Idhul Qurban: Wujud Refleksi Penumpasan Serakahnya Kapitalisme

Oleh: Ahmad Asrul Azwar Irfan (HI 2015)
Email:asrulazwarirfan@gmail.com

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd” Seruan takbir sekaligus tahlil bercampur aduk dikumandangkan pertanda hari raya Idhul Qurban (mayoritas masyarakat menyebutnya Idhul Adha) telah tiba. Binatang-binatang qurban pun rela diikhlaskan demi meminimalisir bahkan menumpaskan sifat ‘kebinatangan’ umat manusia. Adakah dari kita memaknai Idhul Qurban itu sendiri?

Tulisan ini dihaturkan kepada para pembaca dan juga terutama kepada saya sendiri sebagai penulis untuk merefleksikan makna dari Idhul Qurban –yang paling penting adalah makna Qurban, sebagai momentum yang tepat bahwasanya sebagai manusia, yang tak terhindar dari perbuatan keji, mesti di-tabayyun-kan. Momentum ini mampu membangkitkan semangat ‘qurban’ kita dan semoga mendekatkan kita dari humanisasi yang ideal dengan melihat realitas sosial yang terjadi sekarang ini.

Sebelum masuk dalam refleksi tersebut, mesti diketahui makna dari Idhul Qurban itu secara literal. Mulai dari kata  “Idhul” atau “‘Ied” (عيد) berarti hari besar/perayaan. Sedangkan “Qurban” (قربان) memiliki dua arti, yang pertama dimaknai melalui hasil tasrif “Qariib” (قريب) yang artinya dekat. Dan dari definisi tersebut, mayoritas ulama menafsirkannya sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.[1] Kemudian arti yang kedua, Qurban dikatakan sebagai udhhiyah (اضحيّ) atau bisa dikatakan dhahiyyah (ضحيّ) yang artinya adalah hewan sembelihan –pada definisi ini dapat dikaitkan dengan kata “Adha” yang mayoritas masyarakat gunakan dalam menyebut hari raya idhul qurban. Dari arti makna yang kedua ini, maka dapat dikatakan tradisi sebagaimana lazim dilakukan umat muslim di dunia untuk menyembelih hewan dengan cara kurban atau mengorbankan hewan yang menjadi sebagian hartanya untuk kegiatan sosial.[2]

Setelah melihat definisi diatas, bisa dikatan bahwa Idul Qurban merupakan perayaan untuk melakukan pendekatan diri kepada Allah dengan mengorbankan/menyembelih hewan qurban yang diperuntukkan kepada masyarakat. Yang perlu dicatat adalah usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak seyogyanya dihelat hanya pada hari raya idhul qurban saja, akan tetapi terus mengobar setiap saat, setiap waktu. Tidak juga mengobar di tempat peribadatan saja, tetapi juga terus dikobarkankan setiap kali kita beraktivitas, bahkan saat melakukan aktivitas kecil. Sehingga pada tulisan ini, penulis akan terus membahas refleksi Qurban itu sendiri.

Qurban berarti usaha mendekatkan diri kepada Allah (hablum minallah), yang efeknnya akan menyejahterahkan masyarakat karena hasil daging qurban yang diberikan kepada masyarakat itu sendiri (hablum minannaas). Akan tetapi, adakah dari efek setelah qurban –menyejahterahkan masyarakat- tersebut, akan terus-menerus dirasakan oleh masyarakat? adakah dari efek qurban tersebut dapat menghentikan realitas sosial –rezim kapitalisme yang menggerogoti dunia sehingga menanggalkan ketimpangan sosial di khalayak masyarakat ekonomi menengah kebawah yang terus-menerus menjadi ‘lingkaran setan tak berujung?” pertanyaan-pertanyaan tersebut mesti dicamkan dan dicari bayaan-nya sebagai refleksi untuk menumbuhsuburkan pergerakan ‘revolusi’ dan hal lain yang menyangkutnya.

Hari raya  Idhul Qurban pada tanggal 10 Zulhijjah dan hari tasyrik yang mengikutinya (11, 12, 13 Zulhijjah) akan diisi dengan penyembelihan hewan Qurban. Momentum pada prosesi penyembelihan hewan qurban tersebut bukan dijadikan sebagai kenangan ‘melihat betapa tersiksanya hewan tersebut jika telah disembelih’. Lebih dari pada itu, Prosesi penyembelihan hewan Qurban adalah meyadarkan kita bahwasanya yang disembelih adalah sifat kebinatangan kita, seperti serakah, tamak, dan lain sebagainya (walaupun kebanyakan manusia memiliki potensi sifat seperti diatas, penulis ingin menyatakan bahwa manusia yang sepenuhnya memiliki sifat ini maka itulah “manusia kebinatang-binatangan”). Sayangnya, masih ada dari tubuh masyarakat yang belum memaknai prosesi Qurban tersebut dalam kehidupan masyarakat saat ini. Contohnya saja, telah banyak individu/kelompok korporat-birokrat yang menjamur di saentero dunia, serakah mengakumulasi modal entah itu dijadikan sebagai penumpukan kekayaannya, atau bahkan ‘diputar’ untuk mengekspansi ruang lain, seperi yang terjadi di Rohingya saat ini. Keserakahan perusahaan dengan pemerintah untuk mengusir bahkan membantai orang-orang di Rohingya demi mengalokasikan 1.268.077 ha tanah untuk pengembangan perusahaan ekstraksi kayu, pertambangan, dan air berskala besar.[3] tidak cukup sampai disitu, upaya motivasi anti-islam pun dipropagandakan pemerintah untuk memusnahkan etnis Rohingya yang mayoritas muslim. Dari contoh kasus nyata ini, dapat merefleksikan bahwa kapitalisme membawa efek keserakahan, terutama dari aktor-aktor kapitalisme itu sendiri.

Secara luas, banyak contoh keserakahan akibat kapitalisme yang terus bergulir saat ini. seperti contoh Land Clearing di Riau seluas 10.000 ha beberapa tahun lalu dengan menggunakan metode pembakaran hutan sehingga mengakibat kabut asap di sebagian besar Provinsi Riau bahkan sampai menyeberang ke negara tetangga, Singapura dan Malaysia.[4] Adalagi konflik di Jazirah Arab antara Pemerintah Arab Saudi dengan kolompok Houthi di Yaman karena masalah perbedaan mazhab (Sunni dan Syiah) padahal latar belakang pemerintah Arab Saudi adalah ingin mengekspansi Bab el-Mandab demi memperlancar jalur pelayarannya sebagai produsen-distributor minyak terbesar di dunia.[5] Dan masih banyak lagi contoh nyata keserakahan yang terjadi selama rezim kapitalisme berlangsung sampai saat ini.

Sependek pengetahuan yang penulis ketahui, bahwa kapitalisme yang pada awalnya mendikte masing-masing individu untuk bebas menciptakan pasar. Pada akhirnya menjatuhkan individu-individu tersebut pada self interest yang mengakibatkan mereka ‘jalan-jalan sendiri’ sehingga menjadikannya serakah –tidak melibatkan masyarakat sosial dalam pasar yang dibuatnya untuk mengintervensi bahkan merundukkan potesi sifat serakah. Maka disinilah dibutuhkan adanya sosialisme agar faktor produksi pasar (bahkan hasil produksinya) dimiliki oleh tiap masyarakat, sehingga mampu menyejahterahkan masyarakat dengan menggunakan pemerataan ekonomi tadi yang berlandaskan social interest, agar potensi keserakahan individu yang berlandaskan self interest diredakan. Jangan sampai kita menjadi pengikut Qarun yang saking serakahnya (menganggap bahwa hartanya dia bisa hidup selamanya) akhirnya mati tenggelam oleh hartanya sendiri.

Akhirnya, harus dititikberatkan bahwa Qurban membawa kita pada dimensi sosial untuk meredakan potensi sifat serakah, dan berlabuh pada penyejahteraan masyarakat agar hidup tentram dengan mengutamakan social interest. Dan mestinya pemerintah saat ini mengutamakan pemerataan ekonomi ke seluruh masyarakat, tidak kepada mendahulukan pertumbuhan ekonomi yang menguntungkan pihak oligarki sehingga dengan mudahnya melanggengkan ketimpangan sosial bagaikan ‘lingkaran setan tak berujung’ seperti penulis ungkap sebelumya. Dan ujungnya, seperti inilah bentuk humanisasi yang ideal dimana efek Qurban tersebut terealisasikan secara perpetual dan akan menghapus wacana realitas sosial yang terbangun saat ini.

Semoga dengan dua kali lebaran (Idhul Fitri dan Idhul Qurban) yang telah dilewati dalam setahun ini dapat menyadarkan kita dan juga para kapital bahwa kita bisa terlahir kembali atau fitrah kembali sebagai manusia yang seutuhnya bisa memiliki kepekaan sosial dan juga menyembelih sifat serakah yang sejatinya justru melanggengkan ketimpangan sosial. Dan semoga dua lebaran ini bukan diartikan sebagai membuka lebar-lebar pintu maaf yang diperuntukkan para kapital sebagai peluang untuk meminimalisir bahkan menghapus dosanya yang merusak lingkungan untuk berbuat dosa lagi pada waktu selanjutnya karena menganggap kedua lebaran ini sebagai momentum yang terus berulang, tetapi dua lebaran ini mesti diartikan sebagai pembukaan wacana untuk semakin melebarkan barisan pejuang revolusi demi meremukkan rezim kapitalisme saat ini.

Aamin Aamin Yaa Rabbal Aalamiin.

 

 

Sumber Bacaan:

___. 2014. Arti, Makna, dan Hakikat Idul Adha Qurban. http://www.islamcendekia.com/2014/10/arti-makna-dan-hakikat-idul-adha-qurban.html. Diakses pada 2 September 2017.

Dina Sulaeman. 2017. Perang di Yaman, Untuk Apa dan Untuk Siapa?. http://www.ic-mes.org/politics/perang-di-yaman-untuk-apa-dan-untuk-siapa/. Diakses pada 2 September 2017.

Republika. 2015. Ini Penyebab Kebakaran Hutan di Riau. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/03/15/n2gmmb-ini-penyebab-kebakaran-hutan-di-riau. Diakses pada 2 September 2017

Saskia Sassen. 2017. Is Rohigya Persecusion Caused by Business Interest rather than Religion?. https://www.theguardian.com/global-development-professionals-network/2017/jan/04/is-rohingya-persecution-caused-by-business-interests-rather-than-religion. Diakses pada 2 September 2017.

[1] http://www.islamcendekia.com/2014/10/arti-makna-dan-hakikat-idul-adha-qurban.html

[2] Ibid

[3] https://www.theguardian.com/global-development-professionals-network/2017/jan/04/is-rohingya-persecution-caused-by-business-interests-rather-than-religion

[4] http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/03/15/n2gmmb-ini-penyebab-kebakaran-hutan-di-riau

[5] http://www.ic-mes.org/politics/perang-di-yaman-untuk-apa-dan-untuk-siapa/

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar