Peluang dan Tantangan Kerjasama Indonesia- Korea Selatan dalam Bidang Manufaktur

[REVIEW DISKUSI KONTEMPORER]

Fasilitator: Muh. Nizar Syarief, S.IP

Oleh: Sheila Shafira Mahsyar (HI 2015)

Email: sheilasafira25@gmail.com

Kerjasama bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan saat ini lebih diketahui oleh masyarakat luar hanya dalam bidang sosial-budaya terbukti dengan adanya budaya k-pop yang telah “meracuni” sebagian penduduk di Indonesia, tetapi tak banyak yang mengetahui mengenai kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan dalam bidang manufaktur.

Korea Selatan sendiri pada mulanya merupakan negara yang berfokus pada pertanian tradisional dan industri ringan sedangkan kawasan utara merupakan basis dari tenaga listrik dan industri berat. Perkembangan industri Korea Selatan dimulai pada era 1950 dan awal 1960-an dimana pada saat itu industri-industri lebih berfokus pada model industri manufaktur sederhana. Pada tahun 1970-an, perkembangan industri Korea Selatan ditandai dengan didirikannya indusrti-industri berat, seperti pertahanan dan keamanan, industri baja dan perkapalan dan industri otomotif. Saat ini industri manufaktur Korea Selatan yang utama adalah peralatan listrik dan elektronik, produk metal, kimia, peralatan transportasi dan mesin. Di indonesia sendiri, sektor industri manufaktur mengalami pertumbuhan secara signifikan meskipun beberapa  pertumbuhan negatif seperti industri tekstil dan pakaian jadi, industri kertas dan barang dari kertas. Selain itu terdapat pula industri manufaktur yang mengalami pertumbuhan positif seperti industri makanan dan minuman, industri kimia, farmasi dan obat tradisional.

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan sudah terjalin cukup lama dengan tujuan yang sama seperti hubungan bilateral pada umumnya yaitu untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh negara itu sendiri.

Dalam bidang manufaktur, terdapat berbagai peluang serta tantangan kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan, antara lain:

  1. Indonesia memiliki sumber daya yang tinggi

Sumber daya yang tinggi dimiliki oleh Indonesia, baik dalam sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Potensi sumber daya alam Indonesia tidak perlu diragukan lagi mengingat Indonesia sendiri dikenal memiliki sumber daya alam yang melimpah baik yang berasal dari pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan serta pertambangan dan energi. Indonesia juga dikenal memiliki populasi yang banyak dan memiliki penduduk yang berusia produktif sehingga Indonesia merupakan negara yang memiliki kekuatan tenaga kerja yang besar.

  1. Korea Selatan memiliki modal dan teknologi yang tinggi

Korea selatan dikenal sebagai negara industri modern di Asia, terbukti dengan keberhasilannya yang kemudian dijadikan model bagi negara-negara lain. Korea Selatan menjadi pemimpin dalam teknologi yang dibuktikan oleh akses internet kecepatan tinggi, semikonduktor memori, monitor layar datar, telepon genggam, Korea Selatan juga menduduki peringkat pertama dalam pembuatan kapal, ketiga dalam produksi ban, keempat dalam serat sintesis, kelima dalam otomotif, dan keenam dalam industri baja.

  1. Perluasan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja

Masuknya perusahaan-perusahaan dari Korea Selatan yaitu Samsung dan LG merupakan sarana perluasan lapangan kerja bagi tenaga kerja di Indonesia. Selain kedua perusahaan tersebut, terdapa banyak perusahaan-perusahaan lain yang menyerap tenaga kerja Indonesia, salah satunya perusahaan Hyundai.

Seringkali dalam sebuah hubungan bilateral tentu terdapat tantangan di dalamnya, tantangan yang dialami dalam hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan yaitu:

  1. Perselisihan antara buruh Indonesia dan pengusaha Korea Selatan

Permasalahan yang terdapat antara buruh Indonesia dan pengusaha Korea Selatan seringkali disebabkan oleh perilaku kerja yang berbeda antara cara manajemen Korea dan kebiasaan perburuhan di Indonesia. Selain itu, Penyebab lainnya adalah gaji rendah dan fasilitas kesejahteraan yang buruk, pengelolaan tenaga kerja secara militer, serta kekejaman manajer menengah.

  1. Kemudahan Berinvestasi di Indonesia Masih Rendah

Peringkat kemudahan berinvestasi Indonesia masih cukup jauh dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Pesaing terberat Indonesia yaitu Vietnam. Investasi di Vietnam tumbuh pesat karena kemudahan dalam menciptakan lahan usaha. Perusahaan Korea Selatan memilih Vietnam sebagai pasar baru yang potensial pada tahun 2015 terbukti dengan peringkat destinasi investasi Korea Selatan dimana Indonesia berada di peringkat ke 6 dan Vietnam berada di peringkat ke 3.

  1. Ekspor Indonesia ke Korea Selatan menurun

Penurunan permintaan beberapa barang tambang Indonesia dari Korea Selatan disebabkan pengalihan impornya ke negara-negara lainnya seperti Australia, Jepang, dan Amerika Serikat. Hal ini menjadi penyebab Indonesia mengalami defisit yang cukup besar dalam perdagangan bilateral selama lima tahun terakhir.

Dalam menjalankan hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan terkhusus pada bidang manufaktur, tentunya dibutuhkan strategi dalam menjalankan kerjasama tersebut. Upaya yang telah dilakukan oleh Indonesia dan Korea Selatan yaitu, Indonesia dan Korea Selatan membentuk kemitraan strategis yang meliputi banyak bidang kerjasama di dalamnya. Untuk bidang industri sendiri, dibentuk JTF-EC yang dikelola oleh WLTF pada 4 Desember 2006 yang meliputi investasi, perdagangan, dan ekspor. Pertemuan dilaksanakan 2 kali dalam 3 tahun. Pertemuan pertama dilakukan pada tahun 2007 dan pertemuan kedua pada tahun 2011.

Selain pembentukan JTF-EC, Indonesia dan Korea Selatan juga membentuk IK-CEPA pada tahun 2011 yang berfokus pada bidang ekonomi dan industri. Dalam perundingan antara Indonesia- Korea Selatan, telah disetuju pilar utama untuk meningkatkan akses pasar perdagangan barang dan jasa, fasilitas perdagangan dan investasi serta cooperation termasuk capacity building.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar