Oleh: Sheila Shafira Mahsyar ( HI 2015)

Email:sheilasafira25@gmail.com

Budaya di seluruh bangsa jelas saling berbeda satu sama lain. hal yang membuatnya berbeda adalah ciri khas dari masing-masing budaya bangsa tersebut. Budaya masing-masing bangsa sendiri merupakan cerminan dari sifat dari bangsa itu sendiri. Bertolak dari hal tersebut, segala dimensi kehidupan pun dihadapkan kepada globalisasi yang terjadi di era modern ini, dimana segala dimensi tersebut dengan mudah tersebar dan saling mempengaruhi secara global. termasuk juga dengan budaya masing-masing negara yang  saat ini sudah merabah ke seluruh dunia. Seperti halnya Korea Selatan yang sampai saat ini budayanya merabah keseluruh dunia, atau diistilahkan sebagai Hallyu.

Hallyu mengacu pada bentuk kecintaan terhadap hasil ekspor budaya korea selatan. Hal ini merujuk pada signifikasi popularitas budaya Korea Selatan yang tidak hanya mencaplokkan pengaruhnya di Seoul dan sekitarnya, Budaya fenomenal nan mengglobal ini pun menumbuhkan pengaruhnya diseluruh Asia. Awal mula dari merebahnya Hallyu ini dimulai ketika banyak Drama Televisi Korea Selatan dipasarkan secara luar di China, Jepang, sampai ke Asia Tenggara pada decade 1990-an. Hallyu pada hakikatnya merupakan fenomena demam Korea yang disebarkan melalui Korean Pop Culture ke seluruh penjuru dunia lewat media massa, dan yang terbesar lewat jaringan internet dan televisi. Istilah ini diciptakan di China pada pertengahan 1999 oleh jurnalis Beijing yang terkejut oleh perkembangan pesat popularitas hiburan dan budaya Korea di Cina. Menjelang akhir dekade tahun 2000-an yaitu 2005-2010 terjangan Hallyu makin kuat.

Merebaknya Hallyu ini mulai dirasakan ketika perekonomian Korea Selatan krisis pada tahun 1998, dimana pada saat itu PDB Korea Selatan anjlok sampai 7%. Melihat kondisi tersebut, pemerintah pun berupaya memulihkan kembali ekonominya dengan menyebarkan budaya Hallyu-nya sebagai soft power untuk memperluas pengaruh Korea Selatan ke luar negeri  baik dari segi ekspor kultur maupun dapan menarik turis mancanegara. Sehingga Pemerintah Korea sendiri sangat mendukung dan memiliki peran dalam mewabahnya Hallyu. Dukungan tersebut diwujudkan dengan menghindarkan diri dari gempuran industri entertaiment dari barat. Hal ini menjadikan orang korea sendirilah yang harus menciptakan produk-produk media massanya sendiri. Selain itu dukungan dari pemerintah juga diwujudkan melalui berbagai acara kesenian seperti festival-festival film dan musik bertaraf internasional.

Dapat dikatakan bahwa Korea Selatan adalah salah satu contoh negara yang sukses melakukan diplomasi budaya menggunakan strategi Soft Power. Korea Selatan berhasil melakukan Soft Power Culture Diplomacy, dimana dalam mencapai tujuannya, Korea Selatan lebih mengutamakan pengaruhnya daripada tekanan, dan membuat pihak lain mengharapkan apa yang dia harapkan.dengan soft power tersebut, akan menginspirasi bangsa-bangsa lain untuk mudah menerima kebudayaan tersebut untuk masuk ke negaranya.

Budaya Korea Selatan di Dunia internasional saat ini tidak dapat dipandang sebelah mata, dalam bidang musik misalnya, beberapa boyband dan girlband korea telah memasuki berbagai chart musik internasional ( Billboard dan Itunes), begitu pula dengan berbagai film yang mereka tayangkan sukses memasuki pasar internasional dan kemudian dinikmati oleh berbagai kalangan umur mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sekalipun. Tidak hanya dalam bidang hiburan, tetapi dalam bidang teknologi dan industri juga Korea Selatan juga mulai mendominasi dengan adanya produk teknologi yang mereka hasilkan seperti Samsung dan LG Electronics. Fenomena ini kemudian disebut sebagai hallyu wave.

Hallyu Wave (한류) a.n Korean Wave (K-Wave) merupakan istilah yang pertama kali digunakan di Beijing, China untuk menyebutkan seluruh hal yang berhubungan dengan Korea di bidang industri hiburan. Hallyu Wave merupakan kebijakan yang diambil pada masa pemerintahan Kim Yong Jae dengan tujuan untuk pengembangan ekonomi setelah krisis besar-besaran pada tahun 1997. Dampak dari pengambilan kebijakan tersebut mengakibatkan rakyat Korea Selatan mengalami culture shock  dan memperparah krisis di negaranya sendiri. Tujuan lain dari adanya K-Wave adalah untuk mengembangkan kebudayaan mereka. Korean Wave memiliki 2 masa. Usaha pertama dilakukan oleh SM Entertainment dengan membentuk grup musik seperti H.O.T, S.E.S, Shinhwa yang memadukan gaya barat dan gaya tradisional mereka dalam lagu maupun gaya berpakaian mereka. Usaha kedua dilakukan dengan menggunakan drama Winter Sonata sebagai media untuk memasuki pasar internasional. Winter Sonata sendiri pertama kali masuk di Jepang pada tahun 2003 dan kemudian menjadi viral.

Di Indonesia sendiri, K-Wave pertama kali dikenal saat drama Winter Sonata masuk di Indonesia pada tahun 2003 dan ditayangkan di stasiun televisi Indosiar. Puncak dari fenomena K-Wave di Indonesia pada tahun 2009 yang dibawakan oleh drama Boys Before Flower dan lagu Gangnam Style oleh Psy yang dirilis pada tahun 2012. Fenomena K-Wave yang terdapat di Indonesia merupakan upaya yang dilakukan oleh Korea Selatan dalam melakukan Soft Power Diplomacy di Indonesia. Dalam 15 tahun terakhir, ekspor musik Korea Selatan berkembang pesat. Pada awalnya, ekspor musik hanya menghasilkan 16,5 juta US Dollar, penghasilan ini kemudian berkembang pesat menjadi 794 juta US Dollar. Tentunya dalam menjalankan K-Wave ini memiliki modal yang sangat besar. Modal tersebut diberikan oleh pemerintah Korea Selatan kepada agensi-agensi yang menggeluti industri hiburan di Korea Selatan. Lantas mengapa K-Wave khususnya dalam bidang industri hiburan dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat Indonesia? Hiburan Korea Selatan menawarkan drama/ film yang sarat akan nilai, selain itu penampilan yang menarik dari grup musik Korea Selatan tentunya menjadi suatu hal tersendiri yang kemudian menarik masyarakat Indonesia khususnya para remaja untuk kemudian menggemari mereka. Kita sebagai masyarakat Indonesia tentunya harus rasional dalam melihat budaya Korea Selatan yang telah tersebar luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *