Review Diskusi : Apa Kabar Kulon Progo?

Oleh : Tyas Nurunnisa (HI 2017) – tyasnurunnisamufty@gmail.com

Sejak 25 januari 2011, PT. Angkasa Pura I bekerja sama dengan investor asal India dalam sebuah megaproyek pembangunan Bandara Internasional di Kulon Progo. Hal ini merupakan bentuk realisasi dari adanya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI dan kemudian diteruskan melalui RPJMN di bawah kepimimpinan presiden Jokowi. Hal ini dilakukan untuk membentuk kawasan industri dan ekonomi juga pembangunan berbasis investor swasta untuk menghubungkan pertumbuhan ekonomi nasional dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi internasional. Hal itu di harapkan dapat mendorong percepatan dan perluasan ekonomi Indonesia.

Pembangunan New Yogyakarta International Airport atau NYIA di sebabkan Bandara Adi Sucipto dianggap sudah tidak mampu untuk menampung lonjakan penumpang. Selain itu pembangunan NYIA juga bertujuan untuk membuat kota bandara (aero city) untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi di sektor jasa, perdagangan maupun sektor industri.

Dalam pembangunan NYIA diperlukan sekitar 637 hektar dan akan diperluas lagi menjadi 2000 hektar untuk kewujudkan kota bandara. Namun, NYIA tidak akan dibangun di sebuah tanah kosong ataupun tanah yang berproduktivitas rendah. Dalam 637 hektar luas area, sekitar 300 hektar adalah lahan pertanian produktif dimana 200 hektar merupakan lahan kering sementara 100 hektar merupakan lahan persawahan. Sementara 337 hektar lainnya terdiri atas 200 hektar pemukiman warga dan 137 hektar lainnya merukan tanah milik pakualaman yang di kelola masyarakat menjadi tambak dan hotel untuk wisata. Pembangunan NYIA diatas lahan ini merupakan perampasan ruang hidup dan penghidupan masyarakat setempat. Sebab, 300 hektar lahan pertanian itu dikelolah oleh sekitar 12.000 pekerja pertanian. Para pekerja pertanian ini dijanjikan akan di berikan pekerjaan dalam pembangunan bandara nantinya, namun hal ini tentunya tidak sebanding terutama apabila melihat peralihan profesi dan mengubah budaya bertani menjadi bentuk lain tidaklah mudah. Belum lagi 200 hektar pemukiman penduduk yang terbagi menjadi 6 desa tersebut di tinggali oleh sekitar 11.501 jiwa dengan 2.875 KK, merelokasi penduduk sebanyak itu tentu bukan perkara mudah. Iming-iming berupa uang tentu tidak akan menyelesaikan permasalahan, banyak hal-hal yg mereka tinggalkan seperti budaya dan kebiasaan masyarakat pesisir di tambah lagi dengan ketidakjelasan tempat tinggal ketika mereka meninggalkan rumahnya di Kulon Progo.

Selain dampak buruk yang di timbulkan dari pembanguna NYIA terhadap warga, ada juga dampak ekosistem. Di Kulon Progo, terdapat gumuk pasir yang merupakan ekosistem langkah dan hanya ada 14 di dunia. Gumuk pasir berguna sebagai benteng terhadap ancaman tsunami serta penghambat pengikisan daratan pantai. Pembangunan kawasan ini akan menyebabkan kerusakan lingkungan sekaligus menjadikan kawasan itu sendiri menjadi rawan akan tsunami dan gempa bumi. Pembangunan NYIA sendiri tidak di ikuti dengan penerbitan AMDAL sehingga dapat disebut program yang cacat administrasi. Selain itu Kulon Progo merupakan kawasan cagar alam yang seharusnya dilindungi oleh pemerintah. Di wilayah Kulon Progo juga terdapat cagar budaya, dimana dengan pembangunan NYIA ini sama saja dengan menghancurkan peninggalan leluhur.

Masyarakat setempat sendiri dibantu dengan berbagai lembaga dan mahasiswa sudah melakukan perlamawanan-perlawanan dalam menentang pembangunan NYIA ini. Namun hal ini cukup sulit sebab adanya legalitas untuk pembangunan ini walaupun banyak dampak negatif yang diberikan pembangunan ini. Belum lagi ada tindakan represif dari aparat pemerintah juga tekanan-tekanan terhadap warga yang menyebabkan mulai muncul konflik horizontal antar warga.

Melihat Kasus Kulon Progo dari Perspektif Harvey

Menurut pemikiran Marx, terdapat Akumulasi primitif  yaitu bagaimana menghasilkan surplus dari modal dan sumber daya yang ada. Berdasarkan pemikiran Marx inilah, Harvey kemudian mengembangkannya menjadi Akumulasi via perampasan. Menurut Harvey, akumulasi primitif akan menyebabkan modal dan surplus bertumpuk secaja berlebihan dan akan membuat roda kapitalis tidak dapat berjalan dengan baik. Maka dalam akumulasi via perampasan, pekerja perlu dipisahkan modalnya agar roda kapitalis tetap berjalan dengan baik. Modal yang bertumpuk harus diberdayakan melalui dua cara yaitu displacement spacial dan  dispalcement temporal. Dalam dispacial temporal berarti akumulasi berlebih digunakan untuk membangun infrastruktur yang dapat memberikan keuntungan jangka panjang, hal ini dapat dilihat dengan pembangunan bandara yang dianggap dapat memberikan keuntungan di masa depan. Sementara dispacial spacial memberdayakan akumulasi berlebih di sektor lain, sebagai contoh adalah pembangunan kota bandara di Kulon Progo.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar