GALESONG: RESAH AKIBAT PENGERUKAN PASIR LAUT

Manna Ronro linoa, gesara butta maraeng, I katte Abulo sibatang tonjo, accera’ sitongka-tongka tonji..

Telah banyak kerusakan disana-sini, kesengsaraan telah menjadi sejuta marajalela. Lahan menjadi ajang untuk diperebutkan, tidak dibagiratakan, bahkan tidak disisihkan sama sekali oleh mereka yang bertuan. Beginilah nasib orang-orang mustadh’afin, rumah mereka disingkirkan, tanah mereka mereka diporakporandakan oleh, sekali lagi, mereka yang bertuan.

Reklamasi CPI (Centre Point of Indonesia) yang saat ini masih berjalan sangat masif menimbun perairan di sekitaran lepas pantai Losari. Lahan-lahan disana sudah terpampang kokoh ditambah dengan arsitektur jembatan ala “tongkonan”nya.  Banyak orang yang berkunjung disana. Sangat estetik kelihatnnya. Akan tetapi di lain sisi, reklamasi telah banyak merugikan masyarakat yang beraktivitas (baca: bermata pencaharian nelayan) bahkan bermukim di sekitaran wilayah tersebut. Sebagian masyarakat yang bermukim disana telah pergi dari tanah asalnya dan berdiaspora entah kemana lagi.

Adalagi fatal lainnya, dan menjadi pertanyaan kritis terhadap reklamasi CPI ini. “Darimana mereka mengambil tanah untuk menimbun laut?” pertanyaan ini muncul melihat penimbunan pasir di sekitaran lepas pantai Losari tersebut sangat gencar. Sehingga ada dua cakupan wilayah yang dirusak, pertama adalah merusak laut yang direklamasi, kedua adalah wilayah dimana material uruk (tanah) itu ditambang.

Pengerukan pasir untuk CPI tidak lepas dari banyaknya pengerukan di berbagai daerah di sekitaran Makassar. beberapa yang diketahui adalah pengerukan pasir putih di pulau gusung, dan setelah itu pengerukan pasir di lepas pantai galesong, Takalar. Pulau gusung sendiri yang terletak di kecamatan Lae-lae, Makassar telah dikeruk pasirnya kurang lebih 400 ton untuk kepentingan proyek CPI. Banyak warga yang menghuni pulau gusung tersebut merasa resah akibat ulah CPI tersebut. Sementara itu, pengerukan di lepas pantai Galesong, Takalar, naik menjadi ‘buah bibir’ keresahan di masyarakat setelah beredar isu yang sama yang sudah dialami pulau Gusung sebelumnya.

Pengerukan di lepas pantai Takalar berkaitan erat dengan megaproyek reklamasi Teluk Makassar. Proyek Pemkot Makassar dan Pemprov Sulsel ini ingin menjadikan pesisir Makassar sebagai Water Front City dimulai dengan proyek Center Point of Indonesia atau CPI seluas 157 Ha dimana 100 Ha diserahkan ke PT. Yasmin Bumi Asri dan PT. Ciputra.  Merujuk ke takalar, kurang lebih 19.800 Ha luas laut Galesong direncanakan akan dikeruk, dan daerah yang paling merugi atau yang paling banyak wilayahnya yang akan dikeruk adalah Galesong Utara. Ada 1.064 Ha sudah dipetakan, bahkan sebagian lokasi dikeruk diam-diam demi pembangunan di wilayah reklamasi tadi, bahkan mungkin saja lebih daripada itu.

Dari segi ekonomi, masyarakat merasakan langsung kerugian yang dialami akibat pengerukan pasir tersebut, sebut saja di Galesong Utara, Potensi hasil tangkapan nelayan berkurang, terutama nelayan-nelayan kecil, dan diperkirakan menurun 80 persen dari hasil tangkapan seperti biasanya. Juga bisa diketahui bahwa modal mereka ketika melakukan usaha penangkapan hasil laut sebelumnya lebih besar daripada hasil tangkapan yang saat ini mereka peroleh ketika pengerukan pasir beroperasi di lepas pantai Galesong, dengan kata lain, nelayan-nelayan kecil di pulau sanrobone sudah banyak mengalami kerugian setelah operasi pengerukan pasir dilakukan.

Ditambah lagi dari segi lingkungan, pengerukan pasir tersebut meningkatkan potensi abrasi dan erosi pantai baik di pesisir Galesong-Galesong Utara maupun di kepulauan Tanakeke. Pantai Galesong dan Galesong Utara termasuk tipe pantai terbuka dan tidak dilindungi oleh ekosistem lamun, terumbu karang maupun mangrove. Adapun hal dampak real yang sudah diketahui, operasi pengerukan pasir ini telah membuat nelayan pencari gurita di pulau Tanakeke resah. Pasalnya  mereka tidak lagi mampu mencari tangkapan gurita sebab air yang selalu keruh, ditambah gelombang air yang sudah tinggi. Belum lagi ditemukannya lumba-lumba yang mati akibat operasi tersebut, dan dari info lainnya diketahui bahwa pulau Sanrobengi di bagian selatan telah mengalami longsor.

Dan dari seluruh dampak yang telah nyata wujudnya secara langsung, maka tidak lain dan tak bukan, warga galesong raya dan merasa resah akibat kebiadaban korporat dan pemerintah yang terlilit didalamnya. Pun pengerukan pasir sudah dilegalkan oleh pemerintah dalam hal ini dalam bentuk izin lingkungan, prinsip (Juni 2014), eksplorasi (Agustus 2014), dan produksi (Desember 2015), apakah mereka merasakan langsung dampak buruknya? Apakah mereka tidak merasakan penderitaan yang sama dengan nelayan-nelayan dan masyarakat di Galesong? Pertanyaan ini telah mengiang di sanubari perlawanan rakyat Galesong dan sekitarnya untuk dikumandangkan dalam berbagai bentuk aksi perlawanan. Aksi-aksi yang dilakukan masyarakat Galesong telah berupaya untuk mendesak pemerintah demi menghentikan operasi pengerukan pasir di lepas pantai Galesong. Dan selanjutnya, perlu diteruskan lagi.

Melawanlah, karena kepentingan rakyat bukan diopresi demi menumbuh-suburkan ketimpangan sosial, akan tetapi dioperasikan untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Hidup Rakyat!!!

Bersatu Hentikan Pengerukan Pasir di Takalar!!!

Sumber:

http://www.antarasulsel.com/berita/84179/gertak-desak-penambangan-pasir-laut-galesong-dihentikan

http://www.mongabay.co.id/2017/05/30/ketika-laut-takalar-terus-terancam-tambang-pasir/

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar