Review Diskusi : Riset dan Advokasi

Oleh: Hasri Ainun ( HI 2017)

Email: ayihasr@gmail.com

Dalam melakukan usaha sistematis dan terorganisir untuk mendorong terjadinya perubahan dalam kebijakan publik yang timpang, diperlukan riset agar data yang digunakan valid. Sebagaimana strategi merupakan hal yang cukup esensial dalam advokasi, begitu pula dengan riset. Riset sangat dibutuhkan untuk menunjang kerja-kerja yang dilakukan dalam pengadvokasian. Para advokator harus mampu bertanggung jawab atas data-data yang digunakan dengan menjaga kredibilitas serta kualitas riset.

Banyak yang menyalahartikan riset advokasi sebagai riset akademis. Padahal terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara riset advokasi dengan riset akademis. Riset advokasi bertujuan untuk membuktikan bahwa terjadi ketimpangany yang disebabkan oleh kebijakan publik. Sedangkan riset akademis, bertujuan untuk membuktikan hipotesis dan mengembangkan teori. Selain itu, pada riset advokasi terdapat keberpihakan yang jelas. Sangat berbeda dengan riset akademis yang bersifat bebas nilai dan cenderung tidak berpihak.

Bagaimana memulai riset untuk menunjang proses advokasi?

Pertama, tentukan isu yang ingin diadvokasi setelah memperjelas standing position atau keberpihakan. Riset harus spesifik guna menghindari bias dalam isu yang ingin diadvokasi. Selanjutnya yaitu menentukan sasaran atau target yang jelas. Dengan kata lain, apa dan siapa yang ingin diadvokasi. Tentu yang diadvokasi adalah pihak yang tertindas atau dirugikan oleh kebijakan publik yang hanya menguntungkan satu pihak.

Setelah menentukan sasaran, kemudian menentukan metode pengumpulan data. Sebagaimana terdapat dua metode pengumpulan data yakni metode kualitatif dan metode kuantitatif. Sebaiknya, metode yang digunakan dalam mengumpulkan data advokasi adalah metode kualitatif yang berupa wawancara dan observasi. Karena metode kualitatif ini menggunakan in-depth analysis yang mengkaji masalah lebih dalam. Selain itu, narasumber pun sebaiknya dipilih secara selektif, bukan acak. Hal ini ditujukan agar narasumber memberikan data yang sesuai dengan advokasi yang dilakukan. Advokator juga harus dapat mengarahkan narasumber untuk mendukung dan melegitimasi advokasinya.

Setelah data telah dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah menentukan bagaimana data tersebut diolah. Teknik pengolahan data merupakan bagian yang penting karena dengan adanya pengolahan data, data yang telah dikumpulkan dapat diberi arti atau makna yang berguna dalam memecahkan masalah yang diteliti. Teknik pengolahan data yang digunakan baik itu statistik maupun narasi disesuaikan dengan kebutuhan advokasi.

Keberhasilan dalam pengadvokasian akan sulit dicapai apabila data yang digunakan tidak akurat. Data harus diperoleh langsung dari pengamatan mendalam di lapangan tanpa ada manipulasi sedikit pun. Oleh karena itu perlu dilakukan investigasi yakni upaya untuk memperoleh realitas dan fakta yang sebenarnya.

Adapun unsur-unsur dari investigasi, yaitu:

1. Aktor, orang yang terlibat langsung dalam kasus baik itu pelaku, korban, maupun saksi mata.

2. Modus, cara kerja untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu. Dengan kata lain, bagaimana aktor melakukan aksinya.

3. Motif, dorongan yang mendasari pelaku melakukan hal tersebut. Motif ini bisa saja dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal.

4. Kultur yang hegemoni. Walaupun dengan tiga unsur di atas investigasi  telah memenuhi syarat, namun unsur keempat ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Adanya kultur yang hegemoni di masyarakat yang diinvestigasi akan memengaruhi data-data yang diperoleh serta perspektif dalam melihat masalah tersebut.

Investigasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh fakta dan realitas yang sebenarnya. Dimana realitas dan fakta disini merupakan hal yang berbeda. Fakta bersifat empiris, sedangkan realitas bisa saja berbeda bagi setiap orang. Realitas dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan seseorang. Realitas juga memiliki tingkatannya, dimana suatu realitas ada sebagai fakta dan membungkus fakta yang lain yang tersembunyi di dalammnya.

1. Pengalaman yang dialami secara langsung oleh pelakunya yang telah terbukti kebenarannya tanpa dikomunikasikan dengan orang lain.

2. Terbentuk ketika pengalaman langsung ditulliskan dan diujarkan.

3. Hasil tulisan tadi mengalami penyesuaian dengan kaidah kepenulisan atau tata bahasa.

4. Mulai memasukkan ilmu pengetahuan yang dianggap berhubungan dengan pengalaman yang dituliskan.

5. Adanya penyempurnaan diksi pada hasil tulisan tersebut.

Riset dan advokasi sangat erat kaitannya. Riset yang menunjang usaha-usaha yang dilakukan dalam pengadvokasian, baik itu kerja garis depan maupun kerja basis. Advokasi harus dilakukan secara sistematis dan terorganisir guna mencapai hasil yang maksimal yakni memengaruhi atau bahkan mendesak terjadinya perubahan pada kebijakan publik. Dalam menekan pembuat kebijakan, diperlukan data yang valid dan mendapat dukungan dari banyak pihak.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar