Press Release: Selamatkan Pesisir Takalar : Selamatkan Nelayan

Perencanaan tata ruang saat ini mengagendakan pembangunan terkhusus pada wilayah perkotaan, sehingga tidak mengherankan bahwa semakin modernnya metodologi pembangunan perkotaan, maka tak syak lagi akan banyak infrastruktur bangunan yang berdiri di seluruh sisi perkotaan. Pembangunan yang massif tersebut sekiranya tidak terlepas dari sumber daya manusia, alam, serta sumber daya lain yang diserapnya agar pembangunan perkotaan terus berjalan sampai sekarang ini.

Sumber daya tersebut diserap dari wilayah/medium tertentu yang dinilai terkualifikasi untuk dijadikan alat/bahan pembangunan perkotaan. Penyerapan (baca: eksploitasi) tersebut terus berlanjut dilakukan seiring dengan wacana modernisasi terus diumbar-umbarkan. Sampai disini, penataan ruang yang mengeksploitasi sumber daya tersebut sekiranya tidak mencederai wilayah/medium asal sumber daya tersebut. Akan tetapi nyatanya, pencederaan akibat eksplotasi sumber daya alam tak bisa terelakkan karena kebutuhan penataan ruang di perkotaan yang terus meningkat. Seperti halnya yang dialami di lepas pantai Galesong, Takalar, Sulawesi Selatan yang kini dikeruk pasir lautnya demi menopang materiil tanah dalam megaproyek Center Point of Indonesia (CPI) yang berada di Makassar, Sulawesi Selatan.

Reklamasi di kawasan Center Point of Indonesia yang (CPI) Makassar yang rencananya akan menimbun 157 Ha kawasan laut sekitar Pantai Losari. Awalnya proyek reklamasi ini sempat diajukan ke pemerintah pusat untuk dianggarkan dalam APBN, namun ditolak dan kemudian dialihkan ke APBD Sul-Sel. Besarnya pembiayaan yang harus ditanggung oleh APBD membuat pemerintah berbalik menggandeng swasta, dalam hal ini adalah PT. Yasmin Bumi Asri dan Ciputra Tbk. Rencananya dari 157 Ha kawasan laut yang akan di reklamasi 100 Ha akan diperuntukkan oleh swasta untuk dijadikan kawasan bisnis, perhotelan, dan pemukiman mewah, sedangkan sisanya yaitu 57 Ha diperuntukkan bagi Pemprov yang dilangsir akan dibuat menjadi wahana publik. Namun seiring dengan berjalannya waktu, penimbunan laut tersebut menghadapi masalah dengan kurangnya bahan material penimbunan. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut maka material kemudian di datangkan dari Pantai Galesong hingga Sandrobone.

Sejak Mei 2017, dengan panjang kapal 230 meter diperkirakan setiap harinya sekitar 71.000 mdiangkut dari wilayah pesisir Galesong ke Center Point of Indonesia oleh penanggung jawabnya yaitu PT. Royal Boskalis. Hal ini tentu saja menimbulkan kerugian kepada warga Galesong. Abrasi dan penurunan wilayah pantai menyebabkan beberapa kepala keluarga harus berpindah, serta penghasilan para nelayan yang mengantungkan hidupnya pada laut terpaksa terancam akibat kerusakan ekosistem laut di kawasan pengerukan tambang. Bahkan untuk dampak jangka panjangnya, penambangan pasir di Takalar tersebut dapat menyebabkan tenggelamnya pulau, termasuk Pulau Tanakeke. Pesisir Takalar pun menjadi memburuk kian harinya.

Laut adalah jantung para nelayan, masihkan bumi dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat? Atau hanya kesejahteraan milik pribadi? Oleh karena itu HIMAHI FISIP UNHAS mengusung solidaritas untuk berjuang bersama rakyat menolak tambang pasir laut dan mengembalikan kedaulatan kepada nelayan Takalar atas laut mereka dahulu.

#SelamatkanNelayan #SelamatkanPesisirTakalar

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar