Mengenal Konsep Proletarisasi dan Akumulasi Primitif dalam Teori Kependudukan Marx (Rangkuman Tulisan Dede Mulyanto dalam Jurnal Kependudukan Padjajaran Tahun 2008)

Oleh : Rezki Ameliyah Arief – ameliyaharief@gmail.com (HI 2015)

Kasus perampasan tanah ataupun ruang diberbagai sudut baik juga terjadi di Indonesia menyebabkan penulis tertarik dalam membahas aspek historis mengapa hal tersebut dapat terjadi. Memulai keingintahuan dengan mencari jejak digital, penulis akhirnya menemukan sebuah tulisan yang berjumlah 19 halaman dan akan di rangkum secara sederhana dalam tulisan ini.

Ciri Kapitalisme

Antropolog Marvin Harris berpendapat bahwa salah satu ciri kapitalisme adalah komodifikasi hampir semua barang jasa, termasuk tanah dan tenaga kerja. Komodifikasi yang dimaksud adalah proses bagaimana menjadikan barang/jasa dari tidak bernilai menjadi bernilai jual atau dapat diperjualbelikan. Sistem kapitalisme akan terus hidup dan berjalan jika ditopang dengan sebuah kerja-upahan. Sebagai pranata pokok kapitalisme, kerja-upahan mensyaratkan sejumlah golongan yang tidak memiliki sarana produksi mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka dengan cara menjual tenaga kerja mereka sendiri. Marx Weber pernah berpendapat bahwa ciri pokok yang membedakan antara sistem ekonomi tradisional dan kapitalisme modern adalah pengorganisiran rasional atas pekerja upahan bebas. Maksudnya adalah tanpa orang yang menjual dirinya untuk kerja-upahan, suatu perekonomian belum dapat dikatakan kapitalisme, meski di dalamnya telah ada komoditi, pasar, dan dorongan pencarian keuntungan sebagai unsur utamanya.

Proletarisasi atau proses terciptanya golongan sosial yang hidup dengan menjual tenaganya tidak begitu saja ada, tapi ia ada melalui proses yang panjang. Perlu sebuah revolusi di dalam kehidupan sosial termasuk sistem peradaban untuk menciptakan golongan ini. Dalam sejarah kapitalisme, golongan sosial ini pertama-tama diciptakan dari golongan produsen langsung, yaitu mereka yang memenuhi kebutuhan hidup dari hasil kerjanya sendiri, misalnya kaum tani, pekerja wol, dan kaum pengusaha di era prakapitalis. Produsen langsung pra kapitalisme diubah statusnya ketika terjadinya pemisahan faktor produksi (tanah) dari mereka dan dipaksakan dengan kedok hak milik pribadi absolute modern. Akhirnya karena adanya pemutusan tersebut menyebabkan mereka harus menjual tenaga kerja mereka ke orang atau perusahaan yang memiliki sarana produksi.

Komodifikasi Tanah dan Tenaga Kerja

Pemisahan produsen langsung dari sarana produksinya menciptakan sebuah jarak antropologis dimana ada sekat kepranataan antara hak milik pribadi atas sarana produksi. Sekat tersebut dapat berupa harga sewa ataupun bekerja lalu diupah. Secara historis proses ini dimulai pada abad 16, di Eropa bagian barat terutama di Inggris. Ditandai dengan runtuhnya sistem ekonomi feodal dan berkembangnya industri daerah perkotaan. Di banyak desa, lahan yang digarap oleh feodal termasuk lahan commons[1] mulai dipagari dan dikapling, dan menjadi hak pribadi para golongan elit. Akhirnya pemisahan ini berwujud perampasan tanah (sarana produksi) yang dilegitimasi oleh undang-undang yang dibuat.

Petani-petani feodal yang sebelumnya hidup dari hasil garapan lahannya harus memilih meninggalkan lahannya atas tuduhan pembangkangan hukum tadi. Ini kemudian menjadi sebuah sistem yang universal melalui kolonialisasi. Semua hak yang dapat ditoleransi misalnya kepemilikan lahan tanpa sertifikasi oleh kaum tani yang dulunya diterima sekarang di tolak. Perubahan kepemilikan tanah menyebabkan ada orang yang bisa memiliki lahan tanpa menggarapnya. Proses pengkaplingan (kepemilikan pribadi atas lahan) yang dilakukan oleh borjuasi dengan cara pengusiran kaum tani penggarapnya disebut enclosure. Titik kunci pranata kapitalisme adalah kerja-upahan, pasar tenaga kerja, pasar tanah, serta pasar uang. Dengan adanya pasar-pasar tersebut akan menjadikan komodifikasi tenaga kerja, tanah, dan uang pada awalanya, akhirnya mengkomodifikasikan segalanya, termasuk rasa bahagia dan lambang keagamaan.

Seiring dengan penghancuran fondasi sosial nonkapitalis dan pemisahan golongan produsen langsung dari tanah garapannya, di bawah asuhan pasar kapitalisme inilah yang membuat masyarakat terbagi menjadi dua kutub yang berbeda berdasarkan kepemilikan faktor dan sarana produksi. Yakni mereka yang menguasai apapun dan penghasilannya dari kapital disebut sebagai kapitalis, dan mereka yang tidak memiliki apapun dan berpenghasilan dari menjual diri mereka dalam pasar tenaga kerja pada golongan awal.

Penciptaan Proletariat

Pada awal abad ke 19 di Inggris pengkaplingan dan pengusuran kaum tani berlangsung secara cepat dan paripurna. Masa tersebut disebut sebagai masa proletarisasi missal. Dimana Inggris mengeluarkan peraturan yakni Bill of Inclosure of Commons atau dekrit penggusuran penduduk. Kemudian ada Bill of Reform 1832 dan Poor Law Amendment 1834. Dua undang-undang tersbeut menyikat semua wujud paternaliasi feodal dan melepaskan kaum Inggris dari ikatan tradisionalnya. Akibat undang-undang tersebut 1) kaum tani tidak bisa menghasilkan sarana hidupn sendiri, 2) karena tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan, mereka berbodong-bondong pindah dari desa ke kota. Lonjakan golongan ini mengakibatkan poitik upah murah sangat lumrah terjadi bahkan ke pekerja anak-anak, kecelakaan kerja, kemiskinan, kelaparan, dan mati muda. Bahkan tempat istirahat yang disediakan bagi pekerja yang berbondong tersebut tidak layak disebut sebagai hunian, lebih akrab disapa dengan kandang penampungan pekerja murah.

Proletarisasi Pinggiran Jawa

Di Jawa praktik enclosure dan penciptaan proletarisasi telah ada sejak praktik tanam paksa 1830-1870 untuk mengeksploitasi jajahan tanpa perasaan. Sejak itu Jawa terkenal sebagai kawasan penghasil gula dan tanaman ekspor lainnya. Sejak itu pula Jawa menjadi penyedia lahan perkebunan sekaligus menjadi lahan pemasok cadangan pekerja untuk produksi gula. Meski proses proletarisasi dan komodifikasi lahan sudah terjadi sejak tanam paksa namun ini baru diproklamirkan ketika golongan liberal menguasai parlemen Belanda dan menerbitkan Undang-Undang Pertanahan (Agrarische Wet) yang berfungsi mendukung secara legal komodifikasi tanah dan tenaga kerja. Disini juga terjadi pemisahan tanah penduduk dan negara, dimana tanah penduduk dapat disewa tahunan dan negara bisa sampai 75 tahun sewaannya. Karena harus adanya pengakuan kepemilikan tanah, maka tanah terlantar haram untuk digarap oleh mereka yang membutuhkan. Ini merupakan tonggak penting dalam proletarisasi, karena sampai kapanpun tanpa lahan kaum tani tidak bisa disebut petani.

Agrarische Wet membuat tanah terbuka bagi kaum pemodal dalam mencari keuntungan. Jika sebelumnya usaha perkebunan milik negara, setelah 1870 usaha perkebunan jadi usaha swasta. Dengan ini maka perusahaan luar negeri berbondong-bondong dalam menanamkan modalnya di Indonesia, di berbagai aspek seperti rel kereta api. Hal ini juga didukung dengan restu dari bank komersial Eropa yang dapat memberikan pinjaman secara mudah bagi swasta yang kekurangan modal dalam berinvestasi di Jawa. Diperparah dengan peninggalan feodal dengan membagi kelas-kelas di Jawa yakni bangsawan dan elit desa menjadi nyawa pendukung lancarnya praktik enclosure. Kepala desa dan bangsawan sangat mudah dipelintir untuk menyedikan pasokan tenaga kerja bagi produksi kolonial dan penyedia lahan. Misalnya di Keresidenan Cirebon, Kepala Desa setiap tahunnya menyisihkan wilayah sawah terbaik untuk perkebunan tebu sebelum membagi dan menyerahkan lahan ke penduduk desa. Agrarische Wet yang terterbitkan, selain penting untuk membatasi kepemilikan lahan petani juga mengatur pendapatan Belanda dengan membuat sebuah sistem perpajakan modern. Pemerintah lokal, petani, pemilik tanah/lahan, hingga bangsawaan sekalipun harus membayar pajak. Jangan salah pajak ini hanya digunakan dalam melunasi utang.

Staatsblad 1838 No. 45 menyatakan bahwa pemerintah kolonial dapat menangkap orang-orang tanpa lahan dan tidak memenuhi wajib kerja, serta kaum gelandangan yang terusir dari pedesaan. Dengan peraturan ini pula menciptakan pedagang budak yang siap sedia menyediakan buruh-buruh yang dipasok dari berbagai pedalaman Nusantara, termasuk di Celebes terutama di Macassar.

Akumulasi Primitif dan Perkembangan Kapital

Tiga proses seiringan, yaitu penghakmilikan pribadi, penciptaan golongan baru pekerja-upahan, dan akumulasi kekayaan ke tangan segelintir elit lewat enclosure ditambah dengan pengaturan upah kerja murah di sektor penopang kapitalisasi yang dilindungi undang-undang pada masa awal kapitalisme modern disebut Marx sebagai “ursprunglische akkumulation” atau akumulasi primitif. Teori akumulasi primitif Marx merupakan sebuah tanggapan dari akumulasi primitif dari Adam Smith yang mengatakan bahwa berlangsungnya produksi kekayaan modern secara logis haruslah didahului oleh adanya timbunan kekayaan sebelumnya. Produksi kekayaan modern yang ditopang pembagian kerja sosial diawali dengan pengumpulan kekayaan secara tidak merata di antara anggota masyarakat atau disebut sebagai previous accumulation.

Asal timbunan kekayaan tersebut adalah kodrat alamiah yang berbeda. Perbedaan kondrat ini seakan-akan menjadi pembenaran bahwa proletarisasi ataupun borjuasi sudah ada dalam diri manusia yang akan membedakan kekayaan mereka pula. Secara sederhana, penggolongan masyarakat prakapitalis mempercayai bahwa terdapat keturunan terpilih dan berhak mengatur banyak hal dari kehidupan, hingga berhak mendapatkan tenaga kerja rakyat. Selanjutnya di era kapitalis mitos ini berubah dan digantikan oleh berbagai teori sosial yang mendukung kaum elit dalam status quonya. Dalam sistem mitologi borjuis terdapat asal-usul pembagian kerja di dalam masyarakat yang diyakini bermula dari sekelompok orang rajin dan tidak rajin.

Marx mengawali kritiknya terhadap akumulasi primitif Smith dengan gagasan bahwa kapital dan tertimbunnya kekayaan kelas pemilik sarana produksi merupakan hasil perampasan terhadap kekayaan sosial hasil kerja golongan lain. Yang menurut Smith kelas sosial tercipta secara damai dna sukarela. Smith menggunakan pendekatan kedekatan asali manusia serta asal-usul kepemilikan sebagai premis pertama, sementara Marx menggunakan penyelidikan historis dengan mangajukan bukti perampasan, kebijakan upah murah, pengusiran kaum tani, dan sebagainya yang terjadi di Asia, Afrika, dan Amerika. Akumulasi primitif Marx berusaha untuk menghapuskan keimanan di kalangan borjuasi bahwa kelas sosial yang timpang merupakan hasil dari proses pasar yang adil. Akumulasi primitif tidak dapat dipisahkan dari akumulasi kapital, dimana akumulasi kapital merupakan hasil dari eksploitasi di dalam sektor-sektor kapitalis dan tempat penciptaan nilai lebih. Misalnya di Indonesia, terjadi pengalihan lahan petani atau suku pedalaman yang dirampas dan dijadikat pusat industri.

Proletariasasi merupakan prasyarat beroperasinya kapital. Tanpa gologan ini tidak aka ada kapital, dan tanpa kapital tidak akan ada kapitalis. Secara puitis Marx menyampaikan “kapital hadir mengucur deras dari kepala hingga kaki, dari setiap lubang pori-pori, dengan darah dan kotoran” – Marx-ku 1990. Adanya proletariat akan sangat dibutuhkan oleh praktif sebagaimana dimaksudkan dalam akumulasi primitif saat ataupun setelah enclosure. Sudah tidak kaget lagi kalau jumlah urbanisasi semakin meningkat karena tidak adanya lahan garap di desa atau bertindak diri sebagai produsen langsung. Oleh karenanya, dengan mengakhiri rangkuman ini, penulis menekankan bahwa praktik enclosure telah ada sejak dahulu, tinggal menunggu praktik itu terjadi di dirimu, namun sebelum itu terjadi mari bersatu padu lawan praktik itu.

[1] Lahan garap bersama

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar