Memaknai Sebuah Kemerdekaan bagi Para Mahasiswa

Oleh: Rezki Ameliyah Arief (HI 2015)

Email: ameliyaharief@gmail.com

Merdekalah kamu, merdeka yang sesungguh-sungguhnya.

-Virgiawan Listanto

Refleksi Kemerdekaan

Memaknai sebuah Kemerdekaan merupakan hal yang menurut kebanyakan orang menjadi sangat penting. Apa lagi jika dibilang Kemerdekaan Indonesia, pastilah bagi yang mengaku dirinya nasionalis menggebu – gebu untuk memaknainya. Jika terhitung sejak 1945, sekarang ini Indonesia telah mencapai umurnya yang ke- 72 tahun. Kemerdekaan yang ditempu melalui rangkaian perjuangan melawan penjajah menjadi saksi perlawanan pahlawan dahulu. Semangat bersama dan pantang mundur 72 tahun silam begitu kental dalam memaknai bebasnya bangsa Indonesia dari imprealisme bangsa asing. Momentum pembebasan inipun dirayakan dengan berbagai cara, dan seringnya adalah dengan seremonial seperti aksi panjat pohon pinang, balap karung, ataupun perkemahan satu minggu jika di desa-desa.

Dalam euporia perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke- 72, semangat pembebasan dan bergerak harus semakin progresif. Di zaman sekarang, lawan kita bukan lagi bangsa asing dan bukan lagi berupa genjatan senjata. Melainkan sistem negara kita yang telah terjerumus dengan kenikmatan surgawi semu oleh para pemodal (baca : Kapitalis). Bukan soal apanya, dalam melihat perspektif negara yang seharusnya menjadi penyedia kemakmuran dan kesejahteraan seluruh raykat, ternyata mereduksi perannya sendiri. Maksudnya, otoritas penuh dalam menjalankan perekonomiannya sendiri secara mandiri tanpa intervensi pihak asing misalnya, kini menjadi hampir dikuasai. Sejak Orde Baru, semangat menjadi mandiri ala Soekarno tergerus oleh kebijakan perizinan penanaman modal asing. Ditambah lagi perjanjian-perjanjian WTO dilegalkan sejak tahun 1995 di Indonesia. Inilah yang membuka kran penjajahan model baru ala kapitalisme. Mau minum harus beli, berhuma malah digusur, mau kuliah harus bayar mahal, diskusi dikira sesat. Apakah kita sudah mereka 100%?

Merebut Kemerdekaan dalam Kampus

Mahasiswa dengan semangat kreatif dan paham teknologi, disebut sebagai orang-orang yang suka mencoba hal-hal baru. Dengan sebutan itu, sudah patut kampus menjadi lahan bertumbuhnya pemikiran-pemikiran kritis. Menjadi ajang debat, ruang kelas dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga bahkan menyusahkan dosen untuk menjawabnya, atau bacaan-bacaan para mahasiswa yang sangat berat isinya.

Menyoal tentang hal tersebut, idealnya mahasiswa adalah seperti yang di atas dalam batasan merebut ruang-ruang kelas. Namun, keidealan tersebut telah menurun jika dibandingkan dengan realitas yang ada sekarang. Ruang-ruang aspirasi dalam kampus menjadi monoton dengan gaya ceramah di depan kelas. Carl Weiman, peraih nobel Fisika 2001, mengatakan itu cara paling kuno. Itu cara sebelum buku ditemukan. Ini metode belajar satu arah.[1] Dengan cara ini mahasiswa dianggap sebagai orang yang tidak tahu, serta menafikkan metode dialektis di dalamnya. Kebenaran tentulah milik siapa yang berdiri dan menyampaikan ceramah. Apa lagi ditambah mahasiswa masa bodoh dengan cara seperti ini, pikirannya kebanyakan asal bisa cepat pulang.

Jika ada forum diskusi dalam kelas, seorang diantara mereka yang sering bertanya atau menyampaikan pendapat dikatakan sebagai bureng (buru rengking). Padahal inilah yang menjadi keilmiahan dari pembelajaran itu sendiri. Semakin banyak bertukar pendapat seharusnya semakin baik, menjadikan mahasiswa tambah kritis. Ini merupakan sebuah kesalahan berpikir dalam melihat hal semacam itu. Atau apakah memang kelas tidak lagi menjadi ruang belajar dan mencari pengetahuan hingga ruang ilmiah semakin direduksi keberadaannya?

Dengan konstruksi pemikiran pragmatis seperti itu, maka ruang untuk beraspirasi secara tidak langsung menjadi tereduksi juga. Ruang kelas yang tidak produktif bisa jadi menjadi ciri kampus yang tidak produktif juga. Produktif dalam artian menciptakan ruang-ruang ilmiah baru yang semakin bertambah setiap saat bagi para mahasiswa. Alasan tidak produktifnya misalnya diskusi karena jam malam yang dibatasi, isu-isu subversif, isu-isu komunis dan isu lainnya. Padahal kampus harus menjadi sebuah wadah kebebasan dalam berpendapat atau berkumpul, kampus adalah lokus ilmu pengetahuan bagi para mahasiswa. Ditambah peraturan organisasi mahasiwa yang membatasi ruang belajar dan bergerak mahasiswa. Untuk mengembalikan sifat produktif tersebut, seharusnya mahasiswa bergerak dalam melakukan diskusi ilmiah serta merebut ruang tersebut.

Selain itu, memaknai kemerdekaan bagi para mahasiswa dengan tanggung jawab intelektual, moral, dan sosial menjadi sangat sempit jika dimaknai dalam kampus saja. Jangan sampai pergerakan mahasiswa dikungkung dalam tembok kampus. Realitas sosial di luar kampus akan lebih banyak dan beragam melebihi apa yang ada di kampus. Membantu memerdekakan masyarakat yang tergusur, dirampas tanahnya, pekerjaannya, atau bahkan hidupnya menjadi tanggung jawab dan KERJA BERSAMA. Bukan heroik, tapi memang mahasiswa seharusnya melakukan hal tersebut (sadar, peka, aksi), inilah manifestasi keilmuan kita di kampus. Serta tidak harus menunggu momentum hari kemerdekaan untuk memulai memerdekakan diri dan membela hak kaum yang dirugikan. Dari ruang kuliah hingga ke ruang sosial lainnya yang lebih kompleks.

 

[1] Eko Prasetyo, 2017, Mahasiswa Baru Rebutlah Kampusmu, https://indoprogress.com/2017/08/mahasiswa-baru-ubahlah-kampusmu/, diakses pada 16 Agustus 2017 pukul 23.03 WITA.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar