Salat, Petani, dan Kemenangannya

Oleh: Ahmad Asrul Azwar Irfan (HI 2015)

Email: asrulazwarirfan@gmail.com

“hayya ‘alaal falaah” seketika panggilan salat itu mendengung ke sekitar masjid, begitu pun juga dengan saya yang tak luput mendengarnya. Saat itu, sontak diri saya mengingat apa makna di balik kata itu. “marilah kita meraih kemenangan/keberuntungan”. Apa sebenarnya kita –sebagai umat islam- pernah mengalami kegagalan, lalu setelah itu kita meraih kemenangan? Saya pun mencari apa makna ‘falah’ itu. Saya kembali memikirkan tashrif[1] dari kata ‘al-falah’, yang saya temukan adalah al-fallah, yaitu petani. Sungguh rumit jika dikaitkan antara ‘kemenangan’ dan ‘petani’. Akan tetapi pasti ada makna dibalik keterkaitan pola kata falah itu sendiri. Tidak mungkin untaian huruf fa-la-ha yang memiliki arti kemenangan/keberuntungan bisa menjadi petani. Maka dari itu saya menulis ulasan tersebut di tulisan ini.

Secara bahasa, Al-Falah merupakan bentuk masdar dari kata kerja falaha-yaflahu, yang berarti mengolah dan membajak –layaknya petani. Penggunaan kata itu memberi kesan bahwa seorang yang melakukan kebaikan, hendaknya jangan segera mengharapkan tibanya hasil dalam waktu yang singkat. Ia harus merasakan dirinya sebagai petani yang harus bersusah payah membajak tanah, menanam benih, menyingkirkan hama dan menyirami tanamannya, lalu harus menunggu hingga memetik buahnya.

Kemudian secara istilah, menurut M. Quraish Shihab, al-Falah berarti memperoleh apa yang diinginkan, atau dengan kata lain kebahagiaan. Seseorang baru bisa merasakan bahagia jika mendapatkan apa yang diinginkan. Akan tetapi,  sesuatu yang dianggap sebagai kebahagiaan tidak akan menjadi kebahagiaan kecuali jika ia merupakan sesuatu yang didambakan serta sesuai dengan kenyataan dan substansinya.

Sampai disini bisa disimpulkan keterkaitan antara ‘kemenangan’ dan ‘petani’, bahwa petani itu sendiri akan dikatakan seorang petani apabila benih-benihnya mampu membuahkan hasil yang diinginkannya entah itu padi, gandum, sayur dan lain sebagainya, dan hasilnya tersebut mampu merasakan kebahagian bagi petani itu sendiri. dan disinilah titik ‘kemenangannnya’ atau ‘keberuntungannya’. Akan tetapi, apakah ini kemenangan hakiki yang dirasakan petani, apakah kemenangan petani hanya sampai memperoleh hasil yang merekan harapkan dari hasil tanah yang mereka olah? Saya rasa tidak.

Melihat realitas sosial petani saat ini, saya rasa belum mencapai kemenangan hakiki. di era orang tua kita masih muda, ketersediaan pangan dari hasil tani merupakan kebahagiaan tersendiri bagi para petani. Sebelum pengaruh globalisasi merebah di Indonesia, petani kita masih makmur, sebelum makanan-makanan impor masuk ke Indonesia, para petani kita masih berkehidupan mampu. Akan tetapi sekarang, profesi petani semakin berkurang. mereka didiskriminasi, diintimidasi. Mulai dari mencap petani sebagai orang miskin, dicap memiliki pendidikan rendah, bahkan sampai  lahan pertanian digusur, pengambilan paksa lahan demi pembangunan berkelanjutan yang hanya melanggengkan kepentingan oligarki seperti yang kita lihat daerah Rembang, jawa tengah dan daerah polong bangkeng takalar, selawesi selatan. Mengapa mereka diperlakukan seperti begitu, padahal mereka adalah ‘penopang’ sumber energi tubuh kita. Justru karena mereka ada, nasi dan bahan makanan pokok lainnya juga ada dan dikonsumsi.

Kemenangan hakiki petani yang saya maksud adalah ketika petani memiliki kecakapan ilmu yang mapan, memiliki lahannya masing-masing yang mampu diolah, tidak digusur seenaknya oleh legitimasi kepentingan korporat, dan ketika mereka mampu mempertahankan kedaulatannya sebagai petani. intinya kemenangan hakiki petani adalah bagaimana mereka bisa makmur dan dapat diterima sebagai masyarakat yang memiliki hak untuk hidup makmur seperti orang lainnya. kemenangan hakiki tersebut mesti dicapai, akan tetapi bagaimana caranya meraih kemenangan hakiki tersebut?

Mari kita kembali mengulas panggilan ‘hayya a’laal falah’ tersebut mampu diulas. Panggilan ‘menuju kemenangan/keberuntungan’ bukan secara literal diartikan sebagai kemenangan sebagai konsekuensi setelah kita berkompetisi. Kemenangan/keberuntungan yang dimaksud adalah ibrah yang didapat ketika umat islam salat secara berjamaah dan ketika mengilhami makna ‘shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar’. Ketika umat islam melakukan salat berjamaah, terpancar suatu konsep bahwa dalam melakukan segala hal perlu adanya solidaritas, kebersamaan, hal ini dapat dilihat ketika salat berjamaah adanya keseragaman dalam gerakan-gerakan salat. dalam kebersamaan tersebut, tidak ada perbedaan kelas masyarakat, semuanya sama dalam berbari-baris shaf dalam salat, hal ini menggambarkan keegaliteran.  Solidaritas, kebersamaan, egaliter merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk tetap memperjuangkan hak para petani.

Solidaritas sosial, dan kebersamaan adalah hal mutlak dalam membangkitkan semangat para petani. saat ini banyak perlawanan yang dilakukan para petani dan para pejuang lainnya untuk membendung korporat lintah darat, akan tetapi beberapa mereka belum terorganisir. Maka dari itu perlu organisir massa sematang mungkin untuk terus memperjuangkan hak petani tersebut.

Selanjutnya adalah egaliter. Melakukan perjuangan harusnya tidak mengenal identitas yang berbeda selagi memiliki tujuan yang sama. Perjuangan membutuhkan kerjasama yang sekaligus dibarengi dengan penyamaan tujuan. Seperti kita lihat aksi yang dilakukan masyarakat Rembang yang melakukan pengecoran kaki di depan istana presiden, hal tersebut juga dilakukan oleh saudara kita yang berasala dari papua. Dan hal yang paling penting adalah konsistensi dari pergerakan itu sendiri. Tidak serta merta pergerakan hanya pada satu kali dua kali. Sudah banyak petani melakukan perlawanan pada pemerintah, tapi hanya sampai pada satu kali, mereka ‘mundur’ hanya karena tanah mereka sudah diambil. Mereka  pasrah saja. Takut kalau nanti mereka ‘ditertibkan’ dengan kasar. Wacana seperti ini banyak yang saya lihat di beberapa daerah. Maka dari itu, mereka –para petani- perlu diberikan bantuan untuk terus mengambil haknya kembali, dan pastinya harus konsisten, sehingga semangat mereka terus terbakar untuk merebut haknya kembali.

Sebagai akhir dari tulisan ini, makna al-falah dalam melihat kondisi sosial petani saat ini, mesti diinterpretasikan sebagai kemenangan hakiki yang perlu adanya perjuangan yang disertai dengan konsistensi. Jangan sampai al-falah hanya diartikan sebagai ‘kemenangan’ dari hasil salat kita yang telah khusyuk. Lebih dari pada itu, mesti ditekankan bahwa  perjuangan harus menilik makna salat yang sesungguhnya, perjuangan para petani dan para pejuang lainnya mesti disertai dengan kekhusyukan agar mereka mampu meruntuhkan tirani-korporat yang ‘keji lagi mungkar’. inilah esensi dari salat yang mampu mecegah perbuatan keji dan mungkar.

 

Sumber Bacaan:

____. 2009. Petani dan Keberuntungan. http://umibarkat.blogspot.co.id/2009/01/petani-dan-keberuntungan.html. diakses pada Ahad, 2 April 2017

  1. Quraish Shihab. 2002. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, cet. Ke-5. Jakarta: Lentera Hati

­­­Iva Faiziyah. 2012. Al-Fauz dan Al-Falah dalam al-Quran. http://ivafauziyah.blogspot.co.id/2012/06/al-fauz-dan-al-falah-dalam-al-quran.html. diakses pada Ahad, 2 April 2017

[1] Perubahan pola kata dalam bahasa arab

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar