BEM-U: Dari mana dan kemana?

oleh: Mohammad Nur Fiqri(HI 2015)
Email:mohammadnurfiqri@gmail.com

Diskursus pembentukan Bem Universitas (disingkat BEM-U) hadir bak oase di tengah-tengah kelesuan AUB (Aliansi Unhas Bersatu). Mendadak konsolidasi tampak hidup, kiri-kanan mengevaluasi status quo, meributkan aliansi yang saat ini dijadikan wadah. Jujur saja, naiknya diskursus BEM-U adalah yang paling menjemukkan, repetitif, paling tidak sehat –tingkat kontaminasi politik praksis yang tinggi– dan selalu berujung perpecahan di tubuh gerakan. Egosentrisme masing-masing lembaga (fakultas) jadi bumbu distraksi paling pas. Sementara kita sibuk beradu, perkara lainnya seperti privatisasi kampus (PTN-BH bersama anak-anaknya) sampai pembasisan elemen-elemen kampus keluar dari cengkaraman formasi sosial neolib pendidikan, justru terlupakan.
Di beberapa hari yang membingungkan, saya tangkapnya BEM-U (meminjam istilah Laclauian) secara gamblang dilihat (oleh beberapa pihak) sebagai sebuah empty signifier atau “penanda kosong” layaknya ruang kontestasi untuk membentuk logika hegemoni baru di tubuh gerakan AUB atau entah apa namanya. Pemaknaan BEM-U dipelintir melalui perebutan imajinasi masing-masing lembaga soal nantinya struktur BEM-U yang kolektif maupun deliberatif. Sayangnya, tidak demikian BEM-U adanya. Karena BEM-U sendiri tak lain adalah sebuah paket berupa model gerakan, layaknya aliansi, federasi, komune, dsb. BEM-U sendiri tidak meniscayakan kolektifitas, demokrasi langsung dan penggiringan wacana dari grassroots, tapi BEM-U mengakomodasi sentralisasi kekuasaan, otoritas struktural dan kemewahan menjadi elit kampus.
Pertanyaannya, bagaimana BEM-U dan basis kampus hari ini? BEM-U erat hubungannya dengan kondisi basis materiil (basic structure) di kampus. Sedang, realitas kampus juga realitas kapitalisme global. Pada era postfordisme yang kaffah ini, kampus beralih menjadi pabrik yang mencetak tenaga kerja siap pakai. Mengapa kampus? Sejak kejatuhan model ekonomi pasca perang dunia (baca: fordisme) yang menitiksentralkan produksi homogen dan peranan negara sebagai pengendali pasar, telah mendesak lahirnya flexibility (kelenturan pasar) untuk mengobati sendi-sendi kapitalisme yang rapuh.
Kelenturan berarti, pertama varietas produk yang berorientasi penawaran (tidak lagi permintaan) sehingga produk tidak lagi bersifat massal nan homogen, tapi dituntut kian aneh dan beragam. Karena permintaan bukan lagi jadi ihwal yang utama, penawaran perlu mengisi celah-celah yang jadi dambaan masyarakat kekinian. Dari fidgetspinner sampai Iphone model kesekian-kalinya terus ditawarkan. Soal berfaedah atau nirfaedah, pasar yaa kalem saja. Kedua, kelenturan berarti merembesnya pendefinisian ‘kerja’ yang diperluas tidak hanya pada produksi materiil namun juga imateriil –ide, ilmu dan relasi sosial. Untuk memastikan kapitalisme tumbuh subur dan langgeng berakumulasi, relasi sosial perlu diproduksi dan dipelihara baik-baik, lewat atribut represif, konstitusi hingga distorsi iklan yang intinya mendukung branding.
Dengan kata lain, kapitalisme telah sampai pada babak ekspansi pasar untuk menjamah semesta hidup manusia di luar tatanan ekonomi, seperti hukum, budaya, politik dan barang/jasa publik lainnya termasuk pendidikan. Berbeda dengan pendidikan dasar, pendidikan tinggi jauh lebih memikat hati pasar. Kenapa bisa? Positional advantage atau keuntungan posisi (sertifikasi buat melamar kerja) dalam dunia kerja hanya ada di perguruan tinggi yang termanifes ke dalam spesialisasi bidang kerja dan jurang epistemik antar ilmunya.
Sehingga, kampus dan perusahaan (pasar pekerjaan) perlu untuk mengikat buruh-buruh imateriil (baca: mahasiswa) dan segenap buruh kampus –dosen, rektor, outsourching, staf, satpam, media kampus sampai mace-mace di kantin-kantin kampus– untuk banting tulang menghasilkan surplus nilai berupa relasi sosial. Kampus wajib untuk membentuk sekaligus menjaga relasi sosial –mahasiswa sebagai para calon buruh perusahaan– untuk menopang sistem yang mapan ini. Jatuhnya pembacaan basic structure kampus atau posisi mahasiswa dalam rantai kapitalisme global, malah membawa salah satu perdebatan paling ditunggu-tunggu, yakni soal BEM-U malah digiring ke ranah-ranah esensial seperti identitas politik atau idealisme ke-UNHAS-an yang begitu baper-nya!
Pendidikan tinggi yang terkooptasi oleh pasar perlu mengamalkan logika pasar pula. Ujud dan wujud investasi serta logika quality-based yang sewajarnya melatarbelakangi kompetisi dan perebutan akreditasi ditujukan untuk human capital. Relasi sosial yang membutuhkan logika pasar ini lalu yang termakhtubkan di serangkaian kebijakan neoliberalisasi sektor pendidikan, termasuk PTN-BH yang hari ini UNHAS bangga-banggakan. Konsekuensi PTN-BH bukan sekedar dramatisnya kenaikan UKT dan sewa aset (terutama sewa kantin mace-mace), namun juga ‘pemposisian’ lembaga kemahasiswaan dalam skema yang ‘jinak’ dan ramah akreditasi plus citra. Salah satunya lewat duduknya mahasiswa di kursi MWA (Majelis Wali Amanat) melalui dalih penyampaian sikap yang lebih elegan.
BEM-U yang kita geluti dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, hidup pada kebrutalan basis materil ini. PTN-BH yang menghendaki kehadiran badan yang mewakili mahasiswa UNHAS untuk duduk di MWA sebagai amanah statuta UNHAS yang sudah jadi PTN-BH. Kehadiran BEM-U ialah tak lain untuk memperlancar kampus dalam rentetan proses manajemen administrasi maupun dana kemahasiswaan, pendongkrak akreditasi dan yang paling penting, memastikan kampus tetap kondusif.
Sadar atau tidak sadar, BEM-U hadir untuk membantu memapankan basic structure kampus rasa perusahaan. Sebagaimana perusahaan membutuhkan serikat buruh yang ‘jinak’ dan ‘ramah’, maka lembaga kemahasiswaannya pun harus bisa dikooptasi agar dapat diajak ‘bermanja-manjaan’. Kalau usaha ‘penjinakkan’ oleh aparatus represif kampus atau pembubaran sangat tidak ramah media lalu bisa mencoreng akreditasi kampus, maka saluran non-represif pun perlu dimainkan, semisal pelembagaan gerakan lewat bentuk (BEM-U) maupun sepaket aturan (misal, Peraturan Rektor tentang Organisasi Mahasiswa). Harapannya tentu, mengkrangken isi kepala tiap mahasiswa untuk agenda emansipasinya lewat sentralisasi kekuasaan (top-down). Padahal emansipasi itu tumbuh tidak dari bilik-bilik yang men-subordinat-kan nyanyian para akar rumput.
Hadirnya BEM-U dalam bincang-bincang kita, juga otokritik terhadap status quo gerakan hari ini. Ini bukan soal meng-oposisi-biner-kan aliansi. Kalau kita bersepakat ada masalah di ‘pijakan ideologis’ kita, maka masalah terbesarnya ada di pola kaderisasi di tiap dapur kita, karena disitu gagasan tandingan diproduksi. Kaderisasi yang tidak mengedepankan kesadaran kritis hingga kelas dengan sendirinya memelihara kesadaran semu dan alienasi. Kaderisasi yang masih menumbuh-suburkan simbol-simbol fasis, supremasi senior, bahkan anti-kritik, dengan sendirinya menciptakan para majikan baru. Kalau dapur tak kunjung kita benahi, logika patronase tak kunjung diretas, maka apapun bentuknya, AUB, BEM-U, Komune atau Komite Mahasiswa sekalipun tak ada gunanya.
Makanya, perlu kiranya kita hadiahi neolib pendidikan dengan hadiah yang sepadan. Pengorganisasian yang cakap sedari para intelektual organiknya hingga gagasannya. Gerakan perlu didasari semangat inklusifitas yang mampu menghancur-leburkan status quo yang mengamini untuk segelintir kalangan saja, seperti basis fakultas. Semangat egaliter dibutuhkan untuk menumbuhkan kedekatan gerakan dengan aras akar rumput. Salah satunya dengan tidak memberikan celah sentralisasi kekuasaan dan subordinat sebagai pijakan gerak, layaknya BEM-U.
Sehingga logika BEM-U sebagai kebutuhan gerakan patah dengan kondisi materil kampus. Ini samasekali bukan soal gerakan mahasiswa atau keperluan pemahaman otonomi kognitif (nilai-nilai independen dan tandingan sistem) yang seharusnya jadi nafas tiap kaderisasi akar rumput. Kampus adalah medan perebutan produksi kognitif, BEM-U jelas bukan alat perjuangan yang menjanjikan. Sedari logika internal yang meliputi pijakan ideologis hingga bentuk pengorganisasian, BEM-U yang kawan-kawan bangun di fungsi khayal masing-masing, sudah bermasalah. Sudah waktunya untuk menyudahi BEM-U dan mulai bicara soal upaya pembasisan elemen-elemen kampus, menggaungkan (kembali) protes pada neoliberalisasi pendidikan. Dari pada BEM-U, mari kita rencanakan ‘pendudukan’ kampus!

Bacaan:
Anugerah, Iqra. 2015. ‘Anti-Demokrasi’: Sebuah Telaah atas Konsep Demokrasi dan Segenap Pembacaannya (Bagian 1). Dapat diakses pada (https://indoprogress.com/2015/04/anti-demokrasi-sebuah-telaah-atas-konsep-demokrasi-dan-segenap-pembacaannya-bagian-1/). Diakses pada tanggal, 28 September 2017.

Kumbara, Ken. 2015. Membangun Solidaritas Buruh Akademik: Meretas Jalan Menuju Otonomi Produksi Pengetahuan. Dapat diakses pada (https://indoprogress.com/2015/04/membangun-solidaritas-buruh-akademik-meretas-jalan-menuju-otonomi-produksi-pengetahuan/). Diakses pada tanggal, 28 September 2017.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar