Review Diskusi: G20 Welcome To Hell

Oleh: Rasmah Rajab (HI 2015)

Pemateri: Zulmi Zuliansyah

Kepala-kepala pemerintahan dan menteri-menteri keuangan negara yang tergabung dalam G20 kembali disibukkan dengan pelaksanaan Konfrensi Tingkat Tinggi di Hamburg, Jerman pada tanggal 6-8 Juni 2017. Pertemuan ini digadang-gadang akan menghasilkan sebuah era baru dalam ekonomi global. Meskipun pada faktanya apa yang dibahas pada KTT ini bukanlah hal yang baru. Hanya berkutat pada upaya-upaya konsolidasi kapitalisme untuk mencari solusi agar bisa mengatasi krisisnya. G20 ini sendiri merupakan sebuah forum internasional 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah dengan Uni Eropa. Forum ini kemudian menjadi tempat pertemuan para kepala-kepala negara untuk membahas dan merefleksi isu-isu ekonomi politik global.

Sebelum terbentuknya G20, pada tahun 1973 telah terbentuk G7 atau Group of seven yang beranggotakan Inggris, amerika Serikat, Jerman, jepang, Prancis , Kanada dan Italia. G7 ini sendiri lahir sebagai bentuk respon terhadap krisis minyak tahun 1973 yang melanda dunia. Krisis minyak atau lebih dikenal dengan Boom Oil, merupakan dampak dari embargo minyak mentah oleh OPEC pada negara-negara Barat karena dianggap mendukung Israel dalam perang Yom Kippur, 1973. Perang Yom Kippur ini sendiri merupakan perang antara Israel  melawan negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga arab untuk memperebutkan dataran tinggi Golan yang pada saat itu dikuasasi oleh tentara Israel. Walhasil, pada saat itu harga minyak mentah meningkat tajam, yang tentunya merugikan negara-negara industri Barat. Oleh karena itu dibentuklah Group of sevent untuk mencari solusi dari Boom Oil tersebut. Lebih lanjut pada tahun 1998 Rusia kemudian bergabung dengan G7 sehingga disebutlah kelompok ini sebagai group of Eight.

Meskipun krisis minyak dapat teratasi, namun 20 tahun setelah berdirinya muncul permasalahan baru yang melanda perekonomian global pada tahun 1998, yaitu krisis keuangan 1998. Permasalahan ini juga berimbas pada eksistensi G8 yang kemudian banyak mendapat kritikan dan sorotan. G8 tidak lagi dianggap efektif untuk memberikan solusi konkrit terhadap permasalahan-permasalahan ekonomi dunia. Maka muncullah ide untuk memasukkan negara anggota baru yang terindikasi memiliki prospek perekonomian yang meningkat. Selain itu para anggota G7 menganggap bahwa forum-forum yang dilaksanakan oleh G7 tidaklah efektif bila tidak melibatkan kekuatan-kekuatan ekonomi lainnya dan tidak memiliki pengaruh yang cukup besar. Hal ini seperti mencari kekuatan baru untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan mereka. Maka dibentuklah G20 pada tahun 1999 sebagai forum yang secara sistematis menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi maju dan berkembang untuk membahas isu-isu penting perekonomian dunia. Fakta penting yang harus diketahui tentang G20 ini sendiri bahwa negara-negara yang tergabung dalam G20 adalah negara yang menguasai 79% perekonomian dunia dan 65% penduduk dunia. Dengan begitu forum ini menjadi forum yang akan sangat menentukan bagaimana dan kemana arah perekonomian global kedepannya. Selain fakta tersebut, hal lainnya adalah bahwa forum G20 tentu tidak lepas dari tarik menarik serta tawar menawar kepentingan negara-negara yang ada di dalamnya. Hal ini bisa dilihat melalui arah pembicaraan di setiap KTT yang dilaksanakan, terjadi dinamika kepentingan antar negara anggota, sebut saja KTT G20 tahun 2008 di Washington DC. Pada pertemuan tersebut terjadi perdebatan antara rencana Reformasi Pasar uang oleh Eropa dengan sistem kapitalisme Pasar Bebas ala Amerika Serikat yang didukung oleh Kanada.

Kemudian disepakati sebuah perjanjian antar semua negara anggota G20 untuk melakukan konsolidasi fiskal yang berarti pengurangan defisit pemerintah dengan memangkas susbsidi-subsidi yang bersifat sosial dan menolak segala bentuk proteksionisme ekonomi dengan merujuk pada  penguatan terhadap sistem pasar bebas. Yang dalam perjalanannya tidak juga mengikat para negara anggota untuk tidak memproteksi negaranya. Sebut saja ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Kanada yang dipicu oleh kebijakan proteksionis paket stimulus fiskal Obama yang mensyaratkan “Buy American”. Kanada kemudian merespon dengan memboikot barang-barang Amerika di Kanada. Sampai pada KTT G20 2017 di Hamburg Penolakan terhadap proteksionisme masih menjadi topik utama.

G20 sendiri mengahadapi berbagai tantangan baik itu dari eksternal hingga internalnya. Sebut saja dengan terpilihnya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan kebijakan-kebijakannya yang sangat kontroversial serta slogan “America First”nya yang tidak sejalan dengan visi-misi G20. Donald Trump juga menarik diri dalam Perjanjian Iklim Paris pada KTT 2017 di Hamburg baru-baru ini. Karena menganggap hal tersebut akan merugikan Amerika Serikat. Padahal Amerika Serikat sangat diharapkan untuk bergabung dalam perjanjian tersebut, mengingat bahwa Amerika Serikat menjadi salah satu negara penyumbang gas emisi karbon terbesar. Alih-alih mencari solusi terhadap permasalahan ekonomi dunia, bahkan dalam tubuh G20 sendiri tidak bisa untuk dikendalikan.

Dengan begitu, kelompok G20 ini semakin menerima penolakan oleh berbagai pihak, termasuk kelompok-kelompok masyarakat anti kapitalisme di hamburg. Para aktivis melakukan berbagai aksi protes seperti Black Bloc, Zombie marc, dan masih banyak lagi aksi yang dilakukan bahkan sampai seluruh dunia. Adapun alasan-alasan penolakan terhadap G20 ini diantaranya: (1). Negara-negara yang tergabung kedalam forum G20 adalah negara yang bertanggung jawab terhadap  krisis global. Negara-negara tersebut adalah negara penyumbang gas emisi karbon terbesar didunia yang menyebabkan perubahan iklim dan pemanasan global. (2). Topik yang dibahas dalam forum-forum yang dilaksanakan oleh G20 hanyalah kepentingan negara anggota bukan untuk kepentingan dunia. (3). Kebijakan neoliberalisme yang hanya menguntungkan negara-negara anggotanya.

Pada kesimpulannya setiap penolakan terhadap G20 tidak lain adalah aksi untuk menghentikan laju kapitalisme dan menolak globalisasi yang menyimpang dikalangan masyarakat secara sosial maupun ekonomi. Kapitalisme merusak semuanya, ekspoloitasi buruh, kerusakan lingkungan, swastanisasi pendidikan, peningkatan biaya kesehatan, hilangnya akses atas tanah dan masih banyak lagi kerugian-kerugian yang terkandung didalamnya membuat kapitalisme harus menjadi musuh bersama.

Salam Himahi, Salam Kreatifitas.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar