Membela Islam, Membela Perjuangan Petani Kendeng

Oleh: Zulmi Zuliansyah (HI 2014)

Email: zulmizuliansyah@gmail.com

Setelah kesuksesan aksi damai 411 dan aksi super damai 212, kini saatnya kita memasuki jilid ketiga dari aksi bela islam yang berjudul aksi 112. Berbeda dengan kedua aksi sebelumnya, aksi kali ini terpaksa harus dilakukan dalam Masjid Istiqlal tidak dengan aksi turun kejalan seperti sebelumnya. Tentu saja dengan berat hati hal tersebut diterima mengingat momen pilkada DKI Jakarta memasuki masa tenang, sehingga mau tak mau massa aksi harus menghormati kondisi yang ada. Walaupun begitu, bisa diprediksi dengan jelas aksi ini akan tetap dipadati dengan umat muslim, tidak hanya dari masyarakat islam ibukota, melainkan juga dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Terlepas dari tujuan dan targetan aksi bela islam ini, terlepas dari apa sebenarnya yang kita bela ketika kita membela agama kita, Simbolnya kah? ataukah misi hakiki agama islam yaitu kebaikan, keadilan, dan pembebasan?. Namun sepertinya kita musti sepakat bahwa kesucian dan kesaktian agama ternyata menjadi instrumen yang ampuh dalam memobilisasi massa. Lihat saja aksi bela islam 2 jilid sebelumnya, kasus penistaan kepada agama dan ulama menjadi sumbu pemantik efektif dalam memobilisasi dan  menyatukan seluruh umat islam dan organisasi keislaman di Indonesia dalam satu payung komando untuk membela islam.

Hal tersebut bagai angin segar di negara dengan mayoritas umat islam ini. Setidaknya ada dua hal yang patut disyukuri, pertama bahwa ummat islam di Indonesia ternyata masih cinta akan agama dan ulamanya dan yang kedua bahwa ummat islam di Indonesia ternyata dapat membangun solidaritas yang luar biasa mengingat banyaknya organisasi-organisasi keislaman di Indonesia yang seringkali atau lebih tepanya selalu berbeda pandangan dalam melihat sesuatu. Saya membayangkan begitu hebatnya jika tujuh juta massa yang tergabung dalam aksi bela islam jilid 2 dapat dimobilisasi untuk membela perjuangan masyarakat miskin kota berjuang melawan perampasan lahan, reklamasi pantai dan pembangunan pabrik semen yang mengancam lingkungan dan lahan petani-petani. Saya yakin hal tersebut cukup membuat para kapitalis-kapitalis itu keder dan berfikir dua kali untuk seenak perutnya macam-macam. Namun sayang, hal tersebut tak pernah terbaca atau tak pernah terfikirkan bagi alim ulama kita. Konsep amar maruf nahi mungkar (menyeru pada kebaikan dan  mencegah pada kemungkaran) tidak dimaknai secara holistik sehingga definisi kebaikan hanya dimaknai sebatas pengerjaan kepada ibadah-ibadah formal saja. Belum pernah saya dengar alim ulama kita yang sering muncul di media-media menyerukan pentingnya solidaritas sesama melawan segala bentuk penindasan, pemiskinan, dan bentuk dehumanisasi yang berlangsung secara sistematis dan terstruktur . Hal ini pernah saya diskusikan dengan teman yang aktif di lembaga dakwah kampus dan penjelasan teman saya bahwa hal tersebut karena alim ulama kita sebelum bertindak memikirkan dulu dengan matang manfaat dan mudhoratnya tindakan mereka. Tapi gini ya akhi, segala bentuk penindasan, eksploitasi, dan ketimpangan yang terjadi ujung-ujungnya akan membawa masyarakat pada kemiskinan dan kesengsaraan. Bukankah hakikat islam ada untuk membawa kebaikan, keadilan dan pembebasan dalam balutan gagasan mulia rahmatan lil alamin?

Membela agama atau membela Tuhan sah-sah saja dilakukan, tidak ada yang salah dalam membela apa yang kita cintai jika iya dicederai. Meskipun bagi saya, sebagai entitas tertinggi dan maha segalanya, derajat Tuhan tidak akan jatuh alih-alih berkurang hanya dengan caci maki dan sumpah serapah orang-orang kafir. Dia terlalu agung untuk sekedar merespon caci maki mereka. Lah wong umat-Nya saja banyak yang lupa sholat 5 waktu, lupa puasa ramadhan,kikir, munafik, riya, sukanya maksiat, seringnya mengeluh tapi lupa pernah bersyukur, Tuhan tetap saja tidak tersinggung dan tetap mengasihi umat-Nya. Setali tiga uang, hal yang sama berlaku bagi agama islam. Agama islam tidak akan mati hanya dengan cacian dan tindakan perlawanan dari luar agama islam. Malah sabda rasulullah jelas dikatakan bahwa agama islam akan hancur justru dari dalam diri mereka sendiri, bukan melalui paceklik atau musuh dari luar sana. Lalu pertanyaannya manakah kita riuh membela tuhan dan agamanya, tetapi lupa bahkan tak pernah tersentuh pada umat-Nya yang teraniaya?

Sama halnya yang terjadi saat ini, kita terlalu sibuk mengutuk calon gubernur penista agama dan mengingatkan akan bahayanya sesosok hantu berwujud ideologi yang mengancam iman kita sampai tidak tahu bahwa semalam sehari sebelum hari ini, hari pelaksanaan aksi damai bela islam jilid 3, saudara seiman kita para ibu dan bapak petani di pegunungan kendeng rembang bersama dengan jaringan masyarakat peduli pegunungnan kendeng (JMPPK), yang terus berjuang melawan pabrik semen di rembang harus gigit jari dan merasakan pahitnya perjuangan membela hak mereka. Tenda perjuangan dan musholla yang selama ini berdiri sebagai bentuk perjuangan terhadap pendirian pabrik semen di tanah mereka tercinta dirobohkan dan dibakar oleh sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab. Ibu-ibu petani pegunungan kendeng hanya bisa menangis dan meratapi puing-puing tenda perjuangan tempat mereka berjuang dan beristirahat. Mereka hanya bisa meratapi abu sisa musholla yang selama ini dijadkan tempat untuk berserah diri memohon perlindungan, ketabahan dan kekuatan untuk melawan apa yang mesti mereka lawan.

Lalu apa? Apakah mereka akan menyerah? oh tidak, saya rasa tidak. Ketabahan mereka adalah ketabahan yang kaffah. Bukan pertama kali ini mereka merasakan getirnya perjuangan mempertahankan tanah mereka. Bertahun-tahun mereka melawan bertahun-tahun itu pula mereka merasakan intimidasi dan kekerasan semacam itu. Mereka sudah kenyang. Ketabahan mereka sekuat ketabahan rasulullah ketika pertama kali mendakwahkan islam. Intimidasi, cacian, dan kekerasan yang dirasakan rasulullah tidak menyurutkan semangat beliau untuk menyebarkan kebenaran dan cahaya islam persis yang dilakukan masyarakat pegunungan kendeng saat ini. pertanyaanya sekarang, dimana kah kita umat islam saudara seiman mereka saat ini?

Semoga aksi bela islam jilid 3 hari ini, alim ulama kita dan mereka yang selama ini keras mengutuk segala bentuk penodaan agama dan kriminalisasi ulama juga mengajak kita untuk bersolidaritas membela umat islam yang teraniaya, tidak hanya bagi mereka yang ada di palestina, rohingya, dan suriah sana. Tapi juga umat islam di sekitar kita yang dianiaya, dirampas haknya, dan dimiskinkan oleh negaranya. Jika tidak, maka sepertinya memang mereka yang sering muncul di tv menyurakan untuk membela agama islam sejatinya bukan ingin membela agama islam, tetapi membela oligarki mereka. Semoga tidak!

Kekasihku Rasulullah SAW, mewariskan aku mencintai orang miskin dan bergaul akrab dengan mereka (Abu Dzar-sahabat)

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar