Student Loan sebagai Produk Industri Pendidikan Kapital

Oleh : Fara Fahira Dwi Fadzilah (HI 2017)

Latar belakang

Pendidikan merupakan proses mencerdaskan seseorang. Cerdas dalam artian tahu menggunakan akal dan tahu membedakan yang baik maupun yang buruk. Oleh karena itu, semua orang berhak untuk mengenyam pendidikan. Setiap negara akan berusaha meningkatkan kualitas pendidikannya. Pendidikan menjadi hal yang sangat krusial karena kualitas pendidikan di suatu negara akan menentukan bagaimana kualitas negara tersebut. Oleh karena itu, di setiap negara terbentuk sistem pendidikan yang berbeda di masing-masing negara dan idealnya akan merespon dan mengatasi permasalahan di negara tersebut.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.[1] Pernyataan bahwa pendidikan seseorang akan menentukan masa depan merupakan konstruksi sosial yang ada di masyarakat. Hal itu membuat pendidikan hampir semua negara menjadi sebuah komoditas yang menguntungkan bagi sebagian pihak. Terutama di negara-negara maju salah satunya seperti Amerika yang dana pendidikan sangat mahal. Akses pendidikan terutama pada jenjang perguruan tinggi semakin sulit bagi orang-orang yang kekurangan dalam finansial. Sehingga ada beberapa mahasiswa yang harus bekerja sampingan untuk mencukupi kebutuhan dan pembiayaan kuliahnya. Kondisi demikian memberikan sebuah peluang bagi perguruan tinggi untuk memberikan kemudahan pembayaran dana kuliah bagi mahasiswa dengan membuat berbagai aturan dan kebijakan yang dibuat sedemikian rupa agar antara mahasiswa dan pihak perguruan tinggi tidak ada yang dirugikan. Salah satu program yang terkenal di negara-negara maju adalah Student Loan.

Student loan adalah pinjaman yang ditawarkan oleh pihak perguruan tinggi untuk mahasiswa agar dapat melunasi biaya kuliah, buku-buku, dan biaya hidup. Peminjaman yang diberikan memiliki kontrak yang berbeda-beda sesuai dengan kebijakan perguruan tinggi. Tujuan student loan adalah untuk menjamin setiap warga negara memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya tanpa khawatir akan kehabisan dana.

            Pada pembahasan ini penulis berfokus pada program student loan sebagai produk dari industri pendidikan kapitalis. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, penulis menganalisis dampak yang ditimbulkan jika student loan diterapkan di negara-negara selatan (berkembang) dan jika sekiranya program tersebut benar-benar akan dilaksanakan.

Konsep Negara dan Kekuasaan

Dalam perspektif strukturalisme, pendidikan akan lebih dikaitkan dengan ekonomi sebagai basis. Strukturalisme bisa dilihat sebagai salah satu perspektif yang memprioritaskan pada gentingnya kondisi yang dialami orang-orang miskin, terpinggirkan, dan tertindas.[2] Pembangunan ekonomi adalah upaya akumulasi kapital yang keberhasilannya diukur dengan produk nasional bruto tahunan. Dalam proses itu, semua yang membantu akumulasi kapital harus digalakkan; yang tidak membantu dipersilahkan minggir.[3]

Ekspansi modal untuk akumulasi kapital seiring dengan perkembangan zaman saat ini bukan hanya mencakup bidang ekonomi saja, tetapi hal-hal yang sebelumnya bukanlah sebuah komoditas, kemudian dijadikan komoditas yang menguntungkan dan salah satu komoditas tersebut adalah pendidikan. Berbagai macam program-program pendidikan digalakkan oleh negara-negara di dunia untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya. Masalah finansial dalam pendidikan bukanlah menjadi halangan lagi bagi orang untuk mengenyam pendidikan karena pemberian pinjaman siswa student loan yang diterapkan di negara-negara maju sejak tahun 1965 menawarkan pinjaman dana untuk biaya kuliah, buku-buku dan bahkan biaya hidup mahasiswa. Terutama pada perguruan tinggi yang tingkat biaya pendidikannya cukup tinggi.[4]

Negara dalam strukturalisme dianggap sebagai perpanjangan tangan dari para kapitalis karena memiliki kekuasaan yang dapat mengatur regulasi dan tentu saja akan dimanfaatkan untuk kepentingan kaum-kaum kapitalis. Negara akan membuka sistem perekonomiannya dengan mengkomersialisasikan sektor pendidikan dalam artian negara melanggengkan penetrasi kapitalis. Hal itu terbukti dengan penggunaan kekuasaan negara dalam memberikan otonomi kepada pihak swasta untuk bekerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi dalam mengatur dan mengelola dana. Pemberian modal dari para kapitalis diberikan sebagai pinjaman dana kuliah bagi para mahasiswa dan dianggap sebagai utang karena mahasiswa sebagai konsumen.

Student loan memberikan keringanan sekaligus beban bagi mahasiswa karena harus membayar utang yang disertai dengan ketentuan pajak dan bunga yang tinggi. Bunga (interest) tersebut menjadi ladang keuntungan bagi pemilik modal. Sehingga otoritas negara akan berujung pada pemenuhan hasrat keuntungan bagi para pemilik modal atau kapitalis.

 

Pembahasan

Sistem pendidikan di negara-negara utara dinilai maju oleh negara-negara selatan, sehingga beberapa program pendidikan negara-negara selatan berpatokan pada negara-negara utara. Student Loan sebagai produk kapitalisme dihadirkan untuk membantu menyukseskan pendidikan di negara yang menerapkan program tersebut. Biaya pendidikan yang tinggi, terlebih di negara-negara maju membuat banyak warga susah untuk mendapatkan akses pendidikan, terutama jenjang perguruan tinggi. Student loan memberikan penawaran-penawaran yang dapat membantu untuk membiayai uang kuliah, buku-buku, serta biaya hidup mahasiswa. Tetapi perlu diingat bahwa dana tersebut merupakan utang yang harus dibayar baik selama pendidikan tersebut berlangsung ataupun saat telah lulus sebagai sarjana.

Pembahasan kali ini akan lebih mengkhusus pada program student loan. Apakah program student loan akan efektif jika diterapkan di negara-negara berkembang atau justru menjadi bumerang? Dan bagaimana dampak jika student loan benar-benar diterapkan di negara-negara selatan seperti Indonesia? Dalam analisis kali ini, pembahasan akan lebih fokus pada Indonesia yang diperkirakan akan menerapkan program student loan ini.

Di Amerika Serikat, student loan berbentuk pinjaman pemerintah (Federal Perkins Loan, Stafford loan, Federal Direct Student Loans, dan Federal student loan consolidation) dan pinjaman swasta yang diberikan oleh bank-bank retail. Menurut College Board, di tahun 2014–2015, biaya kuliah S1 di universitas negeri per tahun mencapai USD 23,000, sedangkan di universitas swasta mencapai USD 31,000. Ini belum termasuk biaya hidup dan biaya-biaya lainnya. Misalkan kita kalikan dengan 4 atau 5 tahun, tergantung berapa semester gelar berhasil diraih. Dari hal tersebut, bisa dipahami bahwa lulusan 2015 berutang hingga USD 120,000 selama 4 tahun kuliah S1. Penghasilan median Amerika Serikat di tahun 2014 adalah USD 51,400 dan ini mencakup mereka yang telah berpengalaman kerja cukup lama. Para lulusan baru (fresh graduates) entry-level menerima gaji sekitar USD 20,000 hingga USD 30,000 per tahun. Angka ini relatif bergantung dari berbagai faktor, seperti sektor industri, lokasi kerja (upah median berbeda setiap kota), dan skill yang dimiliki. Jumlah demikian untuk biaya hidup di kota yang biaya sewa apartemen satu kamar yang mencapai USD 1000 hingga USD 2,500 per bulan, tidaklah seberapa. Sisa yang ditabung pun bisa dipastikan nihil ataupun sangat minim.[5]

Laporan HSBC pada 2014 menyebutkan, bahwa biaya kuliah di Amerika adalah termahal ketiga setelah Australia dan Singapura. Dimana rata-rata, mahasiswa di Amerika membutuhkan biaya kuliah USD36.564 per tahun atau sekitar Rp485,67 juta. Angka ini sudah termasuk kebutuhan biaya hidup.[6] Sehingga, di Amerika Serikat, student loan sangat diperlukan untuk siswa yang benar-benar ingin melanjutkan pendidikan jenjang perguruan tinggi. Tetapi dengan syarat kontrak yakni pinjaman tidak dapat dihapuskan dan meskipun mahasiswa tersebut telah drop out atau mengalami status hukum pailit. Dengan demikian, student loan menjadi daya tarik bagi dunia perbankan untuk konsumen yakni mahasiswa itu sendiri.

Berdasarkan data tersebut, dapat kita simpulkan bahwa Indonesia belum siap untuk menerapkan program student loan untuk pembiayaan dana pendidikan di perguruan tinggi. Pinjaman pendidikan akan membawa akibat sosial dan ekonomi yang luar biasa, seperti penutupan perguruan-perguruan tinggi karena nihilnya biaya operasi, kepailitan para pemberi pinjaman (lender), dan sebagainya. Padahal, pendidikan tinggi adalah pilar penting suatu masyarakat dan negara. Selain itu, dampak yang ditimbulkan yakni utang mahasiswa bertambah dan utang negara pun juga ikut bertambah jika mahasiswa tidak dapat mengembalikan dana pinjaman tersebbut. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melansir, total utang pemerintah pusat mencapai Rp3.825,79 triliun per akhir Agustus 2017 atau bengkak Rp45 triliun dibandingkan posisi akhir Juli 2017, yaitu Rp3.779,98 triliun.[7] Padahal, dana pendidikan yang telah dianggarkan dalam APBN sebesar 20% juga belum cukup untuk membiayai keseluruhan jenjang pendidikan yang ada di Indonesia. Anggaran pendidikan tahun ini dipatok sebesar Rp416,1 triliun atau 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017. Anggaran itu mencakup anggaran rehabilitasi 81.879 ruang kelas di seluruh Indonesia, tunjangan profesi guru, dan bantuan operasional sekolah kepada hampir 54,7 juta siswa.[8] Untuk itu, jika Indonesia ingin menerapkan program student loan harus memiliki kerjasama dengan korporasi yang notabenenya adalah kapitalis. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik dan malah berubah menjadi bumerang, karena utang yang timbul akan memiliki bunga sehingga pelunasannya akan memakan waktu yang lama sedangkan masih banyak sektor pembangunan lain yang membutuhkan biaya dalam jumlah yang besar.

 

Kesimpulan

Pendidikan saat ini adalah sebuah komoditas dan setiap orang dianggap sebagai konsumen, sehingga akumulasi modal akan terus berjalan dengan adanya campur tangan pemerintah dalam pembuatan regulasi kebijakan ekonomi. Negara-negara dipacu untuk ikut dalam kondisi perekonomian global yang meliberalisasikan semua hal menjadi sebuah komoditas. Salah satu sektornya adalah pendidikan. Biaya pendidikan yang tinggi membuat program-program yang dicanangkan untuk membantu mahasiswa dalam mengatasi masalah finansial, ternyata memiliki motif tersembunyi untuk pencarian profit. Program student loan yang memberikan pinjaman kepada mahasiswa pada jenjang perguruan tinggi nyatanya bukan membantu, tetapi malah menambah beban utang mahasiswa karena tingkat bunga yang tinggi. Sebuah program yang memiliki “racun” tersembunyi dalam setiap bantuannya yang membuat penerima bantuan dapat meninggal kapanpun dan dimanapun.

 

Daftar pustaka

Buku

Sayyid, Nur. 2015. Kapitalisme, Negara, dan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Steans, Jill & Lloyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Subkhan, Edi. 2016. Pendidikan Kritis. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Jurnal

Dynarski, Susan. 2014. An Economist’s Perspective on Student Loans in the United States. Economic Studies. Michigan.

Website

Belajarpsikologi.com. Pengertian Pendidikan Menurut Ahli. diakses pada http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-menurut-ahli/ pada tanggal 18 November 2017. pukul 17:07.

Nadia, Rifa. Juni 2015. Siapkan 700 Juta untuk Kuliah di Amerika. diakses pada https://news.okezone.com/read/2015/06/22/65/1169589/siapkan-rp700-juta-untuk-kuliah-di-amerika pada tanggal 18 November. pukul 14:42.

Primadhyta, Safyra. September 2017. Utang Pemerintah Pusat Capai Rp3.825 Triliun per Agustus, diakses pada https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170922083527-78-243262/utang-pemerintah-pusat-capai-rp3825-triliun-per-agustus/ pada tanggal 18 November 2017, pukul 22:18.

Primadhyta, Safyra. Maret 2017. Bank Dunia Kritik Alokasi Anggaran Pendidikan Indonesia. diakses pada https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170321170233-78-201769/bank-dunia-kritik-alokasi-anggaran-pendidikan-indonesia/ pada tanggal 18 November 2017, pukul 22:23.

Xue, Jennie. November 2016. Gelembung Pinjaman Kuliah Amerika. diakses pada http://www.jenniexue.com/gelembung-pinjaman-kuliah-amerika/ pada tanggal 18 November 2017, pukul 14.23.

 

 

[1] Belajarpsikologi.com, Pengertian Pendidikan Menurut Ahli, diakses pada http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-menurut-ahli/ pada tanggal 18 November 2017, pukul 17:07.

[2] Jill Steans & Lloyd Pettiford, 2009, Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema, Yogyakarta, Pustaka Belajar, Hal 149.

[3] Nur Sayyid, 2015, Kapitalisme, Negara dan Masyarakat, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hal 192.

[4] Susan Dynarski, 2014, An Economist’s Perspective on Student Loans in the United States, Economic Studies, Michigan.

[5] Jennie Xue, November 2016, Gelembung Pinjaman Kuliah Amerika, diakses pada http://www.jenniexue.com/gelembung-pinjaman-kuliah-amerika/ pada tanggal 18 November 2017, pukul 14:23.

[6] Rifa Nadia, Juni 2015, Siapkan 700 Juta untuk Kuliah di Amerika, diakses pada https://news.okezone.com/read/2015/06/22/65/1169589/siapkan-rp700-juta-untuk-kuliah-di-amerika pada tanggal 18 November, pukul 14:42.

[7] Safyra Primadhyta, September 2017, Utang Pemerintah Pusat Capai Rp3.825 Triliun per Agustus, diakses pada https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170922083527-78-243262/utang-pemerintah-pusat-capai-rp3825-triliun-per-agustus/ pada tanggal 18 November 2017, pukul 22:18.

[8] Safyra Primadhyta, Maret 2017, Bank Dunia Kritik Alokasi Anggaran Pendidikan Indonesia, diakses pada https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170321170233-78-201769/bank-dunia-kritik-alokasi-anggaran-pendidikan-indonesia/ pada tanggal 18 November 2017, pukul 22:23.

1 comment on “Student Loan sebagai Produk Industri Pendidikan Kapital”

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar