Penggunaan SMART Board di Indonesia dalam Perspektif Postmodernisme

Oleh : Andi Dea Amanda Nastity (HI 2016)

Email: damanda21@gmail.com

Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu elemen penting perjalanan bangsa Indonesia untuk mencapai salah satu tujuan mulia yang telah diamanatkan oleh para pahlawan bangsa, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah menjadi hak asasi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang setara sebagaimana dicantumkan dalam UUD 1945. Oleh karena itu, pemerintah wajib menjalankan tugasnya untuk memberikan pendidikan kepada setiap warga negara dengan seadil-adilnya.

Namun sayangnya, saat ini hal tersebut tidak terjadi. Masih sangat banyak warga negara Indonesia yang tidak memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan. Beberapa yang beruntung dapat bersekolah pun tidak mendapatkan fasilitas yang setara. Yang memiliki uang dapat memperoleh fasilitas yang lebih baik dari mereka yang kurang mampu.

Salah satu fasilitas utama yang diperlukan dalam proses pembelajaran yaitu papan tulis. Seiring dengan perkembangan zaman, saaat ini telah hadir inovasi berupa papan tulis interaktif berteknologi LED atau juga dikenal dengan istilah SMART Board. Penggunaan teknologi SMART Board ini tentu saja memiliki kelebihan yang membuatnya dianggap perlu untuk digunakan dalam proses pembelajaran di Indonesia. Namun, penggunaan SMART Board ini juga menuai beberapa kontra di masyarakat. Penggunaan SMART Board dalam sistem pendidikan di Indonesia ini kemudian lebih lanjut akan ditinjau dari perspektif Postmodernisme.

Kerangka Konsep

Salah satu konsep yang terdapat dalam Postmodernisme yaitu konsep yang dipopulerkan oleh Foucault tentang Kekuasaan (Power) dan  Ilmu (Knowledge). Dalam pandangan ilmu sosial ortodoks, ilmu pengetahuan haruslah bebas dari pengaruh kekuasaan. Studi hubungan internasional, ataupun studi ilmiah mengenai disiplin ini, mensyaratkan adanya jarak dalam hubungan antara nilai, kepentingan, dan kekuasaan (power) yang dimaksud sebagai kemampuan untuk mengintervensi pendidikan di Indonesia tanpa menyamaratakan fasilitas ataupun sarana dan prasarana pendidikan untuk mewujudkan ilmu pengetahuan yang seimbang (objektif) dan tidak tercemari pengaruh luar dan didasarkan pada logika (murni).[1]

Pembahasan

Salah satu tujuan negara Indonesia yang tertera dalam Pembukaan UUD 1945 adalah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Negara berkewajiban untuk memberikan pendidikan yang baik dan setara kepada setiap warga negaranya. Setiap warga negara berhak mendapatkan jumlah pengetahuan yang setara dan fasilitas yang setara.

Pemberian pendidikan yang ideal yaitu pendidikan yang tidak diintervensi oleh kekuasaan dan kemampuan yang dapat mengintervensi dan membatasi pendidikan (power) dalam hal ini pemerintah. Berdasarkan isu yang diangkat, di era digital seperti sekarang, kebutuhan akan inovasi teknologi dalam media pendidikan sudah cukup tinggi. Berbagai inovasi telah menghasilkan berbagai perangkat canggih yang dapat membantu mempermudah proses pembelajaran serta menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan interaktif. Salah satu contoh media pendidikan tersebut adalah papan tulis interaktif berteknologi LED atau yang dapat juga disebut sebagai SMART Board.

Di era digital seperti sekarang,  tidak sedikit institusi pendidikan di Indonesia tengah memanfaatkan SMART Board sebagai media pengganti fungsi papan tulis dalam proses pembelajaran. Beberapa sekolah negeri maupun sekolah swasta pun telah menggunakan SMART Board.

SMART Board sendiri pertama kali diperkenalkan oleh David Martin pada tahun 1991 sebagai inovasi papan tulis interaktiv pertama yang menyediakan layanan layar sentuh aplikasi-aplikasi komputer dan kemampuan untuk menulis yang melebihi kemampuan aplikasi Microsoft Windows standar.[2]

Signifikansi SMART Board dalam membantu sistem pendidikan, bisa dilihat pada sekolah di Amerika, Sekolah Menengah Naperville Centre Chicago telah menggunakan SMART Board di seluruh ruang kelasnya. Salah seorang guru di Sekolah Menengah Naperville mengatakan, “My lesson plans before SMART boards didn’t change all that much from year to year, But now I have the power to change anything in there and move things around and insert, and that to me is exciting as a teacher.”

Hal ini menandakan bahwa penggunaan SMART Board tidak memberikan efek yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan di suatu institusi. Meskipun tidak menggunakan SMART Board, proses pembelajaran tetap menarik. Terlepas dari seberapa menarik proses pembelajaran dengan penggunaan SMART Board, sayangnya sampai saat ini SMART Board masih belum dapat diakses secara universal. Saat ini kisaran harga SMART Board berkisar antara US$ 2.000 hingga US$ 20.000. Tentu saja ini berarti SMART Board memiliki harga yang tidak dapat dijangkau oleh seluruh institusi pendidikan di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan SMART Board di Indonesia masih tidak merata karena tidak semua instansi pendidikan mampu menyediakan sarana dan prasarana terkait SMART Board.

Pada sekolah-sekolah yang tidak menggunakan SMART Board, masih banyak siswa-siswanya yang mampu berprestasi dengan fasilitas seadanya. Siswa-siswanya hanya memanfaatkan buku-buku yang ada untuk menambah pengetahuannya. Contohnya, bisa dilihat sekolah-sekolah yang ada di daerah yang mampun melukis prestasi baik tingkat nasional maupun internasional, dimana mereka tidak menggunakan SMART Board.

Salah satu bukti kurang idealnya pilihan penggunaan SMART Board di Indonesia untuk diterapkan pada seluruh institusi pendidikan yaitu, pada tahun 2016, Pemerintah Indonesia menetapkan anggaran untuk sektor pendidikan di Kemendikbud berjumlah Rp. 42,2 triliun. Dari jumlah tersebut, salah satu provinsi di Indonesia, yakni Kepulauan Riau pernah menetapkan anggaran untuk pengadaan dan pemasangan Smart Board (Papan Tulis Interaktif) yang diperuntukkan untuk Sekolah Bertaraf Internasional yang ada di Kepulauan Riau sebesar Rp 1.455.250.000. Ironisnya, dana tersebut kemudian diselewengkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Penerapan penggunaan SMART Board ini masih perlu dikaji. Selain terkendala biaya SMART Board yang tinggi, masih juga rentan untuk dikorupsi oleh pejabat-pejabat yang tidak bertanggung jawab.[3]

Penggunaan SMART Board ini akhirnya tidak sejalan dengan esensi pendidikan yang didukung oleh teori Foucault, Kekuasaan, dan Ilmu Pengetahuan.

Kesimpulan

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan yang setara merupakan hak bagi setiap warga negara Indonesia. Pendidikan yang setara ini juga termasuk ke dalam penggunaan fasilitas dalam proses pembelajaran. Salah satu fasilitas yang saat ini tengah berkembang di Indonesia yaitu papan tulis interaktif berbasis LED atau dikenal pula dengan istilah SMART Board. Penggunaan SMART Board menuai pro dan kontra karena hanya menguntungkan orang-orang yang memiliki kemampuan finansial untuk menggunakannya.

Daftar Pustaka

Soyomukti, Nurani. 2015. “Teori-Teori Pendidikan dari Tradisional, (Neo) Liberal, Marxis-Sosialis, hingga Postmodern”. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Pettiford Lloyd, Steans Jill. 2009. “Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Linklater Andrew, Burchill Scott. 1996. “Teori-Teori Hubungan Internasional”. Bandung: Nusamedia.

Website:

Charles David, 2013 “The History of Smart Board Technology” http://www.gteach.com/the-history-of-smart-board-technology.html  diakses Sabtu, 12 November 2016 pukul 16:10 WITA.

Darjo Soediro, 2012 “Kasus Dugaan Korupsi Smart Board di Diknas Kepri” https://www.sidaknews.com/kasus-dugaan-korupsi-smart-board-di-diknas-kepri-2012-segera-dilaporkan/   diakses Sabtu, 12 November 2016 pukul 16:16 WITA.

Bayu Nugraha,  2015 “Smart Board: Teknologi Papan Belajar Interaktif” http://www.beritasatu.com/digital-life/271275-smart-board-teknologi-papan-belajar-interaktif.html diakses Sabtu, 12 November 2016 pukul 16:45 WITA.

Arief Syarifuddin, 2015 “Akankah Papan Tulis Interaktif Menggeser Ppan Proyektor” http://mix.co.id/news-trend/akankah-papan-tulis-interaktif-menggeser-pasar-proyektor diakses Sabtu, 12 November 2016 pukul 17:07 WITA.

[1] Burchill Scott, Linklater Andrew, 1996 ”Theories Of International Relations” Bandung: Nusamedia

[2] Charles David, 2013 “The History of Smart Board Technology” http://www.gteach.com/the-history-of-smart-board-technology.html  diakses pada 12 November 2016 pukul 16:10 WITA

[3] Darjo Soediro, 2012 “Kasus Dugaan Korupsi Smart Board di Diknas Kepri” https://www.sidaknews.com/kasus-dugaan-korupsi-smart-board-di-diknas-kepri-2012-segera-dilaporkan/  diakses pada 12 November 2016 pukul 16:16

 

Tulisan ini merupakan hasil dari Latihan Orientasi Ilmiah 2016

2 comments on “Penggunaan SMART Board di Indonesia dalam Perspektif Postmodernisme”

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar