Marxian & Neoklasik dalam Neraca Perdagangan Indonesia

Oleh: Umiyati Haris (HI 2012)

Email: umiyatih12@gmail.com

Kegiatan politik dan ekonomi tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan suatu negara. Kedua bidang tersebut saling mempengaruhi dalam hal mencapai kesejahteraan masyarakat. Seperti halnya Indonesia yang memerlukan kolaborasi dari kegiatan politik dan ekonomi. Tujuannya adalah untuk membuat kebijakan distribusi sumber daya alam yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat.

Politik ekonomi adalah keseluruhan kebijakan yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi perekonomian yang sedang memburuk. Contoh politik ekonomi seperti politik moneter; politik fiskal; politik produksi; politik perdagangan luar negeri; politik harga dan upah serta politik sosial dan ketenagakerjaan.

Sebagai sebuah negara, Indonesia tidak dapat terlepas dari pemenuhan kebutuhan ekonomi yang diperoleh melalui kerjasama internasional dengan negara-negara lain. Kerjasama Indonesia dengan negara lain di bidang ekonomi perdagangan mencakup kegiatan ekspor dan impor. Perbandingan neraca perdagangan Indonesia berbeda antara negara satu dengan negara yang lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan tingkat kebutuhan dan pendapatan (GDP) setiap negara.

Pembahasan ini akan menguraikan neraca perdagangan Indonesia ke beberapa negara dengan menggunakan pendekatan ekonomi politik, yaitu Marxian dan Neoklasik. Adapun negara-negara yang diangkat dalam pembahasan antara lain Amerika Serikat, Tuvalu, dan India. 

Pendekatan Marxian terhadap Ekspor-Impor Indonesia ke Amerika Serikat dan Tuvalu

Di dalam Marxisme ada banyak sudut pandang yang bisa digunakan untuk membahas ekonomi politik. Penganut Marxisme ada yang memandang politik sebagai pemisahan antara masyarakat sipil dari wilayah publik. Politik sebagai proses kelas di mana nilai surplus dirampas lewat kapitalisme. Politik sebagai peran negara dalam mengelola kepentingan dan urusan kapital, jaminan politik terhadap kepemilikan pribadi. Politik sebagai kegiatan revolusioner untuk mengubah institusi-institusi politik dari kapitalisme. Politik sebagai proses tawar menawar antara kaum pekerja (proletar) dengan kaum kapitalis (borjuis) untuk mengendalikan surplus ekonomi.

Istilah ekonomi politik yang digunakan dalam teori Marxian tidak merujuk pada pemikiran-pemikiran tentang hubungan antara ekonomi dengan politik. Namun, merujuk pada sebuah cara berpikir tentang perekonomian yang didasarkan pada metode dan teori dari pemikir-pemikir ekonomi klasik, terutama Adam Smith dan David Ricardo.[1]

Neraca perdagangan Indonesia terdiri dari kegiatan ekspor dan impor. Kegiatan perdagangan yang diperoleh Indonesia melalui kerjasama ekonomi dengan negara-negara lain diukur dalam nilai neraca perdagangan Indonesia setiap tahun. Begitu pula kerjasama ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat dan Tuvalu yang menghasilkan angka-angka ekspor maupun impor dalam neraca perdagangan Indonesia. Di mana nilai neraca perdagangan Indonesia-Amerika Serikat dan Indonesia-Tuvalu adalah tidak sama. Hal tersebut bergantung pada kebutuhan dan tingkat GDP masing-masing negara.

Pendapatan negara yang dibagi dengan jumlah penduduk negara itu disebut  Gross Domestic Product. GDP Indonesia berjumlah 861.93 miliar USD pada tahun 2015 dan menyumbang sebesar 1,39% bagi perekonomian global.[2] Sementara itu, Amerika Serikat merupakan Negara dengan tingkat perekonomian terbesar di dunia yang berkontribusi 24,75% dari neraca perdagangannya untuk kesejahteraan global. Sedangkan tingkat perekonomian terkecil adalah Negara Tuvalu dengan kontribusi hanya sebesar 0,00004% untuk perekonomian dunia.[3]

Dalam pendekatan Marxian, pembagian kelas dalam masyarakat selalu ada dan pemerintah berperan untuk menjaga peralatan modal dan kapital masyarakat borjuis agar tidak terjadi konflik dengan masyarakat proletar. Pembagian kelas dalam masyarakat juga terjadi dalam pasar. Interaksi antara penjual dan pembeli berasal dari lapisan masyarakat yang berbeda, baik dari kalangan borjuis maupun proletar. Kegiatan perdagangan yang terjadi akan menimbulkan konflik jika pemerintah tidak melindungi kapital para penjual dan pembeli yang berasal dari kalangan borjuis. Pemerintah dalam hal ini negara bertindak sebagai pelindung untuk melindungi dan membuat regulasi untuk melindungi para pemilik modal selain mendistribusikan sumber daya alam secara merata.

Begitu pula halnya dengan negara sebagai pelaku ekonomi. Suatu negara yang memiliki pendapatan perkapita terbesar di dunia akan menguasai perekonomian global karena menyumbang persentase terbesar bagi perekonomian global. Sedangkan negara yang memiliki pendapatan perkapita terendah di dunia akan dikategorikan sebagai negara dengan perekonomian terkecil. Kategori tersebut mempengaruhi nilai neraca perdagangan ekspor-impor negara-negara. Sehingga, negara dengan kategori perekonomian terbesar di dunia disebut sebagai ‘negara borjuis’ dan ‘negara proletar’ adalah sebutan bagi negara dengan perekonomian terendah di dunia.

Seperti halnya Amerika Serikat dengan GDP tertinggi di dunia yang kemudian dikategorikan sebagai negara borjuis. Adapun Tuvalu yang memiliki GDP terendah dikateogrikan sebagai negara proletar. Interaksi perdagangan kedua negara tersebut dengan Indonesia memberi hasil yang berbeda dalam nilai neraca perdagangan Indonesia. Seperti yang disajikan dalam Tabel 1 dan 2 menunjukkan data ekspor-impor Indonesia ke Amerika Serikat.

 

Tabel 1. Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat Tahun 2012-2015

Hasil Industri 2012 2013 2014 2015 Trend
Karet 545,6 (Ton) 576,7 (Ton)
Karet 1.746,1 (USD) 1.475,4 (USD) -12,32%
Makanan dan Minuman 799.757.514 878.444.977 1.186.412.691 1.137.751.894 14,55%
Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif 602.376.192 568.671.978 692.197.175 702.731.003 6,81%
Pengolahan Kelapa/Kelapa Sawit 175.871.170 507.735.935 701.426.681 680.579.011 55,00%
Pulp dan Kertas 277.900.629 291.577.650 428.158.271 304.728.591 6,83%

 

Sumber : (https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1025),  (http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Amerika+Serikat&jenis=e).

 

Ekspor karet Indonesia ke Amerika Serikat mengalami penurunan dan menghasilkan trend negatif sebesar -12,32%. Persentase ekspor Indonesia terbesar ke Amerika Serikat dari tahun 2012-2015 adalah kelapa sawit dengan trend sebesar 55,00%. Hal tersebut disebabkan oleh peningkatan drastis tahun 2012 ke tahun 2013 dari 175.871.170 menjadi 507.735.935 USD dan terus meningkat di tahun 2014 dan sedikit mengalami penurunan di tahun 2015. Adapun besi baja, kertas, serta makanan dan minuman memiliki trend menengah yaitu 6,81%, 6,83% dan 14,55%.

Sebagai bahan perbandingan, neraca impor Indonesia dari Amerika Serikat terlihat dalam Tabel 2 yang menunjukkan trend angka negatif dengan hasil produk industri yang sama dengan Tabel 1. Penurunan trend impor kelapa sawit menunjukkan penurunan angka perdagangan sepanjang tahun 2012-2015. Walaupun surplus di tahun 2014 dari tahun 2013 yang berjumlah 5.238.058 USD menjadi 6.045.737 USD, akan tetapi angka tersebut kembali defisit di tahun 2015 menjadi 5.098.674 USD. Adapun produk besi baja, makanan dan minuman, serta pengolahan karet mengalami defisit secara drastis jika dibandingkan dengan impor produk kertas yang meingkat di Indonesia dengan trend 11,25%.

 

Tabel 2. Impor Indonesia dari Amerika Serikat Tahun 2012-2015

Kelompok Hasil Industri 2012 2013 2014 2015 Trend
Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif 5.818.056.020 3.048.051.253 2.232.320.034 2.222.473.224 -27,37%
Makanan dan Minuman 388.654.430 544.891.909 520.425.839 377.493.594 -1,32%
Pengolahan Kelapa/Kelapa Sawit 5.378.578 5.238.058 6.045.737 5.098.674 -0,17%
Pengolahan Karet 76.987.523 50.731.810 51.665.374 46.809.903 -13,71%
Pulp dan Kertas 241.859.372 244.992.342 300.493.942 322.374.102 11,25%

Sumber: (http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Amerika+Serikat&jenis=i), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:14 WITA.

 

Neraca perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat berbeda dengan perdagangan antara Indonesia dan Tuvalu. Hal tersebut disebabkan dengan tingkat kebutuhan Tuvalu yang tidak sebanyak Amerika Serikat selain berdasarkan dengan GDP kedua negara itu. Sehingga, kegiatan perdagangan ekspor-impor dengan Amerika Serikat rutin terlaksana dan rata-rata aktif setiap tahun dibandingkan dengan Tuvalu yang hanya aktif pada tahun tertentu.

Seperti pada Tabel 3  yang menunjukkan ekspor Indonesia ke Tuvalu yang tidak aktif secara merata seperti halnya pada kerjasama dengan Amerika Serikat. Terdapat beberapa produk di sepanjang tahun 2012-2015 yang berada dalam angka nol (0) atau tidak ada perdagangan sama sekali. Adapun tekstil merupakan produk ekspor Indonesia terbesar ke Tuvalu sebesar 3.470,43%.

Tabel 3. Ekspor Indonesia ke Tuvalu Tahun 2012-2015

No. Kelompok Hasil Industri 2012 2013 2014 2015 Trend
1. Pengolahan Kelapa/Kelapa Sawit 50.625 25.045 648.660 21.120 6,52%
2. Barang-barang Kimia lainnya 15.105 9.848 0 3.209 -98,01%
3. Plastik 0 180 0 0 -95,27%
4. Pengolahan Aluminium 0 0 0 0 0,00%
5. T e k s t i l 0 0 33.667 0 3.470,43%

Dalam US$; Sumber data: BPS, diolah Kemenperin.

(http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Tuvalu&jenis=e)

Tabel 4 menunjukkan jumlah impor Indonesia dari Tuvalu, di mana pada tahun 2013 tidak terdapat kegiatan impor atau ekspor Tuvalu ke Indonesia. Ekspor Tuvalu dalam produk besi baja dan barang kimia mengalami defisit sepanjang tahun 2012-2015 dengan trend -80,33% dan  -100,00%. Adapun tekstil merupakan produk impor dengan harga yang stabil dari Tuvalu dengan trend sebesar 2.575,28%.

Tabel 4. Impor Indonesia dari Tuvalu Tahun 2012-2015

No. Kelompok Hasil Industri 2012 2013 2014 2015 Trend
1. Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif 1.958.181 0 0 8.674 -80,33%
2. T e k s t i l 0 0 1.878 0 2.575,28%
3. Barang-barang Kimia lainnya 602.244 0 0 0 -100,00%
4. Plastik 0 0 0 0 0,00%

Dalam US$; Sumber data: BPS, diolah Kemenperin. (http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Tuvalu&jenis=i)

Pendekatan Neoklasik terhadap Ekspor-Impor Indonesia dan India

Pendekatan ekonomi Neoklasik muncul pada dekade 1870 yang bertepatan dengan bangkitnya aliran marginalis dalam ilmu ekonomi. Pertama, aliran marginalis mengajukan teori nilai yang didasarkan pada intensitas dari perasaan subjektif dna kedua, aliran marginalis mengembangkan kalkulus marginal sebagai sarana konseptual dan metodologis. Aliran neoklasik muncul dan menggeser teori nilai tenaga kerja, yaitu teori yang mengatakan bahwa nilai barang/komoditas ditentukan oleh nilai dari tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkannya.

Pendekatan Neoklasik dalam ekonomi politik memandang suatu konsep yang disebut sebagai pilihan yang dibatasi (constrained choise).[4] Konsep tersebut memandang individu sebagai pelaku yang membuat pilihan atau memilih dari beberapa alternatif berdasarkan dampak dari setiap alternatif tersebut. Begitu pula halnya dengan suatu negara yang bertindak selaku individu yang membatasi pilihan untuk memilih produk yang akan diekspor maupun diimpor olehnya. Pertimbangan pilihan tersebut berdasarkan pada tingkat kebutuhan dan pendapatan suatu negara serta dampak yang akan ditimbulkan terhadap pilihannya.

Pendekatan neoklasik bertolak dari ide tentang maksimalisasi kebutuhan individu. Langkah berikutnya adalah menggunakan ide ini untuk mendefinisikan kondisi-kondisi maksimalisasi kesejahteraan untuk sebuah sistem yang terdiri dari beberapa individu yang saling terkait. Kesejahteraan dari sebuah kelompok harus didefinisikan secara berbeda dari kesejahteraan individu. Kesejahteraan kelompok baru dapat terjadi ketika ada dua syarat yang dipenuhi.

GDP India 2095.40 miliar USD 2015 dan berkontribusi pada perekonomian global sebesar 3,38%.[5] India sebagai sebuah negara yang rasional memilih beberapa produk untuk diperdagangkan dengan tujuang untuk memaksimalisasi kebutuhan dalam negeri. Begitu pula halnya dengan Indonesia. Jadi, dalam neraca perdagangan Indonesia dan India terdapat pilihan produk tertentu yang menjadi keunggulan perdagangan masing-masing negara.

Selain itu,  kegiatan perdagangan Indonesia dengan India melihat pasar diantara mereka sebagai institusi yang memungkinkan terbentuknya peluang yang semaksimal mungkin bagi pertukaran komoditas dalam negeri secara bebas sehingga akan mewujudkan efisiensi seluas-luasnya. Hal tersebut ditunjukkan dalam Tabel 5, ekspor Indonesia ke India di mana Indonesia membuat pilihan yang dibatasi atas produk elektronika dan tekstil. Kedua produk ekspor tersebut sama-sama bersaing dalam neraca ekspor Indonesia ke Indonesia. Akan tetapi, Indonesia meningkatkan ekspor elektronika sebesar 47.000 USD dengan trend tertinggi sebanyak 5.030.610,86%.

Tabel 5. Ekspor Indonesia ke India Tahun 2012-2015

 

No. Kelompok Hasil Industri 2012 2013 2014 2015 Trend
1. Elektronika 0 0 0 47.000 5.030.610,86%
2. T e k s t i l 0 796 729 971 1.557.110,11%
3. Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif 8.055 0 0 0 -100,00%
4. Pengolahan Kayu 0 0 0 0 0,00%
5. Barang-barang Kerajinan lainnya 0 0 0 0 0,00%

Dalam US$; Sumber data: BPS, diolah Kemenperin (http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=India&jenis=e)

Pilihan rasional yang diterapkan oleh Indonesia berdasarkan pada nilai impor dari India dalam produk yang sama. Berdasarkan Tabel 6, impor Indonesia dari India atas produk elektronika tidak memiliki nilai. Artinya, India tidak memasok produk elektronika ke Indonesia dalam rentang tahun 2012-2015. Hal tersebut menunjukkan bahwa pasar perdagangan Indonesia-India memberi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk elektronik ke India dengan memperhitungkan nilai impor  produk yang sama dari India.

 

Tabel 6. Impor Indonesia dari India Tahun 2012-2015

 

No. Kelompok Hasil Industri 2012 2013 2014 2015 Trend
1. Elektronika 0 0 0 0 0,00%
2. Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif 309.932 0 25.798 0 -99,96%
3. Pengolahan Kayu 0 0 0 0 0,00%
4. Plastik 0 0 3.510 0 2.747,94%
5. T e k s t i l 0 2.288 0 0 -96,34%

Dalam US$; Sumber data: BPS, diolah Kemenperin. (http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=India&jenis=i)

 

Adapun plastik merupakan produk ekspor terbesar India ke Indonesia yang mencapai 2.747,94%. Produk plastik merupakan pilihan yang dibatasi oleh India untuk mengeskpornya ke Indonesia. Sedangkan produk baja dan tekstil mengalami defisit dengan persentase -99,96% dan -96,34%. Hal tersebut disebabkan karena jumlah ekspor tekstil Indonesia ke India lebih besar dibandingkan dengan jumlah tekstil yang dieskpor India. Sehingga persaingan harga akan terjadi pasar dalam negeri India.

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia terdiri dari ekspor dan impor melalui kerjasama dengan negara-negara di dunia. Mulai dari negara dengan perekonomian terbesar, Amerika Serikat hingga negara Tuvalu dengan perekonomian terkecil di dunia. Perbandingan kerjasama perdagangan Indonesia-Amerika Serikat dengan Indonesia-Tuvalu dilihat berdasarkan pendekatan Marxian, seperti kelas borjuis dan proletar. Adapun pendekatan Neoklasik dalam perbandingan ekspor-impor Indonesia dan India menunjukkan komoditas tertentu yang menjadi keunggulan setiap negara dalam neraca perdagangan berdasarkan konsep pilihan yang dibatasi secara rasional.

 

Referensi

Caporaso, James A. dan David P. Levine. 2015. Teori-teori Ekonomi Politik. Terj.

Suraji. Cet.Kedua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Statistic Times, List of Countries by Projected GDP, 21Oktober 2016,

(http://statisticstimes.com/economy/countries-by-projected-gdp.php), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:10 WITA.

(http://www.tradingeconomics.com/india/gdp), diakses pada Rabu, 11 Januari

2015, pukul 16:04 WITA.

(http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=India&jenis=i),

diakses pada Minggu, 08 Januari 2017, pukul 10:17 WITA.

(http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=India&jenis=e),

diakses pada Minggu, 08 Januari 2017, pukul 10:23 WITA.

(http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Amerika+Serikat&jenis=e), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:17 WITA.

(http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Amerika+Serikat&jenis=i), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:14 WITA.

(http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Tuvalu&jenis=i), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:23 WITA.

(http://www.kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Tuvalu&jenis=e), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:21 WITA.

(http://www.tradingeconomics.com/india/gdp), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:31

WITA.

Catatan Kaki:

[1] James A. Caporaso dan David P. Levine, Teori-teori Ekonomi Politik, terj., Yogyakarta, Pustaka

Pelajar, 2015, hal. 124-125.

[2] (http://www.tradingeconomics.com/india/gdp), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:04

WITA.

[3] Statistic Times, List of Countries by Projected GDP, 21Oktober 2016,

(http://statisticstimes.com/economy/countries-by-projected-gdp.php), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:10 WITA.

[4] James A. Caporaso dan David P. Levine, op.cit., hal. 184.

[5] (http://www.tradingeconomics.com/india/gdp), diakses pada Rabu, 11 Januari 2015, pukul 16:31

WITA.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar