Oleh: Andi Astrid Maharani (HI 2015)

E-mail: andiastridmaharani@gmail.com

Tidak ada hubungan yang abadi, semua berakhir dengan konflik

Aktivitas nuklir Korea Utara merupakan salah satu isu penting terkait pengembangan senjata nuklir bagi dunia internasional, uji coba senjata nuklir yang dilakukan Korea Utara termasuk intens dilakukan, dalam kurun waktu 10 tahun setidaknya sudah lebih dari 12 kali uji coba rudal yang dilakukan oleh negara tersebut sejak tahun 2005 hingga 2015. Aktivitas tersebut berbuah reaksi dari Korea Selatan. Waspada pastinya menjadi respons awal atas ancaman yang muncul dari aktivitas nuklir Korea Utara. Kemudian, Amerika Serikat sebagai negara sekutu turut memberikan perannya dalam upaya melindungi Korea Selatan dari ancaman nuklir Korea Utara, salah satu di antaranya menawarkan perangkat pertahanan misil (missile defense) yang telah dikembangkannya sejak tahun 1992. Anti misil yang direkomendasikan adalah THAAD (Terminal High Altitude Area Defense). Kondisi yang semakin memanas antara Korea Utara dan Korea Selatan mengantarkan Korea Selatan menerima tawaran dari Amerika Serikat untuk memasang salah satu pertahanan anti misil miliknya di Seongju, Korea Selatan dan sistem ini telah diaktifkan dengan kemampuan untuk mencegat rudal Korea Utara.

Upaya yang dilakukan kedua negara dimaksudkan sebagai salah satu usaha untuk melindungi Korea Selatan dan rakyatnya dari ancaman nuklir Korea Utara dan hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat juga memiliki akses kontrol yang besar terhadap militer Korsel. Bukanlah suatu hal yang berlebihan jika dikatakan bahwa suatu Negara akan rela melakukan apapun demi mempertahankan keamanan nasionalnya dan elemen yang paling penting untuk mewujudkan hal tersebut adalah kekuatan militernya karena akan berdampak langsung pada pertahanan dan keamanan negaranya. Tindakan oleh negara yang dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan, melalui peningkatkan kekuatan militer atau melakukan aliansi, dapat menyebabkan negara lain merespon dengan langkah yang sama kemudian menghasilkan peningkatan ketegangan yang dapat menciptakan konflik, bahkan ketika tidak ada sisi yang benar-benar menginginkan hal tersebut.

Mengenai kebijakan Korea Selatan terkait pengadaan THAAD, membuat negara-negara lain non-sekutu Amerika Serikat, menentang tindakan tersebut. Tentunya selain Korea Utara, yang sudah pasti menolak, Cina adalah negara lain di kawasan tersebut yang merasa terganggu dengan keberadaan THAAD turut memberikan tanggapan penentanganan terkait keputusan tersebut. Negeri tirai bambu tersebut khawatir atas kemungkinan THAAD bukan sekedar sebagai alat untuk mendeteksi serangan yang mungkin diluncurkan Korea Utara melainkan dengan sistem radarnya THAAD digunakan untuk memata-matai Cina, mengetahui bahwa radar THAAD merupakan salah satu radar yang teknologinya sangat canggih sehingga sangat memungkinkan bagi pemerintah AS mendeteksi Cina secara menyeluruh. Kondisi ini akan melemahkan keamanan nasional Cina misalnya kebocoran informasi sistem pertahanan misil dan persenjataan karena dengan mudahnya dapat terlacak. Situasi ini membuat Cina juga mengalami dilema keamanan karena sulitnya menginterpretasikan tujuan dari Korea Selatan apakah murni sebagai tindakan defensif/perlindungan diri atau sebaliknya. Hingga tiba disaat Cina memberikan “hukuman” bagi Korea Selatan dengan sasaran utama pada sektor hiburan dan budaya.

Sikap Cina yang melakukan pelarangan konten budaya Korea seperti larangan selebritis korea tampil di acara-acara televisi dan penghentian tayangan drama Korea serta memboikot produk-produk Korea Selatan menjadi bukti bahwa terjadi pergolakan dalam hubungan antara kedua Negara. Padahal sebelumnya kedua negara telah memasuki puncak dari perkembangan hubungannya dengan komitmen untuk saling menguntungkan sebagai rekan dalam hubungan ekonomi hingga diplomatik. Akan tetapi, langkah-langkah itulah yang diperlukan oleh Cina untuk melindungi kepentingan keamanan strategisnya.

Dengan diaktifkannya THAAD di Korea Selatan, bisa saja menjadi pertanda bahwa akan segera terjadi perang terbuka antara Korea Utara melawan Amerika Serikat dan sekutunya. Masing-masing pihak melancarkan misinya dalam membuktikan eksistensinya melalui kekuatan militer masing-masing. Langkah Amerika Serikat menempatkan THAAD di Korea Selatan sebagai strategi untuk menguatkan statusnya sebagai Negara adidaya alih-alih upaya proteksi dari Korea Utara. Meskipun diyakini bahwa THAAD dapat menjadi perisai yang cukup mumpuni menyelamatkan diri sebuah bangsa dari serangan rudal musuhnya jadi,apakah THAAD sebagai solusi yang tepat bagi situasi keamanan yang ada di semenanjung korea?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *