Sandiwara Global Dalam Pemenuhan Pangan Dunia

Oleh : Muh. Afta Edy

Tulisan ini merupakan hasil dari LOI 2016

 

Pendahuluan

Berbicara soal pangan, masyarakat senantiasa dihadapkan pada berbagai masalah yang tak kunjung menemukan solusi. Sekelumit kisah seperti sulitnya para petani dalam memperoleh hak atas pangan, perampasan lahan, penganiayaan terhadap petani, serta kekurangan bahan pangan di berbagai wilayah di Indonesia merupakan beberapa isu klasik. Salah satu isu besar yang menjadi perhatian dunia adalah krisis pangan. Krisis pangan merupakan ancaman serius yang dihadapi umat manusia dikarenakan kelangkaan pangan ini telah menimbulkan persoalan-persoalan politik dan sosial yang serius. Indonesia bukan satu-satunya negara yang dilanda masalah ini, setidaknya ada 36 negara di dunia yang tengah dilanda krisis pangan[1] saat ini akibat mengikuti atau dipaksa ikut rezim internasional.

WTO (World Trade Organization) dalam hal ini, sebagai organisasi perdagangan dunia merupakan rezim internasional yang berkuasa. Akibatnya negara-negara yang tergabung di dalamnya diharuskan mengikuti aturan serta keputusan yang dikeluarkan oleh WTO. Kebijakan-kebijakan WTO ini lebih banyak menyengsarakan dibanding menyejahterakan karena setiap negara dipaksa untuk mengikuti aturan yang sama, sementara setiap negara memiliki kondisi ekonomi yang berbeda-beda. Misalnya aturan WTO yang tertuang dalam AoA (Agreement on Agriculture) menekankan adanya perluasan pasar, pengurangan subsidi domestik, dan pengurangan subsidi impor.[2] Kebijakan ini sungguh diskriminatif melihat negara-negara yang tergabung dalam WTO tidak memiliki keadaan dan kekuatan ekonomi yang sama sehingga negara maju akan selalu diuntungkan dalam penerapannya. Di lain pihak, negara berkembang yang harus mengikuti aturan ini akan kesulitan mengimbangi negara maju. Petani-petani kecil dipaksa oleh negara membeli bibit dari perusahan asing dan derasnya arus impor pangan dari luar semakin menjerat kebebasan para petani.

Dengan kata lain negara maju dan negara berkembang harus berkompetisi, sedangkan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan WTO lebih banyak menguntungkan negara maju karena kemapanan ekonominya dibanding negara berkembang. Negara-negara yang merasa dirugikan tidak mampu berbuat banyak mengingat mereka tidak bisa memberikan suaranya, karena pencapaian suatu keputusan tidak berdasarkan kesepakatan bersama anggota melainkan diambil oleh empat anggota kubu besar (Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Uni Eropa).[3]

Pembahasan mengenai isu ini perlu dilakukan karena masalah-masalah yang terjadi seperti krisis pangan dunia, jika dilihat dari suatu teori dapat dipahami skema besarnya. Krisis akan pangan adalah jarak antara manusia dan pangan itu sendiri, dan ada beberapa pihak yang dengan sengaja ingin menjauhkan pangan dari manusianya, atau dengan kata lain menginginkan krisis ini terjadi.

Kerangka Konsep

Teori kritis berangkat pada asumsi bahwa pengetahuan diciptakan untuk mendominasi, dan mereka para pencetus pengetahuan memiliki tujuan dan kepentingan sosial. Jadi pengetahuan yang dimiliki adalah alat untuk mencapai suatu tujuan.

Teori kritis menekankan akan pentingnya emansipasi. Emansipasi di sini berarti bahwa setiap manusia itu mampu membebaskan diri dari belenggu persoalan-persoalan politik, budaya, sosial, ekonomi, dan teknologi yang ada. Emansipasi diperlukan agar manusia itu terbebas dari hegemoni-hegemoni pemikiran yang ada. [4]

Dalam kaitannya dengan teori kritis, isu pangan dapat dipahami sebagai penguasaan oleh pihak-pihak yang memiliki pengetahuan terhadap pihak-pihak lemah yang tak berpengetahuan. Mereka yang memiliki hegemoni pemikiran cenderung mendominasi dan menguasai.

Pembahasan

Pangan pada hakikatnya adalah sebuah kebutuhan yang merupakan hak manusia. Namun dewasa ini, dalam sistem ekonomi internasional pangan dipandang sebagai suatu komoditi. Ketika pangan menjadi hak setiap orang, maka pangan semestinya dipandang sebatas kebutuhan saja. Namun ketika pangan dipandang sebagai suatu komoditi, maka untuk mendapatkannya terdapat barrier berupa harga. Di sini untuk dapat mengaksesnya diperlukan kemampuan finasial untuk membeli pangan yang berupa komoditi tersebut. Terciptanya pemahaman mengenai pangan sebagai komoditi tidak lepas dari campur tangan individu atau swasta yang memiliki kepentingan yang konkret. Hal ini sebagai imbas pemisahan petani dari alat-alat produksinya yaitu tanah. Adanya campur tangan organisasi-organisasi internasional maupun perusahaan swasta dalam menentukan alur-alur produksi pangan juga mempengaruhi kondisi pangan saat ini, misalnya saja terjadinya krisis pangan.

Krisis pangan terjadi ketika tercipta jarak antara pangan dan manusia. Ketersediaan pangan berkurang sehingga pangan menjadi sesuatu yang sulit untuk diakses. Jarak yang memisahkan manusia dan pangan ini dapat tercipta karena beberapa alasan, sebagai contoh adalah jarak yang muncul karena proses alamiah seperti bencana alam. Peristiwa bencana alam ini biasanya diikuti dengan kelangakaan bahan pangan karena distribusi yang terhambat atau gagal panen. Ironisnya, selain jarak yang ditimbulkan oleh faktor alamiah, terdapat juga jarak yang sengaja diciptakan atau direkayasa oleh beberapa pihak karena mendapatkan keuntungan dengan terjadinya krisis pangan, misalnya perusahaan-perusahaan besar. FAO atau organisasi pangan dan pertanian dunia mengatakan bahwa dunia ini tidak kekurangan produksi pangan melainkan bermasalah dalam distribusinya, artinya dunia ini tak pernah kekurangan pangan.[5] Logikanya ketersediaan pangan seharusnya mampu memenuhi kebutuhan penduduk dunia. Tetapi bagaimana distribusi dan alokasi pangan ini yang tidak sampai pada penduduk dunia adalah contoh nyata adanya sesuatu yang salah. Krisis pangan yang terjadi dapat menguntungkan perusahaan-perusahaan besar melalui konstruksi kelangkaan pangan yang akan menciptakan ketergantungan negara dan masyarakatnya kepada perusahan-perusahaan besar ini.

Krisis pangan yang melanda dunia juga terjadi di Indonesia. Krisis pangan yang terjadi ini kemudian menjadi salah satu konsekuensi diterapkannya sistem konsep liberalisasi yang dimulai di Indonesia sejak tahun 90-an. Bukan hal lain, konsep liberalisasi memberi konsekuensi berupa terbentuknya jurang yang semakin jauh terhadap pemenuhan pangan masyrakat Indonesia. Hal demikian terbentuk karena Indonesia memutuskan bergabung dengan beberapa lembaga dunia seperti WTO dan IMF dimana lembaga-lembaga ini berusaha untuk menerapkan konsep liberalisasi keuangan dan ekonomi. WTO sebagai organisasi perdagangan dunia mengeluarkan peraturan serta kebijakan yang menguntungkan segelintir pihak saja seperti negara maju atau perusahaan asing, sementara peraturan ini bersifat mengikat kepada seluruh anggotanya. Akibatnya negara-negara berkembang seperti Indonesia juga dipaksa bersaing dengan negara-negara yang tingkat ekonominya berada jauh di atasnya. Sejak saat itu kedaulatan Indonesia seperti berakhir. Indonesia dipaksa tunduk terhadap kebijakan dan aturan-aturan yang dikeluarkan lembaga-lembaga tersebut. Para petani kehilangan kebebasan. Arus impor pangan semakin deras.

Negara yang seharusnya melindungi para petaninya, justru menerapkan peraturan-peraturan yang justru membebani. Keberpihakannya lebih kepada pihak swasta asing mengindikasikan adanya kongkalikong antara pemerintah dan swasta. Salah satu contoh adalah pendistribusian bibit padi oleh pemerintah kepada para petaninya, sayangnya bibit ini berasal dari perusahan asing. Sementara petani-petani dilarang untuk mengembangkan bibitnya sendiri. Para petani yang mencoba mengembangkan bibit sendiri akan dianggap melanggar hukum dan akan dipenjarakan.

Kesimpulan

Rezim internasional yang berkuasa saat ini seperti WTO, IMF, dan Bank Dunia menggunakan hegemoni pengetahuannya untuk menjalankan agenda mereka. Integrasi ekonomi dan perdagangan yang mereka coba terapkan dapat terlaksana dengan pengetahuan yang mereka miliki untuk mendominasi negara dan masyarakat dunia. Pada intinya, pengetahuan menjadi alat pamungkas untuk mewujudkan kepentingan para pemilik pengetahuan ini.

Melihat dari konteks ini, maka krisis pangan yang terjadi di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya merupakan sesuatu yang direkayasa atau memang direncanakan oleh segelintir pihak untuk mengukuhkan eksistensi pihak-pihak ini dan untuk mendapatkan keuntungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahardjo, Andi Teguh, 2016. Critical Theory sebagai Teori Alternatif di studi Hubungan Internasional, http://hibanget.com/critical-theory-sebagai-teori-alternatif-di-studi-hubungan-internasional/

Pontoh, Coen Husain, 2008. Mengapa Terjadi Krisis Pangan?, http://indoprogress.com/2008/06/mengapa-terjadi-krisis-pangan/

Abidin, Zainal, 2011. Krisis Pangan Sebagai Akibat Keserakahan Negara Besar dan Korporasinya, http://batamtoday.com/berita2546-Krisis-Pangan-Sebagai-Akibat-Keserakahan-Negara-Besar-dan-Korporasinya.html

Hasibuan, Ahmad Ibrahim Roni Surya, 2015, Kebijakan Pangan Pasca Ratifikasi AoA (Agreement on Agriculture). Volume 11, No. 1, journal.unas.ac.id/index.php/politik/article/download/123/59, diakses tanggal 13 november 2016

[1] FAO, “FAO: 36 negara alami krisis pangan”, Pelita, diakses dari http://www.pelita.or.id/baca.php?id=45451, pada tanggal 13 november 2016 pukul 00.22

[2] Yusnarida Eka Nizmi, “Liberalisasi pertanian AoA (Agreement on Agriculture) dan kebijakan pangan Indonesia”, Electronic Theses and Dissertations (ETD), diakses dari http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=26338, diakses pada tanggal 12 november 2016 pukul 23.34

[3] Liana Citra, “WTO dan Indonesia”, Kompasiana, diakses dari http://www.kompasiana.com/bunciet_antieque/wto-dan-indonesia_552adac06ea834f511552cff, pada tanggal 12 November 2016 pukul 23.26

[4] Teguh Andi Rajardjo, “Critical Theory sebagai Teori Alternatif di studi Hubungan Internasional”, HIBANGET, diakses dari http://hibanget.com/critical-theory-sebagai-teori-alternatif-di-studi-hubungan-internasional/,  pada tanggal 12 november pada pukul 23.38

[5] Muhaimin Iqbal, “Ketimpangan Pangan Dunia”, Business and Entrepreunership Free Education, diakses dari http://www.geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/84-gd-articles/umum/1325-ketimpangan-pangan-dunia, pada tanggal 12 november pukul 23.52

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar