Trump Effect: Ancaman atau Pembelajaran ?

Oleh: Muhammad Fajar Nur (HI 2013)

Email:Muhammadfajarnur@ymail.com

Donald John Trump, xenophobia, sexist, homophobic, islamphobia dan pengusaha kaya yang cukup (atau lebih) kontroversial menjadi salah satu isu hangat yang marak didiskusikan. Salah satu contoh diskusi yang pernah terjadi bertempat di makassar yang dilakukan oleh HIMAJIE FEB UNHAS bekerjasama dengan HIMAHI FISIP UNHAS, diskusi tersebut membahas trump effect di indonesia. Berlandaskan pengalaman mengikuti isu terseut, saya pribadi memikirkan suatu hal yang cukup membuat saya berdebat dengan diri sendiri, yaitu apakah sebenarnya masyarakat (indonesia atau bahkan dunia) takut akan kemunculan donald trump sebagai presiden terbaru amerika serikat, yang terpilih dan menunjukkan amerika tidak “sedemokrasi” seperti yang dipikirkan masyarakat internasional, toh terbukti dengan banyaknya statement yang beraroma konservatif dan berpakaian “hate speech” namun tetap memenangkan trump sebagai presiden mengalahkan hillary, yang berjuang cukup lama dan drama untuk mendapatkan posisi tertinggi di amerika tersebut.

Tulisan ini saya buat bukan untuk menjelaskan sistem politik amerika serikat bekerja ataupun menjelaskan tips dan trik mengalahkan atau berteman dengan trump, melainkan saya akan membahas mengenai trump effect yang menimbulkan pertanyaan besar bagi kita semua. Beberapa orang terlalu takut akan suatu hal dan terkadang kita, manusia, tidak mau mempelajari lebih sesuatu yang kita takuti, semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu referensi  tidak formal untuk membantu logika kita dalam menganalisis trump effect.

Trump effect, merupakan terma yang muncul pada the washington post pada edisi 22 oktober oleh david nevins (produser televisi dan chief executive showtime mengatakan “win or lose, the trumpt effect will be felt long after the election. Trump and his followers are in many ways a rebuke to the elites who are perceived as controlling poppular culture. The [eople who feel left out, passed over, now have a champion, even though he’s actually one of the new york media power establishment.”

Pembahasan lebih mengenai trump effect di media tersebut lebih menekankan bagaimana popularitas trump membawa angin baru untuk pemikiran masyarakat internasional dan warga amerika itu sendiri bahwa kaum republikan yang terkenal konservatif dan warga amerika yang bertahan dengan perdebatan logika dan moral sekalipun mempunyai peran besar dan mulai menunjukkan eksistensinya dengan mendukung trump yang tidak sesuai harapan banyak kaum yang diperjuangkan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Trump effect kemudian mempunyai karakter dan penjelasan baru setelah diumumkannya kemenangan trump pada electoral college yang menjadikannya sebagai presiden terpilih amerika pertama yang berusia diatas 70 tahun. Karakter sebelumnya pada istilah trump effect lebih menggambarkan rasa takut dan siaga masyarakat banyak ketimbang sekarang yang mulai mengarah pada kebingungan dan usaha untuk beradaptasi. Trump effect pada masa kampanye atau sebelum terpilihnya trump menunjukkan dua hal besar yang dapat kita lihat saat itu, yaitu : 1. Mengenai who is (another) america? 2. Why we should care?

Trump effect di awal membahas rasa takut beberapa warga negara amerika dan masyarakat internasional yang “terlalu nyaman dengan demokrasi” saat itu, rasa takut ini dituangkan dalam tulisan “the Trump Effect” yang ditulis oleh maureen B. Costello yang dipublikasikan oleh southern poverty law center, dalam tulisannya, penulis memberikan beberapa highlights yang mereka teliti berupa lebih dari dua pertiga guru melaporkan bahwa siswa-siswi mereka -terutama imigran, anak dari imigran, dan muslim- menunjukkan rasa takut dan khawatir akan dirinya dan keluarganya setelah masa pemilihan, dan data berupa lebih dari satu pertiga observasi yang dilakukan menunjukkan adanya peningkatan sentimen anti muslim dan anti imigran. Dimana ketakutan akan pengusiran dan dibangunnya dinding antar ras “literally” menjadi ancaman terbesar mereka untuk menikmati hidup di amerika atau bekerja sama dengan amerika. Banyaknya demonstrasi terjadi mengenai statement trump yang tidak layak dipilih pun muncul dari semua lapisan warga negara amerika serikat maupun dunia, tidak terkecuali para selebriti seperti miley cyrus, jennifer lawrence hingga penulis kondang J.K rowling yang sampai membandingkan trump dengan tokoh antagonis yang dia ciptakan dalam harry potter, voldemort, “Voldemort was nowhere neas as bad”. Trumpt effect yang terjadi tidak hanya pada mereka yang tidak menyukai trump, namun efek ini juga mempunyai sisi lain yang dibawa oleh supporter trump yang akhirnya meningkatkan banyak diskusi di universitas hingga level masyarakat terkecil seperti perkumpulan-perkumpulan masyarakat di dunia maya, yang membahas pada level principle mengenai hak menyampaikan pendapat, dan trump telah mewakili suara-suara yang masih meragukan kebaikan islam di amerika ataupun orang-orang LGBT mempunyai hak asasi manusia sama seperti manusia lainnya, trump mewakili suara-suara yang meragukan konsep tersebut dengan kemasan yang cukup menarik perhatian namun tetap terlihat menguntungkan bagi media-media yang memang sangat menyukai isu kontroversial. Trump effect juga mempengaruhi ssektor ekonomi terutama bidang saham yang melakukan teknik wait and see pada masa pemilihan presiden amerika, yang akhirnya melemahkan saham saham yang ada di amerika tidak terkecuali harga saham facebook yang pernah turun hingga 6 persen

Sedangkan trump effect yang terjadi di status quo sekarang memiliki aroma baru dibandingkan trump effect sebelumnya. Beberapa perubahan yang terjadi dilakukan sangat eksplisit melalui official statement ataupun perilaku yang tergambarkan sekarang. Misalnya mengenai islam, statement trump yang berkarakter islamphobia mulai menghilang seiring berjalannya masa transisinya, seperti banyaknya klarifikasi yang trump lakukan mengenai kebijakan profiling muslim yang dia canangkan diawal kampanye, begitu pun dengan statement kontroversial lainnya termasuk dinding untuk imigran. Perubahan juga tidak hanya terjadi datang dari trump, media juga berhasil mengumpulkan perubahan yang terjadi datang dari politikus amerika tidak terkecuali former president, obama. Obama yang pada masa pemilihan bersikeras meragukan donald trump berubah menjadi obama yang memlihat terdapat harapan amerika yang lebih baik dibawah kepemimpinan trump. Hal ini dalam ilmu politik sebenarnya terlihat wajar, terlepas dari etika berpolitik, perubahan yang terjadi juga mempunyai maksud dan strategi dalam memenangkan sesuatu yang diinginkan, dalam hal ini trump juga harus bersifat (atau setidaknya berusaha) netral agar pendukung tidak hanya datang dari kaum pecinta republikan atau anti islam, karena tidak dapat dipungkiri amerika terlalu beragam untuk mengizinkan pemimpin yang hanya condong ke satu sisi, perubahan warna trump bisa menunjukkan usahanya untuk mengakomodasi warna lain yang sangat dibutuhkan bisa kooperatif guna menjalankan kebijakan yang akan dibuat selama satu periode kepemimpinannya. Trump effect juga tidak terbatas pada individu trump ataupun obama, trump effect juga terlihat dari kondisi hubungan internasional, dimana rusia, sebagai salah satu rival amerika mempunyai perilaku baru dalam berhubungan dengan amerika, dalam bbc news 4 desember lalu, putin mengatakan bahwa donal trump merupakan lelaki pintar yang cepat belajar mengenai posisinya, begitupun trump yang mengklaim putin lebih baik mempimpin dibanding obama. Berbeda dengan rusia, indonesia berusaha bersikap netral dan tidak terlalu kaget terhadap hasil pemilu yang mengatakan trump menjadi presiden terpilih amerika, dikutip dari juru bicara kementrian luar negeri arrmanatha nasir yang menyatakan tak ada kekhawatiran bagi indonesia dengan terpilihnya donal trump pada pemilu presiden amerika serika 2016, arrmanatha juga mengatakan keputusan tersebut juga tak akan menimbulkan kekhawatiran pada polugri indonesia dan kawasan di ASEAN mempertimbangkan kawasan ASEAN merupakan kawasan penting bagi seluruh dunia termasuk amerika.

Pada akhirnya, trump effect masih berlangsung hingga sekarang, baik ditakuti ataupun dipelajari, pembahasan mengenai trump effect akan terus berubah seiring kepentingan orang yang melakukan diskusi ataupun kondisi yang terjadi apa adanya, setidaknya trump effect menjadi salah satu tambahan referensi bagi akademisi terutama hubungan internasional dalam melihat peranan individu yang eksklusif dan signifikan memepengaruhi kondisi sosial dan politik sebuah negara. Dan setidaknya (lagi) trump effect mampu menjadi pembelajaran besar bagi semua bahwa hal yang ditakuti, tidak harus selalu dijauhi. Donald trump membuktikan ide tersebut dengan menjadi mimpi buruk bagi beberapa orang, namun di waktu bersamaan menjadi harapan bagi sebagian lainnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar