk jaminan kesehatan dan perlindungan kerja yang diatur dalam pasal 86 UU No 13 Tahun 2003 seharusnya dijaminkan kepada setiap pekerja. Namun dalam beberapa kasus masih banyak pekerja yang tidak diberikan jaminan sosial maupun kesehatan. Terutama bagi pekerja outsourcing hal ini semakin niscaya ditegakkan karena ketidak pastian nasib mereka sebagai buruh kontrak.

Jam kerja berlebih, hak lamanya waktu bekerja dalam Pasal 77 UU No 13 Tahun 2003 yakni 7  jam sehari setara 40 jam seminggu untuk 6 hari kerja dalam seminggu, atau 8 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk 5 hari kerja dalam seminggu. Namun pada 2013 misalnya jumlah yang bekerja kurang dari 8 jam hanya berkisar 1,4 juta orang atau hanya 1,31% dari 109,7 juta orang Indonesia yang bekerja (kompas.com).

Apa yang Harus Diwujudkan

Melihat berbagai realitas yang terjadi pada buruh yang jauh dari semestinya, maka yang harus diusahakan dan diwujudkan adalah :

1. Pemberian upah yang layak bagi buruh, yakni sesuai dengan Upah Minimum Regional yang didasarkan pada transparansi pengelolaannya.

2. Pemberian jaminan kesehatan dan kerja bagi seluruh pekerja, termasuk pekerja outsourcing.

3. Mengembalikan jam kerja sesuai dengan peraturan, yakni maksimal 8 jam sehari.

4. Memberikan perlindungan bagi pekerja atas kekerasan ataupun pelecehan dalam tempat dan waktu kerjanya.

Sudah selayaknya bagi perusahaan dalam memberikan tuntutan minum di atas dan memberlakukan buruh sebagaimana mestinya. Sudah cukup pekerja mentolelir segala ketidakadilan yang ia terima selama ini.

#SelamatkanPekerja

#MayDay2018

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar