Kampus Rasa Pabrik

Oleh: Mohammad Nur Fiqri (HI 2015)

Email:mohammadnurfiqri@gmail.com

Setahun lalu di awal bulan, perayaan aksi mengecam kick-off PTN-BH (dan rentetan aksi di belakangnya) di UNHAS menghadiahkan kami pembungkaman tanpa keraguan lewat tinju, tendangan, barikade satpam tak kenal ampun.[1] Setahun sebelumnya, lantaran beraktivitas malam beberapa kawan kami dihadiahkan SK Skorsing. Berselang waktu singkat, SK Skorsing kembali bertebaran, kali ini menyasar Amel (Rezki Ameliyah Arief) dan saya karena menempel beberapa lembar poster bertajuk Kampus Rasa Pabrik. Di saat yang bersamaan, kawan-kawan kami di fakultas teknik bahkan ‘ditembak’ SK Dropout.

Saya percaya kejadian ini bukan suatu kalap hati para pengambil kebijakan. Hari ini, institusi pendidikan –setidaknya di Indonesia- begitu ketat dan tangkas merespon aktivitas mahasiswa yang dianggap ‘subversif’. Kapanpun dan siapapun bisa dengan mudah dihardik satpam kampus, dihadiahi skorsing maupun dropout dan dicecar oleh media kampus bertopengkan “netralitas” sebagai pembenaran.

Bukankah institusi pendidikan adalah ruang dialogis untuk memupuk kritisisme dan bukan sebaliknya? Ini mengingatkan saya bagaimana negara memberangus kritisisme yang melunjak –terutama yang menyinggung sejarah, isu kemanusiaan dan beberapa nama besar korporasi x negara/partai, menyerobot pesona demokrasi otoritatif a la kelas borjuasi, yang kian dipertanyakan keabsahannya.

Kampus Rasa Pabrik adalah gugatan yang melampaui apa yang disebut oleh beberapa orang gejolak idealisme muda. Gugatan ini tumbuh dari kesadaran kalau kampus adalah ruang sosial dengan aspek material (ekonomi-politik) yang tidak terpisahkan dari ketimpangan struktur masyarakat. Sehingga kampus akan terus-menerus memastikan dudukannya di setiap era, letupan bahkan mutasi sistem kapitalisme. Sederhananya, kampus turut andil dalam kemapanan ‘sistem distribusi nilai’ hari ini, termasuk buruh akademik di dalamnya, termasuk mahasiswa yang memproduksi nilai intelektual.

Oleh karena itu, memahami kampus (termasuk tindak tanduknya yang kian fasis) sepenuhnya adalah upaya mengenali posisinya dalam medan pertentangan kelas hari ini. Tapi, apa sesungguhnya yang kita sebut ‘medan’ ini? Bagaimana kapitalisme jaman now beroperasi? Beberapa teoritikus menyebut era ini kapitalisme pasca-fordisme atau beberapa menyebutnya pasca-industri. Dimana kandungan nilai imaterial, spesialisasi kerja, keintiman eksploitasi subjek (pekerja immaterial) dan eksploitasi “as the expropriation of the common..”[2] atau menjadikan apa-apa yang umum sebagai bahan mentah produksi begitu banalnya. Terutama kemenjadian kampus menjadi pabrik.

Post-Fordism dan Immaterial Labors

Membayangkan kapitalisme seperti yang dianalogikan Ferdnand Braudel “Manakala kapitalisme diusir lewat pintu, ia akan masuk kembali lewat jendela[3], adalah upaya yang cukup mudah dalam melihat sistem ini beradaptasi ‘menyelamatkan diri’ setiap kali krisis. Pengorganisasian kerja lewat massifikasi komoditi yang diperkenalkan Henry Ford dan dirampungkan oleh penelitian Frederick Taylor hanya berjaya di tahun 1950-an dan menantikan ajalnya di peghujung 1960-an. Beberapa ahli ekonomi-politik menyebut ini era kapitalisme fordisme. Kejatuhan fordisme ialah resesi ekonomi di kisaran tahun 1973 dan letupan-letupan resistensi buruh di negara industrialis saat itu. Jatuhnya fordisme dan lahirnya kapitalisme pasca-fordisme disebut oleh Lazzarato sebagai the great transformation.

Kegagalan kapitalisme fordisme menyisakan setidaknya beberapa pelajaran berharga bagi kelahiran kapitalisme pasca-fordisme. Pertama, produksi massal dan homogen terutama di lini perakitan dan manufaktur menghadapi tantangan pasca 1970-an. Sistem ekonomi yang menitikberatkan pada permintaan menimbulkan resesi ekonomi yang memantik resistansi buruh di masa itu. Sehingga poros produksi dan konsumsi bergeser pada bagaimana tidak hanya komoditi, namun menciptakan relasi sosial untuk memanipulasi penawaran atas komoditi tersebut. Intinya, bagaimana membuat wants dibuat seolah-olah needs.[4]

Belajar dari situ, corak produksi pun (harus) terspesialisasi dan bersifat lentur. Spesialisasi meniscayakan adanya upgrade di pola produksi. Salah satunya lewat imaterialisasi kerja yang memunculkan apa yang disebut oleh Lazzarato sebagai pekerja immaterial. Pekerja immaterial adalah pekerja yang memproduksi konten informasional dan kultural dari komoditi.[5] Aktivitas produksi pekerja immaterial di fase akhir 1970-an didefinisikan sebagai medannya “mass intellectuality” dimana, “… not only the composition, management, and regulation of the workforce –the organization of production- but also, and more deeply, the role and function of intellectuals and their activities within society.”[6]

Karenanya, produksi tidak hanya membutuhkan strategi elementer (komposisi, manajemen dan regulasi tenaga kerja manual saja) sebagaimana lazimnya. Corak produksi kian ‘dimutasi’ ketika era digitalisasi dan komputerisasi merembes menjadi salah satu basis produksi. Proses melahirkan labor force –lewat studi, penelitian, pelatihan, seminar, dsb-, harus disesuaikan sebagaimana atmosfir industri.

Pola produksi secamam ini membelah pekerja menjadi “pekerja kasar” (buruh, tani, termasuk cleaning service yang membersihkan wc lembaga kemahasiswaanmu) dan “pekerja kerah putih” (sarjana, ahli, akademisi, pengajar, dsb) yang dicetak institusi pendidikan untuk mengisi kebutuhan sistem akumulasi kapital. Apa yang disebut Lazzarato sebagai informational and cultural content dari komoditi, dimaksudkan bagaimana produksi ide/gagasan para “kaum intelektual” dapat diserap oleh pasar. Untuk menciptakan inovasi dan memantik konsumsi terhadap komoditi yang ‘terpercaya’. Sederhananya, intelektualitas tersebut memanifestasikan relasi sosial. Para ilmuwan diharapkan terus memproduksi penemuan baru, serta gagasan/narasi yang memastikan ilusi konsumsi terus terjadi (menciptakan kebutuhan) dan pembangunan berkelanjutan terdengar “masuk akal”.

Kedua, pengorganisasian kerja fordisme menuntun pekerja selaku subjek yang pasif dan kontrol yang terpusat. Pekerja di pabrik tinggal menunggu komando dan pembagian tugas saja. Pengorganisasian kerja pasca-fordisme mengevaluasi hal ini. Para pekerja immaterial mengalami “mutasi” di bagian pengorganisasian kerja (terutama eksploitasi diri mereka).

Dalam ekonomi pasca-fordisme dimana produksi aspek immaterial membentuk dan merasionalkan suatu relasi sosial, maka yang jadi raw materials adalah subjektifitas (kedirian; psikologi, mental, kapasitas diri, dsb) dan ideological environment dimana subjek itu hidup dan diramu.[7] Maka konstruksi subjek yang “produktif”, “disiplin”, “berdaya saing” dan “aktif” melatarbelakangi suatu skema social control.

Dengan begitu aspek subjektifitas diri pekerja perlu disesuaikan dengan “kurikulum dan standar kompetensi” yang cocok dengan corak produksi pasca-fordisme. Kompetensi untuk berbahasa, manajemen, komunikasi dan kreativitas adalah yang paling dasar. Ini erat kaitannya dengan adaptasi kebutuhan angkatan kerja dengan era yang disebut Ernest Mandel, revolusi teknologi ketiga (revolusi informasi).[8] Dimana corak produksi kapitalisme kawin mawin dengan informasionalisasi yang kian menjadikan dunia semakin ilutif, cepat dan terlipat.

Angkatan kerja dituntut (oleh pasar) bermutasi sedemikian rupa menjadi sekumpulan subjek-subjek yang mempunyai inisiatif kerja terutama dalam berkerjasama dan membangun jaringan. Setiap pabrik (kampus) perlu untuk memenej tidak hanya tindakan tapi juga emosi, pikiran dan mental pekerja (mahasiswa) ke dalam sirkulasi sistem “akumulasi kapital”. Tidak heran apabila sedari mental setiap pekerja immaterial sulit membedakan mana yang hidup dan mana yang kerja. Kerja dalam pengertian sistem kapitalistik yaitu produksi komoditi dan penyerapan nilai lebih, seakan berubah menjadi takdir manusia, suatu linearitas hidup yang tak terelakkan sebelum mati.

Ketiga, jatuhnya ekonomi fordisme terjadi, selain karena resesi ekonomi, juga dikarenakan tingkat kejenuhan lingkungan kerja yang tak tertahankan dan pada akhirnya meledak menjadi satu gelombang protes besar-besaran. Dalam ekonomi pasca-fordisme, diperlukan logika “penyidiplinan” pekerja dimana dimanipulasikan semacam ideological environment  yang dapat memperkecil bahkan me-manusiawi-kan kontradiksi-kontradiksi yang dirasakan para pekerja.

Ada beragam cara punishment & reward dasar untuk menghadapi gejolak pekerja. Kapitalisme pasca-fordisme mengembangkan ini menuju ke konsep eksploitasi ruang dan waktu yang nihil secara fisikal. Negri dan Lazzarato menggunakan terma “diffused factory” atau pabrik yang tak berdinding.[9] Hal ini dapat dimungkinkan dikarenakan segala aspek yang diolah adalah aspek subjektifitas. Keahlian, kemampuan konseptual dan pengambilan keputusan itu mencakup keseluruhan hidup seseorang. Sehingga, ekonomi pasca-fordisme mengangkat ini sebagai keuntungan dimana kualitas seseorang akan terus dipoles sedemikan rupa mengikuti kebutuhan pasar.

Menggugat Kampus

Ketiga pelajaran “berharga” di ranah pengorganisasian kerja pasca-fordisme, seketika mengingatkan kita apa yang terjadi dengan institusi pendidikan tinggi hari ini. Kapitalisme tidaklah konservatif sama sekali, ‘dia’ mampu bermutasi jadi eksploitasi yang bersolek manusiawi sekalipun. Mengutip ungkapan Sean M. Sheehan, kapitalisme bisa memanusiawikan komoditas dan menggali hasrat bawah sadar yang terlarang.[10] Para buruh akademik (sadar atau tidak sadar) sedang di-komodifikasi-kan di bawah sesat pikir sistem kelas hari ini. Misalnya, Konferensi Pers RISTEKDIKTI akhir bulan lalu betapa menunjukkan laten komodifikasi pendidikan lewat lompatan era Revolusi Industri 4.0.[11] “…yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation.” Lompatan ini kian menunjukkan pemosisian kembali institusi pendidikan tinggi dalam rantai hajat kebutuhan akan kerja-kerja immaterial dalam pembangunan ekonomi nasional yang sebenarnya agenda kapitalisme itu sendiri.

Dengan kata lain, institusi pendidikan tinggi hari ini sama saja dengan industri yang mencetak sarjana-sarjana selaku komoditi (sepaket dengan nilai intelektualnya) yang “kompeten” dan sayangnya, teralienasi. Alienasi berasal dari logika pasca-fordisme yang memanipulasi atmosfir belajar di kampus layaknya atmosfir pabrik. Ragam upaya seperti; internasionalisasi kampus-kampus, pengetatan jam kuliah dan waktu studi, menjamurnya kuliah ataupun pelatihan beraroma kewirausahaan, menjamurnya job fair (bursa kerja), “penjinakkan” organisasi kemahasiswaan, pengembangan teaching industry, penarikan tarif aset (termasuk mace-mace[12] kantin kalian) yang kian melunjak, tetek bengek tugas kuliah berbasiskan dan meta-narasi Research University, mencoba menanamkan logika “pabrik” sedari pikiran untuk mencipatakan para sarjana yang mampu bersaing, kompeten dan dengan welas hati menerima kapitalisme sebagai sistem yang “manusiawi”.

Hal ini sangatlah ironis. Terutama ketika kita mengingat kembali bahwa kampus adalah ruang dimana gagasan diciptakan. Marx dalam teks Fragment on Machine mendirikan suatu konsep “kecerdasan umum” atau general intellect.[13] Marx bermaksud menjelaskan general intellect sebagai seperangkat pengetahuan, kompetensi, kemampuan linguistik dan cara-cara melakukan sesuatu dalam masyarakat, namun semakin tersedia dalam takar yang berbeda-beda banyak kurangnya di “setiap orang”.[14] Dan ini terjadi apabila aktivitas intelektual tersebut menjadi the true mainspring of the production of wealth (…menjadi dorongan utama dalam produksi kekayaan).[15]

General Intellect atau kecerdasan umum yang dimaksudkan Marx, diterjemahkan oleh Boutang sebagai modalitas intelektual.[16] Institusi pendidikan hari ini mengkomodifikasikan modal intelektual ini. Semakin modal intelektual tersebut bersesuaian dengan kualifikasi pasar, semakin mahal biaya yang perlu dibayar dan (tentunya) semakin sempit akan akses tersebut. Kampus hari ini mereplikasi sifat dan karakteristik pabrik yang market oriented. Proses belajar-mengajar bukan lagi ruang kritis, melainkan proses ‘produksi’ nilai intelektual yang punya nilai-guna dan nilai-tukar di dalam pasar. Di titik ini, mahasiswa menjadi subjek yang paradoks, dimana bekerja di kampus layaknya buruh namun juga sekaligus ‘perantara’ nilai intelektual yang tidak dibayar (sebaliknya malah membayar) oleh pasar.

Mendekati akhir tulisan, kampus rasa-rasanya berubah bak seonggok pabrik dengan logika pemenjaraan yang diberi tampakkan manusiawi dan elegan. Dilabeli, diawasi, di-sertifikat-kan, di-piagam-kan dan didisiplinkan adalah bentuk-bentuk pengkerdilan atas kebebasan, mirip penjara panoptic[17] yang mengekang dan (sialnya) memberikan suatu ambisi hidup yang ilutif. Jangan heran ketika kampus mudah saja me-nina-bobo-kan mahasiswa (bahkan lembaga mahasiswanya), toh imajinasi kritisismenya sedang dikubur hidup-hidup.

Untuk itu, mahasiswa harus berhenti merefleksikan diri lewat buaian romantisme agent of change atau moral force yang mengandaskan kesadaran sebagai (juga) kelas yang tereksploitasi. General Intellect mestinya dijadikan senjata untuk merebut diskursus yang ‘umum’ (the common) mempertajam kontradiksi kelas di masyarakat. Kalau kampus sudah menjelma menjadi pabrik, pasar sudah mengambil-alih ‘kontrol’ atas rasa dan rasio mahasiswa, perebutan secara paradigmatik adalah keniscayaan. Rebut ruang kelas, diskusi, setiap ruang dialektik yang jadi ruang produksi gagasan. Galang solidaritas buruh akademik, lalu strike! Layangkan tinju yang sepadan di ‘wajah’ kampus rasa pabrik!

[1] Untuk video tindak kekerasan aksi damai Tolak PTN-BH bisa diakses (https://www.youtube.com/watch?v=KiVnqxUdVZE).

[2] Baca Cesare Casarino & Antonio Negri (2008) In the praise of the Common, Minnesota: The University of Minnesota Press, hlm. 15.

[3] Celotehan Fernand Braudel dalam salah satu karya klasiknya Civilization and Capitalism 15 th – 18 th Century Volume II: the Wheels of Commerce

[4] Hizkia Yosie Polimpung, dkk (2011) Mengapa Steve Jobs Tidak Begitu Inovatif: Kapitalisme Apple, Pasca-Fordisme dan Implikasinya, Jurnal Mondial, hlm.21

[5] Maurizio Lazzarato (1996) Immaterial Labor dalam M. Hardt & P. Virno (Radical Thoughts in Italy: A potential Politics) Minnesota, University of Minnesota Press, hlm. 132.

[6] Ibid, hlm. 133

[7] Ibid, hlm. 142

[8] Baca Ernest Mandel dalam Late Capitalism (1972). Bisa diakses melalui (https://www.marxists.org/archive/mandel/1972/latecap/index.html).

[9] Fajar Sargani (2015) Mengenal Pekerja Immaterial, dalam Harian Indoprogress. Bisa diakses melalui (https://indoprogress.com/2015/10/mengenal-pekerja-immaterial/).

[10] Sean M. Sheehan (2014) Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan, Serpong: Marjin Kiri.

[11] Selengkapnya dalam Website RISTEKDIKTI. Bisa diakses melalui (http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/index.php/2018/01/30/era-revolusi-industri-4-0-saatnya-generasi-millennial-menjadi-dosen-masa-depan/).

[12] Di kampus saya kami menamai ibu-bapak menjual dengan panggilan mace-pace. Hal ini dikarenakan alasan kedekatan emosional.

[13] Beberapa catatan Marx yang diterbitkan dengan judul Grundrisse.

[14] Andre Barahami (2015) Negara, Kapitalisme Kognitif dan Tendensi Apologetik Fatalis Soal Pendidikan, dalam Harian Indoprogress. Bisa diakses melalui (https://indoprogress.com/2015/02/negara-kapitalisme-kognitif-dan-tendensi-apologetik-fatalis-soal-pendidikan/#_edn1).

[15] Paulo Virno (2004) A Grammar of the Multitude: For an Analysis of Contemporary Forms of Life, New York: Semiotext(e), hlm. 38.

[16] Baca Yaan Moulier Boutang (2011) Cognitive Capitalism, Cambridge: Polite Press.

[17] Baca Michel Foucolt

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar