Realitas Sampah Perkotaan Hari Ini

Oleh: Rezki Ameliyah Arief (HI 2015)

Email:Ameliyaharief@gmail.com

Sapi kembali digiring tepat pukul 05:50 pagi di jalanan sekitar Kelurahan Tamangapa. Saat itu cuaca cukup basah dikarenakan hujan yang mengguyur semalam dan pagi buta yang masih abu-abu tertutup oleh awan mendung pasca hujan. Meskipun begitu para bapak-bapak dengan berkendara motor tetap menggiring sapi-sapinya ke TPA Kelurahan Tamangapa untuk membiarkannya berkeliaran mencari makannya sendiri. Mungkin hal tersebut dilakukan karena mereka susah mendapatkan pakan ternak berupa rumput yang gratis di Makassar. Sebenarnya saya tidak habis pikir mengapa sapi-sapi tersebut dibiarkan untuk mencari makan di TPA itu dan bisakah sapi makan sampah? Lagi-lagi pikir saya mungkin masalah kemudahan dan cara hemat para peternak sapi di daerah sana.

Tak sampai pagi itu juga saya menjawab rasa penasaran terhadap kejadian tersebut. Keesokan harinya tepatnya akhir November  saya berkunjung langsung ke TPA tersebut. Setibanya di sana aroma tak sedap mulai berbau dan jalannya pun penuh lumpur berwarna hitam, kebetulan hari itu saya menggunakan sandal jepit dan akhirnya kaki saya terendam dilumpur hingga hampir sampai di lutut. Pengalaman awal saat sampai tercium bau yang membuat masker yang saya pakai berbau juga. Namun sapi dan banyak pemulung tak menghiraukan bau tersebut demi sesuap nasi yang harus mereka berikan kepada orang rumah yang menunggu mereka. Terlihat sapi-sapi itu memakan makanan basah sisa makanan dari rumah tangga, namun adapula yang kurang beruntung dan harus memakan tali rafia. Pantas saja tubuh sapi-sapi di sana kurus namun dibagian perut sangat besar. Terbayang oleh saya cacing yang ada di usus sapi tersebut. Sapi di sana cukup lihai memilah sampah dedaunan dan buah yang akan dimakannya.

Pernah suatu ketika teman saya memberitahu bahwa aroma busuk dari TPA ini pernah tercium sampai radius yang cukup jauh, bisa saja sampai di Gowa katanya. Hal itu memang terjadi karena diakibatkan tumpukan sampah yang menurut badan statistik daerah mencapai 800 ton tiap harinya. Sampah-sampah itu diangkut dari 16 pasar besar di Makassar termasuk sampah rumah tangga dari lebih 1,7 juta orang yang menghuni kota metropolitan Makassar. TPA Tamangapa merupakan TPA paling luas di daerah Makassar di banding TPA lain di Kota Makassar. Oleh karena itu volume sampah yang diangkut ke TPA ini terbanyak dari segala penjuru.

Melihat hal itu, saya tertarik mendengarkan cerita dari salah satu pemulung di TPA Tamangapa itu. Namanya Pak Farhan, usianya kini 32 tahun dan telah setahun terakhir menjadi pemulung dikarenakan tuntutan perut yang semakin hari kian mahal harga untuk pemenuhannya. Balada harian pak farhan dimulai sejak pagi, sejak truk pertama “Tangkasaki” (Truk Angkut Sampah Kita) datang untuk mengangkut dan membongkar sampah baru dari wilayah sekitar Makassar. Tiap kali membongkar dia harus berebut dengan pemulung lainnya yang senasib dengannya bahkan mungkin lebih buruk. Mobil tangkasaki pun membongkar muatannya, satu per satu kulihat Pak Farhan dan temannya mengais satu demi satu sampah berharap sampah plastik lebih banyak dibandingkan sampah sayuran atau dedaunan yang tak laku untuk dijual. Jika dari pagi ia mengais sampah mungkin kira-kira 200 unit lebih mobil yang mondar-mandir mengangkut dan membongkar sampah.

Bukan tanpa sebab Pak Farhan dan pemulung yang lainnya mengais rezeki disini, tempat penjulan hasil pulung yang mudah didapati menjadi faktor pendorong mengapa beberapa orang disini ingin mengais. Saya melihat pada waktu itu beberapa mandor sedang menimbang hasil pulungan. Harganya macam-macam, pemulung berkata kalau perkilonya plastik Rp.1.200,-  dan kalau kasur Rp.5000,- perkasur, namun kasur sangat langka didapatkan dan harus pula bersaing dengan pemulung lain. Pak farhan sendiri biasanya memulung dari pagi sampai sore, kadang mendapatkan Rp.100.000,- perharinya. Susahnya hidup yang tidak sebanding dengan pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk mengais di tempat seperti itu. Setelahnya pak farhan harus kembali melanjutkan aktivitas pulungannya karena telah tiba satu truk lagi dari daerah Tamangapa.

Matahari telah setonggak tinggi di atas kepala, itulah tanda saatnya makan siang dan beristirahat bagi pemulung. Terdapat dua tempat makan di sekitar wilayah tempat membongkar. Satunya berada di bagian bawah dan satunya lagi berada di bagian atas tumpukan sampah yang telah padat. Menu yang dijualnya pun terbilang sangat sederhana, semisal mie instan, roti, kopi, dan lain sebagainya. Tak saya sangka mereka masih terasa nikmat menyantap makanan padahal baunya tercium sangat menusuk dan mungkin dapat menghilangkan selera makan. Anehnya lagi tanpa basa-basi tanpa cuci tangan pemulung langsung saja melahap sebuah roti dan duduk di bangku yang telah disediakan oleh pemilik warung. Mungkin terlihat tidak sehat tapi mereka tidak punya pilihan. Terlihat juga anak-anak yang sedang makan dan ikut dengan orang tuanya, adapula yang asyik bermain mainan yang terbuat dari sampah yang dibentuk menyerupai mobil-mobilan.

Mencoba mencari pemulung lain untuk berbagi cerita, saya kemudian mencari pemulung wanita. Namun sayang ibu tersebut menolak untuk ditanyai dan berkata “saya masih baru di sini, belum banyak tahu apa-apa. Kalau mau tanya saja ibu di sana”. Entah kenapa ibu itu menolak saya, namun satu yang kubaca, ia terlihat malu untuk saya tanyai. Banyak orang memang memandang pemulung sebagai pekerjaan orang-orang kelas bawah, namun saya pikir mereka itu mulia dan berguna sebab jika merekalah yang membuat sampah sedikit berkurang di TPA ini. TPA Tamangapa ini merupakan TPA terbesar di Makassar, wajar saja kalau sampahnya paling banyak begtupun pemulungnya.

Dari masa ke masa telah banyak yang berubah, sekarang keadaan di TPA itu mulai berubah dengan pembuatan jalanan beton untuk mempermudah pengangkutan oleh mobil, serta adanya penambahan luas lahan TPA menjadi 26.8 hektar untuk menanggulangi sampah. Namun luas yang segitupun dengan tinggi 10 meter jika penanganan sampah perkotaan masih dengan cara angkut pulung saja, tidak akan menjadi hal yang solutif. Jika tidak segera di atasi maka perluasan lahan yang semakin luar niscaya saja terjadi. sampah yang seharusnya diolah dengan baik dengan adanya pemisahan jenis sampah, ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Pengelompokan sampah hanya sampai kepada tempat sampahnya saja, namun untuk tidak lanjut dalam pemisahan pembuangan untuk didaur ulang tidak dilakukan, karena jatuh-jatuhnya hanya dibuang di satu tempat yang sama, yaitu TPA Tamangapa ini. Saya cenderung pesimis dengan adanya agenda yang banyak ini, di banyak sisi sampah selalu disalahkan, namun penanggulangan masih saja sebatas pengangkutan dan pengurangan. Ini juga mungkin yang membuat kaki saya gatal sehabis pulang dari TPA itu, sebab sampah B3 juga tidak dikelompokkan. Maka tidak heran jika masalah sampah bisa berujung kepada masalah kesehatan. Semakin hari maka semakin banyak sampah yang dihasilkan, namun penangguangannya hanya sebatas angkut saja. Beberapa kali kudengar terdapat program pemerintah dimana sampah dapat ditukar menjadi beras. Namun ketika kutanya pada beberapa pemulung, mereka tidak tahu ada program seperti itu.

Ketidakmaksimalan pemerintah dalam melakukan sosialisasi program misalnya sampah tukar beras ataupun liat sampah ambil menjadikan pemasalahan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi melihat bahwa semakin hari TPA semakin tak dapat menampung sampah lebih banyak jika metodenya hanya dipulung. Tidak maksimalnya pemerataan pengetahuan terhadap bank sampah yang dijelaskan oleh Kepala UPTD pengolalaan daur ulang sampah Kota Makassar, Pak Nasrun, S.E. bahwa Bank Sampah Pusat (BSP) tidak dapat langsung mengambil sampah atau membeli sampah langsung, namun harus melalui Bank Sampah Unit (BSU) yang jumlahnya 556 unit sampai akhir Januari 2017. Sampai sekarang belum dilakukan sosialisasi bagi masyarakat ataupun pemulung di Tamangapa karena terlalu banyak resiko, misalnya saja telah terjadi kontrak antara mandor/pengepul dengan pemulung. Padahal jika dilihat dari selisih harga menjual di BSU akan lebih menguntungkan dibanding menjualnya langsung kepada pengepul, misalnya saja sampah plastik gelas bening itu dihargai sekitar Rp. 7200,-/kg sedangkan di TPA Tamangapa hanya Rp. 1.200,-/kg. Biasanya sampah yang masuk ke BSP itu sekitar tujuh ton jika cuaca sedang cerah, ini tentu tidak terlalu signifikan jika sampah yang dihasilkan sekitar 200 ton perharinya apalagi jikalau musim buah di 16 pasar di Makassar telah tiba mungkin akan mencapai 700 ton menurut perkiraan BPS Kota Makassar. Masalah sampah akan merambah kesektor lain seperti kesehatan dan bencana jika tak segera ditangani, misalnya saja jika musim hujan tiba maka daerah tamangapa (Jalan Poros Antang-Samata) akan kebanjiran dan tidak tanggung-tanggung baunya sangat tidak sedap menusuk hidung. Seharusnya sosialisasi harus segera digencarkan agar masyarakat tidak hanya melihat sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna dan patut untuk dibuang tapi juga menjadi barang yang bernilai ekonomis tinggi. Karena tiap-tiap barang yang berbeda akan dikelompokkan berdasarkan pengklasifikasiaan dari BSU dan memiliki tingkat harga yang berbeda pula. Sungguh jika program ini benar-benar tertanamkan dengan baik maka masalah sampah kota akan sedikit teratasi. Apalagi dengan sistem yang diterapkan UPTD PDUS yang semaksimal mungkin menyeimbangkan banyak sampah yang masuk dengan banyak sampah yang terolah atau dibeli oleh pemasok untuk di daur ulang.

Sampah di BSU tidak hanya bisa ditukar dengan beras dan uang saja, tetapi juga berbagai barang misalnya sembako. Dalam sistem penukaran sampah di BSU, makapenukar harus terlebih dahulu mempunyai rekening sampah agar penukaran sampahnya dapat di ukur. Tiap harinya menurut Pak Nasrun, pengepul dapat membeli sampah sebanyak 7 ton. Itupun menurutnya masih kurang, oleh karena itu optimalisasi BSU untuk mengurangi sampah harus segera dilakukan. Masalah sampah adalah masalah bagi kita bersama. Sampah mencirikan bagaimana siklus hidup keseharian dari seseorang. Maka sampah merupakan hal yang harus dijadikan sebagai peluang dan tantangan dalam pengelolaannya.

Dalam menangani masalah struktural semacam ini, perlu juga keterlibatan pemulung, mereka seharusnya juga dibekali dengan kemampuan mendaur ulang sampah baik dalam bentuk kerajinan atau pupuk kompos dan mengingkatkan peran serta anggota masyarakat dalam partisipasi 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pemanfaatan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir (TPPA) sampah mungkin patut diadakan atau kembali di optimalisasi agar permasalahan sampah dapat tertanggulangi sedikit demi sedikit. Serta patutlah kalau masing-masing kelompok masyarakat di RT atau RW mengusahakan untuk pengadaan BSU di setiap wilayahnya agar setidaknya masalah sampah rumah tangga yang tadinya hanya dibuang bisa menjadi sesuatu yang mendukung tonggak perekonomian dan tak lupa ramah lingkungan.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar