Pertemukan Mereka dengan Kawannya

Oleh: Rezki Ameliyah Arief ( HI 2015 )

E-mail: Ameliyaharief@gmail.com

Telah lewat pukul 14:00 WITA dan diskusi pun belum dilaksanakan jua. Kulihat di Pelataran Baruga orang-orang sementara menyiapkan peralatan berupa sound system ataupun karpet untuk pembicara. Hari itu tanggal 9 Februari 2017, diskusi yang akan membicarakan mengenai perkembangan dari PTN-BH pasca Universitas Hasanuddin resmi menjadi perguruan tinggi berbadan hukum di Indonesia. Diskusi ini dipelopori oleh salah satu persatuan mahasiswa yang paling besar di UNHAS yang membicarakan tentang advokasi seputar masalah-masalah yang terjadi di kampus ataupun di luar kampus.

Seiring berjalannya diskusi pembicara banyak menyampaikan mengenai kenaikan UKT, Bidik Misi, dana KKN, ataupun ketidakidealan dari Permen Dikti No.16. Diskusi yang diharapkan dapat memicu pergerakan atau daya kritis mahasiswa, tapi ketika sesi tanya jawab, tak seorang pun yang mengangkat tangan untuk bicara. Namun, ketika pancingan dari pembicara mulai dilancarkan akhirnya terdapat satu orang yang mengangkat tangan, dia adalah seorang laki-laki dengan memakai topi yang disingkirkannya kebelakang sehingga bagian belakang topi di taruh di depan kepalanya. Kuingat ia mengeritik tentang bagaimana seharusnya kaderisasi juga mengikutsertakan advokasi di dalamnya serta cara untuk memerangi neo-liberalisme dan kapitalisme. Zaman sekarang di kalangan mahasiswa khsusunya yang tertarik membela rakyat permasalahan mengenai neo-liberalisasi dan kapitalisme menjadi hal yang tabu jika tidak di ketahui. Pendapat mereka bahwa segala ketimpangan kelas yang terjadi sekarang disebabkan oleh adanya kepemilikan modal yang besar oleh suatu individu. Cukup menarik dan seharusnya memang diketahui apalagi mahasiswa sosial politik seperti saya sekarang ini.

Sebelum jauh melangkah ke perbincangan masalah kapitalisme ataupun sekarang PTN-BH yang cakupannya luas, mari melihat kondisi diskusi sekarang ini. Sebenarnya saya menulis tulisan ini terdorong oleh diskusi yang telah disampaikan sebelum paragraf ini. Saat itu sekitar pukul 16:30 lewat dan diskusi telah berakhir, perkakas-perkakas diskusi telah di dirapikan, namun masih ada sebagian orang yang tetap tinggal untuk bernyanyi-nyanyi ria dengan membawakan lagu-lagu dari band indie Indonesia. Namun hal yang ironi adalah mahasiswa yang melaksanakan diskusi mengenai sesuatu sebesar kapitalisme ternyata tidak membersihkan tempat diskusinya (Pelataran Baruga). Sampah kuaci yang menjadi konsumsi saat diskusi bertebaran saja tidak terhiraukan. Gelas dan botol air mineral, puntung rokok, serta sobekan kertas berserakan tidak ada yang membersihkan. Mereka acuh saja melihat hal tersebut terjadi, saya mencoba membersihkan namun tak sempat sebagian kubersihkan. Akibat hal tersebut, maka tukang bersih-bersih yang tugaskan di baruga harus membersihkan ekstra dengan menyapu dan mengepel lantai tersebut keesokan harinya. Mereka yang biasanya tiga orang ditugaskan membersihkan berbagai sisi di pelataran baruga, yang sehari-hari datang sebelum pukul 07.00 untuk membersihkan sebelum mahasiswa datang lagi untuk mengotori,  mereka harus memastikan lantai telah kering sebelum banyak mahasiswa datang, hal tersebut akan sia-sia jika mereka terlambat. Lantai yang basah jika diinjak akan menyebabkan kotoran yang menempel di sepatu berbekas dan hanya akan menambah tugas mereka sehingga tugas yang sebelumnya akan sia-sia.

Seharusnya mahasiswa apalagi yang mengadvokasi hal-hal besar peduli dengan kondisi semacam itu. Berikanlah sedikit tenaga kalian untuk tidak membuang sampah sembarangan pada saat diskusi. Karena aneh saja jika seseorang menganggap mereka anti kapitalisme, namun memperhatikan tukang bersih-bersih saja sebelah mata. Mengenai hal untuk mebuang sampah pada tempatnya cukup mudah, kalau belum sempat membuangnya taruh saja di saku atau di kantongan tas atau paling tidak jangan makan saja konsumsi yang disediakan kalau tidak dapat mempertanggungjawabkan sampah setelahnya. Hal tentang sampah selepas diskusi mungkin masalah sepele jika dipandang sebelah mata, namun jika terus-menerus dilakukan maka kalian mungkin tidak berpikir siapa yang terbebani dengan itu. Banyak yang berkata itu sudah tugas dari tukang bersih-bersih, namun kontrak sosial sebagai mahasiswa bukan untuk berpikir seperti itu. Dengan tidak membuang sampah sembarang saat berlangsungnya diskusi, dengan sendirinya akan mengurangi beban bersih si tukang bersih-bersih. Kedua mata dipergunakan untuk melihat realitas sosial di sekitar kita, sampah dan tukang bersih-bersih adalah salah satu realitas, kedua tangan dipergunakan untuk menggenggam, genggamlah sampahmu sendiri, pertemukan mereka dengan kawannya di tempat sampah.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar