Candu yang Nyata: Ke-adiktifan Indonesia Terhadap Pupuk Impor

Oleh : Muh. Andika M. Arafah (HI 2017)

Latar Belakang

Sejak dulu, Indonesia telah terkenal sebagai negara agraris. Dengan jutaan hektar lahan pertanian, tanah yang subur, sumber daya alam hayati melimpah dan sebagian besar penduduknya hidup dari pertanian menasbihkan Indonesia menjadi salah satu negara agraris terbesar di dunia.[1] Pertanian memberikan kontribusi yang sangat vital terhadap perekonomian maupun untuk pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Ditambah dengan kondisi penduduk Indonesia yang terus bertambah tiap tahunnya, berarti kebutuhan akan pangan pun akan meningkat.

Peningkatan penduduk yang signifikan setiap tahunnya, menurut data BKKBN laju pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,49% atau sekitar 4 juta jiwa setahun.[2] Hal ini mengharuskan Indonesia untuk bisa menggenjot produksi pangannya agar dapat memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memenuhi permintaan pangan dalam negeri, salah satunya dengan cara meningkatkan hasil produksi pertanian melalui intensifikasi pertanian. Intensifikasi pertanian ini ditempuh dengan program Panca Usaha Tani yang meliputi: pengolahan tanah yang baik, irigasi yang teratur, pemilihan bibit unggul, pemupukan, dan pemberantasan hama dan panyakit tanaman.[3]

Salah satu usaha peningkatan produksi pangan yaitu dengan pemupukan. Pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara atau nutrisi bagi tanaman. Saat ini, kebutuhan akan pupuk urea untuk pemenuhan produksi dalam negeri mencapai angka 15 juta ton pada tahun 2015.[4] Sementara pada tahun yang sama, produksi pupuk urea dalam negeri sendiri hanya berkisar 7 juta ton.[5] Dari data tersebut dapat diketahui bahwa Indonesia kekurangan sekitar 8 juta ton pupuk urea untuk produksi dalam negerinya.

Upaya yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi kekurangan tersebut mau tidak mau adalah dengan mengimpor pupuk dari negara lain. Impor pupuk Indonesia tercatat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2013-2015) berjumlah sekitar 19 juta ton yang diimpor dari berbagai negara.[6] Impor pupuk tersebut membuat Indonesia sangat bergantung terhadap suplai pupuk dari negara lain. Hal ini menjadi perhatian karena pupuk adalah unsur penting dalam produksi pangan, ketersediaan pangan memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap ketersediaan pupuk petani untuk berproduksi. Dalam membedah kasus ini, digunakan paradigma stukturalisme dalam hubungan internasional dan teori ketegantungan untuk menganalisis kasus ini.

 

Teori/Konsep

            Strukturalisme merupakan suatu perspektif luas yang merujuk dan dipengaruhi oleh ide-ide dan pemikiran Marxis.[7] Dari perspektif strukturalis, tatanan dunia kontemporer dibentuk oleh sistem kapitalis global dan sistem hubungan antar-negara.[8] Teori yang umum diketahui dari perspektif ini adalah teori sistem dunia dan teori ketergantungan (Dependensi).

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan teori ketergantungan dalam menganalisa kasus impor pupuk yang terjadi di Indonesia. Teori ketergantungan berasumsi bahwa hubungan yang terjadi di dunia internasional bersifat ketergantungan antara negara miskin terhadap negara kaya. Teori ini juga berpendapat bahwa imperialisme masih hidup, tetapi dalam bentuk lain yaitu dominasi ekonomi dari negara-negara kaya terhadap yang kurang maju (underdeveloped). Negara-negara maju memang telah melepaskan tanah jajahannya, tetapi tetap mengendalikan (mengontrol) ekonominya.[9] Dimana negara yang maju akan membuat negara-negara berkembang senantiasa bergantung terhadap mereka. Dalam kasus impor pupuk yang dilakukan oleh Indonesia, dapat dilihat secara jelas bahwa negara berkembang seperti Indonesia masih sangat bergantung terhadap negara-negara maju dalam memenuhi kebutuhan penduduknya.

 

Pembahasan

            Kebutuhan akan pupuk untuk produksi pangan di Indonesia adalah suatu keniscayaan. Karena dalam proses produksi pangan, pupuk adalah salah satu unsur terpenting yang dapat meningkatkan hasil produksi pangan petani. Data yang tercatat menunjukkan peningkatan kebutuhan pupuk terjadi setiap tahunnya. Hal itu disebabkan salah satunya karena kebutuhan produksi pangan yang juga meningkat setiap tahunnya yang disebabkan karena semakin banyaknya penduduk Indonesia yang membutuhkan pangan untuk kehidupan sehari-harinya. Namun, ternyata kebutuhan akan pupuk tersebut tidak dapat diimbangi oleh produksi pupuk dalam negeri. Tercatat kebutuhan nasional untuk pupuk sebesar 15 juta ton pada tahun 2015, tetapi produksi dalam negeri hanya berkisar 7 juta ton saja, dengan kata lain kurang dari setengahnya.[10] Sehingga pemerintah harus mencari alternatif untuk menutupi kekurangan tersebut, yaitu dengan mengimpor pupuk dari negara-negara lain guna memenuhi kebutuhannya.

            Kasus impor pupuk yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tercatat setiap tahun terjadi. Dari data yang diperoleh, menunjukkan angka impor pupuk Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya (tahun 2000-2015).[11] Tercatat hanya kurun waktu tahun 2008-2009 dan 2012-2013 saja angka impor pupuk Indonesia mengalami penurunan.[12] Data tersebut juga menunjukkan dari mana saja asal pupuk-pupuk impor tersebut. Tiongkok dan Kanada adalah penyuplai pupuk terbesar bagi Indonesia. Pada tahun 2015, Tiongkok dan Kanada tercatat meyuplai pupuk Indonesia masing-masing sebesar 33% dan 19%, kemudian disusul oleh Rusia, Malaysia dan Australia masing-masing sebesar 9%, 4,9% dan 4,5%.[13]

Ketergantungan Indonesia terhadap negara-negara maju dalam suplai pupuk dalam negeri sangat jelas terlihat dalam data di atas. Tiongkok, Kanada, Rusia dan Australia yang notabenenya merupakan negara-negara maju, tercatat sebagai negara penyuplai pupuk terbesar untuk Indonesia dengan presentase mencapai 61,4%. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa data tersebut juga menunjukkan bahwa bukan hanya negara-negara maju yang menyuplai pupuk untuk Indonesia, seperti Malaysia, Philipina dan Jordania, juga tercatat menyuplai pupuk untuk Indonesia, tetapi presentasenya sangat kecil dibanding dengan suplai dari negara-negara maju (hanya berjumlah 5% dari keseluruhan).

Impor pupuk oleh Indonesia tidaklah didapatkan begitu saja dari negara-negara penyuplai. Tentu ada harga yang harus dibayar untuk impor pupuk tersebut. Dalam data yang sama, pada tahun 2015 saja Indonesia harus mengeluarkan kurang lebih 2 juta dollar AS untuk mengimpor pupuk dari berbagai negara. Tentu bukan jumlah uang yang sedikit untuk impor pupuk tersebut. Dari total uang tersebut, sebanyak 56,5% masuk ke negara-negara maju, jika dinominalkan menjadi sekitar 1,23 juta dollar masuk ke Tiongkok, Rusia dan Australia.

Dampak ketergantungan Indonesia terhadap pupuk impor sangatlah merugikan bagi Indonesia sendiri. Yang pertama tentunya harga yang harus dikeluarkan pemerintah tidaklah murah untuk pupuk impor, bayangkan uang yang dipakai untuk mengimpor pupuk tersebut bisa diperuntukkan untuk sektor vital lainnya yang lebih membutuhkan, misalnya sektor pendidikan atau kesehatan. Yang kedua, ialah menambah ketergantungan itu sendiri terhadap negara-negara maju, hal itu menyebabkan semakin kuatnya cengkraman eksploitasi serta hegemoni dari negara-negara maju tersebut terhadap Indonesia. Dan yang terakhir adalah, kemandirian yang tidak akan pernah tercapai jika Indonesia terus dalam situasi seperti ini. Slogan-slogan berdiri di kaki sendiri hanya akan menjadi angan belaka jika Indonesia tidak berani memutuskan rantai ketergantungan terhadap negara-negara maju.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat dilihat secara jelas, bahwa teori dependensi tepat menggambarkan hubungan antar-negara dimana negara-negara yang berkembang sangat ketergantungan terhadap negara-negara maju. Dalam hal ini, ketergantungan Indonesia terhadap pupuk impor yang terjadi setiap tahunnya, sehingga membenarkan teori tersebut.

Jika hal ini terus terjadi, menurut hemat penulis akan sangat membahayakan bagi Indonesia itu sendiri. Dimana kondisi seperti ini akan mengancam kedaulatan pangan, dan ketika kedaulatan pangan terancam maka akan mengancam kedaulatan negara itu sendiri. Sebuah bangsa yang besar sudah semestinya dapat memenuhi kebutuhan pokok masyarakatnya secara mandiri, tidak bergantung terhadap suplai dari negara lain. Sudah saatnya Indonesia berdaulat atas pupuk, dan akhirnya berdaulat atas pangan. Waktunya untuk reforma agraria digalakkan.

 

Daftar Pustaka

Buku

Budiardjo, Miriam.(2008).Dasar-dasar Ilmu Politik.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Website

George, Susan.2007.Pangan: Dari Penindasan Sampai ke Ketahanan Pangan.Yogyakarta: KSSPM & INSISTPress.

Pettiford, Lloyd & Jill Steans.2009.Hubungan Internasional: Perspektif dan

            Tema.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Website :

BKKBN.September, 2016.Laju Pertumbuhan Penduduk 4 Juta Per Tahun. Diakses pada: https://www.bkkbn.go.id/detailpost/laju-pertumbuhan-penduduk-4-juta-per-tahun.

Anonim.November, 2016.Usaha Meningkatkan Hasil Pertanian. Diakses pada: http://www.berdesa.com/usaha-meningkatkan-hasil-pertanian/ .

APPI.2015.Kebutuhan Pupuk Urea 2006-2015. Diakses pada: http://www.appi.or.id/?statistic.

BPS.Februari, 2017.Impor Pupuk Menurut Negara Asal. Diakses pada: https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1044.

 

[1]Hira Jhamtani. (2005, November). Pangan: Dari Penindasan Sampai ke Ketahanan Pangan.Yogyakarta.KSPPM & INSISTPress. Halaman vii

[2] BKKBN. (2016, September). Laju Pertumbuhan Penduduk 4 Juta Per Tahun. Diakses pada: https://www.bkkbn.go.id/detailpost/laju-pertumbuhan-penduduk-4-juta-per-tahun. Pada tanggal 18 November 2017, pukul 09:04.

[3] Anonim. (2016, November). Usaha Meningkatkan Hasil Pertanian. Diakses pada: http://www.berdesa.com/usaha-meningkatkan-hasil-pertanian/ . Pada Tanggal 18 Novermber 2017, pukul 9:16.

[4] APPI. (2015).Kebutuhan Pupuk Urea 2006-2015. Diakses pada: http://www.appi.or.id/?statistic. Pada Tanggal 18 November 2017, pukul 9:42.

[5] Ibid.

[6]BPS.(2017, Februari).Impor Pupuk Menurut Negara Asal. Diakses pada: https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1044. Pada tanggal 18 November 2017, pukul 10:00.

[7]Lloyd Pettiford.(2009).Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema.Yogyakarta.Pustaka Pelajar. Halaman 201.

[8] Ibid.

[9] Miriam Budiardjo.(2008).Dasar-dasar Ilmu Politik.Jakarta.Gramedia Pustaka Utama.

[10] BPS.Op Cit.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar